Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Ayahku memilih anak pelakor nya 2


__ADS_3

Sudah tiga bulan lebih, Ratna berteman dengan Masayu, tiap kali ada job merias, Masayu selalu mengajak Ratna ikut membantunya. Kadang Masayu memberinya upah yang lumayan banyak untuk Ratna. Kalau job lagi rame, Masayu akan memberi tips untuk Ratna dan Aruna.


Bahkan Masayu kerap kali memberikan Ratna maupun Masayu baju. Dengan alasan agar terlihat cantik saat membantunya, karena kita kerja di dunia kecantikan. Masayu juga memberikan make up gratis untuk Ratna, skin care pun juga Masayu berikan. Masayu tau kalau Ratna itu sebenarnya cantik, hanya cukup memolesnya sedikit. Apalagi Ratna punya tubuh yang mungil dan kulit bersih, pasti Ratna akan terlihat sangat cantik dengan sedikit campur tangannya.


Hidup Ratna benar benar berubah setelah mengenal Masayu, bahkan mereka sudah menjadi teman akrab, kemana mana berdua dan saling perduli juga memahami.


Dalam kurun waktu enam bulan, penampilan Ratna sudah berubah. Yang dulu kusam dan kucel, kini glowing dan bersih bahkan bajunya juga bagus bagus, pun dengan Aruna yang terlihat semakin cantik dan berisi.


Aruna bahkan sudah masuk sekolah SMP favorit di kotanya, tentunya dengan biaya yang tak sedikit, semua terwujud karena campur tangan Masayu dan karena Aruna memiliki otak yang cerdas dan tekad yang kuat.


"Mbak, kamu kelihatan lebih muda dan cantik loh sekarang. Gak kepikiran untuk nikah lagi? Ada yang pingin kenalan soalnya!"


Masayu dan Ratna sedang mengobrol sambil makan siang dirumahnya Ratna, mereka hampir tiap hari bertemu, kalau tidak ada job rias, mereka akan saling berkunjung hanya sekedar untuk ngobrol saja.


"Masa sih? Kalau iya, itu semua berkat kamu, karena mbak Masayu yang sudah buat aku jadi kayak gini. Terimakasih ya mbak." balas Ratna bersemu merah, Ratna selalu membalas kebaikan Masayu di setiap doa-doa terindahnya, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu ada buat perempuan baik berhati peri di hadapannya. Karena bantuan Masayu dia dan anaknya bisa hidup lebih baik bahkan cukup. Dan kini juga mulai banyak laki laki yang mendekatinya, tapi Ratna acuh dan tidak mau menanggapi. Fokusnya tetap untuk anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa.


"Ada yang mau kenalan, boleh?" sambung Masayu lagi, ingin mendengar jawaban dari sahabatnya, karena selama ini Ratna terlihat cuek pada laki laki. Masayu berniat ingin menjodohkan dengan sahabatnya yang menaruh hati pada Ratna, laki laki mapan, duda punya anak satu.


"Belum kepikiran, takut. Ada trauma yang belum bisa hilang." sahut Ratna dengan pandangan menerawang, dadanya selalu sesak ketika ingat dengan perselingkuhan mantan suaminya.


"Mbak harus bangkit, lupakan kenangan pahit itu. Mbak Ratna masih muda, cantik lagi. mbak berhak bahagia. Temanku duda, juga punya cerita sama dengan mbak Ratna, bedanya, dia yang selingkuh istrinya, padahal temanku sudah mencukupinya dan bahkan sangat royal sama istrinya, justru istrinya menghamburkan uangnya untuk bersenang senang dengan laki laki selingkuhannya.

__ADS_1


Temanku punya usaha rental mobil, sawahnya luas, dan juga punya usaha rumah makan di beberapa cabang, orangnya baik dan setia. Aku yakin mbak akan nyaman sama dia. Aku berani mengenalkan mbak Ratna sama dia, karena aku sudah sangat mengenalnya, kami berteman dari kecil, jadi aku tau seperti apa dia.


Kemarin pas aku keluar sama mbak, kita kan foto Selfi terus aku buat status di watshap, dia komentar dan ingin dikenalkan sama mbak, aku juga sudah ceritakan tentang mbak ke dia. Dia justru semakin tertarik dan ingin ketemu mbak Ratna. Percaya sama aku mbak, gak mungkin aku mengenalkan mbak sama orang yang gak baik." ucap Masayu panjang lebar, dan Ratna pun tersenyum tipis, bersyukur memiliki sahabat yang begitu perduli seperti Masayu.


"Tapi aku takut mbak, dia pria mapan kan?


Sedangkan aku cuma janda miskin yang hidupnya sebatang kara. Takutnya seperti pungguk merindukan bulan, miris."


sahut Ratna tak yakin, entahlah Ratna selalu minder tiap kali ada yang mengajaknya serius.


"Hilal tidak punya pikiran seperti itu mbak, bahkan aku sudah cerita tentang mbak semuanya, justru dia kagum sama ketangguhan sampean. Ketemu dulu, nanti mbak akan tau seperti apa Hilal. Kalau cocok, baru kenalin sama Aruna. Gimana? Mau ya?"


"Baiklah, kamu temani ya." balas Ratna pada akhirnya dan membuat Masayu menjerit senang lantas memeluk Ratna gemas.


"Asalamualaikum."


Saat Masayu dan Ratna larut dengan obrolan mereka dan terlihat bahagia, tiba tiba ada suara laki laki yang tak asing di telinganya Ratna mengucap salam.


Ratna menoleh dan terlihat laki laki yang begitu ia benci sedang berdiri di depan pintu dengan senyum yang menjijikkan bagi Ratna. Benci, ya itulah yang tersemat di hati Ratna untuk laki laki itu.


"Waalaikumsallm." sahut Ratna dan Masayu yang mengalihkan pandangan mata mereka ke satu arah.

__ADS_1


"Silahkan masuk." Sambut Ratna dingin, dan Masayu hanya diam memperhatikan, 'dari cara Ratna menyambut sepertinya laki laki ini adalah ayahnya Aruna', batin Masayu menebak.


Laki laki itu duduk di sofa kosong tepat di depan Ratna dengan terus tersenyum dan menatap ke arah Ratna, membuat Ratna semakin muak melihatnya.


"Tumben, ada apa?" Ratna membuka obrolan dengan nada tak suka.


"Kangen Aruna saja, mau ketemu dan ingin mengajaknya ke Surabaya." sahut Damar dengan nada biasa tanpa bersalah sedikitpun. Membuat Ratna ingin memukul mukanya yang sok tak berdosa itu.


"Wah, baik sekali niat kamu! Tapi kemana saja bertahun tahun ini, kok baru ingin bertemu dengan anakku, memang Aruna siapa kamu?" balas Ratna sinis dengan tatapan benci diarahkan pada laki-laki di depannya.


"Aruna anakku, apa kamu lupa kalau aku ayahnya?" sahut Damar santai tanpa merasa bersalah karena sudah tidak bertanggung jawab atas nasib anak yang diakuinya.


"Oh Aruna anak kamu? apa kamu merasa membesarkan dia? apa kamu sudah memberikan dia nafkah selama ini? Bahkan Aruna saja sampai lupa, kalau dia punya ayah. Karena selalu hanya ada ibunya yang mati Matian menghidupinya dan melindunginya. Sedangkan manusia yang mengaku ayahnya, asik menghidupi perempuan selingkuhannya dan anak hasil zina nya. Menjijikkan."


Sahut Ratna penuh benci terlihat di kedua sorot matanya yang tajam.


Damar langsung bungkam, karena apa yang diucapkan Ratna memanglah kenyataan. Tapi Damar sedikitpun tidak merasa bersalah sama sekali, justru dia berganti menyalahkan Ratna yang bodoh tidak mau dimadu, jadi bukan dia yang salah.


"Kamu saja yang waktu itu bodoh, tidak mau menerima Ana jadi istriku, kan kamu sendiri yang minta cerai, kenapa sekarang menyalahkan aku karena tidak memberi anakmu uang nafkah?


Enak saja, bisa bisa kamu yang memakai uangku buat senang senang dengan laki laki lain. Aku gak bodoh, Ratna!" sahut Damar merasa apa yang dilakukan adalah sebuah kebenaran.

__ADS_1


__ADS_2