Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Salju pertama kali


__ADS_3

Tentang apa yang telah terjadi di antara mereka, rasa sesal itu seolah tak ada habisnya. Usai membersihkan diri, Arin membawa diri untuk keluar dari kamar mandi. Sebelumnya, cukup lama dirinya berdiam diri di sana, mencoba untuk menenangkan diri sendiri.


Kehadiran Arin di kamar itu membuat Fay memalingkan wajah. Bagaimana tidak, tubuh indah itu hanya di balut sehelai handuk.


"Ku pikir kamu sudah pergi, ternyata sengaja berdiam diri agar bisa melihat tubuhku lagi."


Sindirian itu membuat tenggorokan pemuda ini tercekat. Aroma wangi menguar dari tubuh Arin, itu juga menjadi alasan kuat mengapa terasa sulit baginya hanya untuk menelan saliva.


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."


Sebelah alis Arin terangkat naik, kini dirinya telah memakai bathrobe yang tertinggal di luar kamar mandi"Wanita mana yang akan baik-baik saja setelah....." sungguh, rasanya tak sanggup meneruskan kalimat itu. Emosinya kembali melonjak naik, kedua matanya kembali memerah dan sebentar lagi akan muncul anakan sungai air mata di kedua pipi.


"Pakai dulu bajumu, setelah itu kalau kamu mau memukuliku tak mengapa."


"Oho, jadi kamu merasa risih dengan penampilanku?."


Alih-alih menjawab, Fay memilih menyibukkan diri dengan sang gawai.


Kedua tangan Arin mengepal. Inikah yang di sebut habis manis sepah di buang? setelah merenggut mahkotanya, bahkan untuk melihat dirinya saja Fay tak sudi?.


"Enyah....." lirih Arin.


Hanya satu kata, namun begitu menyakitkan di dalam hati. Fay meletakan ponsel itu di atas tempat tidur, tempatnya mendudukan diri pada tepiannya sejak tadi. Pemuda ini menatap Arin lekat, terlepas dari penampilan wanita itu yang sangat menggoda, satu kata yang keluar dari mulutnya lebih menghenyakkan jiwa.


"Arin..."


"Pergi Fay. Pergi dari sini. Melihatmu di sini sangat menyiksaku." Sejatinya tidak ada yang bisa di percaya dalam dunia ini selain diri sendiri. Bahkan diri sendiri pun kerap mendustai sang hati, begitulah manusia. Seperti Arin sekarang ini, dirinya mengusir Fay dengan mudah, lidahnya berucap seringan bulu, padahal sang hati di dalam sana berteriak karena rindu yang tertahan.

__ADS_1


Rahang Fay mengeras, andai dia bisa menolak keinginan Arin. Berkaca pada apa yang telah dia lakukan, baik dahulu maupun sekarang, sangat wajar dirinya mendapat perlakuan seperti ini.


"Baiklah, beri aku waktu untuk berkemas" terdengar lemah, Fay hanya bisa pasrah pada keinginan sang kekasih.


"Terimakasih" rasanya sangat canggung mendengar Arin mengucapkan kata ini kepadanya. Apakah kepergiannya sangat membahagiakan bagi Arin?. Hati pemuda ini telah di tempa untuk lebih kuat sebelum datang ke negeri ini, namun baru beberapa hari kata-kata Arin sudah melemahkan semangatnya.


Menyeret koper besar itu menyusuri lorong apartemen. Akh!! Fay merasa sangat tidak berarti saat ini. Mendudukan diri di tepi air mancur, Fay mendongak, menatap bangunan tinggi tempat tinggal sang kekasih pujaan hati.


"Bahkan mengantarku ke depan pintu kamu tak sudi" lirih Fay. Ya, Arin mengunci diri di kamar saat Fay pergi. Pemuda ini masih ingin melihat Arin, namun sang empu diri tak sudi untuk bertemu lagi. Kalau sudah begini, Fay hanya bisa pergi saja. Namun, bukan pergi untuk tak kembali, Fay hanya akan membiarkan Arin menyendiri dulu, nanti dia akan kembali lagi.


Menghindar namun tak benar-benar menghindar. Boleh jadi Arin mengunci diri tapi telinga mengawasi langkah kaki Fay. Suara pintu di tutup, Arin lekas mengendap keluar dari dalam kamar. Ada rasa kehampaan setelah memastikan Fay benar-benar pergi, yah! ruang di dalam hati kembali terasa sepi. Helaan nafas berat, itulah yang terdengar darinya saat ini.


Menghibur diri, wanita keras kepala ini tak ingin terlalu larut dalam cinta yang tak kunjung sirna, meski telah sering di tekannya. Meraih remot, mencari chanel yang menarik baginya, Arin pun memeriksa stok cemilan di dalam lemari pendingin.


Seingat Arin, cemilannya tak sebanyak sekarang. Hemmm, pasti Fay yang membawa semua cemilan itu untuknya.


"Kamu pikir rasa sakit hatiku dapat di bayar dengan cemilan? hisss!! cetek sekali pikiranmu Fay!." Menggerutu namun dia sangat menikmati cemilan yang di bawakan Fay itu.


Lama menatap televisi besar itu membuat matanya mengantuk. Perut sudah terasa kenyang karena terus di sumpal cemilan, alhasil Arin pun tertidur.


Sementara itu, Fay memutuskan untuk mengisi perut yang lapar. Meski matahari telah berdiri tegak namun dirinya belum sarapan. Niat hati menikmati sarapan yang kesiangan itu dengan Arin, ternyata dirinya malah di usir"Bersabarlah Fay, setiap kejahatan pasti ada balasannya. Dan sekarang kamu sedang menikmati balasan itu. Lupakan dulu hidangan nikmat yang kamu bayangkan di masak bersama Arin" bergumam, sejatinya Fay merindukan aktivitas memasak bersama Arin yang kerap mereka lakukan dahulu.


Usai mengisi perut, Fay berniat kembali ke apartemen Arin. Namun.....


Berkali Fay menekan bel berkali pula dia di abaikan. Dia sadar tak semudah itu Arin akan memaafkannya. Kursi di samping air mancur, lagi-lagi ke tempat itu Fay kembali. Alih-alih mencari penginapan untuk dirinya, Fay masih bertekad untuk kembali ke apartemen Arin.


Bermain game, hal inilah yang Fay lakukan sembari menunggu Arin. Tentu dengan menghubungi ponselnya di setiap jeda bermain gamenya. Beruntung Arin sudah tak memblokir nomornya, namun wanita itu tak jua menerima panggilan telepon.

__ADS_1


Udara yang sejuk, setidaknya Fay tak harus berjemur di bawah terik matahari di jam menjelang sore itu. Sebenarnya bukan hanya dia yang berada di sana, ada banyak orang berlalu lalang dan beberapa dari mereka juga menikmati waktu senggang di sana. Selain kolam air mancur, tempat itu juga seperti taman bermain anak-anak. Sudut bibir Fay menukik naik melihat interaksi menggemaskan para bocah kecil yang sedang bermain bersama keluarganya.


Waktu terus berjalan, Arin terkejut karena suara bel di tekan. Sepasang manik indah itu melirik ke jendela, owh... hari sudah malam. Dengan sempoyongan dia berjalan menuju pintu, dan mengintip pada lobang kecil sebelum benar-benar membuka pintu.


"Eh...bibi petugas kepersihan?" Arin merasa dirinya tak memesan pelayanan kebersihan.


"Selamat malam nona" ujar sang bibi. Tersenyum manis namun terlihat raut kekhawatiran di wajahnya.


"Iya bibi, selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?."


"Maaf nona, pemuda yang kemarin malam mengantar nona pulang jatuh pingsan."


Hah!! pemuda....


Apa itu Fay??.


"Salju mulai turun dan dia nampak kedinginan di taman."


"Salju???" sontak Arin menatap kembali jendela besar itu. Ya!! salju telah turun. Oh tidak!!!.


"Di mana dia sekarang bibi??."


"Di tempat bibi beristirahat."


Dengan pakaian seadanya Arin gegas menjumpai Fay.


"Jangan!! aku mohon jangan sakit!!" jerit hati Arin.

__ADS_1


To be continued...


Salam anak Borneo.


__ADS_2