Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Meraih Restu 2


__ADS_3

" Sahira! Buka pintunya nak, ini mama." Bu Andini mengetuk pintu kamar yang masih terkunci rapat, gadis cantik itu sengaja mengurung dirinya setelah pertemuan terakhirnya dengan Zaki kemarin. Sahira butuh waktu untuk menyembuhkan dukanya dengan merenung serta belajar menguatkan dirinya sendiri dengan menghabiskan waktu sendirinya untuk membaca Alquran serta berdzikir. Hanya dengan begitu, hatinya yang terkoyak bisa menemukan kedamaian.


" Mama." Suara lirih Sahira terdengar begitu pilu di hati sang ibu, Bu Andini memeluk erat sang gadis dengan penuh cinta, Bu Andini paham, anak gadisnya sedang tidak baik baik saja. Cintanya pada pemuda yang bernama Zaki sangatlah besar, hingga ia lupa jika tidak ada cinta yang lebih tinggi selain cinta terhadapNYA. Dengan lembut Bu Andini selalu menasehati Sahira agar menjalaninya dengan iklas, belajar melupakan cintanya yang tidak mendapatkan restu dari keluarga laki laki yang dicintainya.


"Sahira, sebentar lagi magrib, sudah waktunya kamu berbuka, setelah ini kuatkan hati ya nak. Sudahi meratapi apa yang tidak menjadi takdirmu. Mulailah hidup baru dengan yang lebih baik. Insya Alloh anak mama akan menemukan jodohnya yang lebih baik pula." Sahira mengangguk dan menyenderkan kepalanya di bahu sang ibu, pun dengan Bu Andini yang juga meletakkan pipinya di pucuk kepala Sahira dengan lembut.


" Ma, Sahira ingin merubah penampilan, dengan memakai niqab, apa mama mengijinkan?" Sahira bertanya ragu pada wanita yang begitu dia hormati. Apapun keputusan yang ingin Sahira ambil, semua harus dengan restu mamanya.


Bu Andini menatap lekat manik mata sayu sang anak, senyum di bibirnya terbit meski hatinya masih belum sepenuhnya yakin dengan keputusan anak gadisnya.


" Apakah Sahira sudah benar benar yakin nak? Dan beri mama satu saja alasan Sahira memutuskan untuk berniqab. Agar mama juga yakin jika anak mama melakukan hal ini bukan semata karena putus cinta.


" Sahira yakin ma. Awalnya Sahira kecewa karena hubungan Sahira dengan Zaki harus berakhir dengan cara seperti ini, jujur Sahira sakit hati. Tapi setelah Sahira merenung dan meminta petunjuk, tiba tiba hati Sahira terbesit keinginan untuk menutup wajah ini dari segala fitnah dan pandangan yang bukan mahram. Sahira ingin menjaga keindahan di diri Sahira nanti hanya untuk takdir Sahira, suami yang dikirim Alloh untuk menjadi pendamping Sahira."


" Mama akan dukung selama itu tidak menyalahi syariat nak, tapi Sahira juga pasti sudah tau kan, resiko menjadi wanita bercadar. Untuk itu Sahira harus benar benar bisa menjaga lidah dan sikap Sahira. Karena penutup bukan sekedar menutupi tapi sebagai simbol agama seseorang nak, jangan sampai karena sikap dan kelalaian diri kita justru menodai. Sahira paham kan maksud mama?"


" Insya Alloh ma, Sahira akan terus belajar agar menjadi pribadi lebih baik lagi. Dan Sahira akan mulai rutin ikut ke kajian dengan umi Rihana."


"Alhamdulillah. Mama senang dengarnya. Semoga Istiqomah ya sayang."


"Aamiin, doain Sahira Ma."


" Pasti sayang, doa mama selalu untuk anak anak mama, yang terbaik buat kalian."

__ADS_1


 


Zaki sejak tadi hanya diam tidak keluar dari kamar. Meskipun nampak baik baik saja dan terlihat tenang dari luar. Sejatinya hatinya memendam kecewa karena cinta yang tak direstui. Sahira dimatanya begitulah indah, gadis pendiam dan pekerja keras itu sudah mampu mencuri hatinya. 


" Apakah aku sanggup menjalani kehidupan rumah tangga dengan perempuan lain disaat hatiku masih terus memikirkan mu Sahira." Zaki berucap lirih seiring dengan hatinya yang mulai dilanda resah. Karena yang sempat dia dengar dari percakapan umi dan abi nya, Zaki akan di lamarkan dengan gadis anak sahabat uminya, pemilik salah satu pondok pesantren di Jombang.


'Kenapa harus serumit ini, bagaimana caraku menolak perjodohan ini. Aku belum siap jika harus berumah tangga dengan wanita yang belum pernah sama sekali aku temui. Ya Tuhan berilah hamba MU ini petunjuk.' batin Zaki sesak.


" Apakah aku sanggup menjalani kehidupan rumah tangga dengan perempuan lain disaat hatiku masih terus memikirkan mu Sahira." Zaki berucap lirih seiring dengan hatinya yang mulai dilanda resah. Karena yang sempat dia dengar dari percakapan umi dan abi nya, Zaki akan dilamar kan dengan gadis anak sahabat uminya, pemilik salah satu pondok pesantren di Jombang.


'Kenapa harus serumit ini, bagaimana caraku menolak perjodohan ini. Aku belum siap jika harus berumah tangga dengan wanita yang belum pernah sama sekali aku temui. Ya Tuhan berilah hamba MU ini petunjuk.' batin Zaki sesak.


" Kak, boleh Nuri masuk." Terdengar suara cempreng sang adik, Zaki tersadar dari lamunannya dan berjalan menuju pintu. Saat dibuka wajah menggemaskan sang adik muncul dengan membawa susu jahe di tangannya.


" Kakak lagi agak pusing saja, terimakasih ya sudah perhatian sama kakak." Jawab Zaki datar, berusaha menutupi kemelut yang ada di hatinya dari sang adik.


" Kak Zaki yakin? Gak mau berbagi cerita nih sama adiknya." Sahut Nuri sewot. Gadis kecil itu tau apa yang terjadi pada kakaknya, diam diam dia suka memperhatikan kakaknya yang seringkali murung saat sendiri, bahkan Nuri sering curi dengar obrolan orang tuanya. Namun sebagai anak yang masih sangat belia, Nuri tidak berani bersuara karena itu bukan ranah nya. Nuri masih berusia empat belas tahun, tapi kecerdasannya patut di acungi jempol, saat usianya masih sepuluh tahun, Nuri sudah bisa menghafal Alquran sampai tiga puluh juz tanpa hambatan. Bahkan dengan sikapnya yang ceria, Nuri juga sangat ahli dengan ilmu bela diri dan berkuda. Zaki sangat menyayangi adiknya, dia memang sangat berbeda dengan Halimah adiknya yang lain, Halimah memiliki sifat yang sedikit sensitif bahkan sering membuat hubungannya dengan sang ayah bermasalah. Halimah gadis yang cantik dengan kulit putih, tubuhnya yang ramping semakin membuatnya terlihat sempurna sebagai wanita. Tapi sayang Halimah memiliki sifat yang sedikit sombong, ucapannya pedas bahkan sering menyakiti hati orang lain.


" Tau apa adik kakak ini? Kamu itu tugasnya cuma belajar, gak boleh ikut urusan orang dewasa." Sahut Zaki menanggapi ocehan adik kesayangannya.


" Nuri sudah besar kak, Nuri bahkan paham dengan apa yang kakak rasain sekarang. Nuri tau, kakak sedang mikirin kak Sahira kan? Dan kakak juga sedang sedih dengan keputusan umi. Saran Nuri, kakak harus berani bicara tentang perasaan kakak, jangan diam saja, apa kakak mau, menikahi perempuan yang kakak tidak cinta?" Ucap Nuri panjang lebar, seperti gadis yang sudah dewasa saat bicara, sampai Zaki dibuat tak berkedip melihat adiknya.


" Eeh, ternyata adikku sudah besar." Zaki tersenyum dan mengacak pucuk kepala Nuri yang tertutup hijab lebarnya.

__ADS_1


" Sudah, lebih baik jangan bahas ini, nanti kalau ada yang dengar kamu bisa kena masalah dengan umi dan abi. Kakak gak mau, Nuri dimarahi, sana gih istirahat, sudah malam." Sambung Zaki lembut.


" Kakak baik baik ya, kalau butuh teman curhat, aku siap dengerin kakak dan akan jadi teman yang baik buat kakak. Jangan lupa susunya diminum. Kakak juga harus istirahat jangan melamun terus. Asalamualaikum." Balas Nuri dengan gayanya yang ceria, setelah mengucapkan salam Nuri melangkah keluar dari kamar sang kakak dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dari jauh Halimah memperhatikan tingkah sang adik. 


" Apa kak Zaki sakit? Seharian ini dia tidak keluar dari kamarnya. Dan tadi Nuri sepertinya membawakan kak Zaki susu. Ada apa dengan kak Zaki? Lebih baik aku melihatnya sebentar, memastikan jika dia baik baik saja.


" Asalamualaikum. Kak, ini aku Halimah. Bisa buka pintunya sebentar. Kakak baik baik saja kan?" Sapa Halimah di balik pintu kamarnya sang kakak.


" Waalaikumsallam, masuk saja Imah, pintunya tidak dikunci." Sahut Zaki dari dalam.


" Kakak lagi apa? Kak Zaki sakit?" Tanya Halimah setelah masuk ke dalam kamar kakaknya.


" Alhamdulillah kakak sehat dan baik baik saja. Kok tumben kamu perhatian sama kakak, biasanya juga cari gara gara." Sindir Zaki pada adiknya yang suka sekali buat ulah untuk memojokkan nya.


" Ish kakak. Aku kan juga sayang sama kakak, aku tuh hawatir sama kakak. Kalau kakak sakit, gak seru. Gak ada yang aku kerjain." Balas Halimah cemberut.


" iya iya kakak tau, Alhamdulillah, adik adik kakak pada perhatian sama kakak. Makasih ya. " Zaki menatap adiknya sayang dengan senyuman teduh dari bibirnya.


" Sekarang tidur gih, sudah malam. Nanti kalau ketahuan umi dimarahi. Kakak baik baik saja, tidak usah hawatir." 


" Baiklah, Imah ijin kembali ke kamar ya kak. Asalamualaikum."


" Waalaikumsallam." Balas Zaki tersenyum menatap punggung sang adik yang tertutup dengan hijabnya yang lebar.

__ADS_1


__ADS_2