
Separuh surat cinta....
Sinar rembulan menari sendirian di pantai tak berpenghuni,
Mencurahkan segala kenangan indah melirik dirimu pada separuh surat cinta ini,
Akankah kau mengingat kisah masa lalu hingga senyuman terukir di wajahmu?
Aku yang tak pandai mengucap rasa...
Kebersamaan kita adalah hadiahku tanpa kata untukmu...
Sepotong kenangan....
Sepotong bincang...
Aku sudah cukup puas meski sekedar sepotong waktu bersamamu.
๐๐๐
Entahlah, membaca puisi cinta yang sempat menarik perhatian Arin dahulu, membuat tepian bibir Fay melengkung, pemuda ini tersenyum.
Puisi itu Arin temukan dalam sebuah novel, mengisahkan tentang seorang lelaki muda yang mencintai kakak sahabatnya secara diam-diam. Perjuangan pemuda itu untuk mendapatkan sang pujaan hati bukanlah mudah. Keteguhan pemuda itu menjadi pemicu semangat Fay untuk memperjuangkan hubungannya bersama Arin, meski harus bermain dengan alergi yang bisa membahayakan dirinya.
Dengan sengaja Fay menyalin sebagian dari puisi itu dan menjadikannya moment pada pesan gelembung hijau. Sekali lagi Fay sungguh bersyukur, Arin akhirnya membuka blokir pada nomor ponselnya.
"Hoaaahhaaamm" begitu panjang suara Fay menguap, ini sudah lewat tengah malam tentu saja dirinya sudah dihinggapi rasa kantuk.
Hanya beberapa jam saja, Fay tidak bisa terus berdiam di bawah selimut. Tubuhnya semakin membaik dan dia sangat tau hal itu. Pagi-pagi sekali dirinya mengintip ke luar jendela, pemandangan serba putih menyapa sepasang netra coklat miliknya.
Berjalan mengendap-endap, Fay memeriksa keadaan Arin di ruang tamu. Gadis itu terlihat masih terlelap, dengan gaya serampangan. Lagi, Fay tersenyum.
"Untung saja ruangan ini hangat, tanpa selimut kau tak akan kedinginan" Fay bergumam.
Sebenarnya, bisa saja Fay memungut selimut yang teronggok di lantai, kemudian memakainya pada Arin. Tapi....Fay tidak lupa kalau Arin masih belum menerimanya dengan baik. Demi menghindari hal yang tidak diinginkan, pemuda ini memilih berjalan menuju dapur.
"Astaga! kenapa isinya hanya mie instan." Fay masih ingat dirinya sudah belanja banyak waktu itu, kemana perginya bahan makanan dan buah-buahan yang dia beli?. Apakah Arin telah menghabiskan semuanya?.
Hanya sedikit waktu yang Fay butuhkan untuk berpikir, menu sarapan telah tersaji. Bukan mie instan yang tersisa di lemari pendingin Arin, tapi....
"Bubur" suara Arin sedikit mengejutkan Fay. Sontak dia menoleh ke arah suara. Di muara pintu menuju dapur Arin berdiri seraya menyandarkan tubuhnya, menatap pada dirinya.
"Kau sudah bangun, ayo sarapan." Menarik kursi dan mempersiapkan Arin untuk duduk.
Awalnya Arin enggan mendekat, asap yang mengepul di atas bubur itu cukup menarik, dirinya pun akhirnya duduk di hadapan bubur itu.
"Enak?" baru satu kali suapan, rupanya Fay memperhatikan dirinya.
Alisnya terangkat"Ya, lumayan."
__ADS_1
"Maaf, hanya ada nasi dan telur selainย mie instan di sini. Kupikir terlalu pagi untuk menyantap mie, jadi aku hanya memasak bubur ini untukmu."
Memutar kedua bola mata"Aku selalu merasa lapar akhir-akhir ini" ujarnya merasa tidak enak hati, mengingat Fay sudah mengisi kulkasnya dengan bahan makanan.
"Itu bagus, nanti aku akan mengisi kulkasmu dengan banyak bahan makanan dan buah lagi. Untuk sekarang kau makan bubur ini dulu, ya."
"Bubur ini hanya untukku?."
Kedua mata Fay berkedip, sikap Arin cukup baik pagi ini meski berhadapan dengannya.
"Kalau kau mau menghabiskannya...."
"Cepat makan juga. Setelah itu minum obatmu. Aku tidak mau menjadi bulan-bulanan Ayah dan Ibuku karena kau kelaparan di sini." Memotong perkataan Fay, seraya menuang bubur pada sebuah mangkuk yang tersedia di meja itu juga.
Malu-malu kucing, Fay tersipu menerima mangkuk dari tangan Arin. Ujung jemari mereka sempat bersentuhan, desiran aneh sempat terasa di dada namun Arin berusaha meredam dengan mengajak Fay bicara.
"Bagaimana keadaanmu? bisa memasak hidangan ini sepertinya kau mulai membaik."
"Ya, aku sudah lebih baik."
"Kau serius? tanpa harus ke dokter?."
"Itu tidak perlu Arina. Aku hanya perlu tetap hangat."
Mulut Arin membulat, kemudian menyantap bubur itu kembali. Teko portabel di belakang Fay mulai mendidih, Arin berniat mengurusi teko itu.
"Kau merebus air."
Fay menoleh ke belakang"Oh iya, lanjutkan saja makanmu."
"Hemm" sahut Arin. Memandangi punggung Fay, kalau di pikir-pikir sudah sangat lama mereka berjauhan. Andai hubungan mereka baik-baik saja, alangkah nyamannya bersandar di sana untuk melepas penat.
"Kau mau dibuatkan susu hangat?" ucapan Fay menyadarkan Arin dari lamunan singkat.
"Eh tidak perlu. Aku justru ingin minum air dingin."
Semula, Fay menuang air hangat untuk dirinya. Mendengar ucapan Arin, ada rasa bersalah terbesit di benaknya. Karena alergi itu dirinya harus selalu hangat di cuaca dingin ini. Berbeda dengan tubuh Arin yang merasakan gerah, karena sejak kemarin malam pemanas diruangan itu menyala.
"Hemmmm, bagaimana kalau pemanasnya dimatikan." Ujar Fay.
"Ya, selain pemanas itu yang mati, kau juga akan mati kedinginan" celetuk Arin, berjalan menuju lemari pendingin.
Fay tersenyum miring, wanita di hadapannya, apakah sedang Mendokannya cepat mati?"Aku bisa memakai bantal hangat di perut dan punggung. Juga memakai pakaian berlapis-lapis."
Arin menggelengkan kepala"Tidak perlu sungkan. Kita cukup menurunkan suhunya saja. Kau pikir aku wanita super yang tahan udara dingin? meski bukan penderita alergi dingin sepertimu, aku juga memerlukan pemanas ruangan itu tetap menyala."
Lagi dan lagi Fay tertawa"Kau.... sekarang lebih dewasa."
"Tentu saja. Bahkan kedewasaan yang bertambah ini membuatku menerimamu tinggal di apartemen ini. Kau...mantan tunangan yang tak sudi di panggil mantan."
__ADS_1
Glek!! Fay seketika sadar, dirinya mulai terlena dengan kebaikan Arin hingga lupa pada kesalahannya dulu.
Menggigit bibir"Ya. Di antara kita tak kan pernah ada kata mantan. Meski kau memusuhiku seumur hidup, aku tak kan menerima keputusan itu."
Mencebik"Cih! egois!" seraya membuang muka.
Wajah Fay semakin masam. Atensinya kini tersita pada jemari-jemari Arin. Dari sepuluh jari itu, tak ditemukannya cincin pertunangan mereka.
"Arin, dimana cincin tunangan kita?!."
"Entahlah. Aku sudah menyerahkan cincin itu pada Ayah."
Mengusap wajahnya. Fay menunduk sedikit lama, seperti sedang berpikir.
"Aku akan meminta Ayah Carlos mengirimkan cincin itu secepatnya."
"Untuk apa?!" sambar Arin.
"Untuk kau pakai."
"Tidak! aku tidak mau memakainya."
"Kenapa?" tatapan sendu itu mulai menajam.
Dengan alis beradu Arin menatap dalam manik kekasih yang tak sudi menjadi mantan ini.
"Arin, bahkan tanpa mengenakan cincin itu, kau tetap tunanganku!."
Menyandarkan diri pada kursi duduknya"Kau sangat pemaksa" lirih Arin"Begitu sulitkah kau mengabulkan keinginanku?."
"Mintalah yang lain, aku akan mengabulkan apa pun yang kau mau, asal jangan meminta berpisah dariku." Sahut Fay penuh keyakinan.
Suhu di ruangan terasa semakin panas, menjalar sampai ke hati sang wanita. Bibirnya bergetar menahan emosi, juga menatap nanar kearah Fay.
Pada situasi tegang itu, terdengar suara bel ditekan. Seraya mendengus Arin pergi dari hadapan Fay, bergegas menuju pintu kediamannya.
"Surprise!!!." Suara lelaki!!! siapa itu?!.
"Yuwweeeennn!!" jerit Arin.
Owh tidak!!. Pupil mata Fay membesar. Meletakan gelas berisi air hangat, dia menyusul Arin ke depan pintu.
"Fay..." gumam Yuwen.
Seperti kilatan petir, pandangan tajam saling beradu terjadi di antara Fay dan Yuwen.
to be continued....
Up ketika senggang.
__ADS_1