
Mendapat hadiah sebuah hunian mewah, alih-alih membuat Arin bahagia, gadis ini justru terjebak dalam bimbang. Tentang seberapa besar harapan para orang tua dalam hubungan mereka, tentang seberapa besar harapan orang tua untuk membuat mereka bersama. Ck! di tengah goyahnya rasa cinta di dalam dada kenapa mereka mendapat hadiah itu!. Arin sungguh pusing di buatnya. Seperti biasa, saat sedang gundah dia membagi beban itu kepada para sahabat. Dan lagi-lagi saran dari tiga sahabat perempuannya ini menambah pusing kepala.
"Masih cinta nggak sih? kalau sudah nggak cinta mending putusin aja hubungan kalian."
"Greta!!" seperti biasa, Greta dengan akal pendeknya selalu lebih dulu memberikan saran, tanpa berpikir panjang seperti Febby dan Nari. Dua gadis itu berseru secara bersamaan atas saran gila Greta. Sementara Arin menyimak dengan seksama. Sungguh Febby dan Nari takut saran itu benar-benar di lakukan Arin.
"Jangan di dengarkan" Nari mengusap punggung tangan Arin.
"Abok ni anak, Abok cinta sama Udin dia" Febby bersuara.
"Hubungan mereka nggak kayak orang pacaran Greta, nggak semudah itu memutuskan hubungan" Febby beralih pada Greta dan mencubit pipinya, yang nampak penuh dengan roti. Ya, saat ini mereka berkumpul di kedai Arin, demi membahas masalah memusingkan ini.
"Tapi interaksi mereka juga nggak kayak orang pacaran" Greta tetap pada pendiriannya. Sebab, semakin hari hubungan Fay dan Arin semakin berjarak. Apalagi Ayaka semakin gencar mendekati Fay, dan Yuwen terlihat semakin dekat juga dengan Arin.
Di bawah meja Nari menyenggol kaki Greta, memberi kode kepada gadis itu untuk diam saja.
"Jangan melihatku seperti itu, kita berkumpul untuk mencari jawaban yang jelas. Aku paham, kalian nggak enak kan mau menyarankan untuk pisah saja, sebab hanya ada pertengkaran saat mereka bertemu!."
"Greta! kamu panggil Udin aja deh. Kencan aja kalian di meja lain" Febby merasa ngeri dengan segala kata yang Greta ucapkan, sebuah kebenaran yang terasa perih menyayat hati.
"Tau nih, sarannya kok jahat banget!."
"Naria, ini masalah hati, masalah perasaan. Arin sudah kecewa, ibarat kaca hatinya sudah retak. Meski Fay meminta maaf berkali-kali nggak akan mudah baginya untuk menerima Fay seperti sedia kala. Apalagi mereka terlihat nyaman dengan orang baru di dekat mereka."
Nari melirik Arin"Memangnya kamu sudah merasa nyaman sama Yuwen?."
"Iya" seringan bulu Arin langsung menjawab.
__ADS_1
Greta menjentikkan jari, menunjuk ke arah Febby dan Nari bergantian"Tuh benar kan!. Hati mereka sudah di masuki orang lain, masing-masing dari mereka sudah nggak terlalu spesial lagi bagi satu sama lain."
"Benar begitu Arin?."
Arin mengangguk menanggapi pertanyaan Febby. Owh!! Nari dan dirinya langsung menepuk kening. Hubungan Arin dan Fay sudah terlalu berjarak, sampai hati mereka sudah tercemari dengan nama orang lain.
"Nggak bisa!. Ini nggak boleh terjadi!. Ayo Rin, kamu harus bisa mengambil langkah maju. Coba saja saran Tante Manda itu!".
"Menginap di rumah itu sama Fay?." Arin menatap Nari.
"Hei, kalian mau bercocok tanam duluan?" aish! sumpah si Greta perlu di plester deh mulutnya. Ngoceh nggak jelas, nggak mengenal filter juga.
"Greta diam deh. Please!!" hardik Febby.
"Bawel" balas Greta.
Sementara itu Fay yang merasa sikap Arin masih dingin kepadanya juga meminta pendapat para sahabat. Saran sang Mama untuk mereka mengunjungi kediaman baru itu di setujui para sahabat lelaki.
"Tapi ingat! kalian belum sah!. Jangan main garap sawah ya!" Rivan sedang duduk di atas motor butut milik seorang pekerja bengkel Zaid.
Ocehan itu membuat Keano mendorong kepalanya"Ya elah Van, kalau ngomong pakai filter dong!."
Mengusap kepalanya yang di acak-acak juga oleh Zaid"Eh ngomong sama anakan buaya buntung kayak dia nggak perlu pakai filter. Harus jelas kita ngasih taunya!. Lihat aja, katanya nggak bakal cinta sama Arin eh sekarang bucin akut. Katanya nggak ada rasa sama Ayaka eh di ajak ngendors bareng. Hayo, kalau modelan begitu apa masih perlu ngomong pake filter?."
Keano sontak terdiam, setelah di tela'ah kicauan Rivan benar juga. Dia pun memukul lengan Fay"Ingat ya buaya, jangan di garap dulu!. Kasihan Arin kalau sampai ternodai sedangkan kamu tumbuh besar jadi buaya kelas kakap."
"Coba aja sok jadi buaya kelas kakap! Aku sembelih si otong!." Kevin dari tadi diam saja, sekali bicara membuat mereka bergidik.
__ADS_1
"Ya enggak dong!. Sumpah Arin cewek kesayangan aku, aku nggak akan merusak dia. Lagian kami cuman melihat-lihat kediaman baru itu kok, kami juga belum di izinkan tinggal di sana. Kan belum sah!."
Saat itu Fay mengenakan topi, dan sialnya ujung topi itu jadi mainan mereka untuk memperingati nya agar nggak melangkah lebih jauh"Ingat ya!!. Si Arin jangan di makan!. Itu juga si Ayaka buruan di suruh jauh-jauh dari kamu. Masalah ini nggak selesai-selesai karena Ayaka masih berseliweran di sekitar kamu." Tukas Zaid memukul ujung topi Fay.
"Iya!! iya!" serunya melepas topi itu, kesel juga dari tapi di tepokin terus.
Sore itu Fay dan Arin bertandang ke rumah mewah mereka. Fay berniat mendekati Arin dengan mengajaknya menonton drama korea terbaru, tentu dengan pemain yang di sukai Arin. Saat itu Arin tersenyum meski sekilas, dia senang Fay bersedia menemaninya menonton. Nggak seperti Ikbal yang kadang cemburu saat Febby berteriak melihat idolanya di layar ponsel, Fay justru mendukung hobi sang kekasih yang menyukai seorang idola dari negeri ginseng.
Bergenre romantis, Arin begitu fokus menonton layar besar di depan mereka, sementara Fay sejak tadi memperhatikan Arin. Sungguh rindu itu sangat curang, mereka telah bertemu tapi rasanya semakin rindu kalau tak memeluknya. Pada adegan sang pemain mendekati wajah sang kekasih, Fay menyentuh pelan jemari Arin. Gadis ini terbawa suasa romantis, dia membiarkan Fay menyentuh tangannya. Tepat saat adegan di layar televisi menampilkan sang pemeran berciuman, Fay pun melakukan hal yang sama. Untuk sejenak Arin dan Fay terhayut dalam luapan rindu yang tertahan selama ini.
Setitik air bening jatuh di tepian mata Fay yang terpejam, rasa cintanya kepada Arin bukan main-main, dia sangat mencintainya. Namun berbeda dengan Arin, saat mata itu terpejam bayangan Fay bertukar saliva dengan Ayaka kembali mengusik pikirannya.
Segera menjauh, menciptakan jarak di antara mereka.
"Kenapa? aku sangat merindukanmu Arin."
"Dan aku nggak bisa melupakan pengkhianatan mu Fay!" Arin bergegas pergi dari kediaman itu. Gadis ini melajukan mobilnya tanpa peduli akan Fay yang berteriak memanggil.
Derai air mata tak bisa di tahan, dengan kasar Arin menyeka air mata itu. Setelah di rasa jauh dari kediaman mereka Arin menepikan mobil. Dia harus menenangkan diri dulu, kejadian tempo hari tak boleh terulang lagi.
"Yuwen" gumamnya melihat sang ponsel.
Alih-alih nama Yuwen, nama Fay yang muncul di layar ponsel. Memilih mengabaikan panggilan dari Fay, Arin segera melajukan mobil kembali menuju kediaman Yuwen. Dia punya janji untuk mengantarkan Yuwen masuk ke dalam asrama hari ini.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.