Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Luka Batin Anakku 2


__ADS_3

Sudah dua hari tubuh Hanung demam, Dan itu membuat Ningsih harus meminta ijin untuk tidak masuk bekerja.


Duwi, mandor di tempat Ningsih bekerja enggan menerima alasan Ningsih, dengan kata kata pedas dan sikap tidak mengenakkan meminta Ningsih untuk tetap masuk meskipun alasan yang digunakan Ningsih bukanlah sekedar omongan. Hanung anak Ningsih benar benar sakit, sedangkan dirumah tidak ada yang bisa Ningsih percaya untuk merawat Hanung. Ibunya yang sakit sakitan tidak memungkinkan untuk menitipkan Hanung padanya, sebagai ibu yang cukup tau riwayat kesehatan sang anak, Ningsih tidak tega meninggalkan Hanung. Dengan bekal nekad dan rasa sakit hati, akhirnya Ningsih memutuskan untuk berhenti bekerja dari pabrik plastik yang gajinya tidak seberapa itu.


" Baiklah, aku ijin keluar dari pabrik mbak. Buat apa tetap bertahan disini, jika kita tidak dihargai. Semoga suatu saat nanti sampean mengalami berada di posisiku, agar tau bagaimana rasanya menjadi aku saat ini. Terimakasih." Ningsih menutup telpon dari Duwi sang mandor yang tidak memiliki empati sedikitpun tanpa mengucap salam. ' Biarlah tidak perlu berlaku sopan pada orang yang tidak memiliki hati sepertinya.' batin Ningsih kecewa.


Meskipun hatinya gundah dan pikirannya kacau, Ningsih tetap bersikap tenang dan baik baik saja di depan sang anak. Ningsih percaya jika pertolongan Alloh itu pasti ada dan akan datang di waktu yang tepat.


" Bu " panggil Hanung lirih dengan wajahnya yang masih terlihat pucat, bahkan bibirnya kering dan pecah pecah.


" Iya nak, Hanung mau apa?." Balas Ningsih lembut menatap sendu pada tubuh kecil Hanung.

__ADS_1


" Hanung mau bakso." Dengan cekatan Ningsih langsung mencari apa yang di inginkan anaknya, meskipun uang di dalam dompetnya sangat menipis jumlahnya.


Bakso depan pabrik gula adalah favorit sang anak, dengan mengendarai montor maticnya Ningsih melaju kesana, membeli satu bungkus bakso dengan harga tujuh ribu rupiah.


" Hanung, makan dulu nak. Ini ibu sudah beli baksonya." Ningsih membangunkan Hanung yang tertidur di atas kasur tipisnya, mendengar suara sang ibu, Hanung membuka matanya berlahan, ada senyum senang karena apa yang di inginkan dipenuhi sang ibu. Ningsih menyuapi Hanung telaten, hatinya sedikit lega, karena Hanung sudah mau makan meskipun hanya dengan bakso. Setidaknya perutnya sudah tidak kosong lagi.


" Habisin ya nak, terus minum obatnya, biar panasnya hilang." Rayu Ningsih pada Hanung yang mengangguk.


" Bu, gimana keadaan Hanung? Saya dengar kabar Hanung sakit." Suara perempuan yang tidak asing di telinga Ningsih sedang bertanya pada ibunya di luar.


" Iya mbak. Hanung badannya panas sudah dua hari ini, sekarang ada dikamar sama ibunya." Balas Bu Yayuk ramah.

__ADS_1


" Mbak Ningsih gak kerja?." Sahut mbak Lina tetangga sekaligus teman Ningsih sejak kecil.


" Ningsih gak tega ninggalin Hanung mbak, takutnya Hanung drop lagi, makanya dia tidak masuk kerja. Monggo masuk mbak, Ningsih ada di kamarnya Hanung." Bu Yayuk mempersilahkan mbak Lina untuk masuk kedalam, agar bisa langsung melihat Hanung di kamarnya.


" Asalamualaikum mbak Sih." Sapa mbak Lina ramah saat masuk ke dalam kamar Hanung.


" Waalaikumsallam mbak Lina. Monggo silahkan masuk mbak, maaf tempatnya berantakan." Balas Ningsih sungkan dengan kondisi kamar yang jauh dari kata bagus.


" Gak papa mbak, sama saja. Gimana Hanung, katanya sakit. Cepat sehat ya nduk, biar bisa main lagi." Sambung mbak Lina sambil mengusap kening hanya yang masih terasa panas. Mbak Lina meletakkan kantong kresek dengan isi berbagai cemilan dan susu untuk Hanung.


" Kok repot repot to mbak, di jenguk saja sudah Alhamdulillah." Ningsih merasa sungkan, karena sahabat kecilnya itu selalu berlaku baik padanya, bahkan sangat sering mengirimi makanan. Nasib Lina lebih beruntung dibanding Ningsih. Lina anak orang kaya, dan sekarang bekerja menjadi PNS bahkan suaminya juga seorang PNS. Sedangkan Ningsih harus bekerja membanting tulang dengan bekerja sebagai buruh di pabrik bahkan kini sudah keluar. Ningsih wanita bersuami, tapi terasa tidak memiliki suami, karena Ningsih harus berjuang sendirian untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan sang anak. Suami Ningsih bahkan jarang sekali pulang. Jangankan pulang. Bertanya kabar lewat telpon pun tidak pernah. Dulu Ningsih akan menangis dan sakit hati. Tapi setelah tabir suaminya menikahi janda terungkap, membuat Ningsih tidak lagi perduli pada laki laki yang masih sah menjadi suaminya. Bahkan Ningsih sudah menganggap dirinya seorang janda, akibat tidak pernah dipedulikan dan tidak diberi nafkah oleh suaminya.

__ADS_1


Mengarungi hidup seorang diri, menyelesaikan masalah sendiri, tidak ada tempatnya bersandar kecuali hanya kepada NYA Tuhan pemilik semesta. Ningsih dipaksa harus kuat oleh keadaan demi bisa menjaga dan melindungi anaknya.


__ADS_2