Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Jangan Bebankan Hutangmu padaku.


__ADS_3

"Asalamualaikum." terdengar suara salam dari seseorang, sebelum beranjak dari pembaringan, terlebih dahulu aku menyeka air mata yang sejak dari semalam terus mengalir deras, mengambil jilbab instan yang tergantung dan memakainya. Langkah ini sedikit terhuyung tersebab pusing yang kian mendera. "Waalaikumsallm." balasku lirih sambil membuka pintu dan terlihat wajah Sabrina menyembul dengan mengerutkan dahinya menatapku heran.


"Masuk Rin, maaf agak lama buka pintunya, Rindu sedang tidur, dan aku lagi kurang enak badan ini. Kok tumben, datang gak kabar kabar dulu." aku berusaha bersikap biasa saja, menyembunyikan sakit yang menghujam dada akan sikap dzolim salah satu temanku.


"Sal, kamu kenapa? wajahmu pucat dan terlihat sembab, ada apa? cerita sama aku." bukannya menjawab tapi Sabrina justru melontarkan pertanyaan balik padaku.


"Gak tau, dari semalam kepalaku pusing banget, rasanya kayak berputar gitu, tadi seharian Rindu juga gak terurus, gimana lagi, badanku lemas dan kepalaku rasanya berat. Tapi untungnya, Rindu anaknya mandiri dan pintar, dia bikin mie sendiri buat sarapan, bahkan aku di goreng kan telur dan membeli obat sakit kepala ke warung." jelasku pada sahabat baikku, aku tau dia sedang menunggu aku bercerita, terlihat dari caranya menatapku.


"Aku kesini karena tadi kepikiran Rindu saja, dan aku juga mau kasih dia sesuatu. Tadi belanja dan ingat Rindu. Aku membelikannya kaos warna hitam kesukaannya." balas Sabrina lirih, dan tatapan matanya terus menelisik seolah meminta penjelasan akan keadaanku saat ini.


"Cerita saja, barangkali aku bisa bantu." benar kan, Sabrina pasti peka dan tau jika aku sedang tertekan begini, aku berteman dengannya sudah bertahun tahun, dan banyak hal yang sudah kita lalui bersama.


"Aku lagi bingung Rin, entahlah." jawabku lirih dan dada ini semakin sesak, tak terasa air mata kembali deras mengalir. "Ada apa? ceritakan Sal." balas Sabrina iba, bahkan nampak matanya juga berkaca kaca melihatku yang semakin terisak.


"Kamu tau Dhea kan, Rin?" sebelum melanjutkan ucapanku, aku berusaha untuk menenangkan diri ini, menghirup udara dengan dalam, lalu melepaskannya kasar. "Dia sudah menipuku." lanjut ku Kelu.


"Menipu bagaimana maksudmu, Sal?" Sabrina menatapku lekat, terlihat kalau dia kaget mendengar penuturan ku.


"Dia berhutang menggunakan namaku, dan sekarang dia cuci tangan, tak mau membayar hutangnya." aku semakin terisak seiring rasa kecewa juga sakit oleh perbuatan orang yang aku sebut sebagai sahabat selama ini. " hah! kok bisa? bagaimana mulanya?" tanya Sabrina penasaran dan meminta penjelasan dariku.

__ADS_1


"Dia datang menemui ku sebulan yang lalu, malam malam dia menangis dan memohon untuk aku membantunya, karena ibunya sedang sakit keras dan dia membutuhkan biaya. Mau meminjam uang, tapi pas akunya sedang tidak ada. Lalu dia memohon untuk meminjam nama buat ambil hutang di koprasi tanpa jaminan, hanya modal KTP dan kartu keluarga dan harus ada usaha. Tanpa berpikir dan curiga, aku mengiyakan permintaannya, karena kasihan dan modal percaya. Satu bulan pertama dia masih mau membayar angsuran, tapi di angsuran kedua dan sekarang yang ke empat dua sudah gak mau lagi membayar, dan itu harus membuatku wajib membayarnya karena hutangnya menggunakan namaku juga berkas berkas ku." aku mengatakan semua pada Sabrina yang melongo dengan ceritaku. "Ya ampun, Salma. kenapa sih kamu lugu banget jadi orang, sudah tau Dhea itu ratu hutang dan drama kok masih saja kamu percaya. Trus berapa hutangnya?" terlihat Sabrina kesal dengan kecerobohan ku yang tidak berpikir dulu hingga mudah sekali dibodohi dan dimanfaatkan orang lain. "tiga juta." balasku Kelu.


"Kurang ajar banget itu si Dhea, kamu punya bukti gak, kalau memang Dhea yang memintamu mencari pinjaman?" aku menggeleng lemah karena memang aku tidak mempunyai bukti apapun, waktu itu Dhea bicara secara langsung jadi tidak ada jejak digital untuk membuktikan niat jahatnya itu. "Ya ampun." Sabrina menggeleng kesal dan terlihat memijat pelipisnya.


"Tante Sabrina, lagi jenguk ibu ya, ibu sakit kepala." tiba tiba Rindu datang menghampiri dan mulai duduk diantara kami, melihatnya aku merasa sangat bersalah dan sedih, karena aku memikirkan masalah, hingga menyebabkan tubuhku sakit, Rindu tak terurus.


"Aku punya Vidio nya kok, pas waktu Tante Dhea mau pinjam uang ibu, Kan waktu itu aku lagi vidioin Cleo trus gak sengaja obrolan bunda sama Tante Dhea juga ikut terekam, sebentar aku ambilin hapenya." Sabrina dan Salma saling pandang, ternyata lewat kecerdasan Rindu, niat jahat Dhea bisa terbukti. Saat Rindu menyerahkan ponselnya pada Salma, terlihat diri nya juga Dhea sedang mengobrol dan suara meminta tolong juga kesepakatan antara Salma dan Dhea ikut terekam.


Dengan geram, Sabrina menyuruh Salma berganti pakaian dan cuci muka. "Sebaiknya kamu siap siap Sal, ayo kita temui dhea untuk meminta pertanggungjawaban, enak saja dia mau menyusahkan kamu seperti ini, aku akan kasih dia pelajaran. Tanpa banyak bicara lagi, Salma beranjak dan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian, sedangkan Sabrina asik ngobrol dengan rindu yang sangat senang karena sudah di belikan kaos lengan panjang warna hitam dengan merek 3second yang jadi kesukaannya.


Dengan lembut Salma meminta rindu untuk dirumah saja, dan mengirim videonya ke nomor salma. "Kunci pintunya dari dalam, nak. Ibu gak akan lama kok perginya." pamit Salma pada anak semata wayangnya itu.


"Asalamualaikum." Sabrina mengetuk pintu berulangkali namun tidak ada suara yang menyahut, sampai akhirnya terdengar suara montor berhenti tepat di teras rumah yang saat ini dituju Salma dan Sabrina. Terlihat Dhea turun dari montor dan menentang dua kantong kresek putih dengan logo swalayan yang ada di kota ini.


"Loh kok tumben, kalian kesini bareng, ada apa?" tanya Dhea pura pura santai dan seolah tidak bersalah sedikitpun. Plaak. Sabrina menatap nyalang ke arah Dhea yang meringis kesakitan akibat tamparan dari Sabrina yang tak lagi bisa menahan emosinya, melihat sikap Dhea yang tanpa dosa.


"Dasar teman gak punya hati kamu ya! Bisa-bisanya kamu mau menipu Salma, padahal Salma begitu baik dan percaya untuk menolongmu, tapi ternyata kamu punya niat jahat, dasar penjahat." herdik Sabrina berang.


"Apa buktinya aku menipu Salma, dimana mana itu hutang ya yang di tagih yang berhutang dan yang sudah membubuhkan tanda tangan, Kok aku yang kamu salahkan." balas Dhea tak terima dan masih tak mengakui perbuatan liciknya. Tanpa mau berbasa-basi, akhirnya Salma memutar Vidio hasil rekaman anaknya dan menunjukkannya pada Dhea yang langsung melongo.

__ADS_1


"Mau mengelak apa lagi kamu, hah!" herdik Sabrina kesal. "Bayar hutangmu, atau kamu akan berurusan dengan hukum dengan laporan penipuan, kamu tau kan aku kalau sudah bertindak tidak setengah setengah." ancam Sabrina tegas dengan sorot mata tajam yang di arahkan pada Dhea yang langsung gemetar.


"Iya, nanti aku akan bayar. Tapi sekarang aku masih belum ada uang." balas Dhea berbohong dan membuat Sabrina semakin kesal.


"Gak punya uang kok belanja segini banyaknya." sahut Sabrina emosi. Dan tangannya langsung mengambil dompet yang sedang di pegang Sabrina, banyak lembar merah di dalamnya. Sabrina langsung mengambil semua isi dompet Sabrina dengan jumlah tiga juta pas, tidak kurang dan juga tidak lebih, hingga tersisa dua puluh ribu di dompet Dhea.


"Kembalikan uangku, Rin." tekan Dhea tak terima tapi justru dibalas seringai sinis oleh Sabrina.


"Anggap saja, uang ini untuk bayar hutang ke Salma, jadi kalian gak ada lagi urusan. Dan jangan sekali kali kamu menipu Salma atau orang lain, kalau kamu tidak mau Vidio ini tersebar." ancam Sabrina tegas, dan mampu membuat nyali Dhea menciut.


☘️☘️


"Kamu itu harus tegas dan berani, biar tidak dimanfaatin orang kayak Dhea itu, mulai sekarang tidak usah lagi berhubungan dengannya." Sabrina mengomel di sepanjang jalan dan membuat Salma mengulum senyum, bersyukur memiliki sahabat seperti Sabrina yang selalu tulus dan ada untuknya dalam keadaan apa pun.


"Dikasih tau bukannya menjawab tapi malah senyum senyum." sambung Sabrina kesal tapi itu hanya pura pura untuk mencairkan suasana.


"Iya, aku akan berhati hati setelah ini, sahabat yang paling baik itu cuma kamu, makasih ya, semoga kamu selalu mendapat perlindungan dari Alloh SWT.


selesai.

__ADS_1


__ADS_2