Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Sua rindu


__ADS_3

"Selamat menempuh hidup baru" membungkuk dengan sempurna, Amber membuat Fay menggelengkan kepala seraya tertawa. Fay kira hanya di negaranya ada manusia random seperti teman-temannya, ternyata di luar negeri pun ada. Sejak pertama bertemu di bandara, seorang Amber sudah membuat Fay tertawa. Gadis itu pecicilan, dan ceroboh. Mengaku warga lokal pada kenyataannya taksi yang membawa mereka sempat tersesat, karena Amber salah memberikan alamat. 


Wajah tampan Fay, menjadi salah satu alasan hilangnya kesadaran Amber meski sekejap. Di tambah dengan informasi tentang Fay, yang ternyata adalah Adik dari seorang Niel, pemilik perusahaan transportasi ternama di negara kelahiran Ayah Amber. Hal ini di ketahui Amber saat taksi yang membawa mereka tersesat. Saat itu Fay memuji keramahan supir taksi yang tak segan meminta maaf meski kesalahan bermula dari alamat yang di berikan Amber.


"Ku pikir lelaki dengan wajah oriental itu adalah kekasihnya, ternyata aku salah." Ujar Amber saat itu.


"Dia hanya sahabat dekatnya" meski terasa ngilu di hati mendengar hal itu, Fay tetap melempar senyum ketika Amber mengungkit Yuwen.


"Wahhh" sepasang mata Amber berbinar, bagai bintang  yang berkelap-kelip di langit malam"Kamu bahkan sangat pengertian, mereka sangat dekat hingga aku mengira mereka sepasang kekasih, dan kamu memahami hubungan mereka. Kamu nggak marah? atau cemburu?. Berita online juga mengira mereka sepasang kekasih.


"Hanya teman. Nggak lebih" tutur Fay. Demi Neptunus!!! hatinya panas sekali, ocehan Amber seperti air mengalir tanpa filter, terasa perih menyirami hati yang sedang terluka.


Demi memangkas ocehan Amber yang tak lelah membahas kedekatan Arin dan Yuwen, Fay lekas membahas misi kedatangannya kemari. Dari Fay barulah Amber mengetahui bagaimana rumitnya hubungan asmara Arin dan Fay. Mengingat Amber adalah satu-satunya sahabat terdekat Arin, tanpa ragu Fay menceritakan segalanya kepadanya. Awalnya Amber sempat gusar, terlebih ketika Fay mengatakan keterlambatan dirinya mengejar Arin kembali.


"Ternyata wajah tampan dan uang yang banyak nggak menjamin otak lelaki menjadi pintar. Sudah jelas kamu mencintainya, untuk apa memberi harapan pada wanita lain. Hais!!" bersedekap, Amber membuang muka saat itu, saat dirinya mengantar Fay ke hotel tempatnya menginap sebelum menemui Arin.


"Ya, aku mengaku salah. Jadi aku mohon tolong bantu aku memperbaiki hubungan kami" dengan tatapan sedih, Fay sukses membuat Amber bersedia membantunya. Bersama Danile dia merencanakan pertemuan Arin dan Fay. Mengingat Arin yang bahkan masih memblokir nomor Fay, sepertinya pertemuan mereka harus di warnai dengan sedikit insiden.


Berkat ide dari Daniel, kini Fay telah berada di kediaman Arin, tepatnya sedang berdiri di muara pintu kediaman sang kekasih.


"Hei, itu ucapan untuk sepasang pengantin. Kami baru bertunangan, belum menikah."


"Ucapan adalah doa Fay" sahut Amber"Jujur saja, setelah tau kisah kalian aku sempat ragu untuk membantumu. Arin bahkan nggak pernah menyebut namamu di hadapanku, bisa di pastikan betapa marahnya dia padamu. Dan sekarang kamu menyeberangi lautan untuk bertemu dia, karena itulah aku membantumu."


Wajah yang semula terlihat ceria kini muram"Ya, aku memang salah dan kesalahanku sangat sulit untuk di maafkan. Aku berjanji akan membahagiakan dia."


"Itu harus!" seru Amber"Lihatlah, aku nggak segan menghantam kepalamu dengan tanganku kalau menyakiti Arin" ujarnya mengepalkan tangan di hadapan Fay.


"Meski aku seorang wanita, dan tanganku tak sebesar tanganmu, aku pemegang sabuk putih."


Oho, Fay nyaris tertawa, namun dia langsung Ingat bahwa wanita paling benci di tertawakan meski sedang membual.


Menangkupkan kedua tangan"Maafkan aku nona Amber. Aku nggak akan menyakitinya lagi, dia wanita tersayangku."

__ADS_1


Mengangguk seraya mengacungkan jempo"Bagus!. Ya sudah, aku pergi dulu."


"Terimakasih banyak Amber" rasa terimakasih itu terucap bersama langkah Amber menuju lift.


"Yoi! urus dia dengan baik."


Acungan dua jempo terarah kepada Amber"Siap nona sabuk putih."


Usai kepergian Amber, Fay menatap ke dalam kediaman Arin. Kini hanya ada mereka berdua di sana, bayangkan betapa rindu semakin bergelora. Begitu berat godaan yang harus di tahan lelaki ini, di tengah malam yang sepi, dirinya berteman sang kekasih yang sangat di rindukan.


Sempat terdiam seraya bersandar di depan pintu yang telah tertutup, Fay memikirkan langkah selanjutnya. Alih-alih mendatangi Arin, gadis yang sedang terhanyut di dunia mimpi. Langkah kaki Fay menuju balkon apartemen tersebut. Angin malam seketika terasa menggigit kulit saat dirinya menginjakkan kaki di balkon, spontan kedua tangan memeluk diri sendiri.


Melepas pandangan ke sekeliling, lampu-lampu pada bangunan tinggi tak kalah ramai warnanya dengan kerlip bintang di atas sana.


"Arin, akhirnya kita berada di bawah langit yang sama" gumam Fay.


"Air!!!!."


Teriakan Arin menyita perhatian Fay, dia gegas menghampiri sang kekasih. Ash!! Amber gila!. Apa maksudnya memakaikan piyama berbahan tipis dan mini itu!. Sontak Fay menutup kedua mata dengan kedua tangan, namun percuma saja, sebab Arin harus segera dia hampir dan urusi.


"Aku haus!. Berikan aku air minum~~~~." Seperti zombie, Arin berdiri namun sempoyongan. Ck! baju itu pasti mahal tapi kenapa terlihat rentan sekali. Pundak mulus sang kekasih terekspos dengan nyata, sebab piyama tanpa lengan itu melorot ke bawah.


Kelabakan, Fay keluar kamar sembari mencari lemari pendingin. Oke, minuman telah di dapatkan. Lagi-lagi pemuda ini berlari menuju kamar Arin. Gadis itu duduk di lantai, lengannya berada di tepian tempat tidur.


"Kyaaa!!! Amber aku akan jatuh!!." Begitu erat Arin memegangi tepian ranjang, seolah dirinya berada di atas gedung tinggi. Sementara kakinya diam saja, seolah hanya menjadi penonton atas tingkah sang empu yang mulai menggila.


Membuka tutup botol minuman"Arin, ini minumannya."


Kedua mata Arin memicing, seperti diterpa cahaya yang menyilaukan. Sangat jelas wajah Fay tepat berada di depannya, namun mulutnya meracau dan memanggil Fay sebagai Daniel.


"Owh Daniel, terimakasih minumannya. Ini....minuman ini~~~" memainkan minuman itu dengan tangan berayun-ayun"Akan di bayar Yuwen. Oke?."


Mengerling ke lain arah, Fay membuang nafas kasar.

__ADS_1


"Hei!! kamu nggak tau Yuwen~~~. Dia teman terrrrbaikku!. Kamu nggak tau?."


"Arin minum dulu. Kamu bilang tadi haus."


Minuman itu sedikit tumpah di tubuhnya, rasa dinginnya tak jua menyadarkan Arin"Iya~aku haus. Tapi sebentar ya~ aku jelaskan dulu siapa Yuwen. Oke Danieeeelllll."


Fay melepaskan pegangan pada tangan Arin, dia hendak duduk bersila di lantai bersamanya.


"Yakkkk!! jangan lepaskan aku!. Lihat!! tempat ini tinggi sekaliiii."


"Arin kamu mabuk!. Sadarkan dirimu!."


Meletakan jari telunjuk di depan bibir"Syuuuutttt, diammmm. Jangan bicara keras-keras, nanti tempat ini bergetar kita bisa jatuh kebawah, dan mati!!"


"Hick!! hick!!." Tiba-tiba Arin menangis.


"Kamu tau...aku nggak mau mati dulu. Aku belum bertemu pria menyebalkan itu!!. Aku belum berhasil membuatnya menderita dalam kesedihan seperti apa yang ku rasakan!!."


Fay terdiam, lelaki itu pasti dirinya. Ya! siapa lagi yang telah membuatnya menderita selain dirinya.


"Arin, aku Fay!!."


Mendengar nama itu, Arin mengangkat pandangan dan menatap lekat wajah Fay.


"Byurrrr!!!" botol air mineral di tekan Arin kuat-kuat hingga airnya menyembur keluar. Wajah Fay basah karena air itu sementara tubuh Arin semakin basah.


"Ck! aku kehilangan semangat mendengar nama itu. Daniel kamu pergilah." Merangkak naik kembali ke atas tempat tidur, Arin menyembunyikan diri di balik selimut dengan tubuh basah itu.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2