
"Haura terlihat melesat maju kedepan dengan senjata tao bertongkat biru itu."
"Dari kilauan cahaya di ujung senjata tao, dapat kita lihat skill attacknya dalam keadaan penuh" sang komentator bersama rekannya sangat bersemangat menganalisis dan mengomentari jalannya pertandingan tim Rubah junior kali ini. Menyisakan Haura yang masih bertahan, sementara teman-teman satu timnya telah mati dan ada yang masih terikat, tanpa armor hingga menyisakan celana bokser saja.
"Cih, aku nggak tega langsung membunuh cewek satu ini. Gimana kalau kuajak bermain dulu" lawan kali ini tergolong songong. Merasa bangga karena masih ada dua pemain yang masih bertahan dalam tim mereka.
"Bagi kill ya, buat nambahin level skill" ucap sang rekan.
"Boleh, ambil aja."
Sang rekan menyeringai, hero bersenjata palu besar ini maju dengan berani ke kubu lawan.
"Bugh!."
"Bugh!."
"Sialan!! dia mengincarku!" pekik Yuwen. Dalam keadaan normal, Yuwen memakai hero permanen grim reaper. Bersenjata reap, senjata ini berbentuk setengah bulan sabit dengan pegangan tongkat berwarna hitam. Itu kalau heronya dalam keadaan lengkap, sedangkan sekarang heronya sudah kalah, semua senjata dan armor di tubuhnya telah hilang, hanya menyisakan celana bokser garis-garis biru tadi. Ck! Yuwen semakin kesal sebab heronya terus di hantam palu besar. Ya, sang lawan sengaja mengganti heronya dengan grand templar, agar bisa menendang hero telanjaang Yuwen dari arena, dan berakhir kematian permanen dalam ronde tersebut.
"Hauraaa, toloongg. Aku camat aku camat aku camat!!!" pekik Yuwen. Tiga jari kirinya bergerak cepat, demi menghindari serangan sang lawan.
Tanpa sengaja, ujung senjata Haura mengenai lawan yang lain, hingga salah satu basic attack lawan terjatuh, segera Haura mengambilnya. Menukar basic attack tongkat taonya dengan milik lawan, yaitu tongkat sang dukun.
"Penuh?" tanya rekan satu tim Haura dan Yuwen.
"Yes" seru Haura. Dua musuh sedang menggebuki Yuwen di kubu lawan, sedangkan Haura seolah diacuhkan, padahal kehebatan Haura saat beraksi bukanlah rahasia lagi.
"Serraaanggg!" seru mereka.
Detik itu juga Haura menekan tiga jari kirinya, tombol ASD di tekan secara bersamaan dan skill attack pun muncul. Tapak besar keluar dari tongkat sang shaman, mendorong dua lawan di depan sana hingga jatuh bersamaan.
"Waaaaa!!" semua penonton berseru, baik dari pendukung tim Rubah junior ataupun tim lawan.
"Game over!!" terpampang besar tulisan itu di layar, menandakan permainan telah selesai.
"Wadidaw!!! dalam sekali pukulan dua lawan ter-kill. Haura memang wanita penakluk pria" seru sang komentator.
"Ash!! sedikit lagi!."
"Lagian, ngapain ngurusin mayat hidup, akhirnya kita kalah!."
"Ini salah kamu, harusnya kamu nge-cover aku. Sedikit lagi Yuwen berhasil kujatuhkan!."
Sementara itu di kubu Yuwen, mereka sedang menikmati luapan kebahagiaan, kemenangan berhasil mereka raih kembali.
"Haura!."
"Haura!."
"Haura!!."
Nama gadis itu menggema di dalam stadion, para pendukung tim Rubah junior menyoraki kekalahan tim lawan.
Sementara Haura, gadis itu terdiam. Sebagai satu-satunya perempuan dalam tim itu, dirinya kerap mendapat perlakuan istimewa dari para rekannya. Tapi kali ini, perlakuan hangat Yuwen membuat rekan-rekan yang lain nggak berani mendekati Haura. Kenapa? karena Yuwen memeluk erat gadis itu, saking senangnya gagal disingkirkan musuh.
"Ehem! banyak kamera" tegur sang kapten.
__ADS_1
"Hei" ujar anggota yang lain, karena Yuwen seolah tuli, masih memeluk Haura.
"Dasar, di atas panggung pun kalian masih lengket. Ayo guys, kita cover mereka."
Jadilah, para anggota yang lain memeluk Yuwen dan Haura, agar interaksi dua pemain itu nggak terlalu lama tertangkap kamera pemburu berita.
Di kediaman Fay dan Arin.
Pagi-pagi sekali mereka berdua di antar ke rumah itu, oleh para orang tua. Saking paginya, rasa kantuk masih bersarang di mata, juga mereka belum sarapan. Heit! mereka juga belum mandi waktu itu, tapi mau nggak mau harus diseret ke sana.
Tanpa basa-basi, sesampainya di rumah Fay dan Arin, Hanggini dan Manda langsung menyiapkan sarapan, sementara Arin dan Fay disuruh mandi.
Arin menggunakan kamar mandi di kamar mereka, sedangkan Fay menggunakan kamar mandi tamu. Seperti janjian, mereka tiba di meja makan secara bersamaan.
Usai sarapan para orang tua langsung pergi, menjalani aktivitas sehari-hari.
"Orang tua kita nggak meninggalkan satu atau dua pelayan untuk kita, setidaknya untuk membantu mengatur bawaan kita?" tanya Arin. Katanya dipaksa, tapi bawaannya banyak banget. Tiga koper besar berisi pakaian dan barang-barangnya, dalam keadaan berantakan di ruang tamu.
"Kata Mama kita atur semuanya sendiri, karena ini rumah kita."
"Aku capek Fay" gerutunya.
"Ya sudah, aku bantu bawa koper kamu ke kamar ya."
"Aku juga capek kalau harus memasukan barang-barangku ke dalam koper lagi" ujar Arin. Gadis ini memang nggak sabaran, koper itu belum sampai ke kamar, tapi dia langsung membongkarnya di ruang tamu, entah apa yang dia cari. Dan sekarang, giliran kopernya mau di bawa ke kamar, dia nggak mau membenahinya lagi.
"Oke, aku yang beresin. Kamu istirahat aja dulu."
Arin tersenyum"Makasih" seraya merebahkan diri di sofa.
"Mau ponselku dong" jemarinya melambai pada Fay.
"Enggak tau" jawab Arin.
Sabar, hanya itu yang bisa Fay lakukan. Membujuk Arin untuk membuka pintu maaf bukanlah mudah, menjadi budak sang kekasih hari ini rasanya nggak akan rugi deh, begitu pikir Fay.
"Nih ponselnya" Fay menemukan ponsel itu di dalam tas Arin.
"Makasih" ujarnya langsung memainkan benda pipih tersebut.
"Buru-buru banget, mau ngapain?."
"Tim Yuwen tanding hari ini, aku mau nonton."
Langsung saja, dua bola mata Fay mendelik keatas, kelihatan banget jenuhnya. Arin menyadari hal itu, dia meletakkan sang gawai di sofa.
"Kamu mau aku nonton di stadion atau di ponsel aja?."
Sebuah pilihan, Arin tawarkan kali ini. Fay tau Arin selalu hadir dalam pertandingan Yuwen, tapi kali ini Arin bersedia bersamanya saat Yuwen sedang bertanding. Meski saat bersamanya Arin masih menyebut nama Yuwen, setidaknya Arin nggak langsung meninggalkannya demi memberikan dukungan pada bocah satu itu.
"Live streaming aja" cicit Fay.
Jadilah, di ruang tamu itu Arin menyaksikan pertandingan Yuwen dan timnya, sedangkan Fay mengemasi koper Arin sambil mendengar ocehan dan dukungan Arin pada Yuwen.
"Yuwweennn, kenapa selalu muncul!. Nggak orangnya, nggak namanya, terus mengganggu!" gerutu Fay pelan.
__ADS_1
"Yey!! menang dong mereka!" teriak Arin.
Dia berlari menuju Fay"Lihat! mereka menang! mereka juara!" sambil memperlihatkan kemenangan tim Rubah junior pada Fay.
"Senang banget, segitu sayangnya kamu sama Yuwen."
Eh, Arin memiringkan kepalanya menatap Fay. Wajah pemuda itu terlihat kusut.
Fay yang duduk di atas karpet terkejut saat Arin naik kepangkuan"Kamu cemburu?" mengalungkan tangannya di leher Fay, mendekati wajah sang kekasih hingga banyak jarak terkikis.
Berkedip-kedip seperti bola lampu soak, Fay terlihat gugup.
"Ayo jawab, kamu cemburu?."
"Ya" sahutnya singkat.
"Yuwen sudah punya kekasih, rekan satu timnya, Haura namanya."
"Oh."
"Oh doang?."
Fay mengangguk kikuk.
"Masih cemburu?."
"Ya."
"Kenapa?."
"Kamu selalu perhatian sama dia."
"Kamu selalu ingat dia."
"Kamu selalu bercanda dengannya."
"Saat di London kalian selalu menghabiskan waktu berdu...."
Nggak pernah Fay duga, Arin membungkam dirinya dengan ciuman saat mengeluarkan uneg-uneg tentang Yuwen. Serangan mendadak ini membuat Fay kelabakan, hingga lekas kehabisan pasokan oksigen.
"Arin....." ujarnya saat ciuman itu usai dengan cepat.
"Masih cemburu?." Tatapan hangat Arin kali ini sudah sangat lama Fay rindukan, tatapan yang menggambarkan betapa Arin mencintai dirinya. Suasana semakin mendukung kebersamaan mereka saat sang hujan turun perlahan di luar sana.
Berawal dari sebuah ciuman, sempat terjeda dan bersambung kembali, sentuhan demi sentuhan mengiringi pergumulan lidah pasangan ini. Hawa dingin mulai terasa panas, irama detak jantung mulai beradu cepat, hingga mereka menginginkan lebih dari sekedar sentuhan hangat saja.
Kamar tamu di lantai bawah, kini mereka telah berada di muara pintu kamar itu. Seketika pintu kamar di tutup, Fay menarik Arin dan jatuh bersamaan di atas ranjang. Satu persatu pakaian mereka teronggok di lantai, hingga saat aktivitas panas itu hendak terjadi, Fay lekas menarik diri.
"Maaf Arin! nggak seharusnya aku melakukan hal ini padamu."
Hah?.
"Maaf Sayang, belum waktunya aku mengambil mahkotamu" meraih selimut dan menutupi tubuh sang kekasih.
"Fay, bukankah kita sudah pernah..."
__ADS_1
"Enggak!" sanggah Fay.
To be continued...