
Kedatangan Yuwen membuat Arin sangat bahagia, namun tidak untuk Fay. Pemuda ini terlihat sangat tidak senang akan hal itu. Tatapan tak bersahabat terlihat jelas saat dirinya menelisik penampilan Yuwen.
Mengenakan pakaian yang modis layaknya anak muda jaman sekarang. Headphone milik Yuwen yang melingkar di leher terlihat biasa-biasa bagi orang lain, tapi bagi Fay itu sangat menyebalkan, tak nyaman dilihat.
"Cih! berlagak sok keren, untuk apa memakai headphone sebagai aksesoris dalam berpenampilan, norak!" begitu suara hati yang sedang menggerutu.
Lain Fay lain pula dengan Yuwen. Kedatangan Fay di rasa biasa saja, sebab Fay adalah tunangan Arin. Tentang tingkah laku Fay dimasa lalu bukannya Yuwen tak tau. Dan tentang rasa suka dan cinta Arin terhadap Fay juga bukan Yuwen tak tau, sebab saat bicara tentang Fay selalu ada cinta di mata Arin. Terlepas dari isi obrolan mereka yang menyakitkan ujar Arin, tetap saja Yuwen merasakan cinta sahabatnya itu pada tunangan yang tak sudi disebut mantan.
"Kenapa kau kemari?" tanpa berbasa-basi, Fay langsung bertanya pada intinya.
"Aku ingin menghabiskan liburan bersama Arin" jawaban Yuwen ini membuat Fay geram, rasanya ingin meninju wajah tampan itu. Ck! kali ini Fay mengakui sebuah kenyataan, Yuwen memang tampan. Wajar saja dia begitu cepat menjadi idola para wanita, terlepas dari aksinya saat bermain game.
"Ayo masuk, di luar sangat dingin" seolah tak peduli ocehan Fay, Arin menarik tubuh Yuwen agar masuk. Suara pintu ditutup tak ayal seperti genderang perang ditabuh, perang yang dinyatakan oleh Fay pada Yuwen.
Sedikit terhuyung ke belakang"Sayang, kau mendorongku."
Sayang?! sudah lama kata itu tak Arin dengar, dan sekarang Fay mengucapkannya di hadapan Yuwen. Ekor mata Arin melirik sang sahabat, dan benar saja, Yuwen mengulum senyum.
"Apa yang kau tertawakan!."
"Aku tidak tertawa."
"Oh ya? lantas kenapa bibirmu melengkung duhai tuan Yuwen."
"Aku hanya tersenyum, bukan tertawa nona Arin" kelakar Yuwen yang kini jadi benar-benar tertawa.
Mencubit perut Yuwen"Aish!! dasar jahil. Kau datang tanpa memberi tahu lebih dulu, dan sekarang kau mentertawakanku tanpa alasan yang jelas."
Berkejaran, Yuwen yang menghindari serangan tangan nakal Arin membuat mereka berkejaran di ruangan itu.
"Hayyaaa!! beginikah caramu menyambutku" pekik Yuwen di sela gelak tawa, sebab Arin telah berhasil memberikan hukuman padanya. Pemuda itu terjatuh ke sofa dan berguling di sana, meronta melawan rasa geli karena Arin menggelitik perutnya.
"Arinaaaa!! lebih baik kau cubitttt."
"Rasakaaaannn!!" Arin balas berseru.
Memberengut, interaksi Yuwen dan Arin sangat menyulut emosi. Kedua tangan Fay mengepal, rahangnya mengeras.
Sejatinya Fay sudah dewasa namun masih memiliki sifat kekanak-kanakan, alih-alih bergabung bersama mereka dia justru berjalan menuju kamar.
Dan"Brakkk!!" begitu keras suara pintu kamar ditutup.
Menegang, Arin dan Yuwen yang sedang bercanda kompak terdiam. Yuwen segera membenahi duduknya, sementara Arin beranjak ke arah kamar.
Rasa kesal mengiringinya memukul pintu"Bugh!! yak!! kau berniat menghancurkan pintu kamar ini?."
Tak ada suara dari dalam sana. Saat Arin hendak membuka pintu, ternyata Fay menguncinya dari dalam.
"Ash! Fay kenapa kau mengunci pintu?!."
Tak ada jawaban.
"Fay!!."
__ADS_1
Yuwen menarik Arin perlahan, dan kini mereka duduk bersama di sofa ruang tamu.
"Apa-apaan dia itu, marah atau bagaimana."
"Tentu saja dia marah" sahut Yuwen.
"Kenapa?."
"Karena kehadiranku."
Memicingkan mata menatap Yuwen"Kenapa? apa salahnya kau datang?. Kita berteman, dan bukankah selama ini di tau hal itu?."
"Kau mengabaikannya" bisik Yuwen.
Menghenyakkan diri di sofa"Hupffhh!! kenapa aku sempat gelisah, bukankah bagus kalau dia marah. Ini bisa menjadi alasan dia pergi dari sini, pulang ke tanah air."
"Arin...."
"Hem?" menyahut tanpa menatap Yuwen, salju sudah tak setebal kemarin, itu yang Arin lihat saat ini di luar jendela.
"Sudah cukup lama kau menghukumnya. Tidak adakah niat untuk memberikan maaf?."
Dengan sangat malas Arin menoleh pada Yuwen"Hatiku masih sangat sakit."
"Itu karena kau memang tak ingin menyembuhkan hati yang sakit itu."
Berkedip, Arin tak lagi menjawab perkataan Yuwen. Mungkin apa yang Yuwen katakan itu benar, sejauh ini dirinya terlalu sibuk meratapi rasa sakit di hati, alih-alih terus berusaha untuk mengobati rasa sakit itu.
"Aku sudah berusaha...."
"Kau cerewet, Yuwen."
Tersenyum tipis, begitulah Arin ketika sedang berkelit, dia akan menyerang lawan bicaranya untuk mengganti topik pembicaraan mereka.
"Kau sangat mencintainya."
"Tidak!."
"Oh ya? apa kau berani bertaruh?."
"Ya! tentu."
Kembali Yuwen tertawa"Akh sudahlah. Aku tak ingin kau rugi karena kalah bertaruh."
"Bugh!!."
Sebuah bantal melayang dengan sempurna, beruntung Yuwen sangat cekatan menerima serangan itu.
"Heit! mengaku saja. Kalau kau tak lagi cinta, kenapa cincin itu kau jadikan pengganti liontin pada kalung yang kau pakai??."
Terdiam, Arin menatap kembali keluar jendela.
Beberapa saat kesunyian memeluk mereka berdua. Yuwen masih tersenyum melihat Arin, gadis itu kini memunggungi dirinya dan menatap salju lebih lama.
__ADS_1
"Ah!! aku lelah. Bolehkah aku menumpang tidur?."
"Silahkan."
"Tapi aku lapar."
"Makan saja bubur di meja."
"Sejak kapan kau bisa memasak bubur" tanya Yuwen seraya menuju meja makan.
"Kau benar-benar cerewet, tinggal makan saja bukan!."
"Oke, oke!!. Tapi Arin, buburnya sudah dingin."
Arin jadi kesal karena Yuwen benar-benar cerewet kali ini"Aish!! tinggal di panaskan saja!."
"Hahaha, oke, oke" dasar Yuwen, dia bahagia sekali menggoda Arin.
"Kau tidak lanjut makan?."
"Aku mendadak kenyang."
"Mangkuk ini pasti milik Fay ya, masih penuh."
Ya, Fay baru memakan bubur itu sedikit saat bel berbunyi. Dia yang memasak namun dia yang sedikit memakannya. Seingat Arin dia juga belum meminum obatnya. Seketika rasa khawatir singgah di hati, namun...
"Dia tetap hangat kan di dalam sana?"
"Ya! tentu saja" dia yang bertanya, dia pula yang menjawab. Beruntung tanya ini hanya terucap dalam hati, kalau di hadapan Yuwen dia pasti akan diledek lagi.
Yuwen mulai sibuk memanaskan bubur, sementara Arin masih di ruang tamu, masih pada posisi duduk di dekat jendela. Sesekali ekor matanya mengintip pintu kamar, Fay masih berdiam diri di dalam sana. Setelah mendengar ocehan Yuwen, dapat dipastikan Fay sedang merajuk.
"Haruskan aku membujuknya? setidaknya untuk minum obat." Lagi sang hati berbisik.
"Tapi...dia bukan anak kecil lagi, dia tau dirinya harus minum obat. Akh!! kenapa dia harus merajuk!. Menyebalkan!!." Hanya mimik wajah yang menggambarkan betapa kesalnya Arin pada Fay, juga dengusan nafas kasar.
"Arin...ayo sarapan lagi." Suara Yuwen mengejutkan dirinya.
"Ck! berisik sekali."
"Arin...Arinaaaa ayo makan."
"Yuwen! kau makan saja sendiri!" Arin balas berseru.
"Kau benar-benar sudah kenyang?!."
"Yaa!!" balas Arin memeluk bantal, kemudian membenamkan wajah di sana.
"Aku akan menghabiskan bubur ini."
"Terserah!."
"Sialan, kalau aku tahu bubur itu akan dimakan Yuwen, seharusnya aku menambahkan banyak garam, banyak cuka, dan banyak cabe-cabean didalamnya" rupanya sejak tadi Fay menguping percakapan mereka, dari balik pintu.
__ADS_1
To be continued....
Akan up pada bulan purnama berikutnya 🙏🤣