
Cinta, bahkan sangat cinta namun terhalang oleh gengsi. Kabar kedekatan Yuwen dan Arin semakin merebak dan hal ini
menyulut emosi Fay. Pemuda ini sudah nggak bisa menahan diri, dia pun bergegas mencari Arin. Telepon yang masih tak bisa membuat mereka terhubung, maka Fay mendatangi kediaman sang kekasih. Arin mendengar kabar kedatangan Fay dari seorang pekerja di kedai yang mengantarkan makanan ke kamarnya, gadis itu bergegas mengunci pintu kamar.
Berpapasan dengan sang pekerja, Fay menanyakan Arin. Dan memang benar, Arin sedang berada di kamarnya. Sebelum naik ke kediaman sang kekasih, Fay sudah meminta izin kepada kedua orang tua Arin. Dua orang tua ini sangat tau masalah yang sedang mereka hadapi, bukannya membantu menyelesaikan masalah itu, mereka membiarkan Fay dan Arin untuk mencari jalan keluar sendiri.
"Yakin, Yah?" tanya sang istri. Mereka menatap punggung Fay, yang sedang berjalan menuju lantai atas.
"Sejujurnya menikah karena perjodohan sangat menggelikan. Bukan nggak mau membantu mereka menyelesaikan masalah ini, karena sejak awal Arin menolak Fay, Ayah ingin memancing perasaan mereka yang sebenarnya akan satu sama lain."
"Tapi cara mereka mengatasi masalah ini sangat lamban."
"Biarkan saja, toh mereka masih muda. Ayah dan Prana sudah membahas masalah ini. Prana pun sama, sebenarnya nggak mau menjerat mereka dalam tali pernikahan kalau memang nggak ada rasa cinta."
Hanggini nggak bisa berbuat apa-apa, semua keputusan berada di tangan para kepala keluarga. Manda juga sudah membahas masalah anak-anak mereka. Saat itu Hanggini meminta maaf atas kemunculan gosip di antara Arin dan Yuwen, namun Manda nggak menyalahkan. Sebab meski telah bertunangan, Fay nggak pernah mengungkapkan siapa kekasihnya di hadapan publik, dirinya justru di haruskan mengaku masih sendiri.
Megetuk pintu seraya memegang gagang pintu, Fay menyadari gadis itu masih menghindarinya.
"Arin, buka pintunya."
Arin hanya diam.
"Arina....."
Gadis itu masih memilih diam.
Suara gagang pintu yang memaksa untuk di buka, Arin tetap nggak bersuara di dalam sana.
"Arin, aku tau kamu ada di dalam!" sedikit meninggi. Sudut bibir Arin bergetar.
"Pergilah Fay. Aku sibuk." Setelah sekian lama, akhirnya Fay mendengar Arin menyebut namanya. Ada perasaan nyaman saat mendengar suara gadis ini lagi, sebab di lain waktu Arin begitu enggan bicara dengannya. Saat sedang berbicara dengan para sahabatnya Arin akan langsung diam ketika Fay ikut bergabung.
"Enggak. Aku akan menunggu sampai kamu nggak sibuk lagi."
Haish!! beginilah Fay, seorang pemaksa. Arin sedang bersiap hendak bertemu dengan Yuwen, mereka ada janji temu untuk membeli alat elektronik yang di butuhkan Yuwen saat berlatih.
__ADS_1
Jam temu mereka sudah hampir tiba, dan kebetulan saat itu Yuwen menelepon Arin.
"Tunggu di depan saja. Sebentar lagi aku akan turun."
Sejatinya meski bukan kekasih, Yuwen sangat patuh pada perkataan Arin. Dia bahkan tak turun dari motornya saat menunggu gadis itu keluar.
Sementara Fay lekas menyusul langkah Arin, sejak tadi suasana sepi rupanya Fay masih di sana. Duduk di sebuah sofa tunggal, pada sudut buta kediaman Arin.
"Aish!! kamu belum pulang!!."
"Aku sudah bilang akan menunggu."
"Pergilah!! aku mau pergi."
"Dengan siapa?."
Lidah Arin tercekat, rasanya nggak tega mengatakan dirinya akan pergi dengan Yuwen. Ini memang bukan kali pertama dia menghabiskan waktu bersama Yuwen, tapi saat mereka bersama nggak ada Fay bersama mereka. Sekarang haruskah Fay melihat mereka secara nyata?.
Akh!! masa bodoh!!. Bagaimana dengan Ayaka yang secara terang-terangan menempel seperti benalu padanya saat di sekolah? dan Fay membiarkannya. Bagaimana dengan Rika yang lekas mendekati Fay saat Ayaka lengah? dan saat di dekati Rika pun Fay nggak menolak!!.
Sembari menuruni tangga, langkah dua anak muda ini saling berkejaran. Fay mempercepat langkah setelah mendengar nama Yuwen di sebut. Ingin rasanya membungkam mulut Arin yang lancang menyebut nama lelaki lain, di depan nya pula.
"Ck!! sekali lagi kamu sebut namanya aku nggak segan untuk mencium mu dengan ganas."
Langkah Arin terhenti, sepasang manik Indah itu menatap tajam ke arah Fay"Seganas kamu mencium Ayaka!!!." Bergetar suara tertahan Arin, menunjukkan betapa marahnya dia mengingat hal itu.
Fay kembali kesulitan menelan saliva, lagi-lagi dirinya membuat kesalahan.
"Fay yang bodoh!! sekali kamu berbuat salah maka kesalahan itu akan terus diungkit selama sisa hidup mu." Sang hati merutuki diri sendiri. Andai waktu itu....
"Ayolah Arin. Lupakan kejadian itu. Itu sudah sangat lama. Sekarang kita bahwa sedang mempersiapkan diri untuk mendaftar kuliah."
"Lupa? melupakan hal itu?. Silahkan bermimpi!" sentak sang gadis.
Fay kembali hendak mengejar langkah Arin. Namun gadis ini lekas berbalik hingga tubuh mereka hampir bertabrakan.
__ADS_1
"Berhenti Fay, aku sedang muak denganmu!."
"Kamu milikku! bagaimana aku bisa diam saja melihat kamu menghabiskan waktu dengan lelaki lain?." Penuh penyesalan, Fay menatap Arin begitu hangat.
"Atas dasar status kita kamu juga milikku, tapi tindakan mu nggak mencerminkan milik siapa dirimu malam itu. Sekarang aku hanya mengikuti jalan yang kamu buat, bersenang-senang dengan lelaki lain seperti apa yang kamu lakukan bersama Ayaka dan Rika."
Luruh ke lantai"Maafkan aku!! aku janji nggak akan terbawa suasana lagi!."
Arin sempat terhenyak, nggak menyangka Fay akan berlutut di hadapannya. Tak ingin ada orang lain yang melihat Fay seperti itu, Arin meraih tangannya dan membawanya berdiri kembali.
"Terbawa suasana? bagaimana bisa?."
"Aku nggak sengaja terbawa perasaan saat Ayaka mendekatiku. Sungguh aku nggak ada perasaan cinta sedikitpun padanya."
Yuwen yang baik, Yuwen yang selalu ada untuknya. Arin nggak bisa begitu saja melupakan Yuwen dan kembali percaya kepada Fay.
"Seperti kamu yang terbawa perasaan pada Ayaka, aku dan Yuwen pun sama. Terlepas dari hubungan kita, aku nggak akan melarang kamu menjalin hubungan dengan wanita lain, entah itu Ayaka atau Rika. Tapi tolong biarkan aku menjadi dekat dengan Yuwen, aku jauh merasa nyaman dengannya alih-alih saat bersamamu."
Owh!! Neptunus seolah menghantam Bumi. Dunia Fay seolah runtuh, hati yang telah di berikan kepada Arin harus retak karena ulahnya sendiri. Kini gadis ini telah merasakan kenyamanan dengan lelaki lain, kalau sudah begini masihkan dirinya menjadi rumah tempat Arin untuk kembali?.
"Arin, kamu milikku. Kita akan menikah."
"Ya, kamu juga milikku. Usia kita masih terlalu muda untuk menikah. Mahligai itu belum sempat kita huni tapi hatiku telah kamu sakiti. Aku hanya ingin bersenang-senang saat ini, biarkan aku mencari penawar untuk hatiku sendiri."
"Hanya bersenang-senang?. Aku akan tetap menjadi rumah untukmu kembali?."
Arin diam sejenak. Dirinya nggak berani berkata iya, tapi juga nggak bisa berkata tidak sebab mereka telah di jodohkan.
"Saat berkelana tak jarang sang pengelana menemukan rumah dan tinggal di sana. Andai aku melupakan jalan untuk pulang, tolong maafkan aku."
Terhenyak, Fay terdiam saat itu juga. Langkah kepergian Arin pun tak kuasa untuk di kejar. Inikah akhir dari hubungan mereka??.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.