
Hal yang paling dibenci Fay, bersikap baik di depan Yuwen, karena sampai detik ini rasa cemburunya pada Yuwen nggak pernah padam. Sudah dijelaskan bahwa Yuwen sudah punya kekasih, sudah dipastikan Arin telah menerima maaf yang selama ini dia utarakan, tapi tetap saja saat melihat Yuwen hatinya membara. Ditambah, kini Yuwen akan menjadi pelatihnya dalam bermain game, ash! Yuwen pasti belagu banget!!. Begitu pikir Fay.
Nggak lama setelah dirinya mengangguk, sebagai tanda persetujuan dirinya menjadi anak didik Yuwen, Jung langsung menghubungi seseorang via telepon. Kemudian, ponsel Arin berdering dan Yuwen yang menelepon.
"Hahahah" gelak tawa Yuwen terdengar sampai ke telinga Fay.
"Cih!" decihnya.
Sementara itu, di hadapannya Jung menatap lekat.
"Janji ya, bang?. Segera umumkan hubungan Fay sama Arin!."
"Tapi nggak sekarang!" balas Jung.
"Kapan?."
"Setelah acara besar itu selesai."
Kedua bola matanya menatap ke atas, jelas dia lagi mikir keras.
"dua bulan kedepan dong."
"Yoi."
"Igh! kelamaan!" ujarnya ngedumel sambil melirik sang kekasih.
Arin dan Nari, dua gadis ini terlihat tertawa menatap ponsel Arin. Suara lelaki dengan mata sipit itu sangat menyebalkan, sumpah deh hati Fay rasanya mau meledak.
"Yang, sudah dong ngomong sama dia!" nggak tahan lagi, Fay langsung protes.
Nari mengangkat wajah sedikit miring, menatap Fay dengan ujung mata"Apaan sih Fay, Yuwen lagi cerita kemenangan mereka. Kamu ngobrol ada sama bang Jung sana!."
"Cerita sih cerita, kalian yang dengar nggak usah senyam-senyum juga kali!. Nggak ngerasa ya gigi kalian udah pada kering! nyengir melulu!."
"Ash! nggak jelas ni bocah" ujar Jung.
"Ngomong apa, Fay? nggak terima kami ngobrol sama Yuwen?. Jangan gitulah! dia kan bakal jadi pelatih kamu!."
Ucapan Arin sontak membuat Yuwen tertawa lagi. Dan dengan songong meminta ponsel milik Arin di arahkan kepada Fay. Arin sih nggak masalah kalau Yuwen jahil sama Fay, biar sang kekasih kesal terus juga nggak apa-apa, sebab dia menilai Yuwen cuma mau lebih dekat dengan Fay. Sedangkan Fay, selalu naik darah kalau sedang membahas Yuwen. Dan sekarang, demi mempublikasikan hubungan mereka, Fay berani bermain dengan emosinya.
"Kasih tips dan triknya aja, kamu nggak perlu ke sini!."
__ADS_1
Kening Jung menyerngit, sedang Yuwen menaikan kedua alis.
"Jadi, kamu cuma perlu tips dan trik? nggak perlu panduan secara langsung?. Serius?."
"Panduan? kamu pikir aku bocah ingusan!. Lagian, cuma main game doang kan!."
"Pletok!" kening Fay mendapat serangan mendadak dari Jung"Cuma? kamu bilang cuma?. Pas pertandingan nanti kamu harus jago, minimal berguna buat tim kamu!. Awas aja kalau hanya jadi beban, jangan harap hubungan kalian dipublikasikan dengan baik!."
"Bang!!."
"Hei!! kamu bermain melawan?. Sudah bagus ada player yang bersedia melatihmu secara langsung. Ayolah Fay, jadi manusia pintar-pintarlah bersyukur!."
Kicep, Fay nggak berkutik usai mendapat ceramah singkat dari Jung. Pria ini tampan dan menawan, di usia sekarang masih menjadi pujaan para wanita. Tapi kalau dia lagi marah, hati-hati dengan hatimu, jangan sampai patah dan hancur berkeping-keping karena mulut pedasnya.
"Kapan kamu akan mulai melatih manusia kamvret ini, Yuwen?."
Nyaris saja Yuwen terbahak, kalau bukan karena wajah Fay yang seketika masam itu"Sedang dibicarakan dengan pelatih kami pak" ujarnya.
Jung meminta jadwal latihan secepatnya, agar Fay nggak santai melulu kerjaannya.
Permintaan Jung seperti sebuah perintah, pihak Rubah junior langsung mengatur jadwal untuk Fay dan Yuwen. Oke, satu hari setelahnya Fay masih dapat bersantai ria, bangun pagi minum kopi dan menyantap roti. Tentu waktu liburan kali ini sangat menyenangkan baginya, sebab ada Arin di sampingnya. Hanya berdua, ya! sekali lagi aku tekankan, hanya ada mereka berdua di sana. Arin yang sudah membuka hati kembali untuk Fay menolak kedatangan pelayan, bairlah semua pekerjaan rumah akan dia kerjakan. Kalau lelah masih ada Fay yang bisa membantu, bukankah ini aktivitas yang selalu didambakan para pasangan muda.
Awalnya Fay menolak, tapi satu kedipan mata Arin mampu meluluhkan hati pemuda ini.
"Aku baik kan?."
"Baik apanya?" tanya Arin saat mengikat tali celemek ke belakang Fay.
"Aku bantuin kamu menjemur pakaian....kita" akh! wajah Fay rasanya menghangat, waktu mengatakan kalimat ini.
Arin menahan diri, dia nyaris terbahak. Barulah Arin sadari betapa besar rasa cinta Fay kepadanya. Semenjak tinggal bersama di rumah itu, Fay memperlakukan dirinya seperti seorang ratu. Kalau bukan karena ingin belajar mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bisa jadi Arin hanya akan angkat kaki saja. Perlu diingat, sekarang adalah musim cinta mereka berkembang, saling memberi dan saling menerima.
"Ya, kamu sangat baik. Tetap jadi cowok baik dan patuh ya" ujarnya seraya tersenyum. Fay membalas senyuman itu, dia juga mengangguk patuh pada Arin.
Sementara Fay menjemur pakaian, Arin undur diri untuk mencuci piring. Tadinya Fay meminta Arin duduk manis saja, tapi sang kekasih menolak.
Bersenandung, Fay terlihat sangat menikmati aktivitas pagi ini. Satu persatu pakaian mereka dia jemur, dan dari sekian lembar pakaian kenapa Fay nggak menemukan pakaian dalam mereka?. Kemana Arin meletakan seperangkat pakaian dalam itu?.
"Sayang...." ujarnya memanggil. Tapi....ujung dari kalimat itu mendadak terdengar pelan. Terjadi lagi, wajah Fay memerah. Sedang memikirkan kemana perginya seperangkat pakaian dalam mereka, bayangan pakaian milik Arin terlintas begitu saja dalam benak.
"Harus aku tanya nggak sih?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Berniat masuk ke dalam dan memeriksa sendiri ke ruang mencuci, langkah kakinya tiba-tiba terhenti.
"Ck! mimpi apa aku semalam kedatangan tamu nggak diundang."
Seperti sudah menjadi kebiasaan, seseorang di depan Fay menaikan kedua alisnya"Memang nggak diundang, tapi aku diwajibkan untuk datang."
Sepasang netra Fay terkunci pada benda itu lagi, earphone yang diletakan di leher sang tamu nggak diundang"Harus banget ya kemana-mana bawa earphone?."
"Iya dong. Kalau lagi main game kudu pakai earphone, biar lebih berasa mainnya."
"Norak!."
Yuwen, pemuda ini datang sendirian ke kediaman Fay dan Arin. Tapi dia datang bukan tanpa alasan, sudah pasti karena permintaan Jung untuk segera melatih Fay dalam bermain game.
"Hei!! sudah datang. Sudah sarapan belum?."
"Belum. Aku maunya sarapan sama kamu pagi ini."
"Owh sayang banget, aku sudah sarapan."
"Sama aku sarapannya!" sambung Fay.
"Lagian, sudah tau mau keluar kenapa kamu belum sarapan?" memicing Fay menatap Yuwen.
"Aku kangen sandwich buatan Arin."
Asem!!!! pengen banget Fay melayangkan tinju kewajah Yuwen. Di depannya dia berani berkata seperti itu.
"Sandwich doang, gampang itu mah. Kamu mau sarapan di mana? di sini apa di dalam saja?."
Di mata Fay, Yuwen tersenyum menatapnya. Sialann, Yuwen nyebelin banget dah.
"Di sini saja, sambil liatin orang jemur pakaian pake celemek lumba-lumba, kiyowok!."
Arin terkekeh, dia mendekat pada Fay dan menarik kedua pipinya"Tuh kan, kamu gemesin pake celemek ini."
"Banget!" Yuwen menimpali.
Ash!! awas kamu Yuwen!!.
To be continued...
__ADS_1