
Seminggu sudah sejak Arin memergoki sang kekasih bertukar saliva dengan wanita lain, dan satu minggu pula dia mengabaikannya. Pada acara perpisahan sekolah pun Arin menolak berdekatan dengan Fay, dia datang ke acara itu dengan menggandeng Yuwen, tentu sikap gadis ini mengundang tanya para sahabat.
"Sedang ada pertengkaran dalam rumah tangga ya?" Rivan ikut duduk di tepi lapangan, saat Nari dan Febby sedang menonton para anak lelaki latihan basket. Sebenarnya hanya Febby yang fokus melihat ke arah lapangan, sedangkan Nari sibuk dengan sang gawai.
"Nggak tau, lagian rumah tangga siapa? belum ada yang menikah kan diantara kita?" sejurus kemudian Febby menoleh kepada Nari"Eh, jangan-jangan kamu sudah nikah sama Kai? nikah diam-diam ya?."
Meletakan gawai ke dalam pangkuan, Nari menepis anak rambut yang berayun di depan kening, angin sore sungguh terasa nyaman"Belum!!. Aku mengurungkan niat untuk menikah muda. Aku memutuskan untuk kuliah dulu, sementara Kai lebih fokus pada pekerjaannya. Kami mau, saat menikah sudah memiliki rumah sendiri, dan aku akan menjadi wanita karir yang dapat membantu keuangan suami."
Begitu ceria wajah Nari waktu menceritakan cita-cita cintanya bersama Kai, owh!! mendengar hal itu Febby jadi iri"Kira-kira Ikbal punya niat untuk mengikatku dengan tali pertunangan nggak ya?." Celetuk Febby tiba-tiba.
Berbicara dengan para gadis yang sedang dimabuk cinta, sungguh sebuah kesalahan. Rivan bertanya tentang Arin dan Fay, eh dua sahabatnya ini justru membahas kekasih masing-masing.
"Coba kamu giring dia, bahas masalah indahnya berumah tangga. Dia kan cinta banget sama kamu . Aku yakin dia pasti bersedia melamar kamu" ucapan Nari ini membuat Febby mengantupkan bibir, menahan gelembung cinta yang semakin meluap di dalam dada.
"Ehem!! aku tadi nanyain masalah Fay sama Arin, kenapa jadi membahas percintaan kalian?." Tangannya terangkat di udara, melambai kepada Ikbal yang sudah selesai bermain basket.
Nari dan Febby kompak meledak Rivan dengan mencibir padanya"Bawel."
Berlari kecil Ikbal menyongsong sang pujaan hati. Segera Febby memberikan sebotol air mineral. Ikbal Mengambil duduk di samping Rivan, sedangkan Febby berdiri mengusap keringat yang bercucuran di kening Ikbal. Seperti biasa, pasangan ini selalu manis waktu berinteraksi.
"Beruntung banget Ikbal jadi pacar Febby. Pacarnya perhatian banget" Bisma, membuang nafas kasar menjadi salah satu penonton atas kemesraan pasangan ini.
Zayd terkekeh"Hahaah, sudahlah. Hatimu akan semakin meronta-ronta kalau terus melihat kemesraan mereka." Sebagai lelaki yang pernah dekat dengan Febby, Zayd memiliki hati yang sangat besar, merelakan Febby bersama Ikbal yang notabenenya sama-sama sahabatnya.
"Ya, selama masih ada sahabat jomblo, aku nggak keberatan. Setidaknya kalau mereka sibuk pacaran masih ada kamu yang bisa menghabiskan waktu denganku."
Menyerngitkan kening, sumpah Zayd geli banget mendengar ucapan Bisma"Kalau begitu mulai sekarang kamu harus menjaga jarak denganku!."
__ADS_1
Bisma memanyunkan bibir, bahkan dengan sesama lelaki pun dirinya mendapat penolakan, apalagi dengan para gadis. Ckckckck!!.
Kembali pada mereka yang berada di tepi lapangan. Ikbal menarik Febby untuk duduk di sampingnya. Lagi-lagi semiliar angin menggoyangkan anak rambut para gadis, kali ini rambut Febby yang terikat separuh ke belakang terlihat sedikit berantakan.
Sentuhan lembut jemari Ikbal saat merapikan rambut Febby, membuat sang kekasih tersenyum manis.
Rivan hendak membantu merapikan rambut Nari, namun dengan cepat tangannya mendapat serangan dari Nari"Sehelai saja kamu memegang rambutku, kupastikan jari jemarimu bakal rontok."
"Wow Non!!. Kamu sadis banget. Kamu lupa kalau dulu kita nyaris menikah?!."
"Rivan!. Jangan ungkit masalah itu!. Aku mendadak pengen amnesia kalau mengingat kejadian itu. Hanya karena tergoda bolos denganmu aku nyaris menjadi istrimu, hupffhhh!!."
"Heh sebenarnya itu tergantung kamunya. Kalau kamu kuat menahan godaan, hari itu kita nggak akan pergi ke pantai kan."
"Ya...karena kamu setannya, imanku nggak kuat menahan godaan!" melipat kedua tangan di dada, Nari nggak mau kalah berdebat dengan Rivan.
Kedatangan Hendro membuat Rivan memberengut, demi Neptunus!! Hendro tuh sok jadi pahlwan kesiangan buat Nari.
"Kenapa nih?" ujar Hendro berlagak galak.
Sambil menyugar rambut"Menyebalkan!! aku dari tadi membahas masalah Fay dan Arin, kenapa kita membahas masalah lain. Dan kamu bocah tiang listrik, aku nggak jahil sama Nari, ngapain kamu ke sini. Heran, hobi banget jadi pahlawan kesiangan?" bola mata bulat itu semakin membulat menyambut kedatangan Hendro.
"Kamu aman Nar?" ucapan Rivan seperti angin lalu di telinga Hendro, gimana nggak kesel si Rivan kan.
"Aman. Kalau dia berani lebih galak dari aku, aku pasti bakal botak menahun dia."
Sontak Rivan memegangi rambutnya, dengan lirikan tajam pada Nari.
__ADS_1
Ikbal terkekeh, nggak bisa dilupakan gimana sadisnya Nari menjambak rambut Rivan waktu dulu-dulu itu.
"Ayolah!!. Kalian terlalu santai di tengah kisruh hubungan sahabat kita. Arin kelihatan lebih banyak menghabiskan waktu sama Yuwen, dan Fay.rsama Ayaka. Sedangkan kita semua tau mereka sudah bertunangan!!." huhuhu, Rivan berteriak membuat mereka semua terdiam.
"Kenapa kamu yang repot?" Hendro bertanya dengan alis beradu"Mereka kelihatan bahagia dengan pasangan baru masing-masing."
"Hei bocah!!. Itu artinya mereka selingkuh!."
"Terus kenapa kalau selingkuh? Bukannya mereka sama-sama selingkuh" Ikbal menimpali. Sejujurnya dia nggak suka ikut campur dalam urusan orang lain, apalagi hubungan Fay dan Arin adalah urusan keluarga mereka.
"Hubungan mereka terjadi karena perjodohan para orang tua. Fay bukan nggak di kenal orang banyak, dia seorang influence terkenal. Kabar kedekatannya dengan Ayaka sudah tersebar di dunia maya. Mustahil kalau keluarga mereka nggak tau." Giliran Nari yang bicara. Dia bukannya nggak tau alasan Arin mendekati Yuwen, sebab pemuda itu membuatnya nyaman. Hati yang patah karena Fay seolah terobati, setidaknya pas sama Yuwen dia melupakan sejenak rasa sakit hatinya.
"Tapi kan mereka sudah dijodohkan!" seru tertahan Rivan, sebab Febby langsung menginjak kakinya saat hendak kembali berteriak.
"Kamu repot sendiri, Rivan!" Febby memelotot.
"Kalian juga pernah dijodohkan" jemari Ikbal menunjuk Rivan dan Nari bergantian. Lekas jemari itu ditarik kembali, soalnya Nari melirik tajam ke arah Ikbal.
"Aku membenci perselingkuhan" ujar Rivan lagi.
"Di dunia ini, siapa yang menyukai perselingkuhan?. Tapi kembali lagi, ini urusan mereka."Rivan meninju lengan Hendro, si bungsu dalam geng mereka yang isi kepalanya seperti orang dewasa.
Sementara itu di tempat lain. Arin terlihat sedang bersama Yuwen. Usai latihan di markas mereka, Yuwen mengajak Arin untuk jalan-jalan sore. Sebenarnya Yuwen putra dari keluarga kaya, hanya saja dia lebih suka bepergian dengan motor besarnya. Dan ternyata Arin nggak keberatan sama hal itu. Ya, sangat nggak di sangka pertemuan malam itu membuat mereka menjadi teman dekat. Sebagai calon Pro player, keseharian Yuwen tentu sangat sibuk. Namun meski begitu dia selalu ada untuk Arin, sedangkan Fay yang merasa dijauhi Arin terkesan enggan untuk membujuknya dan terlihat menerima kehadiran Ayaka di dekatnya. Di sekolah Ayaka selalu berada di dekat Fay, kalau sudah begitu gimana hati Arin nggak makin kesal. Melihat hubungan yang semakin memanas, para sahabat menduga ini adalah detik-detik terakhir dalam hubungan mereka.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.