Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Kedatangan yang terlambat


__ADS_3

Teriakan sirene mengiringi kedatangan Fay dan kawan-kawan. Pemuda tinggi tegap ini tumbang di bawah guyuran hujan. Sejenak melupakan benda yang mereka cari, Kevin menopang tubuh Fay di punggungnya, sementara yang lain ikut mengekorinya.


"Kalian duluan aja. Hend, cepat kasih kabar tante Manda."


Pemuda paling muda itu nampak ragu, namun sekian detik kemudian menjadi yakin setelah Zaid berucap"Kita hadapi sama-sama, kalo tante Manda menghukum kita."


"Lho, kamu nggak ikutan?." Tanya Zaid menanggapi ucapan Kevin yang meminta mereka untuk pergi lebih dulu.


"Aku nyariin cincinnya dulu. Kalo Fay sadar tapi cincinnya belum ketemu, bisa pingsan lagi dia" ujar Kevin.


"Sama aku, kita cari sama-sama." Ikbal mengusap kasar wajahnya, yang masih dibasahi air hujan.


Jadi, Fay diantar ke rumah sakit oleh tiga sahabatnya, sedangkan dua sahabat yang lain tinggal di lapangan itu untuk terus mencari cincin yang telah hilang.


Gundah gulana mereka menunggu kabar sang sahabat, rasa tegang kian menjadi saat Manda datang ke rumah sakit.


"Siapa???."


"Siapa yang ngajakin Fay mandi hujan??" berkacak pinggang, sepasang mata yang biasanya indah di pandang terlihat menyeramkan kali ini, sebab dia melotot seperti bola pingpong.


"Anu..."


"Anu apa!" belum sempat Udin bicara, Manda sudah menghardiknya.


"Belum ngomong, sudah nge-gas" cicit  Udin berlindung di balik punggung Hendro.


"Sabar tan, sabar. Dengerin dulu penjelasan kita-kita" Zaid, berusaha menenangkan Manda.


"Sabar?? kamu minta tante sabar?. kalian bukan nggak tau anak tante nggak bisa dingin-dinginan kan? apalagi sampai mandi hujan menjelang malam begini. Syukur kalo dia cuman sekedar kedinginan, kalo dia kesambet setan bagaimana??. Kalian bisa tanggung jawab?."


Andai Manda adalah kereta api seperti di filem filem kartun, sudah pasti cerobong asapnya mengeluarkan api yang membara, karena emosi yang meluap-luap.


"Kalo waktu itu kita-kita lagi diintai setan, pasti bukan Fay yang kesambet setan, tante. Pasti Udin yang kena."


"Kok aku?."


"Kamu kan anak mami, lemah gemulai, ogah juga basah-basahan. Tadi juga kamu lebih memilih nongkrong di saung kan, di bawah pohon rimbun."


Glek, Udin kesulitan menelan saliva.


Manda melipat kedua tangan di dada, memandangi para pemuda di hadapannya satu persatu"Kalian, pintar sekali berkelit."

__ADS_1


"Dia tuh, tan" kompak, jari telunjuk Zaid dan Udin menodong ke arah Hendro.


"Bukan gitu tante, Hendro cuma mau menjelaskan aja. Lagian, tante kayak bensin, belum tau duduk masalahnya sudah menyambar duluan."


Entahlah, Manda kalo sudah berhadapan dengan para sahabat anaknya, sangat sulit untuk menghakimi mereka. Kenapa? karena meskipun terlihat takut padanya, mereka sangat pandai berkelit, seperti bajaj yang lihai ngelip di jalanan.


Kedua tangan Zaid mengambang di udara sebatas dada, memberi aba-aba kepada Manda untuk bisa bersabar"Tarik nafasssss, hembuskaaann" ujarnya.


Meski memberengut, anehnya Manda mengikuti instruksi Zaid.


Raut wajah gusar perlahan sirna, berganti dengan wajah manis keibuan khas Manda"Nah, kalo begini baru tante Manda yang baik hati dan enggak sombong" hati-hati, Udin mulai berani bicara lagi.


"Awas! tante akan menilai penjelasan kalian. Kalo kalian terdeteksi salah, kalian akan tante adukan sama orang tua kalian." Ancaman Manda ini cukup menakutkan, sebab para orang tua juga hobi memberikan hukuman di luar nalar kalo mereka berbuat salah, seperti Rivan yang sempat mendapat hukuman bertunangan dengan Nari karena membawa sang Nona muda bolos sekolah.


Ada rasa khawatir ketika menceritakan awal mula permainan mereka petang tadi. Tapi, tak seorangpun dari mereka mencoba membohongi Manda, apa yang terjadi maka itulah yang mereka sampaikan kepada Manda. Dari kisah itu, Manda mengetahui bahwa cincin tunangan putranya telah hilang. Dia juga akhirnya tau bahwa kepulangan Fay ke negeri ini hanya membawa kegagalan. Ya, calon menantunya enggan ikut pulang bersama putranya.


Rasa sedih seketika menjalari sang hati, Manda yang tadinya berkicau seperti burung, kini lebih banyak diam. Begitu banyak pengorbanan Fay untuk menebus dosa-dosanya, tapi Arin seolah tak melihat pengorbanan itu. Sebagai orang tua, hati yang sakit pun merasakan kekecewaan.


Kini mereka telah berada di kamar inap Fay, wajah pemuda itu terlihat sangat pucat. Jemarinya mengucap kening sang putra, masih terasa hangat.


"Bagaimana, dok?."


"Bola matanya masih merah dan mengeluarkan busa kecil."


Menggenggam erat lengan kekar sang putra, sepasang bola matanya melihat ruam kemerahan juga muncul di leher Fay. Manda tau, ruam itu terasa sakit sekali, gatal dan panas, sangat nggak nyaman. Di telapak tangan sang putra, Manda juga menemukan ruam kemerahan itu.


"Berikan obat yang paling ampuh, dok" ujarnya.


"Ya, sudah seharusnya, Nyonya."


"Tapi, Nyonya tentu sangat tau nggak ada obat yang pasti bisa menyembuhkan alergi yang di derita putra anda. Selain kekebalan tubuhnya dan menghindari cuaca buruk."


"Setidaknya pasti ada obat untuk meredam ruam di kulitnya. Aku juga penderita alergi itu, dan aku sangat tau sakit yang dia rasakan saat ruam itu muncul."


"Oh, tentang ruam itu, perawat sudah memberikan suntikan untuk meredakannya sejak tadi."


Helaan nafas panjang"Terimakasih" ujar Manda lagi.


Ketiga pemuda yang datang bersama Fay, hanya bisa diam menyaksikan. Mereka tak berani berkata-kata lagi, takut apa yang terlontar dari mulut mereka hanya memicu kemarahan Manda. Wanita paruh baya itu terlihat membuang muka saat mereka menceritakan Arin, yang tak terdengar akan menyusul Fay pulang ke tanah air.


Kejadian sikut menyikut, mereka berkomunikasi dengan cara begitu.

__ADS_1


Sementara itu, perasaan tak nyaman menyelimuti diri Arin. Gadis yang sedang berada di bandara ini merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Kekhawatiran itu semakin menjadi setelah mendengar kabar dari Ayahnya, tentang keadaan Fay.


"Cepat ke rumah sakit, Ayah!."


"Kamu sudah makan?."


"Belum. Tapi Arin belum lapar."


"Ayah membawa roti yang baru di panggang, kamu bisa makan di dalam mobil."


"Iya, nanti Ayah. Sekarang ayo kita langsung ke rumah sakit."


Tuan Carlos menahan diri, tubuh tinggi besarnya cukup sulit di tarik paksa sang putri.


"Ayah, Ayah bilang Fay di rumah sakit. Ayo kita langsung ke sana." Tutur Arin seraya berbalik badan.


Cinta pertamanya itu nampak diam dengan jemari memegang erat kopernya. Arin yakin, pasti ada yang nggak beres, sebab sang Ayah enggan beradu pandang.


Selangkah lebih dekat pada Ayahnya"Ayah...." menengadah mengintip kedua mata Tuan Carlos.


"Arin sayang, kita pulang ke rumah aja dulu. Ibu sudah menunggumu."


Kini, Arin dan Carlos saling menyelami dasar hati masing-masing, dan Arin sangat tau Ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ayah, jangan ajari Arin untuk menyembunyikan sesuatu. Ayah selalu meminta Arin untuk mengatakan apa pun yang sedang Arin alami baik suka ataupun duka."


Meraih jemari putri yang tak jua dewasa di matanya, Carlos mengajak Arin untuk berbicara di dalam mobil saja.


Nampak terpaksa, namun Arin hanya bisa mengikuti apa keinginan Ayahnya.


Di sudut lain dari tempat itu, Yuwen memandangi punggung kecil Arin hingga menghilang.


"Mau sampai kapan kamu menatapnya? dia sudah aman bersama Ayahnya."


"Ah, maaf" Yuwen terkejut. Ternyata sang kekasih sudah sedari tadi berada di dekatnya.


"Ayo, kita pulang."


"Iya, kita akan pulang" sahut Yuwen.


Gadis ini bernama Haura, gadis manis dan selalu ceria. Bahkan, ketika kekalahan sedang melandanya dalam pertandingan, Haura tak terlihat kesal sedikitpun. Ya, di mata Yuwen Haura adalah gadis yang memiliki hati seluas samudera. Sejauh ini, dirinya hampir tak pernah melihat Haura berkeluh kesah apalagi marah. Bahkan, saat Yuwen menerima cintanya dengan kejujuran yang pahit, Haura berucap sembari tersenyum ceria"Setidaknya kamu mau menerimaku. Dan terima kasih sudah berterus terang tentang siapa pemilik hatimu. Asal kamu tau Yuwen, cinta akan hadir di antara kita, cepat atau lambat, aku yakin itu."

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2