Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Benar, Manda kecewa!


__ADS_3

"Tante kecewa sama kamu." Barisan kata itu membuat jantung Arin berdetak hebat. Hampir tengah malam akhirnya Arin memiliki keberanian untuk menanyakan kabar Fay, sebab kedua orang tuanya tak mengizinkan untuknya pergi menjenguk malam itu juga. Lagipula, malam semakin naik, lebih baik esok hari saja kalo mau menjenguk pemuda itu, begitu kata Ayah.


Jemarinya mendadak kaku, untuk mengetik satu kata saja Arin tak mampu. Tapi, kalo dia menggantung obrolan singkat mereka, rasanya nggak sopan. Apalagi dirinya sudah sangat lancang mengusik waktu istirahat Manda di malam yang telah larut ini. Juga, dirinya akan semakin mengecewakan tante Manda, karena terlihat tak peduli pada Fay juga rasa kecewa yang dia ungkapkan.


"Maaf" ini kata pertama yang Arin ketik dan kirim, setelah obrolan via pesan singkat itu terjeda beberapa menit.


Manda terlihat masih menunggu balasan darinya di seberang sana, hingga pesan yang Arin kirim langsung terbaca olehnya.


"Enggak, seharusnya tante yang meminta maaf. Sebab nggak bisa mendidik Fay menjadi lelaki yang baik untukmu."


Owh!!! lagi dan lagi dunia terasa sempit, menghimpit dirinya hingga kesulitan bernapas.


Cukup lama Arin mencoba merangkai kata balasan untuk Manda, dan belum selesai kata itu dia kirimkan, Manda sudah mengakhiri obrolan mereka.


"Sudah malam, kamu istirahat aja. Masalah Fay nggak perlu terlalu kamu pikirkan. Dia sudah lebih baik, dia akan pulang secepatnya dari rumah sakit."


Tubuh gadis ini seperti kehilangan tulang belulang, Arin yang tadinya duduk di tepi ranjang kini merosot ketepi ranjang hingga berakhir di lantai.


Pukul 7 pagi di rumah sakit.


Saat membuka kedua mata, sosok yang pertama Fay lihat adalah Kevin dan Rivan.


"Wahh, udah siuman!. Bro! kamu lama banget pingsannya!."


"Pletok!!" Kevin menjitak kening Rivan"Harap tenang, dari tadi kamu bawel dan banyak cing-cong. Kalo berisik mending kamu keluar aja."


"Main fisik melulu kamu, Vin. Aku begitu juga spontan karena akhirnya Fay bangun dari tidur panjangnya." Ujarnya mengusap kepala. Sepagi ini dapat jitakan dari Kevin, mimpi apa dia semalam.


Mendorong tubuh Rivan ke arah pintu"Cepat panggil dokter."


"Tinggal pencet itu kan" ujar Rivan menunjuk tombol merah di atas ranjang pesakitan Fay.


"Sekalian jemput tante Manda di kantin."


"Kamu aja, aku nungguin Fay aja di sini."

__ADS_1


"Sudah ditraktir sarapan, giliran di mintai tolong kamunya malas. Nggak guna banget jadi manusia."


Fay tersenyum lebar, sedangkan Rivan manyun"Sudah jadi darah daging, pake diungkit."


"Kalo nggak mau diungkit buruan kerja, jangan pemalas!."


"Ugh!! untung kita sudah lama temenan. Kalo baru kenalan, aku jitak kepalamu."


Dengan gagah Kevin mendatangi Rivan"Nih, jitak. Jangan sekali dua kali doang, berkali-kali aja boleh."


Tawaran Kevin justru membuat Rivan lari terbirit-birit. Ngomong sama Kevin harus peka, adakalanya apa yang dia perbolehkan itu justru sebaliknya. Seperti sekarang ini, Rivan yakin kalo dia beneran menjitak kepala Kevin, bisa-bisa kepalanya bakal longor saat Kevin membalasnya.


"Gimana? pusing?."


"Enggak. Biasa aja."


Kevin mendudukan diri di sebuah kursi, samping ranjang pesakitan Fay"Biasa aja tapi pingsannya lama. Dari kemarin malam sampai pagi begini."


Fay tersenyum nakal"Hehehe, aku sempat bangun kok kemarin. Ternyata ranjang ini cukup empuk, aku jadinya langsung tidur deh."


Haya! beruntungnya Fay sedang sakit, kalo dia sehat wal afiat, sudah Kevin geplak kepalanya dari tadi. Semua orang merasa khawatir karena dirinya pingsan begitu lama. Dirinya sampai rela bangun pagi-pagi demi menungguinya di rumah sakit menggantikan Udin dan Zaid. Ternyata, Fay hanya ketiduran.


"Bagaimana?? bagaimana putraku!" Manda datang dengan tergesa-gesa. Rivan mengekorinya dari belakang membawa semangkok sup iga yang belum selesai Manda nikmati.


"Sudah lebih baik, Nyonya" ujar dokter. Kevin juga Rivan dapat melihat sang dokter sempat terkejut karena kedatangan Manda. Begitu juga dengan para perawat, mereka menahan tawa melihat tingkah Manda yang sedikit pecicilan. Untung saja dia cantik, meski pecicilan tetap terlihat anggun dan berduit pastinya.


"Owh! syukurlah."


"Siang ini pasien sudah bisa pulang, Nyonya." Tambah sang dokter.


"Benarkah?." Tanya Manda diangguki dokter tersebut.


"Waahh anda memang dokter terbaik" serunya mengacungkan dua jempol. Prana yang baru datang langsung menarik sang istri, dia sangat tau istrinya pasti bersikap berlebihan lagi.


Atas rasa syukurnya, Manda mengirimkan makan siang dengan menu andalannya untuk dokter dan para perawat. Hal ini mereka unggah ke media sosial dengan men-tag Insta Manda. Alhasil, kabar duka yang sempat menyelimuti keluarga mereka terendus para netizen. Banyak dari mereka berduka namun akhirnya bersuka cita karena Fay telah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Sementara Manda, wanita paruh baya ini dihujani pujian dari para netizen, karena tak ragu mentraktir makanan enak dan mewah untuk dokter dan para perawat yang telah merawat Fay.

__ADS_1


Ketika sebuah kabar sampai kepada para menggali berita, sebab musabab Fay masuk rumah sakit pun menjadi buruan para pemburu berita. Menyoroti Kevin dan Rivan yang ikut berfoto bersama para perawat sebelum Fay pulang, membuat dua pemuda ini menjadi incaran mereka.


Menyoroti setiap unggahan pada laman Insta milik Kevin, para wartawan yang mengirim Dm padanya hanya bisa gigit jari. Pemuda berdarah china ini tak menanggapi sedikitpun, seolah mereka hanyalah angin lalu. Sembari menunggu balasan dari Kevin, para wartawan justru kepincut dengan ketampanan seorang Kevin, sehingga mereka tertarik untuk mengupas tuntas dari keluarga mana Kevin berasal.


Lain Kevin lain pula Rivan. Gemar menjelajah dengan motor gedenya, sesekali mengikuti balapan meski bukan yang profesional, Rivan malah mendapat tawaran ngendors oli pelumas motor gede.


Di kamar Fay, bersama para sahabat yang lain mereka membahas tawaran yang datang pada Rivan.


"Mau jadi kang dagang oli?."


"Enggak."


"Tapi cocok lho sama kamu, yang sukanya nangkring di atas motor." Udin menimpali.


"Coba aja" Ikbal menyarankan.


"Enggak." Sahut Rivan tetap pada pendiriannya.


"Itung-itung buat tambahan uang jajan" Fay yang bicara. Dirinya terlihat lebih baik, meski masih sedikit pucat.


"Uang jajanku nggak kurang."


"Bugh!!" bantal dengan karakter klub sepak bola asal luar negeri mendarat di kepalanya"Sombong banget!. Siapa yang dulu sempat minta pungut sama aku?."


"Aduh bang Zaid, masa lalu nggak usah di ingat-ingat lagi."


"Anjeyyy, bang Zaid nggak tuuuhh" ledek Ikbal. Zaid memasang wajah geli mendengar Rivan memanggilnya dengan sebutan abang.


"Eh, eh!" Hendro baru datang dan langsung gabung membawa berita"Lihat, berita tentang Kevin menempati urutan ketiga dalam pencarian teratas.


"Wah, calon CEO properti" seru Udin.


"Dasar pemburu berita. Sampai kerjaan orang tuaku mereka soroti." Cetusnya seraya meraih ponsel, sebab ada getar notifikasi.


"Kamu nggak bangga?."

__ADS_1


Kevin mencibir ke arah Rivan"Itu bisnis orang tuaku, bukan urusan aku. Dari pada ngomongin keluargaku, mending bantu jawab pertanyaan Arin tentang Fay ini." Seraya meletakan ponselnya di atas meja, sedangkan mereka semua sontak mengerumuni ponsel Kevin itu.


To be continued...


__ADS_2