Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Kemana pendukung nomor 1 tim Rubah junior?


__ADS_3

Selalu memberikan dukungan secara langsung, kini keberadaan Arin banyak dipertanyakan orang.


Kemana gadis yang selalu bersorak paling depan untuk tim Rubah junior?.


Kemana nona cantik yang selalu meneriaki nama Yuwen setiap kali pemuda itu berhasil menyingkirkan musuh-musuhnya?.


Kamera wartawan menyoroti setiap bangku pendukung tim Rubah junior, tapi Arin nggak ada di mana-mana.


Tentang pelukan erat Yuwen pada Haura, tentu hal ini tertangkap kamera meski sebentar. Gosip percintaan Yuwen dan Arin mulai goyah, berganti dengan adanya orang ketiga yang membuat Arin absen pada pertandingan Yuwen kali ini.


"Cinta segi tiga" ujar pemburu berita.


"Akh! norak!. Kasih judul yang kekinian dong."


"Si Rubah mulai bertingkah?."


Rekan sang wartawan menggaruk tengkuknya"Eh, bertingkah bagaimana? mereka kan belum jelas sudah jadian apa belum."


Baru mikir judul berita saja, mereka sudah kebingungan. Ketahuan banget ya kalau dua pemburu berita ini masih bau kencur, biasalah...anak magang.


Meninggalkan dua pemburu berita bau kencur itu, kediaman Fay dan Arin kedatangan tamu, seorang pria tampan. Dia datang dengan emosi yang tertahan, menahan gemas pada sang pemilik hunian, si bocah tengil yang hobinya membuat pusing kepala.


Terjadi lagi, sebagai seorang CEO Jung kembali turun tangan dalam mengurusi satu bocah didiknya, dialah Fay. Nggak kayak Ikbal dan Kai yang mudah diatur, Fay ini agak berbeda. Sialnya, tingkat kepopulerannya lebih tinggi dari Kai dan Ikbal, membuat Jung mau nggak mau harus memaksanya lebih banyak muncul di dunia maya.


"Apa lagi ini bang?."


Jung duduk di kursi halaman belakang kediaman Fay dan Arin, setelah membujuk si bontot akhirnya dia menemukan kediaman si tengil Fay.


"Pekerjaan" sahutnya.


"Kenapa nggak suruh Yogi aja yang kesini?."


Sedari tadi Jung memainkan gawainya, setelah mendengar perkataan Fay dia meletakan gawai itu di atas meja. Tubuhnya lebih condong ke depan"Yogi? Yogi siapa?" tatapannya begitu tajam.


Kedua bola mata Fay berlarian, dia sadar sudah salah bicara"Manajer Fay bang."


"Oh, masih ingat kalau kamu punya manajer?. Ku kira kamu amnesia."


Fay memberengut. Mau marah tapi kali ini memang dia yang salah. Merasa putus asa pulang tanpa Arin, Fay memblokir nomor sang manajer, berlagak mogok kerja dia. Saat Yogi datang ke rumah dia selalu ngeles, selalu menunda-nunda pekerjaannya, dia juga bilang pada Yogi kalau ponselnya rusak, karena itulah Yogi nggak bisa menghubungi dia.


"Yogi bilang ponsel kamu rusak."


Lagi dan lagi Fay nggak bisa berkelit, sebab ponselnya terpampang nyata di hadapan mereka.


"Kamu nggak profesional Fay, malas kerja!."


"Enggak bang, Fay cuma lagi pengen menghabiskan waktu liburan sama Arin. Nanti kalau dia sudah balik ke London, Fay akan kejar semua kerjaan Fay."


"Dasar budak cinta. Kamu nggak bisa gitu Fay, sampai mengelabui Yogi. Ck! kayaknya aku harus nyariin manajer pribadi buat kamu, biar Yogi fokus sama Kai dan Ikbal aja. Mereka walau berdua tapi anteng lho, nggak kayak kamu, kayak ular belut, licin!!."

__ADS_1


"Jangan bang, Yogi aja. Fay janji nggak akan bikin masalah lagi."


"Nasi sudah jadi bubur, udah keseringan kamu kayak gini. Sebenarnya kamu niat jadi artis nggak? kalau nggak mau mending tutup aja akun Insta kamu."


Fay terdiam mendengar ocehan Jung.


"Kamu beruntung Fay, jarang update tapi selalu dicariin. Coba kamu lihat mereka-mereka yang masih merintis, nggak sedikit dari mereka yang memakai cara nakal. Sedangkan kamu dalam waktu singkat sudah sangat dicintai orang banyak, apapun yang kamu lakukan selalu mendapat dukungan. Dan ingat Fay, bayaran kamu nggak murah."


Jung menghenyakkan diri di kursi, dengan kedua tangan terlihat di dada.


"Maaf bang."


"Sudah basi, maaf melulu dari jaman kompeni tapi kamu masih gitu-gitu aja."


"Seriusan Fay minta maaf bang. Fay akan lebih giat bekerja."


"Di giniin baru deh kamu mau serius. Memang si Yogi nggak cocok ngurusin kamu. Dia anaknya nggak bisa kasar. Kuperhatikan si Kevin sering mengintimidasi kalian, dipelototin Kevin aja kalian langsung kicep."


"Ya elah bang, jangan bilang mau mempekerjakan Kevin jadi manajer Fay. Kalau memang harus ganti cari orang lain aja bang."


Jung menggelengkan kepala, melihat gelagat Fay dia semakin yakin akan merekrut Kevin jadi manajer bocah ini.


Duhai otak, cepat dong mikir!!. Fay mencari-cari cara biar Kevin nggak jadi manajernya.


"Dia sudah tajir bang, koko kaya raya. Mana mau kerja jadi manager. Lagian, Fay dengar dia bakal jadi pewaris bisnis orang tuanya."


"Sok tau. Kevin pernah nanyain kerjaan sama aku kok."


Kenapa harus Kevin sih, di dunia ini masih banyak manusia tegas selain dia kan?!. Ini lagi, gara-gara keseringan telat nyetor kerjaan, Fay jadi harus berhadapan dengan Jung yang keras kepala.


"Jangan Kevin ya, bang. Aku mohon."


"Lihat nanti. Sekarang aku masih punya kabar baik buat kamu."


Sudut bibir Fay terangkat naik, kalau kabar baik dia pasti senang dong"Kabar baik apa bang?."


"Kamu dapat tawaran jadi brand ambassador game online Master Saga."


Arin dan Nari yang sedari tadi berada nggak jauh dari mereka jelas mendengar obrolan itu. Master Saga, game online yang sedang populer saat ini dan Yuwen sebagai salah satu pro playernya. Baru juga tersenyum, Arin langsung tertawa saat mendengar perkataan Jung lagi. Nari menutup mulutnya, nyaris terpingkal-pingkal.


"Sebagai brand ambassador, kamu harus bisa memainkan game itu, meski nggak jago-jago amat setidaknya kamu harus bisa diandalkan. Aku tau, kamu nggak bisa mainin game itu kan, jadi aku bakal meminta satu pemain dari tim nasional negara kita, buat jadi pelatih pribadi kamu."


"Huang Yuwen namanya."


"Uhuk uhuk!!" seteguk minuman bersoda membuat Fay tersedak.


"Hei, kamu nggak pa-pa?."


Arin lekas menghampiri mereka, mengusap punggung Fay yang masih terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Tarik nafas, hembuskan pelan-pelan" ujar Arin.


"Hihihi, Yuwen kan jago mainnya. Di ajarin sebentar kamu pasti langsung bisa" Nari menimpali.


"Aku bisa main game itu. Nggak harus dia yang ngajarin!."


"Oh ya? coba kita tanding?" tantang Nari.


"Cebong sawah, kamu bisa main game itu?."


"Iyalah bang, Nari gitu loh."


"Jago nggak?."


"Jago dong" jawab Nari lagi.


Melihat peluang dalam diri Nari, Fay langsung bersuara"Nah, Nari aja yang ngajarin Fay bang. Lagian, Fay nggak bego-bego amat main gamenya, pasti bakal jago kalau sering latihan."


"Idiihhh ogah!. Aku juga Kai yang ngajarin."


"Nah.."


"Enggak!" sambar Jung. Dia sudah menduga, pasti Fay maunya diajarin Kai.


"Nggak perlu ngerepotin orang asing, Kai aja yang ngajarin Fay. Kalau nggak, belajar sendiri juga bisa kok, asal sering latihan aja."


"Lihat, katanya bakal nurut taunya keras kepala. Sudahlah, manajer kamu memang harus diganti."


"Bang...."


"Aku mau pulang."


"Terus kerjaan ini gimana?."


"Sudah aku terima, kamu tinggal tanda tangan aja."


"Nggak pake pelatih kan?."


Jung berbalik dan menatap Fay"Sekali kubilang Yuwen, maka pelatihmu adalah Yuwen. Nggak nurut juga?."


Duhai otak!! mikir!!. Lagi-lagi Fay memeras otaknya. Ditengah kalut itu ide gila muncul begitu saja.


"Oke, aku setuju dilatih sama bocah mata sipit itu. Tapi ada syaratnya."


Ajigile, sejak kapan urusan di antara mereka menjadikan Fay pihak pertama?. Tapi, Jung penasaran dengan syarat yang akan diajukan Fay.


Wajahnya datar, menatap Fay lekat"Apa syaratnya?."


"Aku mau mengumumkan hubungan kami" lengan bocah itu menarik lengan Arin. Jelas Arin kebingungan, tapi rasanya senang juga sebab Fay terlihat memperjuangkan pengakuan untuk dirinya.

__ADS_1


"Shibal!!" geram Jung.


To be continued....


__ADS_2