Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Wanita Bercadar, Itu Istriku 1


__ADS_3

Sudah menjadi jadwal rutin untukku, setiap hari Sabtu akan menyambangi kota kelahiran, dan mengikuti pengajian di yayasan yang di dirikan oleh salah satu sahabat perjuangan.


Sejak aku menikah, aku memilih tinggal di kota S bersama istriku, karena semua usahaku dimulai dari sana, dan aku memiliki satu orang putri yang kini sudah berumur enam tahun, istriku saat ini tengah hamil anak kedua. Namanya Sarah, perempuan cantik dan aku pun sangat mencintainya, Bagiku dia sudah sangat sempurna, selain cantik, Sarah, juga wanita yang shalihah, ilmu agamanya juga tak diragukan lagi, karena dia juga lulusan satu universitas Islam yang sama denganku, jadi aku tau banyak tentang kepribadiannya. Setelah pernikahanku dengannya menginjak usia delapan tahun, aku di pertemukan dengan perempuan Jawa yang begitu menarik perhatianku. Cantik, lembut, pendiam dan yang membuatku terpana, pengetahuan dan cara pandangnya soal agama, luar biasa bahkan tak sedikit laki laki yang berlomba lomba ingin mendekatinya.


Shanum namanya, pemilik mata warna coklat, janda cerai korban KDRT, memiliki satu anak perempuan. Wanita tangguh yang mandiri, membesarkan anaknya sendirian dari usia tiga tahun, dan sekarang anaknya sudah berusia sepuluh tahun, luar biasa, itulah pandanganku pada sosok perempuan berhijab lebar itu.


Usiaku dengannya terbilang cukup jauh perbedaan, Shanum berusia tiga puluh tahun, sedangkan aku baru dua puluh enam tahun, tapi perasaan yang kumiliki pada Shanum sangat membuatku tersiksa. Apa lagi saat ini, saat berkumpul dengan sahabat sahabatku di Yayasan, sehabis pengajian mereka membahas Shanum, pujian dan keinginan untuk menjadikan istri keluar dari mulut mereka, terutama Pak Hamzah, beliau terlihat begitu mengagumi Shanum dan berniat ingin melamarnya, karena diantara kami semua, beliau lah yang paling siap persiapannya soal istri dan anaknya tentang poligami. Pak Hamzah, orang yang mapan dan cukup di segani, pun dengan istrinya yang terkenal shalihah dan sangat lembut. Rasa nyeri dan kesal langsung menyeruak jiwa kelakianku, entahlah ada rasa tak rela dan tak terima di hati ini, karena aku juga menginginkan Shanum menjadi milikku, meskipun secara materi aku lebih dari cukup, tapi untuk mempersiapkan kesiapan istri aku belum punya keberanian, apa lagi saat ini dia sedang hamil, semua ini makin membuatku kalut, tanpa banyak bicara, akupun meninggalkan pertemuan, pergi entah kemana dengan membawa mobil yang tak tau arah, sampai akhirnya aku berhenti di salah satu cafe dan menikmati kesendirian disana, menyesap kopi juga rokok untuk menghilangkan perasaan gundah yang mendera.


mengotak Atik ponsel, iseng menscrool beranda logo biru, terlihat Pak Hamzah memposting status tentang niatnya berpoligami, bahkan secara gamblang sudah berani menunjuk ke arah Shanum ku, aah sialan, aku kalah langkah dengan pak Hamzah. Tapi bukankah Shanum, tidak begitu dekat dengan beliau, bahkan aku pernah tanya jika Shanum tidak memiliki kontak pak Hamzah, dan Shanum juga pernah cerita jika dia hanya memiliki beberapa kontak Ikhwan di hapenya, keluarga dan juga aku, itu artinya, Shanum tidak pernah menyimpan kontak laki laki manapun, dan aku termasuk yang istimewa, buktinya nomorku tersimpan olehnya, bahkan kami sering berkomunikasi dengan akrab. Ah aku jadi rindu ingin mendengar suaranya.


[Asalamualaikum, Shanum. Lagi apa] sapaku setelah sambungan telpon dariku terangkat oleh wanita bersuara lembut yang penuh dengan pesona.

__ADS_1


[Waalaikumsallam wr wb, kang. Alhamdulillah baik. Tumben telpon, ada apa] sapa nya ramah dan bikin hatiku berdebar tak karuan, aku merasa seperti ABG yang sedang jatuh cinta jika sedang bersamanya.


[gak papa, lagi rindu saja] jawabku jujur, karena aku juga sudah penasaran ingin tau perasaannya padaku.


[wah, akang mah ada ada saja. Gak boleh rindu sama wanita lain, nanti istrinya gimana? dosa atuh]. Sudah kuduga dia pasti akan menjawab seperti itu, seperti yang sudah sudah, tapi entah kenapa aku merasa dia juga menyimpan perasaan yang sama padaku, yakin seratus persen.


[Kalau dijadikan istri sudah gak dosa lagi kan? Shanum mau jadi istriku, ini pertanyaan serius, aku jatuh cinta sama Shanum] aah aku sudah benar benar tidak ingin sekedar hanya ngobrol dengannya, harus bertindak cepat sebelum pak Hamzah atau yang lain mendahuluiku, aku gak mau keduluan dengan mereka, bisa gila aku karena cemburu.


[Jangan bicarakan Sarah kalau kita sedang berdua, Aku akan kondisikan dia, bagiku saat ini, kamu mau menjadi istriku, dan aku akan bertanggung jawab sepenuhnya padamu juga putrimu, tolong jangan bikin aku semakin tersiksa karena tiap hari memikirkan mu, Shanum!]


terdengar helaan nafas yang panjang dari sana, aku tau dia sedang gundah.

__ADS_1


[Pikirkan baik baik, aku tau kamu juga mencintaiku bukan, aku bisa merasakan itu saat kita berkomunikasi, jangan siksa hatimu, yakinlah semua akan baik baik saja.] sekali lagi aku meyakinkannya untuk tidak takut melangkah, karena aku akan melindungi dan menjaganya sepenuh jiwaku, aku termasuk tipe laki laki yang sulit jatuh hati pada sembarang perempuan, cuma Sarah dan kini Shanum yang mampu membuat hatiku berdetak tak karuan, aku laki laki yang cukup sukses, memiliki beberapa usaha , Soal uang tak perlu di ragukan, bahkan aku mampu menghidupi istri istriku dengan mewah, itulah kenapa, begitu banyak perempuan cantik mengejar ku, mereka mendekati hanya untuk ingin mendapatkan perhatian dan simpati dariku, tapi tidak ada satupun yang bisa menarik hati ini meskipun mereka memiliki wajah cantik dan tubuh yang aduhai, cukup Sarah dan kini Shanum yang berhasil membuat hatiku terpaut.


[Beri aku waktu, kang. Ini tidak mudah untukku, aku harap akang bisa mengerti.] jawabnya pada akhirnya setelah sekian detik dia terdiam.


[Jangan lama lama berpikirnya, percayalah, cintaku tidak main main Shanum, aku sangat mencintaimu dan ingin melindungimu, ijinkan aku menjadi laki laki yang halal menyentuhmu, jika kamu sudah siap, cepat katakan. Kita akan menikah, dan satu permintaanku, jangan banyak main sosmed, hindari membalas komentar dari lawan jenis, jujur aku tidak suka, aku sangat cemburu, mengertilah.] aku mengungkapkan kegelisahan ku pada Shanum yang di iyakan olehnya, bahkan dengan mudah ia menuruti permintaan ku, itu artinya dia juga memiliki rasa yang sama padaku, kita saling cinta. Indahnya.


Sejak dari kejadian itu, kami sering sekali berkomunikasi, pagi hingga malam tak lelah memberi kabar, apapun kegiatanku selalu memberi kabar padanya, pun dengannya, bahkan aku sering cemburu Kala dia pamit akan mengisi pengajian, entahlah, aku sangat tidak suka dia ada diluar rumah tanpa aku disisinya. Saat usia kehamilan Sarah sudah menginjak delapan bulan, aku dan Shanum mengucap ijab Qabul yang disaksikan keluargaku dan keluarganya. Setelah menikah aku memboyong Shanum dan anaknya ikut tinggal di kota S, aku sudah menyiapkan rumah mewah dengan segala isinya untuk istri keduaku, untuk sementara aku ingin Shanum hanya dirumah saja menjadi ibu rumah tangga, karena aku tidak suka ada mata pria lain melihat kecantikan istriku. Alhamdulillah, Shanum sangat penurut dan begitu memahami kecemburuan ini.


"Bund, sekarang kan kita sudah sah jadi suami istri, boleh aku minta sesuatu padamu?" saat kita baru memasuki rumah baru hadiah pernikahan untuk istriku tercinta. "Apa? insyaallah kalau bunda bisa pasti akan bunda kasih." jawabnya lembut dan terlihat binar bahagia terpancar dari matanya yang bening. "Mulai sekarang, bunda pakai cadar ya, aku ingin kecantikan dan keseksian bunda, hanya untuk aku seutuhnya." pintaku pada istri keduaku yang memiliki kulit putih bak pualam, wajah cantik khas wanita Jawa, sikap lembut idaman semua pria. Aku begitu beruntung bisa memilikinya. Usia tak lagi jadi soal untuk kami, apalagi pelayanannya di ranjang, Shanum begitu hebat dan membuatku selalu ingin berlama lama dengannya. "Iya kang, aku akan menuruti apa yang suamiku perintahkan, tapi bunda belum ada niqab nya, kalau gamis juga hijab lebar sudah banyak, kan hampir semua baju bunda begitu." balasnya merona dan tersenyum dengan begitu manisnya, ah makin membuatku semakin cinta saja.


"Istirahat dulu, nanti habis magrib kita belanja, beli niqab semua warna dan model, beli gamis dan jilbab baru, beli sepatu dan juga belanja urusan dapur. Sekarang aku ingin makan istriku dulu." kami pun tertawa dan menuju kamar untuk melakukan ritual suami istri yang masih panas panasnya, khas pengantin baru. Sedangkan Inara putri sambung ku, masih tertidur, tadi diperjalanan dia tidur dan aku pindahkan ke kamarnya. Hingga aku dan ibunya bisa bebas berbulan madu.

__ADS_1


__ADS_2