
Keputusan Arin menarik diri dari Fay telah sampai kepada Prana dan Manda. Hati kedua orang tua ini merasa ngilu, tak ayal Fay dan Arin adalah pasangan yang di harapkan para orang tua yang telah tiada. Cinta akan datang karena terbiasa, hal ini sempat terjadi pada dua anak muda itu. Di balik sikap galak Arin dirinya menerima kehadiran Fay, juga di balik kejahilan seorang Fay dia juga akhirnya menerima Arin untuk tinggal di dalam hati.
Pasang surut perasaan suka dan cinta itu hal biasa, namun siapa sangka kehadiran wanita lain meninggalkan luka tak terobati di hati Arin. Berkali-kali kata maaf itu terucap dari mulut Fay, berkali-kali jua Arin mencoba memaafkan, namun sang hati sangat sulit untuk di ajak berkompromi.
"Ikuti kata hatimu" nasihat sang Ibunda kala itu.
Kedua orang tua Fay bertandang ke kediaman mereka setelah mendengar keputusan Arin, mereka membahas masalah ini dengan sangat terpencil. Namun sekali lagi, Arin telah kehilangan rasa untuk kembali mencintai Fay.
"Simpan saja cincin ini Nak" ujar Prana.
"Maafkan Arin Om." Dalam wajah tertunduk itu Arin meremat jemari, menguatkan diri agar tak luruh air mata di kedua pipi.
"Aku nggak menerima pembatalan perjodohan ini!!" Fay datang sedikit terlambat. Dirinya harus singgah sejenak ke sebuah perusahaan yang ingin melanjutkan kerjasama dengannya. Namun karena gundah terus mengusik hati, di pertengahan jalan Fay memutar haluan, dia segera menyusul kedua orang tuanya menuju kediaman Arin.
"Aku sudah meminta Ayaka untuk pergi dariku Arin."
Gadis ini hanya diam. Kemana dirinya mencari ranting yang telah patah itu, sedangkan dirinya telah bertekad untuk meninggalkan pulau cinta mereka berdua.
"Kalian bicarakan dulu masalah ini, pikirkan lagi keputusan yang akan kalian ambil" pesan Carlos seraya membawa para orang tua menuju balkon ruang keluarganya.
Mengusap pucuk kepala Fay sebelum ikut bersama yang lain"Yakinkan dia kalau memang dialah cintamu" bisik Manda kemudian.
Keheningan sempat memeluk pasangan ini untuk beberapa saat. Fay menarik wajah yang tertunduk itu untuk menatap wajahnya"Aku masih melihat diriku di matamu."
Hanya menelan saliva yang rasanya tercekat di tenggorokan, Arin tak bisa menyangkal perkataan itu. Jemari lentik sang gadis di genggamnya erat"Aku mohon beri aku satu kesempatan lagi. Mengenai Yuwen, aku nggak akan melarang kalian berteman."
Arin masih saja diam, lidahnya kelu untuk sekedar mengeluarkan sebaris dua baris kata kepada Fay. Dia bahkan tak kuasa berlama-lama menatap wajah lelaki yang sempat sangat di cintanya ini.
......
Hari terus berlalu, hujan yang turun ke bumi membasahi dinding kaca kamar Fay, semesta mendukung kesedihan di dalam hatinya. Kenapa? sebab kekasih tak sudi lagi berdekatan dengannya. Mengenai akan kemana Arin melanjutkan pendidikan, gadis itu memilih bersekolah di luar negeri.
Tak tanggung-tanggung, dirinya berkata akan menetap di sana jika memang menemukan pekerjaan yang cocok dengan jurusan yang dia ambil.
__ADS_1
"Aku nggak menerima pembatalan perjodohan kita!" sentak Fay saat ingin memperbaiki hubungan mereka dua hari lalu.
Diam dan hanya diam. Arin seolah bisu di hadapannya, Fay sangat geram namun semua ini berawal dari kesalahan dirinya.
Memandangi cincin yang masih tersemat di jari manis, entah apakah cincin yang ada pada Arin masih terpasang di jarinya.
"Fay" terdengar suara sang Mama di muara pintu.
"Iya Ma."
"Ada Zaid dan yang lainnya."
"Ya, Fay akan turun" ujarnya. Entah apa yang membawa para sahabatnya kemari di tengah hujan gerimis ini. Rasanya malas sekali menemui mereka, namun mau nggak mau dia harus menyambut para tamu tak di undang itu.
Rambut berantakan, mengenakan celana pendek sebatas lutut dengan atasan kusut sekusut wajahnya. Membawa air mineral di tangan Fay menjumpai mereka semua.
Zaid nampak sedang meminum jus di depannya. Bisma terlihat ikut kali ini, tumben bocah satu ini muncul. Hendro sedang bermain bersama kucing kesayangan Nyonya Manda yang bernama Suzy. Sedangkan Kevin terlihat sedang menelpon, mungkin dia sedang bicara dengan kekasih Ldr nya. Akh!! teringat hubungan jarak jauh Kevin dan kekasihnya, apakah sekarang dirinya dan Arin sedang menjalani Ldr? tapi kenapa nomor teleponnya masih di blok oleh Arin!.
Menghenyakkan diri di sofa"Ada apa ke sini? di luar hujan lho."
"Peduli tentang apa?." Awalnya Fay masih dalam posisi duduk, sejurus kemudian tubuh lelaki ini telah merosot hingga rebahan di sofa.
"Pake nanya, tanya sama diri kamu sendiri. Ada apa dengan hatimu. Dari bahasa tubuhmu saja sudah terlihat kalau kamu sedang resah, sedang gundah-gulana."
Rada-rada jijik mendengar ocehan Rivan ini, Hendro bergidik"Ukh!! bahasamu kayak lagi ngomong sama cewek, manis banget. Huweekkk!!." Suzy yang berada dalam pangkuan Hendro juga ikut eneg, karena Hendro berlagak hendak muntah.
"Heh!! menghina kamu Dro!?."
Hendro menjulurkan lidah kepada Bisma.
"Arin sudah ke luar negeri kan?" Kevin menyudahi obrolan via telepon. Kini fokusnya tertuju kepada Fay saja, masa bodoh dengan Hendro dan Bisma yang kini lesehan di lantai sambil memperebutkan Suzy.
"Kalian tau dari mana?."
__ADS_1
"Dia pamit lho sama kita-kita." Zaid yang bicara.
"Oh" ujar Fay, terdengar begitu putus asa. Hingga detik ini Arin tak pernah pamit padanya, hati kecil Fay terasa tersayat sembilu.
"Dia nggak pamit sama kamu?!."
Fay mengangguki pertanyaan Hendro.
"Wahhh parah" Hendro bicara sangat pelan, hingga hanya Bisma yang mendengar.
"Parah gimana?." Tanya Bisma berbisik pula.
"Arin semakin jauh dari Fay. Sama kita dia pamit, sama Fay enggak." Sahut Hendro seraya mengusap kepala Suzy.
Bisma menutup mulut, nggak menyangka masalah mereka serumit ini.
"Udah tau jadwal pertandingan Yuwen bulan depan?" tiba-tiba Rivan bertanya kepada mereka semua.
"Kenapa jadi bahas Yuwen? si cowok teman dekat Arin itu. Aku nggak yakin mereka cuman teman, Yuwen pasti cuman modus tuh, dia pasti mengincar hati Arin."
"Diam deh Bis, jangan jadi kompor!."
"Kev, perkataan Bisma ada benarnya. Menurut penyelidikanku, Yuwen ini menyimpan perasaan suka sama Arin. Pertandingan musim ke-3 para pro player junior di adakan di London, kalian yakin dia nggak bakal bertemu Arin di sana? kalian yakin mereka nggak bakal temu kangen di sana?!."
"Ck! Hilih!!baru dua hari cuy Arin ke sana."
"Heh kalau orang sedang jatuh cinta mah sedetik berpisah saja bisa bikin rindu, apalagi dua hari." Celoteh Rivan menanggapi decihan Hendro.
Sepemikiran dengan Rivan, Kevin melirik Fay yang kini nampak termenung. Entah sedang berada di mana pikiran Fay, dapat di pastikan dirinya sedang tidak fokus dengan obrolan mereka saat ini.
To be continued...
selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.