
"Bilang aja kita cuman main, keasyikan sampai kehujanan" Zayd buru-buru memberi saran, karena takut diomelin Arin. Rasanya, bukan cuman Fay yang akan menanggung kemarahan Arin kalau ketahuan menghilangkan cincin tunangan mereka, para anggota geng cebong unyu yang ada di sana juga pasti kena getahnya. Biasalah, Arin kan kalau marah suka ngalur-ngidul sampai kemana-mana.
"Iya, jangan bilang cincinnya hilang" Hendro yang biasanya pemberani juga ketar-ketir, saat Arin menanyakan sebab musabab Fay hujan-hujanan sampai jatuh sakit.
"Hah! cincin apa yang hilang?."
"Aduh!" tiba-tiba Ikbal berseru sambil menepuk keningnya"Aku lupa mau jemput Sayang aku. Guys, aku tinggal sebentar ya" tanpa persetujuan mereka, Ikbal langsung pergi begitu saja.
Rivan yang merasa api pertikaian akan segera muncul, langsung menjiplak ide Ikbal saat melarikan diri"Lah iya! si Nari juga katanya minta dijemput. Bal, barengan!" berseru kecil menyusul langkah cepat Ikbal.
Kalau dua cecunguk itu bisa melarikan diri secepat itu, lantas bagaimana dengan Zayd, Kevin, Hendro dan Udin?.
Empat pemuda ini saling pandang, dan cuman Kevin yang kelihatan santai. Dia yang awalnya duduk di tepi ranjang Fay berpindah posisi ke tempat lain.
"Kalian ngomongin cincin apa?" Arin mengulang pertanyaannya.
Fay secara perlahan memasukan tangannya ke dalam selimut, yang sedari tadi menutupi tubuh bagian bawah. Pemuda ini juga perlahan merosot hingga dirinya terlihat dalam posisi rebahan.
Arin menatap mereka satu persatu, diamnya mereka membuat dugaan dalam benaknya semakin kuat.
"Anak-anak, tante sudah menyiapkan cemilan untuk kalian. Tuh ada di gazebo belakang" yes! Manda kali ini seperti malaikat bersayap putih bagi para lelaki, namun seperti malaikat pencabut nyawa bagi Arin. Kenapa? sebab sikap Manda terlihat berbeda padanya sejak kedatangannya tadi.
"Kalian ngobrol dulu gih, kami turun dulu" ujar Udin.
"Langsung pulang?."
"Enggak. Kita bakal makan siang di sini" dasar Hendro, mumpung lagi di rumah Fay, dia langsung mengincar menu makan siang olahan Manda yang enak itu.
"Wah betul itu, boleh nggak tante?."
Manda mengangguk dengan senyum kecil"Iya boleh kok" ujarnya menanggapi pertanyaan Zayd.
"Terimakasih tante Manda" ucap mereka bersamaan.
Seperginya mereka, tinggal Manda, Arin dan Fay di ruangan itu. Arin tiba-tiba merasa sulit menelan saliva, apalagi tatapan Manda terasa menghujam jantung.
"Cincin pertunangan kalian sempat hilang. Fay jatuh sakit karena mencari cincin itu. Beruntung, Ikbal dan Kevin menemukannya, tapi dalam keadaan patah. Sekarang cincinnya sedang diperbaiki, dan nggak tau apakah bisa kembali seperti semula atau enggak."
Entah kenapa, kata-kata yang keluar dari mulut Manda seperti bermuatan amarah para Arin. Gadis ini membeku, nggak bisa sekedar menggerakkan kakinya selangkah pun.
"Pasti bisa kok, Mah." Ujar Fay. Dia keluar dari dalam selimut, menarik Arin untuk duduk di dekatnya.
"Mama nggak yakin. Barang yang sudah pernah rusak nggak akan kembali seperti sedia kala meski diperbaiki. Kayak hubungan kalian sekarang."
__ADS_1
Menunduk, Arin hanya bisa meremat jemarinya dalam pangkuan. Dirinya seperti seorang narapidana, Fay sebagai saksi dan Manda sebagai hakim.
"Mama."
"Kamu diam Fay. Mama mau bicara sama Arin."
Mendengar namanya disebut, Arin mengangkat pandangan"Iya tante."
"Hubungan kalian, mau dibawa kemana?. Mau lanjut atau berhenti di sini saja?."
"Mama!."
"Diam!" hardik Manda.
"Memang benar setitik nila bisa merusak susu sebelanga, tapi bukan nyawa kamu yang jadi taruhannya!."
"Arin mau lanjut tante" jawab Arin cepat.
"Tapi kamu sangat berat memberikan maaf pada Fay, apa kalian yakin akan bisa membangun hubungan di atas maaf yang terpaksa itu?."
Sepasang manik indah milik Arin mulai memerah, dirinya nggak menyangka akan berada di posisi ini. Rasa kecewa itu begitu dalam, mungkin karena cintanya kepada Fay jauh lebih dalam hingga sulit untuk melupakan kejadian itu. Tapi, akhir-akhir ini kata-kata Yuwen seperti kupu-kupu yang hinggap pada bunga, berseliweran di dalam otaknya.
"Kamu bukan nggak bisa memaafkan, tapi memang nggak mau memaafkan!. Ini sudah terlalu lama Arin!. Lagipula Fay manusia biasa, bahkan dewa pun bisa melakukan kesalahan!."
"Maafkan Arin, tante" suaranya terdengar halus dan bergetar.
Fay menarik jemari Arin, menggenggamnya erat kedalam jemari besarnya"Kamu nggak salah."
Manda menatap mereka dengan wajah datar. Sudut bibirnya bergetar, entah hendak kembali mengomel atau justru hendak tertawa.
"Tante akan coba memaafkan kamu."
Ada rasa lega menyeruak di dalam dada, spontan Arin menarik nafas dan menghembuskan perlahan.
"Setelah mendapat kata maaf, kamu nggak langsung balik ke London kan?" selidik Manda. Aura mengintimidasi semakin menekan Arin, ketika Manda melipat kedua tangan di dada seraya menatapnya.
"Enggak, tan."
Mengangguk perlahan. Manda mengambil sesuatu dari dalam sakunya, yang ternyata adalah sebuah kunci.
"Nanti malam pulanglah ke rumah kalian."
Hah! kompak Arin dan Fay menatap Manda.
__ADS_1
"Kenapa?. Itu rumah kalian, wajar kalau kalian pulang ke rumah itu."
"Mah, kami belum menikah."
"Akhirnya kalian akan menikah. Atau...kalian nggak yakin akan melanjutkan hubungan ini kejenjang pernikahan?" bukan main wanita satu itu, dia begitu mendalami perannya, menatap tajam lagi kepada Arin dan Fay.
"Arin nggak yakin Ayah dan Ibu..."
"Ini sudah kami bicarakan" sambar Manda.
"Hah?."
"Ya" ujarnya kembali meyakinkan.
"Hanya bedua saja?."
"Ya" jawabnya lagi"Lagipula Fay, itu rumah kalian, memangnya mau dihuni siapa?. Atau kalian berniat mengajak para cecunguk di bawah?."
Cepat-cepat Arin dan Fay mengangguk.
"Cih! jangan mimpi!. Pokoknya hanya kalian berdua, nggak boleh ada orang lain di rumah itu. Kalau cuman sekedar main nggak pa-pa, tapi kalau mau menginap nggak boleh!."
Membayangkan akan tinggal serumah dengan Arin, jantung Fay tiba-tiba berdegup kencang. Ini lain halnya saat mereka tinggal bersama di apartemen Arin, karena Yuwen atau Amber terkadang juga menginap di sana.
"Tinggal hanya berdua dengannya? ini seperti pelatihan dalam menjalani rumah tangga dong jadinya" batin Fay.
"Akh! tante lapar. Tante tinggal dulu. Kalau mau makan ambil sendiri ya" melenggang dengan santainya, Manda meninggalkan mereka berdua begitu saja. Dan, nggak lupa Manda menutup pintu.
Baik Fay atau Arin, mereka kini saling memandang satu sama lain. Arin merasakan hangat pada tubuh Fay, spontan dia meletakan punggung tangannya di kening Fay.
"Kamu masih demam."
"Sebentar lagi sembuh kok."
"Sudah minum obat?."
"Belum."
"Kok yakin sebentar lagi bakal sembuh" tanya Arin dengan alis bertaut.
Keberanian itu muncul secara tiba-tiba, Fay menarik tengkuk sang kekasih dan mendaratkan ciuman pada candunya. Kali ini nggak ada perlawanan, Arin justru perlahan memejamkan kedua mata.
Wah, ini pertanda baik. Di sela kecupan itu Fay tersenyum tipis, dengan debar yang semakin kuat di dada dia semakin memperdalam ciumannya dengan lembut, selembut belainan jemarinya di tengkuk Arin.
__ADS_1
To be continued...