
Kesedihan semakin menyesakan dada melihat Arin naik ke motor Yuwen, melalui kaca kedai. Fay berusaha memasang wajah biasa saja saat pamit undur diri dari hadapan kedua orang tua Arin. Tepat saat motor sport milik Yuwen melaju, saat itu juga Fay keluar dari kedai.
Teringat dengan kata terakhir Arin, sepertinya status mereka nggak akan menjadi jaminan bahwa Arin akan menjadi teman hidupnya. Pernah begitu mencintai seorang gadis namun pada akhirnya sang gadis menyukai lelaki lain. Saat itu Fay memutuskan untuk menerima perjodohan yang di atur sejak lama oleh sang Kakek. Masih mencari kepastian pada rasa yang baru tumbuh, Fay menyatakan cinta dan meresmikan hubungan mereka berdua.
Tak di depan media, namun hubungan mereka di ketahui semua teman sekolah. Bagaimana tidak, disela kejahilan Fay dirinya terlihat begitu menyayangi Arin. Begitu pula dengan Arin, terlihat galak terhadap Fay namun pada kenyataannya sangat perhatian.
Dalam perjalanan menuju markas mereka, yaitu bengkel milik Zaid, hujan perlahan turun. Fay mengkhawatirkan Arin yang di bonceng Yuwen, apakah gadis itu kehujanan??. Ingin rasanya mencari keberadaan gadis itu namun wilayah ini tak selebar daun kelor. Ternyata dugaan Fay salah, Yuwen menghentikan motornya di sebuah gang perumahan warga China. Di bawah gerbang dengan warna merah menyala itu Arin tertegun melihat hiasan lampu lampion memenuhi gang di dalam sana.
"Yuwen, apa semua orang cina menyukai warna merah?."
"Suka atau tidak suka itu selera masing-masing. Tapi bagi kami warna merah itu melambangkan keberuntungan, kemakmuran, kebahagiaan, keberanian, dan cinta."
"Cinta?."
Cinta, Arin menatap rintik hujan sembari memikirkan arti sebuah cinta di hatinya. Sejatinya perasaan itu telah tumbuh dengan subur, sayangnya terlanjur layu sebelum berkembang.
"Cinta... menurutmu cinta itu seperti apa?."
"Terhadap siapa?."
"Cinta yang berwarna merah jambu, terhadap lawan jenis." Arin lebih menerangkan maksud pertanyaannya.
Bersandar pada gerbang seraya melipat kedua tangan di dada. Yuwen menatap hujan dengan sedikit menengadah"Cinta yang seperti itu ya, mungkin sama halnya ketika kita sedang menggenggam burung pipit."
Perbedaan tinggi badan yang lumayan banyak membuat Arin mendongak menatap Yuwen"Burung pipit?."
"Iya" ujarnya seraya mengangguk"Kamu bisa membuatnya lepas kalau terlalu lemah menggenggamnya, namun kamu bisa membuatnya mati kalau terlalu erat menggenggamnya. Jadi bagiku cinta itu yang sedang-sedang saja."
"Oh" Arin pun terlihat mengangguk juga.
Sejenak gadis ini kembali terdiam, kembali rintik sang hujan menyita atensinya namun tidak dengan pikirannya. Sejauh ini Yuwen telah menjadi salah seorang tempatnya berbagi cerita, selain ketiga sahabat perempuannya. Mengingat perdebatan ringan tadi, dirinya jadi ingin mencurahkan segala isi di hati.
"Yuwen, boleh aku bercerita?."
__ADS_1
"Tentang Fay?."
Spontan Arin menoleh kepadanya, di dapatinya pemuda ini tersenyum lagi. Entah hati seperti apa yang Yuwen miliki, Arin merasa bebas mencurahkan beban di dada kepadanya, yang selalu bisa membuatnya kembali tenang.
"Heem" suara gumaman halus Arin, gadis ini kerap mengiringi gumaman itu dengan anggukan. Sepasang mata yang memang sudah terlihat sipit semakin menyipit, Yuwen semakin tertawa lebar.
"Cerita aja, aku siap mendengarkan."
Di bawah rintik hujan Arin menceritakan pertemuannya dengan Fay tadi, dia juga menceritakan bagaimana egoisnya seorang Fay, memintanya untuk memberikan maaf setelah melabuhkan ciuman kepada gadis lain. Sebagai seorang wanita, tentu hal itu sangat sulit dia maafkan. Apalagi setelah kejadian itu tak pernah ada kata maaf dari Ayaka, sedangkan semua orang di sekolah tau bahwa Fay dan dirinya adalah pasangan kekasih.
"Seberapa besar kamu mencintainya?."
"Dari 1 sampai 10" tambah Yuwen. Saat itu gemericik air hujan yang tersapu angin mengenai kepala Arin, Yuwen pun segera mengambil saputangan di dalam tasnya.
Untuk yang pertama kalinya hati Arin tergagap, Yuwen dengan lembut mengusap pucuk kepalanya menggunakan saputangan itu.
"Mungkin delapan" jawabnya setelah meredakan debar di dada.
"Hanya delapan?. Kenapa?" Pemuda ini masih sibuk mengusap pucuk kepala Arin. Tubuh tinggi tegap itu kini berada di depannya, menghalangi Arin dari terpaan air hujan yang semakin deras.
Akh satu lagi, kenapa Yuwen terlihat begitu bersinar di bawah langit yang sedang menangis ini?. Hampir saja Arin menarik tubuhnya yang terkena hujan agar lebih mendekat padanya, namun sebisa mungkin dirinya mempertahankan kewarasan jiwa.
"Sebab dia telah membuatku kecewa" akhirnya Arin menjawab pertanyaan Yuwen.
"Setidaknya masih ada cinta di hatimu untuknya. Kalau bisa memaafkan akan lebih baik di maafkan. Kamu nggak bisa menilai semua ini hanya dari sudut pandangmu saja, coba dengarkan dulu ketika Fay menjelaskan. Ku perhatikan saat bercerita kamu selalu menolaknya untuk menjelaskan secara detail."
"Mereka sudah berciuman!!. Alasan jenis apa lagi yang aku perlukan?!."
"Bisa saja hanya Ayaka yang mencium Fay. Sehingga Fay terbawa suasana seperti yang dia katakan."
"Yuwen!!. Kamu membela Fay?. Oh apa karena kalian satu spesies?" Arin sedang marah tapi terlihat menggemaskan di mata Yuwen. Demi mereda emosi sang sahabat Yuwen lekas menangkupkan kedua tangan di dada.
"Maaf!. Aku hanya mencoba berpikir positif, sebab dari yang kamu ceritakan Fay terlihat sangat mencintaimu. Sebagai sesama lelaki aku paham betul bagaimana sikap seorang lelaki terhadap wanita yang dia cintai."
__ADS_1
"Akh sudahlah!. Ternyata kamu dan Fay sama saja. Kalian memiliki pikiran yang sama."
Memegang kedua lengan Arin"Maaf Nona Arin. Oke baiklah, Fay 100% salah. Lelaki seperti dia seharusnya di hukum gantung."
"Nah gitu dong!." Seru Arin merasa senang karena Yuwen kembali berada di pihaknya.
"Tapi gantung Fay di pohon toge aja ya? kasihan lho kalau dia mati beneran."
"Hufhh!!" Arin lepas kontrol, dia tertawa mendengar ucapan Yuwen.
"Receh, nggak lucu!."
"Tapi kamu tertawa."
"Idih. Enggak kok!."
"Itu kamu tertawa Nona Arin yang manis."
"Yuwen!! mulutmu sudah pandai berkata manis. Hati-hati ya, jangan menjadi kebiasaan!. Aku nggak mau kamu benar-benar menjadi Rubah ekor sembilan yang pandai menjerat mangsa."
"Aku kan memang Rubah ekor sembilan, meskipun baru junior."
"Aish!! Yuwen. Kamu pernah ditabok cewek nggak?" Arin menawarkan kepalan tinju ke arah Yuwen.
Yuwen nggak mau kalah, dia juga mengepalkan tinju"Besar kepalan siapa?."
Merasa terus di ledek, Arin berusaha menginjak kaki Yuwen, namun dengan gesit dia menghindar, berkali-kali hal ini terjadi. Kekesalan Arin membuat pemuda itu semakin terkekeh namun mereka akhirnya tertawa bersama di iringin hujan yang perlahan mereda.
"Setidaknya kamu sekarang tertawa kembali" bisik sang hati. Rupanya sejak berangkat dari kedai, Yuwen menyadari ada kegelisahan yang sedang memeluk hati gadis manis ini.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.