
Niat hati ingin membuat hubungan mereka kembali membaik, barulah Fay sadari begitu besar dampak setitik nila yang jatuh ke dalam susu sebelanga. Segala kenangan indah yang pernah mereka ukir dahulu di atas langit tersapu begitu saja oleh badai sehari. Kini mata lelaki ini menatap langit biru dengan pandangan sendu, kekasihnya berniat membatalkan pertunangan mereka.
Dengan segala kehormatan, Arin melepaskan cincin di jarinya, di hadapan kedua orang tuanya, Carlos dan Hanin.
"Apa ini Nak?" hubungan retak itu apakah telah berada di ujung tanduk?. Meski sempat menduga keputusan pahit ini, tetap saja hati Carlos tercubit melihat cincin yang di berikan Fay di lepaskan sang putri.
"Maaf Ayah, Arin sudah berusaha memaafkan Fay. Tapi itu sangat sulit dan Arin nggak bisa." Cicit Arin tanpa berani menatap bola mata Carlos.
"Pikirkan baik-baik Nak. Ayah dan Ibu bukan memaksa, tapi kami meliat cinta di mata kalian." Ujar Hanin menghampiri Arin.
"Itu dulu Bu, sebentar wanita bernama Ayaka itu hadir."
"Apa kamu pernah meminta Fay untuk menjauhinya?."
Arin menggelengkan kepala, sejauh ini dia memang terkesan masa bodoh dengan segala tindak tanduk Fay. Sebab hati yang kecewa menuntutnya untuk tak meminta kepada Fay, harga dirinya sebagai wanita seolah jatuh ke dasar bumi kalau meminta hal itu padanya.
Membenarkan letak duduknya, dapur kedai yang sudah tutup itu menjadi saksi kedua orang tua dan putri ini bicara dari hati ke hati.
"Nak, cinta itu nggak harus memberi, sesekali meminta nggak ada salahnya."
"Arin tau kok" Memainkan jemari rasanya lebih menarik alih-alih membalas tatapan sang Ayah.
Mengusap pucuk kepala Arin"Kalau tau kenapa nggak meminta kepada Fay?." Kini Hanggini yang bertanya.
"Karena Arin perempuan!. Dan dia sebagai lelaki pun dungu nggak berniat menjauhi Ayaka, padahal dia sangat tau masalah di antara kami ada karena wanita itu."
Carlos menyadari suara sang putri mulai bergetar, namun di tilik dari raut wajahnya, tak ada anakan air mata yang akan tumpah di kedua pipi. Dasar gadis keras kepala, Carlos menarik nafas dan memandangi cincin yang Arin serahkan kepadanya.
"Ayah akan membuang cincin ini."
"Jangan!."
"Lho, bukannya kamu sudah nggak mau memilikinya?."
__ADS_1
"Memang begitu Ayah. Tapi akan lebih baik kalau Ayah kembalikan saja kepada keluarga Fay."
"Nggak semudah itu Nak" ucap Hanggini.
"Ayah malu." Tutur Carlos lagi.
Ucapan Carlos dan Hanggini membuat hati Arin mencelos. Begitu egois kah dirinya yang berniat memutuskan hubungan ini?. Lagi dan lagi rasa gengsi mengusai diri Arin, alih-alih mengambil kembali cincin itu atau membujuk sang Ayah agar mengembalikan pada Fay, dia berlalu pergi seraya berkata"Maaf Ayah, maaf Ibu, Arin sudah nggak bisa mentolerir kelakuan Fay. Arin menyerah."
Hingga tubuh sang putri menghilang di balik pintu menuju kediaman mereka, Carlos masih menggenggam cincin dengan mata berlian itu. Terlihat sederhana saja, dengan mata kecil tunggal, namun di balik kesederhanaan itu dia terlihat indah saat terselip di jemari Arin. Untuk beberapa saat Carlos masih memandangi benda tersebut, sedangkan Hanggini mengusap pundak sang suami.
Lantas bagaimana dengan Arin setelah menyerahkan cincin tanda pengikat hubungannya dengan Fay??.
"Air mata sialan!!. Aku sudah bertekad untuk nggak menangisi Fay, kenapa kalian jatuh dengan deras sekali, hick!! hick!!" balkon kamar nan sepi menjadi saksi butiran air bening itu jatuh membasahi pipi. Bermandikan sinar rembulan nan temaram, Arin merutuki diri yang terperangkap dalam kesedihan mendalam, usai memutuskan langkah yang diambilnya.
Di tempat yang berbeda, di bawah sinar rembulan itu, Fay menatap potret kebersamaan mereka dahulu. Selalu itu yang dia lakukan dikala rindu menggerogoti sang hati. Lihatlah, gadis galak itu sangat cantik saat tersenyum, dan senyuman itu tak pernah lagi tebit untuknya.
Di sela lamunan sang pesakitan cinta, nama Ayaka muncul di layar ponsel. Gadis ini mengajak Fay untuk bertandang ke kediamannya.
"Ada apa?."
"Bukankah ada banyak pelayan di kediaman kalian?."
"Mereka sibuk dengan pekerjaan. Lagipula mereka nggak akan mengerti kalau ku ajak mendiskusikan masalah kampus terbaik untukku."
"Oh ya, katakan kamu akan masuk ke kampus mana?." Tanya Ayaka begitu bersemangat.
Lama Ayaka berceloteh namun Fay hanya diam mendengarkan. Hingga saat Ayaka menyadari sikap diam Fay"Apa kamu masih di sana Fay?."
"Ya" ujarnya.
"Kenapa diam saja dari tadi? hanya aku yang terus mengoceh."
"Ayaka, mulai sekarang akan lebih baik kalau kita menjaga jarak."
__ADS_1
Bukan petir di siang bolong sebab hari telah malam, hati gadis ini bagai di hantam meteor mendengar perkataan Fay"Kenapa Fay? apa aku salah bicara?."
"Enggak. Sebenarnya sudah lama aku ingin membangun jarak di antara kita."
"Kenapa?" penuh penekanan Ayaka bertanya.
"Apa karena Arin?. Dia bahkan sering tertangkap kamera mendukung pertandingan anggota E-sport Rubah, bahkan ada fandom yang mendukung hubungan mereka!!" emosi gadis ini mulai melonjak.
Dunia Yuwen sangat berbeda dengan dunia Fay, dirinya tak suka bermain game seperti itu. Baru kali ini mengetahui ada fandom yang mendukung hubungan kekasihnya dengan lelaki lain, sungguh Fay tersulut emosi mendengar kabar ini.
"Asal kamu tau Fay, Arin sering berkunjung ke apartemen Yuwen. Arin bahkan mengantarkan Yuwen di hari pertama para pemain junior memasuki asrama pelatihan. Dan setiap kali Yuwen bertanding dia selalu berada di kursi terdepan. Wanita seperti itu yang kamu sukai?. Lantas aku yang selalu ada untukmu di anggap apa? hanya pelarian?!!" dada gadis ini terlihat turun naik, dia bicara panjang lebar tentang segala informasi Yuwen dan Arin yang memang sengaja dia gali. Hari seperti ini sempat terlintas dalam benaknya, oleh karena itulah dia mengikuti perkembangan hubungan Arin dan Yuwen menurut kacamata para netizen.
"Arin itu___."
"Cukup Ayaka!!!" hardik Fay. Ini kali pertama Fay bicara dengan nada keras kepadanya, dan hati gadis ini seketika luluh lantak.
"Fay....kamu membentakku." Lirihnya di iringi isak tangis.
Rasa tidak nyaman itu kembali hadir, kerap mengambil hati Fay dengan linangan air mata, sesungguhnya Fay muak dengan trik murahan ini. Sebisa mungkin dia menahan diri agar tak luluh kembali"Ayaka, Arin adalah tunanganku. Kami akan menikah suatu saat nanti. Terlepas dari semua berita tentangnya dengan Yuwen yang tersebar di media aku nggak peduli."
Isak tangis Ayaka semakin terdengar nyaring.
"Maaf karena telah melukai hatimu. Terimakasih selalu ada untukku, namun aku baru menyadari hubungan pertemanan kita nggak seharusnya di lanjutkan."
"Fay..."
"Ayaka, mengenai ciuman tempo hari, saat itu aku hanya terbawa suasa. Aku sangat meminta maaf kepadamu. Kamu gadis yang baik, gadis yang sangat perhatian."
"Aku mencintaimu dengan tulus."
"Carilah cintamu yang bukan ada padaku, sebab cintaku telah memiliki rumah untuk kembali." Sambar Fay hingga akhirnya Ayaka terdiam di ujung telepon.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.