Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Hujan sore itu


__ADS_3

Seperti bermain kucing-kucingan. Setelah beristirahat Fay melarikan diri dari rumah, bukan kabur dan tak kembali, dia hanya sedang mengulur waktu. Petang itu dirinya datang ke rumah Ikbal, mengajaknya menghabiskan waktu di luar.


"Basket?."


"Ayo" Ikbal yang memang sedang senggang langsung setuju dengan ajakan Fay. Mengendari motor besar milik Fay mereka berdua menuju tempat yang sudah mereka sewa.


"Basket yok, aku sama Fay otw. Buruan nyusul, tempat biasa ya!" begitu pesan suara yang Ikbal kirimkan ke grup chat cebong unyu.


"Gas!!" Hendro si aktif langsung membalas pesan itu.


"Kalian duluan aja, aku masih ada kerjaan." Kevin membalas.


Saat Ikbal hendak membalas pesan-pesan mereka, tiba-tiba ban motor Fay berdesis. Laju motor melambat dan akhirnya mati.


"Kenapa Fay?" tanya Ikbal sembari turun dari motor.


"Bensinnya habis, bro."


Ikbal menengok ke arah ban"Wahh ban nya juga kempes. Pulang dari luar negeri kok bawa apes kamu Fay, aku jadi kena getahnya." Dasar Ikbal, di saat seperti ini malah menyudutkan Fay.


Menekan ban motor yang memang kempes itu, Fay mengambil duduk di tepi jalan.


"Hufpphh! niat nyari hiburan malah kayak gini. Mau main basket aja nggak bisa" tak seperti biasanya yang gampang meluap-luap saat emosi, Fay terlihat pasrah pada keadaan.


Ikbal ikut duduk bersama Fay, dua cowok tampan ini akhirnya nongkrong di tepi jalan"Gimana?."


"Apaan?" mencabut rumput-rumput di bawah kakinya.


"Arin" Ikbal bertanya seraya mengedarkan pandangan. Tepat di depan mereka anak-anak kampung sedang bermain sepakbola. Lapangan itu cukup luas, hingga bukan hanya anak-anak itu saja yang bermain di sana, di sudut lain ada anak-anak cewek lagi main toncat tali.


"Ya begini, aku pulang sendiri."


"Kamu menyerah?."


"Enggak lah!. Aku bakal datang lagi, tapi nanti" ujar Fay.


Blup! suara notifikasi di ponsel Ikbal.


"Udah mandi, udah wangi, aku nonton aja ya" Udin baru membalas pesan suara dari Ikbal.


"Kalian aja ya, aku lagi di kota sebelah."


Hendro lekas membalas pesan Rivan barusan"Ngapain? ngapelin Niki?."


"Bocil kematian, kepomu kayak cewek!" Udin yang membalas.


Emoticon batu di kirimkan Hendro.


"Fay aja rela nyusulin Arin ke luar negeri, masa aku ke kota sebelah aja kamu bertanya-tanya, Hen."

__ADS_1


"Akh!! kamu bertanya-tanya" Udin lagi-lagi ikut membalas.


"Sumpah itu basi banget!. Awas aja kamu jadi Dilan Kw pas kita ketemu, aku hajar sampai ke alam baka kamu, Din!" geli ih, Zaid yang sedari tadi menyimak langsung nimbrung karena Udin menirukan kata-kata si Dilan Kw.


Mereka semua kompak mengirim emoticon muntah, Udin hanya nyengir menatap ponselnya saat ini.


"Zaid, jemput dong. Sekalian ganti ban motorku."


"Jemput? bukannya kalian otw ke lapangan basket?."


"Ban motorku kempes, bensinya juga habis. Ini kami lagi di lapangan kampung dekat tikungan kedai seblak langganan."


"Ya sudah, main di lapangan itu aja. Lagian, pikir deh kalo aku jemput kalian motornya mau taruh di mana?."


"Di gendong" balas Kevin.


Masing-masing dari mereka kembali mengirimkan emoticon yang sama, tertawa lebar hingga keluar air mata.


"Mana bisa main basket di sini, ini lapangan kampung bro. Tanahnya becek kalo hujan."


Menanggapi pesan yang di tulis Ikbal, Hendro mengetik pesan"Cerah begini, lagian kalo hujan ya tinggal mandi hujan aja kita."


"Tidaaakkk!" ujar Udin.


"Banyak cing-cong, aku otw ke lapangan. Main sepakbola aja kita, kalo Udin nggak mau ikut main, traktir minuman buat kita-kita."


Emoticon jempol besar di kirimkan Udin, sebagai pertanda dia setuju untuk traktir mereka minuman.


Niat banget pengen jadi wasit, Udin membawa peluit dari rumah.


Satu jam permainan telah berlangsung, apalah gunanya Udin si wasit abal-abal, dia hanya sibuk meniup peluit dan berteriak saat mereka melakukan pelanggaran. Bukannya datang ke tengah lapangan dan memeriksa apakah itu benar pelanggaran atau dia hanya salah lihat aja.


"Wasit nggak guna!. Bisa main sepakbola nggak?!" teriak Kevin. Salah satu bocah rekannya mendapat kartu kuning, kata Udin dia sengaja menyenggol lawannya saat bermain.


"Beneran woi dia main fisik" seru Udin.


"Itu bocah jatuh sendiri!" seru Hendro.


"Ah elah, jadi adu mulut. Sudahlah, dia nggak perlu kita pake, ayo main lagi" tukas Ikbal.


"Eh sini, aku kasih lihat main fisik yang sebenarnya."


Glek! Udin cengengesan mendengar ucapan Kevin. Kalo sudah begitu berarti Kevin mulai kesal, sangat berbahaya kalo di deketi.


"Sini" ujar Kevin lagi memanggil Udin dengan jari telunjuk.


Menggelengkan kepala, tingkah Udin membuat mereka tertawa.


"Buruan pulang, Din. Lapor sama Mama kamu." Ledek Zaid seraya terkekeh.

__ADS_1


"Hahaha, anak Mama udah izin belum pas ke sini?. Nanti di cariin lho" Hendro juga ikut meledek. Membuat Udin jadi bahan tertawaan. Sementara Udin sudah terbiasa dengan hal itu, dia juga tak mengambil hati atas perlakuan mereka, toh hanya bercanda.


"Kamu takut?." Tanya Kevin.


"Iya" ujarnya tanpa basa-basi.


Lagi-lagi mereka tertawa.


Tik..tik..


Eh, setetes air terasa jatuh di ujung hidung Ikbal.


"Hujan?" bertanya pada yang lain.


Mereka kompak menatap langit, sejam lalu masih sangat cerah, tapi sekarang perlahan gelap.


Hujan benar-benar turun sore itu. Mereka langsung mencari tempat berteduh.


"Aish!! jangan dempet-dempetan dong" saung tempat nongkrong Udin mendadak ramai, mereka semua berteduh di sana.


"Ku perhatikan kamu makin bawel, Din. Kayak cewek, ketularan Greta ya."


"Power of love, ya gini deh" ujarnya.


Geli dengan ocehan Udin, Kevin mendorong keningnya"Bautnya hilang satu, jadi eror."


Fay di buat tertawa lagi. Yah, gimana ya, mereka kocak dan setia kawan, menghabiskan waktu bersama mereka tentu sangat menyenangkan. Alih-alih berada di luar negeri tapi kesepian.


"Eh Fay, cincin kamu mana? bukannya tadi di pake?."


"Ha?" Fay membolak-balik tangannya, dan baru sadar cincin tunangannya hilang.


"Hilang?" Zaid bertanya lagi.


"Kayaknya jatuh pas tadi main" dia berniat menerobos hujan yang lebat itu.


"Jangan! hujannya lebat banget." Ujar Ikbal.


"Pasti jatuh di sana, kamu sendiri kan yang bilang kalo hujan lapangan ini becek, kalo cincinnya tertutup lumpur gimana?."


Mereka saling berpandangan. Mengingat alergi Fay, membiarkannya mencari benda itu di bawah hujan, sama aja nyari mati. Tante Manda pasti akan mengomeli mereka tujuh hari tujuh malam.


Melepaskan jaketnya dan menyimpan ponselnya di saku jaket"Aku yang nyari."


"Aku juga" ujar Hendro.


Awalnya hanya Hendro dan Zaid yang mencari, tapi cincin itu tak jua ditemukan.


Hari semakin petang dan hujan masih saja deras. Para bocah pulang sembari mandi hujan, hingga menyisakan Fay seorang di saung itu.

__ADS_1


Akh! dirinya seperti seorang pengecut, membiarkan mereka yang mencari barang miliknya. Jadinya, Fay juga ikut mencari benda itu tanpa peduli dengan hujan yang begitu deras.


To be continued...


__ADS_2