
Hujan perlahan reda usai menyapa sang bumi, niat hati hendak berbelanja namun baju yang Yuwen kenakan terlihat basah pada bagian belakang. Arin tentu tak akan membiarkan lelaki itu pergi dengan memakai baju basah.
"Kita ke butik di depan sana, aku mau mentraktirmu baju baru."
Cekiittt!! seketika Yuwen menghentikan laju motornya"Kamu mau membelikanku baju?."
"Heem" Arin mengangguk. Wajah mereka sangat dekat saat ini, sebab Yuwen berbicara seraya menoleh ke belakang sedangkan Arin mendongak ke depan, wajahnya tepat berada di atas pundak Yuwen. Lagi dan lagi segumpal darah di dalam dada berdebar.
"Aish!! ada apa dengan hatiku!" gumam sang hati. Arin sampai memegangi dadanya, demi menyamarkan debarannya.
"Nggak perlu. Aku ganti baju di rumah saja."
"Jadi kamu mau kita berbelanja memakai baju basah ini?."
Kembali melajukan motornya"Enggak dong!. Aku bukan superhero yang nggak bisa masuk angin. Kita singgah ke rumahku sebentar ya."
Berteman cukup lama namun Arin belum pernah bertandang ke kediamannya. Arin juga belum pernah bertemu orang tua dari Yuwen.
"Dengan begitu kamu menolak traktiranku."
"Jangan baju deh, mending traktir aku barang lain saja. Makan di restoran mewah mungkin." Yuwen terkekeh hingga pundaknya bergetar.
Arin berlagak kesal, dia menepuk pundak Yuwen yang terkekeh itu"Kamu meminta traktiran yang lebih mahal Tuan Yuwen!."
"Hahaha, kalau begitu traktir aku barang lain saja Nona Arin."
"Oke, aku akan memikirkannya."
Dua anak muda ini terus berbincang di atas motor, setelah sampai di basement sebuah apartemen barulah obrolan mereka berhenti.
"Kamu tinggal di sini?."
"Heem" sahut Yuwen.
Saat melangkah maju Arin mendapat pesan dari Nari, dia menanyakan apakah Arin sudah menentukan akan masuk ke universitas mana.
Seraya membalas pesan dari Nari, Arin mengekori langkah Yuwen menuju lift.
"Lihat jalannya Arin."
"Iya, aku tau kok" ujarnya.
Dasar Yuwen usil, dia mencoba menguji Arin dengan perlahan berjalan lamban. Arin terus saja berjalan namun atensinya tersita pada gawai di tangan. Mereka berhenti di depan lift dan Arin masih mengetik balasan. Saat hendak masuk ke dalam lift....
"Hei!!! perhatikan depanmu Nona Arina!!."
Sungguh sebuah keberuntungan, Yuwen masih sempat melindungi kening Arin dengan telapak tangannya, kalau tidak mungin kening Arin akan memar.
"Ckckckck!! makanya kalau jalan jangan sambil main ponsel. Untung pacarnya gercep!" seorang lelaki dewasa menegur Arin.
__ADS_1
Cengengesan, hanya itu yang terlihat pada diri Arin. Hanya mereka bertiga di dalam lift, meski ada orang lain di antara mereka Yuwen tak ragu memeriksa kening Arin.
"Masa muda memang indah, kalian pasti baru jadian ya? belum pernah bertengkar bukan?."
"Kami nggak pacaran Om."
"Om? kamu memanggilku Om?."
"Memang Om-om kan, memangnya mau di panggil apa?" tanya Arin. Sementara Yuwen sudah mengenal orang itu, mereka bertetangga.
"Yuwen, bilang sama pacar kamu jangan memanggilku Om. Aku masih bujangan."
"Om peter" Yuwen ikut-ikutan memanggilnya Om.
Menarik nafas, untung saja Peter ini orangnya humoris, jadi ocehan dua bocah ini tak di anggap serius"Ckckck dasar anak muda. Kamu pasti sangat mencintai gadis ini sampai ikut-ikutan memanggilku Om."
"Kami enggak pacaran Om!" lagi, Arin menekannya.
"Oh ya?" menoleh ke arah Yuwen yang sontak di anggukinya.
"Kalian cocok lho" jari telunjuknya menunjuk ke arah Yuwen dan Arin bergantian.
"Dia sudah punya cowok, Om Peter sok tau. Sendiri aja masih jomblo." Akh!! ucapan Yuwen membuat Peter memegangi dada sendiri, nampak sangat terluka, dia sampai sedikit membungkuk demi menambah nilai dramatis.
Arin dan Yuwen terkekeh melihat tingkah Peter. Merasa di tertawakan Peter pun kembali berucap"Oho, kalian senang melihatku sedih. Aku sumpahin semoga kalian jodoh."
"Om Peter!!!." Seru Arin.
Peter bahkan berlari kecil agar tak mendengar ocehan Arin dan Yuwen.
Kini Arin dan Yuwen saling berpandangan.
"Lupakan saja, sumpah orang jomblo nggak akan terkabul" perkataan Yuwen membuat Arin tertawa.
Sejurus kemudian mereka memasuki kediaman Yuwen, nampak bersih dan rapi. Arin menanyakan orang tuanya, sebab tak ada orang lain di sana.
"Mereka di luar negeri."
Arin baru tau, ternyata Yuwen tinggal sendiri.
"Kenapa kamu nggak ikut mereka?."
"Aku lebih suka tinggal di negeri ini. Lagipula mereka pulang kok meski hanya sebulan sekali."
Arin mengangguk seraya mengedarkan pandangan, kediaman yang cukup luas. Terlihat rapi, Arin pun bertanya apakah Yuwen membayar seseorang untuk bersih-bersih.
"Aku masih sempat membersihkan tempat ini sendiri, nggak perlu bantuan orang lain."
"Hah!! jadi kamu yang membersihkan tempat ini? kediaman kamu rapi banget tau nggak?!."
__ADS_1
Tersenyum lebar"Iya dong. Aku harus pandai bebersih rumah."
"Ini akan jadi nilai tambahan dari cewek yang akan menjadi istri kamu nanti" sambar Arin.
"Oh tentu!!" melipat kedua tangan di dada, Yuwen terlihat sangat bangga dengan dirinya sendiri. Arin melempar bantal pada sahabatnya itu.
"Cepat ganti bajunya, aku sudah nggak sabar mau berbelanja!."
"Oke, oke!!. Aku akan ganti baju di kamar, kamu jangan mengintip ya!."
"Oh Yuwen!! aku baru tau kamu ternyata songong sekali!!" Yuwen terkekeh mendengar perkataan Arin.
......
Sungguh menghabiskan waktu bersama Yuwen membuat Arin lupa waktu. Belanjaan mereka sudah cukup banyak, namun di antara banyaknya belanjaan milik Arin, dirinya belum menemukan barang apa yang akan dia berikan kepada Yuwen.
"Lain kali saja. Aku masih bisa keluar kok meskipun tinggal di asrama."
"Aku maunya sekarang, kamu harus pulang membawa benda pemberianku."
"Nona Arin, kamu nggak melihat jam?."
Bersamaan dengan Arin meraih ponsel, saat itu sang Ibu menelepon. Hanggini mengingatkan Arin untuk tidak pulang terlalu larut, sebab dia keluar sejak sore hari.
"Sudah jam segini, pantas saja perutku terasa lapar."
"Hehehe, perutku juga terasa lapar. Kamu mau langsung pulang atau kita cari makan dulu?."
"Makan dulu dong. Aku sudah izin sama ibu, akan pulang setelah mencari makan dulu."
"Mau makan apa?!."
"Yang pedas dan manis."
"Akuu---."
Arin melihat kedai dengan aneka hidangan gurih dan pedas. Gadis ini langsung berseru"Kita makan di sana saja!."
Sejujurnya Yuwen nggak suka makanan pedas tapi dia masih bisa memakannya. Kali ini demi menyenangkan Arin, dia rela memakan makanan dengan rasa pedas yang sama sekali tidak dia sukai.
"Oke, kita makan sampai kenyang!!." Seru Yuwen.
Seperti sepasang kekasih, Yuwen menarik lengan Arin dan berlari kecil menuju kedai tersebut. Arin sangat bersemangat, dia memiliki banyak hidangan gurih pedas sedangkan Yuwen mau tidak mau harus ikut menikmati hidangan itu.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1