
Memulai pagi dengan penuh ketenangan, meski berada di tengah kota besar tetap saja sang hati merasakan kesepian itu, entah mengapa. Mungkin, karena sang kekasih hati masih jua mengabaikannya hingga kemarin, dan hari ini sepertinya rasa benci pada relung hati sang kekasih akan semakin menjadi, sebuah benci yang tertuju kepadanya. Bukan tanpa alasan rasa yang bermula manis dan bernama suka itu berubah masam dan berganti menjadi benci, itu semua juga terjadi karena ulahnya sendiri, begitu teledor menjadi seorang lelaki.
Usai membiarkan bidadari hati pergi untuk mengobati hati yang terluka, barulah sekarang dia datang. Sungguh sudah sangat terlambat, namun setidaknya dia masih sempat bertindak.
Secangkir kopi yang di seduh sendiri menjadi teman menatap langit biru, menatap keramaian di bawah sana seperti menonton televisi dengan spiker rusak, tak terdengar olehnya sebab hanyut dalam kecamuk pikiran. Bahkan suara klakson hanya terdengar samar di telinga, otaknya masih memutar kilas kejadian di malam tadi.
Di tengah lamun tak kunjung usai itu, Fay tertarik kembali pada kenyataan"Kyaaaaa!!!."
Gegas pemuda ini meninggalkan balkon, untuk memeriksa keadaan Arin di kamarnya. Jeritan wanita itu membuat jantung berdebar hebat, meski Fay tau hal seperti ini pasti akan terjadi.
Di depan cermin yang memantulkan tubuhnya, berbalut selimut yang menutupi sebagian besar tubuhya, pundak yang luput dari perlindungan selimut itu nampak bergetar. Wajah cantik dengan rambut berantakan terlihat menunduk, di sertai isakan tangis.
"Arin... kenapa berteriak?" pertanyaan bodoh!. Seharusnya dia tak perlu bertanya, mengingat apa yang telah dia lakukan pada Arin tadi malam. Cih!! mendengar suara Fay kini Arin tau siapa yang telah menodai dirinya.
Sebuah tanda merah kebiruan terlihat jelas di leher Arin, akh!! ternyata bukan hanya satu di leher, jejak kepemilikan itu bahkan tercetak jelas di atas sepasang bukit kembar miliknya.
Pandangan setajam silet kini Fay dapatkan, dari sepasang manik indah yang sangat dia rindukan untuk beradu pandang."Ini perbuatan kamu?."
Tanpa ragu Fay mengangguk, seraya meminta maaf.
"Menjijikan!!" itulah kata yang keluar dari mulut Arin. Fay terkaget, tak menyangka kata itu yang akan Arin lontarkan.
"Aku calon suamimu...."
"Hanya calon!!" sentak Arin.
Menggigit bibir, Fay tau dirinya salah namun dia tak punya pilihan lain, selain melakukan hal itu agar Arin tak pergi darinya lagi.
"Pada akhirnya kita akan menikah" berbeda dengan nada tinggi Arin, Fay berbicara dengan nada lembut. Sungguh, dirinya sangat ingin merengkuh sang kekasih ke dalam pelukan, namun baru saja menyentuh tangannya Arin sudah membangun jarak di antara mereka.
__ADS_1
Arin mundur selangkah hingga Fay sadar kehadirannya masih sulit untuk di terima. Maka, pemuda yang datang dengan misi menebus segala kesalahannya ini pun melangkah mundur"Maaf Arin, aku sangat merindukanmu. Tadi malam....aku khilaf."
"Cih!" Arin membuang muka seraya berdecih"Lagi-lagi kamu menggunakan kata khilaf. Ingat Fay, khilaf itu hanya sekali, kalau berkali-kali itu namanya doyan!."
"Ya, aku memang doyan dengan dirimu." tanpa merasa berdosa, lidah Fay bicara dengan ringannya.
Rahang Arin mengeras, lama sang waktu memisahkan mereka kenapa bertemu kembali dengan cara seperti ini, dengan tanda merah kebiruan yang menghiasi tubuhnya"Oh Lord!! apa yang terjadi tadi malam!. kenapa aku nggak ingat sama sekali?!" lirihnya dalam hati. Sementara kedua tangannya memegangi kepala yang masih terasa pening, pikirannya saling beradu di dalam kepala dan terasa sangat menyiksa.
"Pergi, sebelum aku menelpon polisi."
"Aku nggak punya tempat lain di negara ini" alasan klasik!. Kedua mata Arin memicing mendengar kata-kata itu. Otaknya boleh jadi sedang mencari kewarasan usai mabuk berat tadi malam, tapi dirnya tak bodoh. Sebuah kebetulan atau ada unsur di sengaja, kedatangan perdananya ke sini dan dapat dengan mudah langsung menuju apartemennya, bukankah itu sebuah tanda tanya besar?.
Di mata Arin, sejak kejadian di malam dia mendapati sang kekasih beradu lidah dengan wanita lain, dia telah kehilangan urat malu. Dan sekarang lelaki yang membuat retak sudut hatinya berada di depannya, dengan predikat sebagai pelaku pencetak tanda biru kemerahan di tubuhnya. Hanya bisa menghela nafas, Arin terlalu lelah untuk kembali berdebat.
Suara langkah terseret, ekor mata gadis ini melirik ke arah Fay. Dia perlahan mendekati Arin yang masih mendiamkan dirinya.
"Aku mohon, jangan usir aku. Ini kali pertamaku ke negeri ini, aku nggak punya tujuan lain selain apartemen ini."
"Bandara? untuk apa?."
"Pulang." Ujar Arin dengan nada dingin. Saat hendak melangkah Arin merasa tak nyaman, rasanya ada sesuatu yang keluar dari jalan inti tubuhnya. Seketika kening wanita ini berkerut seraya melayangkan pandangan tajam kepada Fay.
"Aku nggak ma...."
"Apa yang kamu lakukan padaku tadi malam?!!" menggeram, terlihat jelas Arin menahan emosi yang hendak meledak.
Fay sedikit memiringkan kepala membalas tatapan Arin, namun dengan sorot kelembutan"Dua tanda di tubuhmu sudah menjadi jawaban, tentang apa yang telah kita lakukan tadi malam."
"Fay!!!."
__ADS_1
Nyaris membuat tubuhnya polos kembali tanpa sehelai benang saat hendak menghajar Fay, gerak cepat pemuda itu justru membantunya menahan selimut agar tetap menutupi sebagian besar tubuhnya.
"Mandilah, bersihkan dirimu." Arin tak habis pikir, di saat emosinya melonjak naik, Fay masih bisa bersikap biasa-biasa saja.
"Kamu menodaiku Fay?. Kamu mengambil kesempatan saat aku mabuk!!!."
"Cepat atau lambat hal itu akan terjadi Arin."
Lagi dan lagi, setelah tadi sempat meminta maaf kini Fay bersikap biasa saja, padahal dia telah merenggut apa yang tak semestinya dia ambil.
Tubuh Arin luruh ke lantai, wajahnya terlihat memerah, sebuah perpaduan marah dan juga sedih menjadi satu pada raut wajahnya. Ingin rasanya menangis namun air mata harus bisa dia tahan. Kenapa? kenapa kesucian itu harus berakhir di tangan Fay?, pemuda yang coba di hapusnya secara perlahan dari dalam hati. Akh! Arin sempat merutuki diri sendiri, sebab hingga detik ini masih Fay yang sangat menguasai sang hati.
"Aku akan bertanggung jawab."
"Nggak perlu" ujarnya lirih seraya membawa diri menuju kamar mandi.
"Arin..."
"Selama aku nggak hamil, aku masih bisa bertahan sendiri."
Kali ini Fay terdiam, jawaban Arin sukses membungkam mulutnya. Bahkan setelah kejadian malam panas di antara mereka, Arin masih ingin pergi darinya.
Suara pintu kamar mandi di tutup keras, di susul suara air yang mengucur deras dari shower, sayup-sayup Fay mendengar suara isak tangis wanita kesayangannya itu. Segumpal darah di dalam dada terasa tercabik, bukan maksud hati membuat Arin kembali menangis.
"Maaf Arin, aku hanya bisa berkata seperti itu demi mengokohkan kembali tali pengikat kita berdua."
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.