
Ketika sang hati sedang di landa kemarau cinta, memendam rasa pedih itu sendirian hanya akan menambah beban dan derita di dada. Meski saran yang di ajukan Rivan terkesan mengolok-olok, meluapkan kesal dan penyesalan dengan berteriak di depan mesin teriak itu cukup melapangkan dada. Yah, setidaknya untuk saat itu.
"Waaaaaaaaaa!!!!" seperti teriakan lumba-lumba, teriakan Fay terdengar nyaring hingga menyita atensi pengunjung mall. Kedua tangan yang memegangi mesin nampak bergetar, saking keras dirinya berteriak.
"Hupffhh!!" yes!! rasanya sangat lega. Helaan nafas panjang mengakhiri teriakan sarat akan segala beban yang selama ini dia tahan.
Tak main-main, bukan hanya satu tapi tiga. Selain dirinya ketiga cecunguk begitu menikmati minuman hasil usahanya itu.
"Aku yang berteriak" Fay mengekor langkah mereka. Entah teman seperti apa mereka ini, setelah mendapatkan minuman masing-masing mereka langsung pergi, menuju area game.
"Iya tau. Terimakasih kopinya" mengangkat gelas cup besar berisi es kopi. Sebuah keberuntungan bagi mereka, meski hanya sebuah reward kecil tapi minuman yang mereka dapatkan dari mesin teriak itu bisa di pilih. Cup besar milik Ikbal ini berisi es kopi dengan rasa kesukaannya. Sedangkan Udin memilih manisnya rasa strawberry, dan Rivan memilih minuman bersoda.
"Cih!! seharusnya kalian bagi bertiga dua gelas minuman itu, sedangkan yang satu milikku."
Ekor mata Udin melirik Fay"Buset! pelit amat sih Fay, segelas minuman gratisan juga!. Katanya artis Instagram, YouTuber, tapi minuman segelas doang di mauin." Seperti yang di katakan kebanyakan orang bahkan jodoh adalah cerminan dari diri sendiri. Meksi baru di tahap pacaran sifat Udin dan Greta sangat mirip, gemas mencaci Fay yang songong dengan ketenaran dirinya, padahal kenyataannya Fay sama seperti anak muda lainnya.
"Ya elah, pake di bilang pelit. Ya udah deh aku bisa kok beli sendiri."
Rivan mengacungkan jempol.
"Jempol doang yang di kasih, lempar minuman itu kek."
"Ogah!. Kan aku yang nyaranin buat teriak di depan mesin itu" ujar Rivan seraya menjauhkan minuman bersoda dari Fay. Apalah daya, baru juga menjulurkan tangan ke arah minuman itu Rivan malah menarik Ikbal hingga posisi mereka bertukar.
Menepis lengan Rivan yang menariknya"Jangan pegang-pegang!! najis tau!!."
"Lahhh...ngomong apaan sih!."
"Udahlah!. Mau tarung nggak?." Udin mulai jengah dengan obrolan unfaedah itu. Tujuan mereka ke sini untuk menghibur Fay, bukan memperebutkan minuman yang bikin kantong mereka terpingkal itu. Secara mereka orang kaya raya, bahkan Ikbal yang datang dari keluarga biasa pun sekarang sudah cukup berduit, siapa sangka pertengkaran ringan di antara mereka terjadi hanya karena segelas minuman. Sungguh memalukan!.
"Ya udah ayo!, balapan ya!." Tantang Fay.
"Kalau balapan lawan aku aja!" Rivan balas menantang.
"Hilih! kita main game, bukan balapan nyata. Dasar koboi aspal."
"Fay!! kamu kayak cewek tau nggak! ngomong terus dari tadi."
"Bawel, suka-suka aku dong. Lagian kok jadi serba salah. Giliran diam kalian katanya khawatir, giliran banyak ngomong di bilang kayak cewek. Jadi orang plin-plan banget sih Bal!."
__ADS_1
Tanpa suara Ikbal meledek Fay dengan mencibirkan bibirnya. Udin terkekeh, sedangkan Rivan segera menaiki motor yang sudah dia pilih.
"Oke. Kalau aku menang kalian beliin apa yang aku mau ya."
"Sudah di hibur, banyak maunya pula."
"Ya sudah, aku pulang saja!."
"Ah elah Fay! pake merajuk. Oke, kita patungan buat beliin apa yang kamu mau. Tapi jangan minta di beliin negara London ya!."
Giliran Fay yang mencibir kepada Ikbal"Kamu kira kita lagi main monopoli!."
"Ya siapa tau kamu beneran minta di beliin negara London, buat deketin si Arin yang jauh di mata tapi dekat di hati itu" masih tertawa, Udin sok deh kayak nggak pernah bucin.
"Kalau masalah mau berdekatan sih gampang. Sekarang juga aku bisa langsung samperin dia ke sana. Masalahnya dia nggak mau di samperin. Gimana dong?."
"Mumet mikir cewek. Ayo balapan dulu kita!!."
"Oke."
Sedang asik bermain circle itu kedatangan tamu tak di undang. Seorang gadis selain Ayaka yang juga menaruh hati kepada Fay.
"Aku lagi puasa."
"Uhuk!! uhuk!" Udin tengah menyedot habis minumannya, dan ucapan random Fay membuatnya terserang batuk tak terduga.
Ikbal dengan telaten mengusap punggungnya.
"Kamu pikir aku akan percaya. Aku dengar kok pas tadi kamu mau ambil minuman Rivan." Memaksa, ini masih Rika dengan urat malu yang telah putus. Bukan hanya sekali ini Fay menunjukkan penolakan terhadapnya, bahkan sejak pertama kali Rika berniat mendekatinya Fay sudah langsung membangun jarak di antara mereka. Hanya saja semesta seolah bercanda, di hadapan Arin mereka kerap terlihat dekat padahal tanpa di sengaja.
Pernah juga waktu Rika tersandung saat menuju perpustakaan, Fay si baik hati ini memberikan plester kepadanya untuk menutupi sedikit luka di lutut. Interaksi manis itu tertangkap netra Arin, di saat hubungan mereka sudah mulai retak. Alhasil, selain Ayaka saja, Arin meyakini bahwa Fay juga merasa nyaman saat berada di dekat Rika.
Ya! karena cinta itu memang ada dan Rika tak peduli meski bukan rahasia lagi kalau Arin dan Fay memiliki hubungan. Plester itu seperti harta karun baginya, tersimpan dengan rapi di dalam kotak penyimpanan barang berharga miliknya.
Fay mengabaikan ucapan Rika, sementara minuman itu masih berada di tangan Rika.
Rivan mengambil minuman itu dengan cepat, membuat Rika berseru. Minuman itu sengaja dia pesan untuk Fay, si biang kerok malah mengambilnya!!.
"Rivan balikin!."
__ADS_1
"Tumpah dong kalau di balikin." Seolah tak takut dosa, Rivan menikmati minuman itu. Dalam satu kali tarikan hampir separuh dari minuman itu telah berkurang.
"Yakkk!! itu bukan buat kamu!!."
Fay mengambil minuman yang Rivan titipkan pada Ikbal. Dengan mulutnya Rivan menunjuk ke arah Fay"Tuh! minumanku di ambil si kelinci. Karena ini buat dia, nggak salah dong kalau aku ambil. Kami akan bertukar minuman, itu baru adil." Di sini bukan hanya Fay yang memilih gigi kelinci, Rivan juga. Saat melihat Fay tersenyum dengan gigi kelinci itu hati Rika rasanya berbunga-bunga. Namun sekarang bukan Fay yang tersenyum kepadanya, tapi Rivan. Dan kesalnya senyuman Tuan kelinci yang satu ini sangat menyebalkan!!. Di tambah dengan lirikan matanya, semakin mendukung wajah menyebalkan itu saat meledek dirinya.
"Sudah sore, ayo kita pulang." Ujar Udin.
"Fay, anterin aku pulang ya" wajah memelas itu membuat Udin geli, sebab di matanya Rika seorang gadis licik yang mengambil keuntungan saat berteman dengan kekasihnya, Greta.
"Idih" cibir Udin.
"Di kira imut mukanya di buat begitu" celetuk Ikbal.
"Tau tuh, jadi eneg!."
"Kami ke sini nebeng Ikbal. Jadi Fay nggak bisa anterin kamu pulang. Lagian ngapain minta di anterin pulang sama Fay, jaelangkung saja pulangnya nggak minta di anterin."
Udin oh Udin, ucapannya membuat Rika terbelalak.
"Udin!!."
"Kami tunggu di parkiran yang bro." Pemuda yang terkenal berlidah pahit terhadap cewek banyak tingkah ini segera pamit undur diri.
"Maaf Rika, aku pulang dulu."
"Fay...."
Fay tersenyum masam"Bye" ujarnya dengan tangan melambai. Di sambung lambaian tangan Rivan seraya memperlihatkan minuman itu.
"Terimakasih matchanya, enak banget."
Rika kesal bukan kepalang. Itu memang enak, karena tau Fay penyuka matcha dia sengaja meminta untuk di banyakin matchanya. Tentu dengan membayar lebih. Sekarang usaha Rika di nikmati lelaki lain, sungguh malang nasib gadis yang satu ini.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1