
"Mbak tenang saja, semua sudah Rudi atur, mereka gak akan bisa menemukan kita tinggal dimana, kecuali mbak sendiri yang sudah siap muncul dengan identitas baru mbak, janda kaya raya dari desa Wlingi." hahahaa Rudi tertawa lebar setelah berhasil meledekku, meskipun bukan saudara kandung tapi kita begitu dekat karena meskipun Rudi jauh, aku akan selalu menasehati dan memberinya perhatian lewat telepon.
'Tunggu kejutan indah untuk kalian, dariku. Aku sudah gak sabar melihat reaksi mereka dengan status baruku. tunggu tanggal mainnya, Mas.'
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Mobil yang dikendarai Rudi mulai memasuki pelataran rumah berlantai dua yang di dominasi dengan warna kunyit dan coklat, terlihat mewah dan elegan. Saat kami menginjakkan kaki di lantai keramik warna maron, dan mulai melangkah memasuki rumah, terlihat emak dan Siska sudah berdiri di ambang pintu utama untuk menyambut kepulangan ku dan Safira dengan senyuman yang merekah di bibir mereka, sedangkan kakek tengah duduk di atas kursi roda yang di belakangnya berdiri sosok perempuan setengah baya yang selama ini sudah telaten merawat kakek, mbak Narti, rumahnya terletak pas di depan rumah ini, suaminya kerja serabutan, sedangkan anaknya hanya sibuk main game dan tak berniat untuk mencari kerja, padahal usianya sudah menginjak kepala tiga.
"Selamat datang nduk, Alhamdulillah, akhirnya kita bisa kumpul lagi." sambut ibuku yang langsung memeluk erat tubuh ini, terlihat air matanya sudah mengalir di pipi keriput miliknya. "Sudah! hapus air matanya emak, karena tidak ada yang perlu kita tangisi, aku sudah kembali dan akan memulai dengan kehidupan baru setelah ini, titip Fira saat nanti aku disibukkan dengan pekerjaan." balasku santai dan mengulas senyuman manis, menunjukkan pada semua orang, kalau aku kuat, aku baik baik saja.
Nampak emak langsung mengusap air matanya dan langsung berganti dengan senyuman kabar kala melihat Fira mendekat dan langsung menyaliminya, dengan haru ibuku menciumi putriku yang juga terlihat bahagia dengan senyuman yang terukir manis di bibir tipisnya. Aku beralih ke arah Siska yang langsung mengulurkan tangannya, memelukku erat dan tangannya dengan lembut mengelus punggung ini, adikku itu selalu bersikap tenang dan dewasa meski usianya masih jauh di bawahku, gadis desa yang baik dan lembut itulah sosok siska adik kandungku.
Aku kembali melanjutkan langkah ini menuju ke arah kakek yang terlihat tersenyum dan menatapku penuh arti, lelaki tua yang begitu aku sayangi, kakek Sumardji kini sudah berusaha hampir sembilan tahun, tapi wajahnya tak pudar dari sosok tegas dari jiwa pemimpinnya. Kakek adalah panutan bagiku dan kami semua.
"Sini nduk, dekat sama kakek." akupun langsung menyalimi nya dengan takzim dan berulangkali mencium punggung tangan keriputnya. Tak ada kata yang bisa mewakili rasaku padanya, yang aku tau, aku sangat menyayangi dan menghormati lelaki yang sudah dipenuhi keriput di kulit putihnya.
"Kakek sehat sehat ya, Ningsih masih ingin berlama lama dengan kakek, mengganti waktu yang sudah hilang selama ini, maafkan Ningsih ya kek, jika Ningsih sudah menodai keluarga kita dengan perceraian ini." kakek memakai lembut bahu ini, dan bibirnya menyunggingkan senyum yang terlihat begitu menenangkan. "Sudah, kamu gak salah, ini takdir, dan jadikan sebagai pelajaran untuk tidak diulangi. Ayo masuk dan istirahat saja dulu, karena besok kamu akan memulai dari awal dengan kehidupan barumu sebagai pewaris harta kakek mu. Karena Rudi sudah sibuk dengan pekerjaannya, justru dia malah bikin warung kopi, dasar anak nakal adikmu Lanang kui." ujar kakek yang disambut gelak tawa Rudi juga ibu dan mbak Narti. Sedangkan Siska sudah sibuk membuatkan minuman di dapur.
"Warung kopi?" tanyaku bingung, karena aku tidak pernah tau kalau Rudi buka usaha warung kopi, untuk apa? sedangkan usaha kakek sangat banyak, tapi kenapa dia memilih membuka warung kopi. Aku menatap heran ke arah Rudi yang tersenyum untuk meminta penjelasannya.
"Aku baru saja meresmikan cafe di garum sama buka cabang di Wates Kediri, mbak. Tapi kakek selalu bilang kalau itu cuma warung kopi, karena yang dijual juga gak jauh jauh dari kopi." seakan tau aku meminta jawaban, dengan gamblang Rudi menjelaskan sambil terus tersenyum dengan ekspresi kakek yang seperti tak rela.
__ADS_1
"Owalah, kirain beneran kamu buka warung kopi gitu, Rud." aku pun juga ikut tertawa pada akhirnya. Ikut senang melihat Rudi bisa sesukses sekarang, padahal umurnya masih sangat muda.
"Om, nanti Fira mau ikut ke kafe nya boleh?" sahut Fira yang sedari tadi diam saja dan malah asik dengan ponsel barunya, saat di jalan tadi kami mampir untuk membeli ponsel terlebih dulu, mengganti nomor juga membeli ponsel yang lebih canggih dan bagus dengan merk apel yang sudah tergigit hingga meninggalkan bekas kerowak pada buahnya.
"Siap tuan putri, nanti om ajak berkunjung warung kopi milik om ya." balas Rudi dan langsung disambut oleh kami semua. Rasanya tenang dan nyaman ketika berada diantara orang orang yang tulus menyayangi kita, dan menghargai keberadaan kita, semoga ini awak yang indah untuk kami beranjak dari kenangan buruk yang diciptakan mas Doni dan keluarganya, dan akan aku pastikan mereka menyesal.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Tak terasa sudah hampir satu bulan aku tinggal di Blitar dan mulai menjalani rutinitas baruku dengan menjalankan usaha kakek bersama Siska adikku, bahkan Alma juga sudah mulai kembali masuk ke sekolah barunya, Rudi sudah mengurus kepindahannya dengan rapi tanpa bisa di lacak oleh mas Doni ataupun keluarganya. Bahkan aku juga dapat kabar dari orang yang dibayar Rudi untuk memberi informasi kalau mas Doni atau keluarganya yang datang mencari keberadaan kami. Dan benar saja, mereka sudah tiga kali datang ke rumah ibu yang sudah terjual dan mencari informasi dari tetangga sekitar tentang keberadaan kami, tapi tidak ada satupun yang memberikan informasi tentang keberadaan kami, karena memang ibu ataupun Rudi tidak pernah sekalipun memberitahukan dimana tempat tinggal baru kami.
Tiga hari lagi, surat keputusan cerai akan keluar dan setelah itu akan benar benar bebas dari mas Doni dan menyandang status baru, yaitu janda. Status yang sama sekali tak pernah terlintas di benak ini, tapi sebentar lagi status itu akan melekat padaku. Terasa perih ketika memikirkannya tapi seperti yang dibilang kakek, takdir. Ya, inilah takdirku.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sebelum menjawab, aku mengambil nafas dalam, berusaha membuang sesak yang kadang masih menyisakan perih di uji hati ini.
"Iya, dan sekalian nanti kita langsung ke Surabaya, menemui mas Doni untuk memberinya kejutan, aku ingin melihat ekspresinya." jawabku Tania ekspresi dan dibalas seulas senyum oleh adik lelakiku.
"Saran ku, mbak harus dandan yang cantik, dan tentunya tunjukkan kelas mbak dalam berdandan, tau kan maksudku, mbak?"
"Iya, mbak sudah menyiapkannya." jawabku singkat dan kembali melanjutkan pekerjaan.
__ADS_1
"Good." balas Rudi sambil menyeruput kopinya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pajero sport terus melaju membelah jalanan dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hingga jarak tempuh dari Blitar ke Surabaya hanya dua jam saja, Terlihat Mas Doni sedang duduk di teras rumah dengan perempuan rambut panjang sebahu dan tubuhnya sedikit berisi yang memakai kaos pendek dengan bawahan rok jeans selutut, mereka nampak sedang bercanda dan akrab. Melihat ada mobil berhenti tepat di depan rumahnya, Mas Doni langsung magalihkan pandangannya tajam ke arah mobil, dan seketika mulutnya menganga melihat aku keluar dari dalam mobil, bahkan, ibunya mas Doni juga masih ada disini, perempuan tua itu terlihat menutup mulutnya dan matanya melotot melihat ke arahku.
Aku berjalan beriringan dengan Rudi yang nampak sangat gagah dengan balutan kemeja lengan panjang yang digulung hingga ke siku dan kaca mata hitam bertengger di matanya, tampan.
"Kamu." hanya kata itu yang keluar dari mulut mantan suamiku dengan matanya yang masih menatapku tanpa kedip.
"Iya, Mas. kenapa, kaget ya?" balasku santai dan memamerkan senyum semanis mungkin.
"Kemana saja kamu,hah? aku tiga kali kerumah ibumu di Kediri tapi rumahnya sudah terjual, dan tidak ada yang tau kemana pindahnya, bahkan aku telpon ke nomor kamu juga Fira sudah tidak aktif. Istri macam apa kamu?" berang mas Doni berapi api, wah wah pandai sekali dia playing viktim.
"Aku sengaja menghindarimu, bukankah kamu juga sudah tidak menginginkan aku lagi mas? buktinya aku pergi saja kamu tidak berniat untuk mencegahnya. Dan niatku kesini hanya ingin memberikan ini sama kamu." aku menyodorkan map coklat ke arahnya, dan mas Doni menerimanya dengan ekspresi bingung. "Apa ini?" tanyanya heran. "Buka saja, nanti juga kamu tau." balasku datar, sambil terus melihat ekspresi orang orang disini, bahkan mantan mertuaku dari tadi tak berkedip menatap ke arah mobil dan Rudi yang berdiri menyender ke tembok.
"Apa? kamu sudah gila ya? bisa-bisanya memutuskan hal penting kayak gini tanpa bertanya lebih dulu padaku, hah. Gila kamu ya!" Mas Doni melotot dan tak terima setelah tau isi di dalam amplop. "Memangnya itu apa, Don?" sahut ibunya penasaran. "Surat cerai Bu." jawab mas Doni tersengal menahan emosi. "Bagus dong, Mas. jadi kamu gak usah repot repot menceraikan perempuan gembel ini, kita bisa langsung nikah kan?" perempuan disampingnya mas Doni akhirnya menyahut dan ternyata dia perempuan selingkuhnya. "Iya, kenapa kamu harus marah, Don? biarkan saja dia pergi, wong dia cuma bisanya nyusahin kamu saja, habisin yang saja kok bisanya." sungut ibunya sinis menatap ke arahku, dan akupun hanya tersenyum menanggapi.
"Baiklah, urusanku sudah beres. Aku pamit pergi, dan satu lagi, Fira gak butuh bapak kayak kamu, hidupnya sudah sangat terjamin denganku. Semoga kalian tidak menyesal karena sudah menghinaku." Setelah berucap demikian aku memutar tubuh dan ingin melangkah ke arah mobil, tapi suara Rudi membuatku menghentikan langkah dan kembali memutar tubuh untuk melihat aksinya.
"Kakakku tidak semakin yang kalian pikir, harta kakek kami tidak akan habis untuk keturunan tujuh turunannya, dan sekarang Mbak Ningsih kah yang menjadi pewarisnya, mobil itu hanya salah satu mobil miliknya, masih banyak mobil yang berjejer di garasi rumahnya yang di Wlingi. Selamat tinggal, dan jangan pernah usik kakakku lagi, karena aku tidak akan tinggal diam untuk kali ini. Permisi." Rudi menggandengku berjalan memasuki mobil, dan terlihat mantan ibu mertuaku shock sampai tak bisa berkata kata, bahkan mas Doni nampak frustasi dengan mengacak rambutnya kasar.
__ADS_1
Selamat tinggal, Mas.
Selesai.