Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Meraih Restu 3


__ADS_3

" iya iya kakak tau, Alhamdulillah, adik adik kakak pada perhatian sama kakak. Makasih ya." Zaki menatap adiknya sayang dengan senyuman teduh dari bibirnya.


"Sekarang tidur gih, sudah malam. Nanti kalau ketahuan umi dimarahi. Kakak baik baik saja, tidak usah hawatir." 


" Baiklah, Imah ijin kembali ke kamar ya kak. Asalamualaikum."


" Waalaikumsallam." Balas Zaki tersenyum menatap punggung sang adik yang tertutup dengan hijabnya yang lebar.


Zaki menghembuskan nafasnya dalam, ada beban berat yang membuat dadanya sesak untuk bernafas. Pertemuannya dengan Sahira semakin mencipta luka di hatinya, bayangan wajah ayu nan teduh milik sang gadis pujaan semakin menyiksa batinnya.


'Apakah kamu juga merasakan apa yang kini aku rasakan Sahira? Kenapa rasanya sesakit ini melepaskan. Semoga kau pun juga selalu menyemogakan apa yang aku semogakan, maafkan aku Sahira jika aku egois yang tetap berharap hatimu milikku, sedangkan mungkin raga ini akan milik orang lain.' batin Zaki semakin tersiksa. Matanya tak bisa terpejam meskipun kantuk sudah menderanya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Sahira terdiam menatap langit malam yang penuh dengan bintang di balik jendela kamarnya, gadis berparas ayu itu sedang berusaha untuk menguatkan hatinya, agar patah hati yang dirasa tidak lagi membuatnya lemah, namun semakin menjadikannya wanita tangguh dan kuat. Keinginan untuk berubah menjadi lebih baik semakin kuat dan memantas kan diri agar pantas menjadi pendamping seorang Zaki atau siapapun itu, Sahira hanya berharap, kelak dipertemukan dengan jodoh yang baik akhlak dan agamanya. Sahira teringat terakhir kali pertemuannya dengan Zaki, yang memutuskan untuk mengakhiri kisah yang tanpa restu, sungguh begitu menyakiti hatinya. Namun apalah daya.


'Saat kamu memutuskan hidup tanpa aku, terima kasih. Percayalah, tak pernah terlintas di hatiku mencoba melupakanmu. Meski semua cerita tentang kita sudah berbeda, aku masih tetap memerankan tokoh yang sama, sebagai seseorang seperti sebelum kau beri luka. Aku masih tetap menyayangimu walau kau sudah tak lagi menyayangiku dan memilih pergi dengan pilihan orang tuamu.

__ADS_1


Aku masih tetap mendoakan mu walau di doamu sudah terhapus namaku, namun aku masih berharap kau tetap menyebut namaku. Aku masih tetap merindukanmu walau rindumu sudah bukan kepunyaan ku.


Aku masih tetap mengucapkan selamat tidur untukmu walau di mimpimu sudah tak terlintas tentangku. Aku masih tetap mengucapkan selamat pagi pada bayangmu walau ketika matahari terbit yang kau sapa sudah tidak aku. Aku masih tetap membayangkan mengagumi senja bersamamu walau di senjamu kau sudah menghabiskannya bersama yang bukan aku.


Aku masih menjalani hari-hariku seperti saat aku memilikimu walau sepenuhnya aku sadar kau sudah bukan milikku. Harus ku akui, jauh di lubuk hatiku ada tersemat harapan agar kau dan aku di dekatkan kembali oleh Tuhan. Namun aku tahu, jauh di lubuk hatimu juga tersemat harapan yang sama, meskipun semua tidak lagi sama. Kau sudah bersama dengan pilihan atas restu orang tua.


Aku mengerti, mungkin kebahagiaanku dan kebahagiaanmu memang tidak berada di garis yang sama, mungkin takdirku dan takdirmu memang tidak untuk hidup bersama di bawah satu atap yang sama. Meski sempat sama-sama tapi tidak untuk selamanya.


Saat ini, sungguh aku sudah melapangkan dada. Sebab, bila dengan meninggalkanku dapat membuat senyummu lebih indah, tak ada alasanku untuk tidak membiarkanmu melakukannya. Kebahagiaanmu keinginanku, kesedihanku bukan tanggung jawabmu. Setelah kau mengubah paksa alurnya dengan meniadakan ku, tentu semua jauh lebih baik untukmu. Aku harap begitu, meskipun sungguh aku tak rela, meskipun kini aku tertatih untuk bisa merelakan. Di hati ini, dicerita yang kujalani, kau masih tokoh utama di hatiku. Aku berharap takdir akan kembali menyatukan kita dengan caraNYA yang indah di waktu yang tepat nanti. Aku tak akan lelah berdoa, menengadahkan kedua tangan ini, memintamu dalam setiap sujud panjangku.'


Sahira larut dalam harap dan bayangan tentang Zaki, sosok pria yang begitu sulit ia hapus dari hati dan pikirannya. Meskipun nyata restu tak di dapat, namun harapan dan doanya tetap melangit untuk sang pujaan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Mulai hari ini, Sahira merubah penampilannya, gamis lebar, hijab panjang, kaos kaki menutup kakinya dan cadar menutupi wajah ayunya.


Anggun, dan bahkan terlihat begitu mempesona, karena Sahira memiliki bentuk tubuh yang indah, tinggi badan 168 dan barat badan 53. Kulit putih dan alis yang indah. Meskipun penampilannya berubah tetap, Sahira terlihat begitu cantik.

__ADS_1


"Masya Allah, anak gadis mama, Cantik banget. Mana hampir gak kenal loh ini." sapa Bu Andini saat melihat anaknya yang mulai memakai cadar.


Sahira tersenyum di balik cadarnya yang tentu tak terlihat oleh ibunya, Sahira semakin memantapkan hati untuk Istiqomah dengan bercadar, entah kenapa hatinya benar benar merasa nyaman dengan penampilan barunya.


"Ma,Nanti temani Sahira belanja ya, Sahira mau membeli banyak cadar." Sahira mendudukkan bokongnya di kursi meja makan yang ada di dapur.


"Iya, sekalian mama juga mau lihat lihat modelnya, siapa tau dapat inspirasi, Mama kepikiran juga akan menjual cadar dan juga kelengkapan buat muslimah bercadar, dan mama juga sudah membuat rancangan gamis set untuk muslimat bercadar, dengan model yang fleksibel. Nanti mama akan minta jamu jadi modelnya." sahut Bu Andini bersemangat, menatap putrinya dengan binar bahagia.


"Sahira mau mulai belajar makan pakai cadar, mama gak boleh ketawain ya! biar nanti saat diluar rumah Sahira sudah biasa melakukannya dan tidak merasa kesulitan." Sahira mulai menyendok sarapannya dan memasukan kedalam mulutnya, tapi dengan gerakan yang sedikit kesulitan, meskipun Sahira sudah menyibak sedikit cadarnya, tapi tetap saja ewuh sehingga nasi dalam sendirinya banyak yang jatuh.


Melihat putrinya masih kesulitan makan dengan menggunakan cadar, Bu Andini dengan lembut mengajari bagaimana cara makan dengan memakai cadar tanpa kesulitan lagi.


Sahira tertawa dan malu pada ibunya, karena ibunya justru lebih mengerti, sedangkan ibunya tidak memakai cadar, tapi tau bagaimana makan dengan benar saat bercadar.


"Wah, aku malu sama mama, kok bisa? padahal mana gak pakai cadar, tapi cara yang mama ajarkan membuat Sahira bisa makan dengan benar tanpa kesulitan lagi, meskipun ada cadar di wajah ini."


"Banyak teman mama yang memakai cadar, mana sering memperhatikan cara mereka saat makan. Mama senang kamu memutuskan hal yang tepat dalam hidupmu, nak! Kamu menyikapi patah hatimu dengan sesuatu yang positif, berubah jadi lebih baik. Semoga kamu bertemu dengan laki laki yang lebih baik iman dan agamanya ya sayang, insyaallah jodoh itu cerminan diri, ingin jodoh baik, maka perbaiki diri kita dulu, insyaallah kebaikan kebaikan yang lainnya akan mengikuti."

__ADS_1


Bu Andini tidak pernah lelah mengingatkan anaknya untuk menjadi lebih baik lagi, selalu mendukung anaknya berproses menuju kebaikan.


__ADS_2