Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Menggenggam Luka 2


__ADS_3

Termenung sendirian dengan pikiran yang berkelana, bukan hanya hati yang sakit tapi juga jiwanya yang sangat terluka. Semenjak Ratmi memutuskan berhenti bekerja, karena kondisinya yang lemah saat mengandung Ajeng, sejak saat itulah sikap Bayu berubah kasar dan tidak punya empati lagi pada Ratmi.


Air mata Ratmi berjatuhan tanpa bisa di tahan lagi, dadanya sangat sesak dengan mengenang perlakuan suaminya selama ini.


Ajeng yang masih tertidur pulas karena pengaruh obat, sudah mulai nampak kembali normal, wajahnya sudah tidak lagi memucat seperti tadi, dan itu membuat Ratmi sedikit merasa tenang. Namun hatinya mulai gundah kala memikirkan biaya yang nanti harus di bayar, karena jumlahnya mungkin tak sedikit.


 


Di lain tempat, ternyata Bayu sedang kencan dengan seorang wanita pemilik warung kopi tak jauh dari tempatnya bekerja, perempuan itu ternyata adalah mantan Bayu yang dulu hampir saja menikah, mereka sudah pernah bertunangan, tapi akhirnya putus lantaran si perempuan ketahuan selingkuh. Tapi kini mereka bertemu kembali dengan kondisi si perempuan yang sudah menjadi janda. Yusnian, perempuan yang sudah mengalihkan dunia Bayu hingga rela menelantarkan anak dan istrinya.


"Mas, malam ini kamu jadi tidur di sini kan? nemenin aku." Rayu yusnian manja, sambil menyenderkan kepalanya di pundak Bayu.


" Iya. Aku juga males pulang ke kos lihat muka si Ratmi, lama lama bosan lihat mukanya yang kucel tak terawat. Bisanya cuma nangis mulu." Sahut Bayu kesal membayangkan wajah istrinya yang di matanya sudah tidak secantik dulu. Padahal kalau Bayu menyadari, kecantikan istri tergantung dari bagaimana dia memperlakukan wanitanya. Jika hanya uang lima belas ribu, dari mana bisa merawat wajah dan tubuh, jangankan membeli make up, untuk mengisi perut pun Ratmi sering menahan lapar. 


" Kenapa kamu gak ceraikan saja istrimu itu Mas? Kita bisa nikah dan hidup bahagia."


" Aku kasihan sama anakku, dia sakit sakitan, dasar Ratmi itu memang tidak becus mengurus anak."

__ADS_1


"Alasanmu Mas, bilang aja kamu masih cinta kan sama si Ratmi, makanya kamu gak mau ninggalin dia." Sungut Yusnian merajuk.


" Sudahlah, jangan bahas dia. Atau aku balik nih." Ancam Bayu tak suka.


" Iya. Iya. Tapi kapan kamu nikahin aku mas? Masa kita begini terus, kalau aku hamil duluan gimana?"


" Ya makanya pakai pengaman biar tidak kebobolan, nanti kalau sudah waktunya kita pasti nikah, kamu tenang saja."


"Janji ya Mas. Kamu beneran mau nikahin aku." Rengek yusnian manja.


☘️☘️☘️☘️


"Ibu! Ajeng haus." Rengek Ajeng pada Ratmi yang sedang melaksanakan sholat magrib, mendengar suara Ajeng memanggilnya, Ratmi langsung menoleh, karena Ratmi sudah selesai melaksanakan sholatnya.


"Alhamdulillah. Iya nak, Ajeng sudah bangun." 


" Ajeng haus Bu, pingin minum."

__ADS_1


" Iya sayang, ibu ambilin minumnya." Ratmi membuka botol minuman kemasan yang tadi sempat dibelikan oleh Nunung.


" Ini nak, minum yang banyak ya." Ratmi meminumkan air putih dalam botol dengan sedotan di mulut sang putri yang masih terlihat lemas.


"Sudah nak?" Tanya Ratmi lembut sambil membelai pucuk kepala Ajeng penuh kasih sayang. Dan Ajeng hanya mengangguk menjawab pertanyaan sang ibu.


" Bu, ayah mana?" Tanya Ajeng sendu dengan mata berkaca kaca.


Ratmi terdiam, hatinya kembali sakit dengan pertanyaan sang anak, bahkan dimana suaminya sekarang Ratmi tidak tahu, berkali kali ponselnya dihubungi tetap tidak aktif.


"Ayah masih kerja nak, Ajeng sama ibu saja ya. Ajeng mau apa?" Ratmi memilih berbohong agar Ajeng tidak semakin sedih dengan ketidakpedulian ayahnya.


" Ajeng mau ayah Bu. Kenapa ayah tidak mau temani Ajeng yang sakit?" Ajeng mulai terisak, meskipun dia masih sangat kecil, tapi sudah bisa merasakan seperti apa perlakuan ayahnya selama ini dan ini semakin membuat Ratmi semakin sedih dan terluka. Hatinya mulai dikuatkan untuk memilih pergi dari Bayu. Agar tidak ada lagi luka batin yang semakin terasa menyiksa hidupnya.


"Sabar ya, Nak. Kan sudah ada ibu di sini, sama saja. Ibu akan jaga Ajeng dengan baik. Sudah, jangan mikir macam-macam, Ajeng harus banyak istirahat dulu, biar cepat pulang. Gak enak kan dirumah sakit? bau obat." Ratmi berusaha untuk memberi pengertian pada anaknya, dadanya teramat sangat saki, di saat seperti ini, justru suaminya hilang tak ada kabar, mata batinnya sebagai seorang istri bisa merasakan, jika saat ini suaminya sedang bersama wanita lain. Istighfar dan terus istighfar yang bisa Ratmi lakukan untuk menenangkan hatinya yang dilanda gelisah.


"Keterlaluan kamu, Mas. Lihat saja, aku akan melakukan apa yang tidak pernah kamu pikirkan selama ini, akan aku tunjukkan bagaimana seorang Ratmi jika sudah bertindak. Aku akan pastikan kamu menyesal karena sudah menyakiti hati dan hidupku seperti ini." Ratmi bergumam sendiri di dalam hatinya, bersumpah akan membalas semua hinaan dan perlakuan buruk suaminya, hanya tunggu waktu yang tepat saja, bom itu pasti akan meledak.

__ADS_1


__ADS_2