
Mencoba memaafkan, hal ini bukan tak pernah Arin lakukan. Entah kenapa bayangan sang kekasih mencicipi candu wanita lain, rasanya sangat sulit untuk di lupakan. Bukan hanya Fay yang merasakan sesak di dada, di balik sikap acuh itu sejatinya Arin sangat terluka.
Air mata itu bukan tak pernah jatuh, gadis galak ini sempat menangisi Fay di awal retaknya hubungan mereka. Beberapa kali saja, setelah itu Arin bertekad untuk tak lagi menangis karena Fay.
Membawa hati untuk mencintai lelaki pilihan sang Kakek, pahitnya pengkhianatan dengan dalih terbawa suasana, sungguh menggelikan.
Di dapur kedai Carlos dan Hanggini sedang membahas putri dan calon menantunya, Arin dan Fay. Hanggini mengungkapkan risau di hati, sebab semakin hari Arin semakin terlihat akrab dengan Yuwen. Di matanya Yuwen pemuda yang baik, andai perjodohan itu tak pernah terjadi dirinya tentu akan menjadi mak comblang cinta sang putri dengannya.
"Ayah sudah lihat berita hari ini?."
"Berita apa?"Carlos menuang tepung ke dalam tempat besar, menekan tombol pada alat pengadon dan terdengarlah suara halus dari mesin itu.
"Gadis bernama Ayaka itu, dia menjadi rekan Fay ngendors."
"Memangnya kenapa?."
"Ayah nggak takut mereka benar-benar terjebak dalam cinta? ini tentang perasaan anak kita juga Ayah!." Awalnya bersikap santai, lama kelamaan Hanggini nggak bisa diam di pojokan saja.
"Kalau mereka berjodoh, pasti akan bertemu di pelaminan" begitu biasa sikap Carlos ini, seolah Fay tak akan berpaling dari Arin.
"Ayah!."
Tersenyum menoleh kearah sang istri"Oho, istriku sedang marah?."
"Iya, aku sedang marah."
"Dan saat marah kamu nggak ada sangar-sangarnya sedikitpun!."
Bersedekap, Hanggini menuju meja dan meraih ponselnya"Ya sudah kalau Ayah nggak mau mendamaikan mereka, aku akan menghubungi Manda."
Terkekeh sehingga barisan giginya terlihat nyata"Oke, kalian urus saja. Ayah serahkan semunya kepada kalian para wanita."
Tak lama setelah itu Hanggini telah tersambung dengan Manda melalui panggilan telepon. Ternyata Manda juga merasakan apa yang Hanggini rasakan, resah karena kedekatan putra putri mereka dengan orang lain.
Buah dari obrolan panjang itu, di buatlah jadwal temu dua keluarga. Bertempat di kediaman Fay, mereka akan mengadakan makan malam bersama.
Rencana itu langsung di setujui Fay"Fay setuju" bagaimana tidak setuju, dia memang sedang gencar mendekati Arin lagi.
"Enggak!!. Arin ada jadwal sama teman."
"Sama siapa?" tanya Hanggini.
"Lusa Yuwen akan pindah ke asrama."
"Acara kita besok malam, kamu masih bisa mengantarkan Yuwen ke asrama besok harinya."
__ADS_1
Wajah gadis ini tertekuk, dengan pasrah mengangguk di hadapan kedua orang tuanya.
Rencana makan malam itu sangat menggangu pikiran Arin. Sebenarnya dia mau-mau saja hadir di acara itu, tapi lagi-lagi dirinya teringat pengkhianatan Fay, akh!! rasa kesal seketika menguasai jiwa.
"Kamu gimana sih, tinggal makan saja kan." Febby berkomentar.
"Bayangan mereka berselingkuh terus terbayang di kepalaku!" seru Arin.
"Kabur aja nggak sih!."
Saran dari Greta, membuat Nari dan Febby berseru"Greta!!."
Terlihat cengengesan, Greta menggaruk tengkuk yang tak gatal itu. Demi mencari jalan keluar dari rencana makan malam itu, Arin melakukan panggilan video bersama tiga sahabatnya. Meski sudah cukup lama berbicara dari hati ke hati, Arin tak menemukan jalan, tiga sahabatnya justru sibuk menyarankan mereka untuk menjauhkan Ayaka dari Fay.
"Mereka ngendors bareng, ganggu banget itu cewek!" Nari berbicara.
"Kamu jangan keasikan main sama Yuwen, urusin juga tunangan kamu, di jaga baik-baik dari kucing garong kayak Ayaka itu" menggaruk buku di depannya, Febby terlihat gemas saat membicarakan tingkah seorang Ayaka.
Greta baru duduk kembali di depan ponsel setelah sempat menghilang untuk mengambil minuman"Tau nih!!. Fay itu punya kamu! milik kamu!. Jangan membiarkan gadis lain menempel seperti benalu padanya."
"Aku bicara tentang kabur dari acara makan malam itu, kalian terlihat berada di kubu Fay!."
"Bukan begitu maksud kami" sahut Nari.
Saat menerima panggilan video itu, Nari sedang duduk di tepi ranjang. Sekarang dirinya terlihat sibuk berkemas sedikit pakaian. Arin yang melihat kegiatan sang sahabat lantas bertanya"Nar, kamu mau keluar?."
"Kemana?."
"Mau liburan ke Villa Greta."
"Kapan?."
"Besok." Greta yang menyahuti.
Sepasang manik indah Arin berbinar, seperti melihat secercah cahaya terang di dalam kegelapan.
"Aku ikut dong!."
"Besok jadwal kalian makan malam. Kamu nggak boleh ikut!" giliran Febby yang bicara.
Menatap mereka satu persatu"Kalian janjian mau ke sana?."
"Iya" jawab Nari dan Febby. Sementara Greta mulai merasakan hawa buruk dari mimik wajah Arin.
"Aku nggak di ajak!."
__ADS_1
"Akh!! sudahlah!" merajuk, Arin hendak menyudahi panggilan video itu.
Mereka bertiga kelabakan, langsung menjelaskan niat awal yang ingin mengajaknya berlibur di Villa. Karena malamnya Arin punya jadwal makan malam bersama keluarga Fay, tentu mereka nggak berani menculiknya, bisa-bisa para orang tua akan memberikan hukuman kepada mereka.
.......
Malam yang ingin di hindari Arin akhirnya tiba. Di halaman belakang kediaman keluarga Fay, di sanalah acara makan malam itu di gelar.
Mereka sengaja menyisakan dua kursi yang bersebelahan, membuat Arin dan Fay duduk di sana.
"Bagaimana hubungan kalian?" Prana bertanya, sekedar basa-basi saja. Dalam diam sebenarnya para orang tua memantau perkembangan hubungan mereka.
"Baik" jawab Fay lekas. Dia tersenyum, tak peduli dengan tatapan tajam Arin di sampingnya.
"Syukurlah. Apa kalian sudah siap menikah dalam waktu dekat?."
"Belum!" mereka seperti sedang mengikuti lomba adu cepat dalam menjawab, dan kini Arin yang lebih dulu berbicara.
"Lho, kenapa?." Manda bertanya seraya meminta pelayan mengambil sesuatu dari dalam rumah.
Jemari gadis ini bermain dalam pangkuan, dirinya mencoba menahan diri, menahan untuk tidak bersikap kurang ajar di depan para orang tua"Kami kan mau kuliah dulu. Iya kan Fay?!" senyum terpaksa, namun Fay cukup senang melihat Arin tersenyum menatapnya.
"Iya" ujar Fay. Berbeda dengan Arin, senyuman lelaki ini begitu tulus. Sungguh tak mengapa pernikahan mereka di undur, asalkan Arin kembali bersikap manis kepadanya.
Mendengar jawaban mereka, para orang tua nggak mau memaksakan untuk segera menikah. Apalagi kebenaran tentang status mereka, sudah menjadi rahasia umum di antara mereka. Sejatinya mereka seperti orang yang memakai topeng, saling menipu satu sama lain.
Seorang pelayan datang dan memberikan sesuatu kepada Nyonya Manda, wanita ini membisikkan sesuatu kepada sang suami yang langsung di angguki Prana. Dia pun mengambil benda itu dari tangan sang istri.
Sebuah kotak kecil berwarna hitam, di berikan kepada Arin"Arin, meski kalian belum resmi menikah kamu sudah kami anggap sebagai menantu. Dan ini kami hadiahkan untuk kalian."
"Dan hadiah itu atas nama kalian berdua" Carlos yang bicara. Dari sini Arin memahami bahwa ini bukan semata dari kedua orang tua Fay, tapi juga dari Ayah dan Ibunya.
Sebuah kunci, benda itulah yang ada dalam kotak kecil itu.
Fay membuka kotak itu"Kunci apa ini Pah?."
"Itu kunci rumah kalian."
Dengan wajah masam Arin menatap Fay, sedangkan lelaki itu tersenyum lebar hingga gigi kelincinya terlihat nyata.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1