Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Luka Batin Anakku 1


__ADS_3

"Hanung! Hanung! Kebiasaan, ya kamu, selalu abai dan pura pura gak denger!" Hanung!" Suara Ratminah menggelegar meneriaki cucunya, padahal Hanung sedang meringkuk di dalam kamarnya terisak, gadis kecil usia enam tahun itu sedang menahan sakit akibat pukulan dan cubitan dari tetangganya, gara gara Hanung bertengkar dengan anaknya. Parmi tidak terima dan membalas cubitan juga pukulan di tubuh kecil Hanung.


Hanung, gadis kecil yang masih berusia enam tahun. Dia selalu mengalami perundungan dari teman juga tetangga karena keterbatasannya. Hanung dari luar memang terlihat sempurna, gadis kecil dengan kulit kuning Langsat, hidung bengir dan bibir tipisnya. Cantik dan ceria, itulah Hanung Prameswari. Hanung memiliki riwayat sakit jantung bocor, hingga dia mengalami keterlambatan dalam pertumbuhannya.


Ayahnya bekerja di luar kota, tidak pernah mau perduli bagaimana nasib dan pertumbuhan sang anak, bahkan ayahnya sudah menikah lagi dengan seorang janda dan memiliki anak darinya, hingga membuat Ningsih sang ibu, harus bekerja keras demi bisa memenuhi kebutuhan hidup.


Hanung terbiasa mandiri dan harus melakukan semua sendiri, bahkan harus bisa melindungi dirinya sendiri disaat dia menghadapi ejekan dan kenakalan teman temannya. Hanung di rumah dengan neneknya yang tidak sepenuhnya bisa menjaga, bahkan terkesan cuek. Parahnya lagi eyang nya, ibu tiri dari sang nenek begitu membenci Hanung, sehingga Hanung seringkali dibentak dan tidak segan dipukulnya, meskipun Hanung tidak melakukan kesalahan.


"Kenapa toh, Bu, kok teriak-teriak nyari Hanung? Hanung sedang tidur di kamarnya." Balas Bu yuyun tergopoh-gopoh menghampiri ibunya.


"Kamu harus bisa kasih pelajaran sama Hanung, anak itu lama lama bikin malu saja. Barusan ibunya Ajeng bilang kalau Hanung mukul Ajeng, kayak anak tidak pernah dididik saja." Herdik Ratminah bersungut sungut. Tanpa tahu kebenarannya Ratminah langsung percaya dengan apa yang di ucapkan Parmi, padahal kenyataannya, justru Parmi lah yang sudah memukul Hanung hingga Hanung kesakitan bahkan sangat ketakutan, tanpa ada yang tau Hanung punya trauma yang mendalam akibat ulah Parmi yang memukulinya tanpa ampun.


"Namanya juga anak kecil, bertengkar sudah lumrahnya anak anak, ya Parmi saja yang terlalu melebihkan, wong anaknya itu juga nakalnya minta ampun." Jawab Yuyun tak terima kalau Hanung dituduh.


"Kamu itu, kalau di kasih tau mesti brenggel." Ratminah berlalu meninggalkan Yuyun yang masih tidak suka kalau cucunya terus yang disalahkan. Lamat Lamat Yuyun mendengar isak tangis Hanung, dengan langkah cepat Yuyun menghampiri cucunya yang ternyata sedang meringkuk dan menangis lirih.


" Loh nduk, kamu kenapa, kok nangis?" Hanung hanya terus menangis dengan menahan sakit pada lengan juga pahanya, karena Parmi sudah memukul lengan dan mencubit paha Hanung tanpa ampun dan mirisnya tidak ada satupun orang yang tau, hanya ada anak anak kecil yang sedang bermain, mereka pun tidak berani berbuat banyak, hanya melihat saja.


Yuyun menjerit saat matanya melihat memar kebiruan di kedua lengan sang cucu. " Ya Alloh Gusti, ini kena apa to nduk, kok lenganmu biru biru, Ya Alloh, kaki mu juga biru biru, kamu ngomong, siapa yang sudah tega berbuat seperti ini sama kamu? ngomong nduk ngomong." Yuyun menangis histeris melihat tubuh cucunya penuh lebam membiru.


"Hanung dipukul ibunya Ajeng nek, padahal Hanung tidak nakal, yang nakal Ajeng, tapi Hanung yang dipukul." Hanung menangis menahan sakit di tubuh dan pasti mencipta luka di hatinya.


"Memang kurang ajar itu si parmi, ibumu harus tau ini, sebentar ya nduk, nenek ambil hape dulu, ibu mu harus di kasih tau." Yuyun mengambil ponselnya dan langsung menelpon Ningsih yang sedang bekerja di pabrik plastik, Yuyun menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Mendengar anaknya disakiti, Ningsih tak terima dan minta ijin untuk pulang dengan alasan sang anak sedang sakit.


Sementara itu Hanung masih menangis, dan setelah selesai memberi kabar pada Ningsih, Yuyun mengambil kompres, untuk mengompres memar di tubuh sang cucu. Hanung tertidur setelah capek menangis, hatinya begitu terluka dengan perlakuan tetangganya, di tambah dengan tadi Hanung mendengar sang eyang yang justru menghardiknya tanpa tau kebenarannya, nelangsa. Itulah yang dirasa Hanung, tak tau kemana harus berlindung, ibu yang dia punya, sibuk bekerja mencari uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Ayahnya bahkan jarang sekali pulang, menelpon untuk bertanya kabarnya pun hampir tidak pernah, Hanung gadis kecil yang harus di paksa kuat dan tegar di usianya yang masih dini.


Ningsih mengendarai montor matic nya dengan kecepatan tinggi, tidak perduli dengan keselamatannya, di pikirannya hanya ada keadaan anaknya saat ini. Cemas, marah, dan nelangsa bercampur jadi satu. Air matanya luruh bersama luka batinnya, kenapa hidup begitu mempermainkan nasibnya, itulah yang selalu terngiang dalam ketidakterimaan hatinya akan nasib yang kini dia jalani.


Hanya butuh waktu sepuluh menit, Ningsih sudah sampai di depan rumah. 


"Bu..." Ningsih langsung tersungkur, menatap gadis kecilnya yang tertidur, hatinya begitu tersayat melihat wajah sembab sang anak, dan amarahnya meledak saat matanya melihat banyak luka lebam di tubuh  Hanung.

__ADS_1


"Tolong jaga Hanung Bu, biar aku kasih pelajaran yang setimpal pada perempuan iblis itu." Ningsih dengan amarahnya menuju rumah Parmi untuk memberi perhitungan atas perlakuannya pada sang anak. "Tidak akan ada kata ampun untuk wanita iblis sepertimu Parmi, kedua tanganku akan menghajar mu lebih dari apa yang sudah kamu lakukan pada anakku." Geram Ningsih dengan emosi yang meledak.


Brak! Brak! Brak!


"Heh, Parmi! perempuan iblis! Keluar kamu, hadapi aku kalau kamu berani. Keluar! atau aku akan mendobrak pintu!"


Ningsih sudah tidak lagi bisa mengontrol emosinya, tangannya sudah gatal ingin menghajar perempuan bernama Parmi, bahkan tatapan aneh para tetangga sudah tidak lagi dia perdulikan. Mencari keadilan untuk gadis kecilnya yang kini sedang dia perjuangkan.


Brak! Brak! Brak!


Meskipun pintu di gedor puluhan kali, tidak ada tanda tanda dibuka oleh pemiliknya. Justru terdengar suara parmi yang teriak mencaci Ningsih dengan sembunyi dibalik tembok rumahnya, dan itu semakin membuat Ningsih murka.


" Gak usah teriak teriak di rumahku. Dasar perempuan gila! Anakmu itu gak wa**s, jangan nyalahin orang lain kalau dia diberi pelajaran biar gak nakal sama anak orang." Herdik Parmi dibalik tembok rumahnya.


Tak kehilangan akal, Ningsih memutar langkah menuju pintu samping rumah Parmi. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya, pintu tidak terkunci sehingga dengan langkah penuh amarah Ningsih masuk dan mencari keberadaan Parmi yang ternyata sedang mengintip di balik pintu, Parmi pikir, Ningsih sudah pergi dari rumahnya karena sudah tidak terlihat lagi saat dia mengintipnya. Parmi mengusap dadanya lega, tanpa dia sadari jika orang yang dia intip ternyata sudah ada dibelakangnya dan siap untuk menghajar dirinya.


Bug! Bug! Bug!


" Sekarang rasakan bagaimana sakitnya dihajar saat kamu tidak berdaya, ini balasan untuk rasa sakit anakku. Dasar perempuan gila!" 


Parmi hanya bisa meraung kesakitan, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tenaga Ningsih yang menggila akibat amarahnya, tubuh parmi yang pendek memudahkan Ningsih untuk meringkuknya.


" Kenapa kamu diam saja perempuan edan? Mana sikap biadab mu saat kedua tanganmu menghajar tidak berdaya di tubuh kecil anakku, mana hah? Ayo lawan aku, hajar aku kalau kamu punya nyali. Biadab kamu!"  Bug! Bug! Bug! Sekali lagi Ningsih melayangkan pukulannya ke tubuh Parmi yang tidak berkutik, hanya bibirnya saja yang terus menjerit kesakitan.


" Mbak Ningsih sudah hentikan mbak." Lerai Bu Cici dan beberapa warga yang datang karena mendengar keributan.


"Biar ku hajar perempuan iblis ini. Karena dia sudah berani menyakiti anakku sampai tubuhnya di penuhi memar akibat tangan lancang perempuan gila ini!" Balas Ningsih nyalang.


" Sudah mbak. Sudah ya. Nanti mbak kena masalah." Tutur ibu ibu menenangkan. Dengan sekuat tenaga Ningsih menghempaskan tubuh parmi hingga terjengkang dan membuat Parmi meringis kesakitan.


" Ini kenapa to, ada apa sebenarnya? Mbak ningsih kok bisa semarah ini?" Tanya Bu Cici penasaran. Karena setau warga, Ningsih dikenal sosok yang tak banyak bicara dan tertutup, jika semarah ini pasti ada sesuatu yang menyakitinya.

__ADS_1


" Wanita gila ini sudah berani menghajar anakku sampai tubuhnya di penuhi luka lebam, apakah kalian akan diam, jika anak kalian diperlakukan seperti itu oleh iblis perempuan ini?" 


Semua langsung terdiam dan menatap tajam ke arah parmi yang menangis kesakitan.


"Owalah kamu kok keterlaluan to mi parmi, bukan mertuamu saja yang kamu hajar, eh sekarang anak orang juga kamu hajar, pantes kalau kamu dihajar begini." Herdik Bu suci pada parmi yang menunduk.


" Terus sekarang keadaan anakmu gimana sih?" Tanya Bu Elis simpati.


" Ajeng trauma Bu, dia ketakutan dan pasti batinnya terluka, perempuan laknat ini! Sudah menyakiti mental anakku. Aku tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu sana anakku." Ningsih menatap nyalang ke arah Ajeng yang masih terduduk lesu, sebelum melangkah pergi, Ningsih kembali menghampiri parmi dan melayangkan satu tamparan juga cubitan di lengan parmi penuh emosi. Tak perduli dengan apa yang dipikirkan orang lain untuknya, yang terpenting duka anaknya terbalaskan, meskipun tak bisa menghapus begitu saja trauma yang ditimbulkan dari amukan parmi.


Setelah puas menghajar Parmi, Ningsih melenggang pulang tanpa menghiraukan kehadiran para tetangganya yang berkumpul dirumah parmi.


---------------


Saat sampai di rumah, Ningsih mendengar isakan sang anak, langkahnya dipercepat agar segera sampai di kamar anaknya.


" Hanung" Ningsih langsung memeluk Hanung dengan linangan air mata yang terus mengalir tidak bisa ditahannya.


" Hanung, maafin ibu ya nak. Hanung katakan sama ibu, mana yang sakit nak?" Ningsih memeluk Hanung sedih, tubuh kurus sang anak semakin membuatnya nelangsa.


" Badan Hanung sakit semua Bu, ibunya Ajeng jahat, sudah pukul pukul Hanung." Adu Hanung sambil terisak.


" Sabar ya Nak. Mulai hari ini jangan lagi Deket Deket sama Ajeng ya. Ibunya kejam, nanti Hanung disakiti lagi." Biarkan saja aku terkesan sangat jahat dengan menjelekkan orang lain di hadapan anakku yang harusnya tidak aku lakukan. Demi menjaga agar Hanung tidak lagi berurusan dengan wanita iblis itu.


" Hanung takut Bu. Hanung gak mau keluar. Semua pada jahat sama Hanung, apa salahnya Hanung Bu, kenapa semua selalu menyakiti Hanung." Hanung terisak mengingat bagaimana perlakuan para tetangga terhadapnya selama ini, itu semakin membuat ningsih semakin merasa bersalah karena sibuknya bekerja sampai tidak bisa melindungi anaknya.


" Ibu janji nak, ibu akan melindungi Hanung setelah ini." Kamu yang kuat ya, Hanung anak baik, Hanung sangat di sayang Alloh, makanya Hanung dikasih ujian ini, agar Hanung bisa berlatih sabar dan kelak akan menjadi wanita tangguh." Hibur Ningsih pilu. Hatinya begitu tersayat dengan kesedihan sang anak.


 


 

__ADS_1


__ADS_2