Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Kecamuk hati


__ADS_3

"Selamat pagi bunda-bunda cantik, pagi ini bunda akan masak hidangan kesukaan keluarga. Hemmm, ayo tebak, bunda mau masak apa?. Bahannya tidak banyak, hanya menggunakan beberapa sayuran ini saja."


Sangat pandai berinteraksi dengan para penonton di live Insta, bukan orang baru dalam dunia hiburan tentu ini pekerjaan kecil bagi Manda, juga menyenangkan.


Ada banyak yang berkomentar demi menjawab pertanyaan Manda, selain mengomentari hidangan yang akan dia buat, para netizen juga kepo dengan penghuni kediaman mewah itu selain dirinya. Ya, siapa lagi kalau bukan si bungsu, Fay Radian.


"Hei ayolah, kalian lebih tertarik dengan anak bujangku ketimbang masakanku hari ini. Akh! hatiku sedikit sakit" canda Manda.


"Kau cemburu pada putra tampanmu itu, bagaimana kalau berikan saja dia untukku bund" komentar salah seorang netizen.


Oke baiklah, Manda akhirnya menyerahkan pekerjaan memasak itu pada pelayannya. Sementara dirinya membawa ponsel itu menuju beranda yang luas pada bagian belakang kediamannya.


"Kalian sangat penasaran dengan putraku. Baiklah, untuk kalian aku akan membuka sesi tanya jawab tentang dia hari ini. Untuk sementara kita tinggalkan dulu masakan yang belum selesai itu, apa kalian setuju?."


"Ya!! aku setuju!."


"Tentu saja bunda. Membahas makhluk setampan putramu sudah membuat perutku kenyang."


"Aduh, aku sangat menunggu menu masakanmu hari ini. Setidaknya perlihatkan masakan itu ketika sudah selesai diolah, oke bunda?."Menanggapi pertanyaan yang satu ini, Manda tersenyum lebar.


"Baiklah, untuk kalian, aku akan memberikan yang terbaik" ujarnya.


Maka, sesi tanya jawab tentang Fay dimulai.


Ada yang bertanya menu kesukaannya. Warna favoritnya, minuman yang dia suka. Bahkan, tujuh hari dalam seminggu pun menjadi pertanyaan mereka, hari apa yang Fay sukai.


"Hari sabtu mungkin" jawab Manda. Dia menikmati minuman yang dibawakan sang pelayan.


Bukan tanpa alasan Manda menjawab hari itu, seingatnya hari jadi sang putra dengan Arin adalah hari sabtu. Sebagai seorang pejuang cinta, Manda yakin hari jadi mereka pasti menjadi hari yang spesial bagi Fay.


Di antara banyaknya pertanyaan, ada yang bertanya tentang keberadaan Fay, sebab sudah beberapa hari Fay tidak muncul di dunia maya.


"Dia sedang berlibur, ke London."

__ADS_1


"Di sana sedang musim dingin. Apa dia akan baik-baik saja?" tanya seorang netizen lagi. Sepertinya dia penggemar sejati Fay, sampai alergi sang idola pun diketahuinya.


Manda bukan tak memikirkan keadaan Fay, bertahan di sana pada cuaca dingin. Komentar sang netizen membuat hati Manda semakin galau, memikirkan sang putra.


"Dia akan pulang dalam waktu dekat" sahutnya.


Cukup lama sesi tanya jawab itu berlangsung, dan seperti apa yang di janjikan Manda, hidangan spesial kesukaan keluarga menjadi penutup diakhir siaran langsung.


Manda kembali merenung usai menyudahi aktifitas di dunia maya. Sungguh, komentar itu sangat mengusik hatinya.


"Niel, bawa adikmu pulang." Ujarnya mengirim pesan pada anak pertama.


Pesan itu bagai perintah bagi Niel, juga bagi Fay. Sejatinya meski suka bercanda, apa yang diperintahkan oleh Manda tak bisa di ganggu gugat, harus ada alasan yang pas untuk menolak perintah itu.


Tak perlu waktu lama, keinginan Manda telah sampai pada Fay. Tapi, kalau dia pulang, itu sama saja dengan memberikan peluang untuk Yuwen berduaan dengan Arin di sana.


"Bujuk dia untuk pulang bersamamu." Niel menyarankan.


Merebahkan diri di sofa, sejujurnya Fay merasa kesepian tinggal di negara ini, terlebih saat cuaca tak mendukungnya untuk bepergian. Memakai bantal hangat di sana sini pada tubuh sangat tak nyaman baginya, sebab dia tak terbiasa memakai benda itu.


"Katanya hanya sebentar, kenapa lewat dari satu jam." Lirih pemuda kesepian ini. Andai sekarang di tanah air, dia masih bisa mencari kesenangan bersama teman-temannya kalau diabaikan Arin seperti sekarang.


"Hupffhh!, benar kata Niel, aku harus membujuk Arin pulang. Dia juga sedang libur kuliah, untuk apa berlama-lama di sini." Lagi-lagi Fay berbicara sendiri.


Seperti kucing yang sedang bosan, Arin mendapati Fay rebahan di sofa dengan kepala di bawah, sedangkan kedua kalinya berada di bahu sofa.


"Apa yang kau lakukan?."


"Bermain."


Sebelah alis Arin menukik naik"Bermain apa?."


"Entahlah, katakan saja aku sedang bermain." Ujarnya lagi. Kini benang-benang wol yang menjuntai di ujung bantal jadi sasaran Fay, dia memainkannya sembarangan.

__ADS_1


Dari tingkahnya, Arin tahu Fay sedang bosan. Dia mengambil duduk di samping Fay.


"Kau sudah tidak marah padaku?."


Melirik Arin dengan ekor matanya"Siapa yang marah padamu?" seraya membenahi duduknya. Kini dia dalam posisi duduk yang normal.


"Tentang Yuwen..."


"Oh" sambar Fay. Bibirnya seketika manyun, ada atau tiada orang itu, kenapa namanya selalu ada di antara mereka.


"Aku hanya sedikit kesal, kau sangat senang ketika dia datang. Tapi karena aku seorang pendosa di matamu, aku bisa apa? marah? sedangkan kesalahanku lebih besar dari kesalahanmu."


Arin diam mendengarkan. Yuwen mewanti-wanti dirinya untuk menahan diri saat Fay bicara, agar obrolan mereka tak menjadi bencana dan pertengkaran.


"Sejujurnya, aku sudah di ambang keputus-asaan saat ini. Memperbaiki kaca yang telah retak ternyata tak semudah yang kubayangkan. Rasanya aku ingin menyerah saja."


Sontak Arin menoleh pada Fay.


"Tapi Arin, aku tak akan melakukan hal bodoh itu, sampai kapanpun kau adalah milikku."


Ada rasa sesak di dada saat Fay berkata akan menyerah. Namun, rasa sesak itu seketika sirnas ketika Fay kembali menekankan kata terakhir itu.


"Arin, bagaimana kalau kita pulang ke tanah air. Aku sungguh menderita dengan suhu di sini. Aku tak bisa melarangmu bepergian, karena bermain salju sangatlah menyenangkan. Tapi aku pun tak bisa ikut bersamamu, yang kulakukan hanya mengurung diri di ruangan hangat ini."


Arin masih diam, rasa pedih menjalari sang hati. Kesepian yang dirasakan Fay seolah menjalar pada hatinya. Egoiskah dirinya yang menghabiskan waktu bersama Yuwen dan Amber di luar? disaat Fay sedang merajuk karena kedatangan Yuwen?.


"Arin."


Gadis itu masih saja diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Merasa diabaikan lagi, Fay beranjak dari sofa. Dia kembali ke dalam kamar dan menutup pintu sepelan mungkin.


"Salah satu hal yang sangat aku takutkan adalah kau benci, tapi aku lebih takut kau meninggalkanku, Arin" gumam Fay bersandar dibalik daun pintu. Beban cinta, sungguh berat rasanya. Dia sangat percaya diri memiliki pundak yang besar dan nyaman untuk disandari, tapi pundak besar itu terasa tak mampu memikul beban cinta. Dengusan panjang terdengar beberapa kali dari pemuda ini, ada begitu banyak rencana yang beradu di dalam kepala. Pulang atau bertahan di sini.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2