
Lelah menjadi penonton saja, kini bukan hanya Niel yang mulai bergerak, Nari pun di ajaknya untuk bersekongkol menyatukan Fay dan Arin kembali.
Meski terpisah jarak dan waktu, Arin tak pernah putus kontak dengan para sahabatnya, kecuali Fay. Informasi tentang kedekatan Arin dan Yuwen kerap menjadi perbincangan saat para gadis berkumpul via online.
"Jadi, kamu nggak jadian sama Yuwen?. Ku perhatikan dia makin cakep saja."
"Ehemm!!" Febby berdehem, menegur kata-kata yang keluar dari mulut Greta. Di antara Febby dan Nari, Greta terkesan lebih mendukung Arin jadian dengan Yuwen saja, sebab Fay di nilai lamban olehnya. Maksudnya, kalau memang cinta kenapa hanya uring-uringan saja, kenapa malah menikmati kebersamaan dengan wanita lain. Itu dulu, saat kesalahpahaman di antara mereka semakin pelik, barulah Fay bertindak tegas terhadap Ayaka dan Rika. Memikirkan hal itu membuat perut Greta mual, tak ayal pergerakan Fay setara dengan siput yang sedang berjalan lambat bukan?.
"Siapa teman dekat Arin di sana? carilah informasi tentang alamat apartemennya."
"Ada apa? apa Fay akan kesana?."
"Ya" balasan pesan dari Niel membuat Nari gemas. Akhirnya tuan kelinci itu bertindak.
"Tapi kenapa nggak meminta alamatnya pada Om dan Tante saja?" Nari menyinggung kedua orang tua Arin.
"Fay belum pernah ke sana, setidaknya harus ada seseorang yang memandunya menuju kediaman Arin" ujar Niel pula.
Nari mengangguk, meski hanya berbalas pesan rasanya sedang bicara secara langsung dengan abang sahabatnya itu.
Dua hari sejak interaksi Niel dan Nari via pesan singkat. Malam itu Arin merasa bosan di apartemen.
"Jangan pulang terlalu malam. Kalau kamu berubah pikiran cepat kabari aku, aku akan menjemputmu di bandara."
"Bawel, aku sudah bilang nggak akan pulang. Aku akan menghabiskan waktu liburan di sini."
Usai berbalas pesan dengan Yuwen, Arin gegas melangkah keluar. Malam ini dia akan menghabiskan waktu bersama Amber. Pergi ke bioskop atau ke bar mungkin, kemana saja asalkan dapat menghibur hati.
"Malam yang dingin, kita ke bar saja yuk."
"Dan mabuk di sana?."
Tanya Arin di angguki Amber, dengan mata berbinar-binar.
"Hahahah, boleh juga." Hemm, tak seperti biasanya, kali ini tanpa paksaan Arin bersedia minum bersama Amber.
"Tapi Arin, kita nggak akan mabuk-mabukan. Ingat kita adalah wanita anggun" ocehan Amber kembali membuat Arin terkekeh.
"Oke baiklah. Tapi suasana hatiku sedang nggak baik-baik saja. Kalau aku kebablasan, berjanjilah jangan meninggalkan aku sendiri di sana. Setidaknya berusahalah tetap sadar dan carikan aku taksi untuk pulang."
Kini giliran Amber yang tertawa"Hahah, kamu seperti nggak tau toleransi tubuhku terhadap alkohol saja."
Kedua alis Arin terangkat naik"Setara dengan toleransi tubuhku terhadap alkohol, sangat buruk. Jadi, kita akan benar-benar pergi ke bar?."
__ADS_1
"Hei, tentu saja. Kita masih punya Daniel" dan mereka pun tertawa.
Tanpa ragu dua wanita ini menuju sebuah bar tempat mereka kerap meluapkan segala rasa, entah itu senang juga sedih.
Kepada bartender, Amber meminta dua minuman dengan kadar alkohol rendah.
"Yakin? terakhir kali kamu terlihat mabuk hanya dengan segelas minuman yang kamu pesan itu."
"Tuan Daniel, jangan mengolok seperti itu, cepat berikan kami minuman."
"katakan dulu, nomor siapa yang harus aku hubungi kalau kalian berdua nggak sadar diri?."
"Kamu seperti nggak tau alamatku."
"He? jadi kamu mau di antar ke rumah? yakin orang tuamu nggak akan mengomel lagi?."
"Akh!! salah!!. Maksudku alamat Arin."
Bartender bernama Daniel itu tersenyum"Ya, baiklah."
Mengenai Daniel, dia pegawai lama di bar ini. Sudah cukup lama dirinya dan Amber saling mengenal, dan kebetulan kediaman mereka cukup dekat. Sangat mengenal dua wanita sombong yang berlagak jago minum, pada kenyataannya Daniel kerap menjadi seseorang yang memesankan taksi untuk mengantar mereka berdua pulang ke apartemen Arin. Pernah sekali waktu Amber mabuk berat, Daniel salah memberikan alamat, alhasil Amber di antar ke kediamannya. Keesokan harinya Daniel menerima amukan amarah seorang Amber.
Menjentikan ujung jari kelingking"Hanya segelas ini, kecil. Aku pasti nggak akan mabuk" sikap sombong Arin keluar.
"Kalau memang benar, aku akan mentraktir kalian di lain waktu."
"Janji?" Amber mengulur jari kelingking ke hadapan Daniel.
"Ya, janji" tersenyum jahil. Sedangkan Amber merasa sangat yakin akan kemampuannya malam ini.
Ada apa dengan tatapan Amber kepada Arin yang sedang menikmati minumannya?. Merasa di perhatikan sang sahabat Arin menoleh kepadanya"Kenapa?."
"Enggak. Aku mau turun ke lantai dansa."
"Silahkan. Aku di sini saja."
Menenggak minumannya dalam sekali tegukan, Amber segera meninggalkan Arin. Merasa tertantang dengan aksi minum Amber, Arin pun melakukan hal yang sama. Daniel tersenyum, begitu juga dengan Arin di lantai dansa. Tanpa Arin sadari di sudut lain Amber memuntahkan minuman itu.
"Kita lihat Daniel, aku akan menagih janjimu di kemudian hari" hentakan musik menarik semangat Amber untuk berdansa, menikmati malam ini dengan perasaan suka.
Di sudut lain, seorang lelaki sedang mengawasi Arin. Cukup lama, hingga saat Arin mulai menyandarkan diri di meja, perlahan dia menghampiri Arin.
"Belum" bibir Daniel berkata tanpa suara.
__ADS_1
Mengangguk samar, lelaki itu duduk beberapa jarak dari Arin.
Meski asik berdansa, Amber yang sangat sadar itu juga memperhatikan Arin. Dia tau ada seorang lelaki yang berusaha mendekati Arin, dan Amber membiarkan.
Beberapa waktu kemudian...
"Daniel!!" secara mengejutkan Arin berseru.
"Yaaa" spontan Daniel menyahut. Dia cukup di kejutkan dengan suara tinggi Arin. Mulai goyah, kini posisi duduk Arin sudah tak lagi tegak.
Memijit kening"Daniel, panggilkan Amber. Aku mau pulang."
"Lihat nona, kamu mulai mabuk."
"Cerewet! panggil Amber cepat. Aku mau pulang!."
"Tunggulah di situ. Aku masih sibuk."
Memicingkan mata mencari keberadaan Amber, rasanya tak mungkin dalam keadaan seperti itu dirinya menghampiri Amber. Merunduk ke meja bar"Oke, bangunkan aku kalau dia datang."
"Oke" ujar Daniel. Matanya melirik ke arah lelaki yang sedari tadi dengan sabar menunggu Arin hilang kesadaran.
"Kurang ajar!. Dasar gila! orang gila!" mata terpejam namun mulut mengumpat. Entah kepada siapa kata-kata itu bertuan. Seorang lagi lelaki hendak duduk di samping Arin. Dengan segera Daniel mencegah.
"Jangan, dia wanita berbahaya ketika mabuk. Kemarin dia mematahkan jari seorang pelanggan saat mabuk."
"Kamu bercanda" lelaki itu menyeringai.
"Dia pemegang sabuk hitam."
Oh tidak!!. Sepertinya benar apa yang di katakan bartender itu, dirinya baru beberapa kali ke sini tentu saja ucapannya bukanlah main-main. Dia pasti sangat mengenal para pelanggan tetap di sini, termasuk wanita cantik yang sedang tertelungkup di meja itu.
"Sayang sekali, aku menyukainya sejak tadi melihatnya."
"Suka bukan berarti bisa memiliki" akhirnya melangkah maju, lelaki yang sejak tadi mengawasi Arin hadir di antara mereka.
"Kamu siapa?."
"Aku tunangannya" ujar Fay seraya memperlihatkan cincin di jari manisnya pada lelaki itu.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.