Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Kembali pulang


__ADS_3

"Krieeettt" suara pintu yang dibuka itu terdengar mengiris hati, apakah karena seseorang yang membukanya sedang resah?.


Sedang fokus bermain game, Zaid melirik sekilas ke muara pintu, kemudian netranya kembali menatap layar ponsel.


"Eh?, kau?, bukannya di London?."


"Bruk!" alih-alih menjawab pertanyaan Zaid, Fay menghempaskan diri ke sofa. Tak ayal pemuda ini seperti tisu basah, lepek tak ada menariknya sedikitpun.


Kening Zaid mengerut, tingkah laku Fay cukup menggambarkan bahwa dia pulang tanpa kemenangan.


Tak lagi peduli pada game yang sedang dia mainkan"Mau minum apa?." Tanyanya seraya meletakan ponsel di meja.


"Apa saja, asalkan bisa membuatku tenang."


"Bir?." Zaid bertanya lagi, dan kini dia telah berdiri di samping lemari pendingin.


"Jangan, aku hanya singgah sebentar di sini. Aku bisa di oven wanita tercantik di rumah kalau kedapatan mabuk."


Zaid terkekeh, sehingga sepasang lesung pipinya terlihat jelas"Ups! aku lupa kau anak baik dan penurut di mata tante Manda."


Menutup wajahnya dengan bantal, Fay enggan menanggapi ocehan Zaid.


Setelah membiarkan Fay membasuh tenggorokannya dengan sekaleng minuman bersoda, Zaid kini siap menginterogasi sang sahabat.


"Bagaimana?. Jangan katakan kau memang pulang tanpa apa-apa."


Menyugar rambutnya kasar"Aku tak menyangka, sekali kekeliruan itu membuatku sangat dibenci Arin."


"Setitik nila memang mampu merusak susu sebelanga, seharusnya sejak awal kau sadar akan hal itu."


"Aku khilaf."


"Hentikan alasan itu Fay! aku pun muak mendengar alasan itu, klasik dan membosankan!." Hardik Zaid. Seperti mewakili kekesalan dalam diri Arin, ia menolak alasan yang terlontar dari mulut Fay.


Lagi dan lagi, penolakan atas alasan itu dia dapatkan dari orang lain, bukan hanya Arin. Selain Zaid, sahabatnya yang lain pun menolak alasan itu, meski awalnya mereka sempat memaklumi.


"Di depan mata, tipokan!" ujar Nari diawal-awal tragedi terjadi.


"Andai itu Kai, aku yang sebucin ini tentu akan melarikan diri sejauh mungkin, meninggalkan dia meski aku pun bisa mati tersiksa."


"Hanya sekali" ujar Ikbal menyela ocehan Nari.


"Sekali akan menjadi dua kali, tiga kali, empat kali dan seterusnya. Sampai tak terhingga" Febby lekas bersuara, menyuarakan ketidak setujuannya atas ucapan sang kekasih.


Yah, jangan lupakan bahwa para wanita adalah ras tercantik di muka bumi, juga terkuat. Sejak saat itu para pemuda yang awalnya berada di pihak Fay berubah haluan, menjadi pro kepada Arin.

__ADS_1


Kembali pada Zaid dan Fay di bengkel. Suara kriuk dari perut Fay menandakan dia kelaparan. Zaid cukup perhatian, dia memesan makanan secara online untuk sang sahabat, alih-alih menyuruhnya untuk pulang dan menikmati masakan Manda yang nikmat itu.


"Makanlah, aku yakin kau tak ingin pulang ke rumah dalam keadaan menyedihkan."


Logo pada kemasan makanan online itu membuat dua bola mata Fay memerah"Apa yang harus aku katakan pada Mamaku?. Dia sangat berharap aku pulang bersama Arin."


Sengaja memesan makanan Manda, Zaid menduga kegagalan Fay akan mendapatkan hukuman dari Manda, dengan tidak memasak untuknya. Sedangkan Fay sangat merindukan masakan sang Mama.


"Makan saja dulu, sambil kita pikirkan cara menyampaikan kegagalan ini pada tante Manda."


"Kriukkk" perutnya menjerit lagi.


"Hupffhh! oke. Aku akan makan dulu, masalah Mama akan kuhadapi setelah ini" ujarnya.


Sedang menikmati sarapan yang kesiangan, jantung Fay dibuat terkejut bukan kepalang. Kehadiran Jung di tempat itu membuatnya hampir menyemburkan apa yang sedang dia kunyah.


"Uhuk uhuk!!" tersedak, tentu saja.


Fay meninggalkan tanah air tanpa mengabari Jung, selaku Ceo dari J-And management. Kalau bukan Ikbal yang mengatakan kepegian Fay keluar negeri, entah kemana Jung harus mencari pemuda satu ini.


"Hebat! baru sebulan masuk agensiku sudah bertingkah. Kalau bukan karena permainan Om Prana, aku tak sudi mengurusi artis modal tampang sepertimu." Setumpuk barang endorse hadir di hadapan Fay.


"Cepat lakukan tugasmu, dan jangan pulang sebelum kau menyelesaikan syuting dadakan hari ini."


"Seharusnya ini tugas manajermu, dan sekarang aku yang turun tangan!" gerutu Jung lagi.


"Besok Bang, Fay janji akan bekerja dengan sepenuh hati."


"Sepenuh hati gundulmu, ini sudah sangat terlambat, jangan membuat kepalaku semakin pusing. Jangan egois Fay, kau menyulitkan orang yang bekerja denganmu!."


Fay tau kemana arah pembicaran Jung, tentu pada manajernya. Demi menyusul Arin dia pergi begitu saja, dan meninggalkan tanggung jawab yang begitu besar. Bahkan yang Fay dengar dari Ikbal, sang manajer sedang sakit sekarang, mungkin karena beban pikiran.


Menelan saliva"Setelah ini aku akan langsung pulang, dan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."


"Cih" Jung berdecih melirik Fay dengan ekor matanya.


"Dosa apa yang kulakukan di masa lalu, hingga terjebak di antara para bocah seperti kalian."


Lelaki ini melirik jam di tangan"Aku akan memantau pekerjaanmu nanti malam. Kalau tidak ada aktivitas pekerjaan di Instamu, aku pastikan kau akan kehilangan semua rambutmu besok!!."


Jung pergi setelah melayangkan ancaman, Zaid sejak tadi hanya diam dan kini barulah dia bicara"Kupikir, akan lebih baik kalau dia tetap menjadi dosen."


"Sayangnya dia lebih tertarik menjadi Ceo sekarang." Fay menanggapi.


Sementara itu di belahan bumi yang lain.

__ADS_1


Secarik kertas yang ditinggalkan Fay membuat Arin merosot ke lantai. Dalam surat itu Fay menuliskan banyak kata maaf, tentang dirinya yang terus memaksa Arin untuk kembali seperti dulu. Tentang kesalahannya yang sangat mengubah jalan cinta mereka, Fay juga banyak meminta maaf akan hal itu. Tak lagi memaksa, itulah yang akhirnya Fay katakan. Untuk sekarang dia akan kembali ke tanah air, namun dilain waktu dia akan kembali menyambanginya.


"Cuaca di sana sangat menyiksaku, dan aku belum siap mati sebelum hubungan kita kembali baik. Arinku tersayang, maafkan aku yang tak akan bisa melepasmu. Kembalilah saat kau memang ingin kembali, tapi jangan larang aku untuk datang padamu di musim hangat. Katakanlah aku setengah putus asa saat ini dalam membujukmu, tapi tenang saja aku tak akan menyerah. Bahkan, andai kau berniat menjalin hubungan dengan Yuwen demi membalas perlakuanku, aku akan merelakannya asal jangan kau putuskan aku. Ingatlah untuk selalu memakai pakaian tebal, aku sangat tau sakitnya kedinginan dan aku tak mau kau merasakan itu."


"Aku hanya ingin melihat cincin itu tersemat di jarimu, kalau kau merasa keberatan lepaskan saja kembali. Tak mengapa hanya kau jadikan pengganti liontin, asalkan selalu bersamamu." Netra gadis ini menatap jari manisnya, dia baru sadar bahwa cincin itu telah berada di sana.


"Ternyata itu bukan mimpi" bisik hati Arin. Dia merasakan kecupan hangat di kening tadi malam, mungkin waktu itulah Fay memasang kembali cincin pertunangan mereka di jarinya sebelum dia pergi.


Memandang Arin yang kini tengah menyeka air mata, Yuwen menghela nafas panjang.


"Hupffhh, kalau memang tak lagi cinta kenapa ada air mata?. Di awal pertemuan kita aku bahkan pernah menyatakan cinta padamu, tapi kau menolakku Arin."


"Air mata sialan!!." Gerutu Arin, dia berkata begitu karena ocehan Yuwen.


"Dia cinta matimu. Tak seharusnya kau menutup pintu maaf."


"Diam Yuwen!!."


Mengambil mantelnya di dekat Arin"Kau sangat mencintainya! sadarlah Arin. Jangan membohongi harimu lagi!."


"Tidak! aku hanya tersentuh dengan kata-katanya."


Ikut duduk di lantai"Dasar wanita. Akui saja!. Coba berkaca padaku, saat kau menolak cintaku, aku membuka hati pada gadis lain dan sekarang aku bahagia. Tak sepertimu, lain di mulut lain pula di hati."


"Oh! jadi kau tak menyesal atas penolakanku!."


"Tentu saja!. Wanita di dunia ini bukan kau saja. Seharusnya kalau memang tak cinta kau mencari tambatan hati yang lain sepertiku, bukan meratapi nasib hingga saling menyakiti seperti ini."


Arin menatap Yuwen nyalang, si bawel di sebelahnya ini semakin cerewet sejak datang kemari"Yuwen kau menyebalkan!."


Alih-alih peduli dengan perkataan Arin, Yuwen bersiap beranjak dari sana"Akh! aku sungguh kasihan dengan Fay, datang dengan hati yang patah, pulang pun dengan hati yang patah."


"Bruk!" sepertinya bantal sofa adalah senjata andalan Arin untuk menimpuk Yuwen.


"Hais! beruntung aku gagal menjadi kekasihmu, kau kasar sekali nona Arin!."


"Ck! pergi Yuwen. Kau bawel!."


"Ya, aku memang akan pergi. Apa kau tau, kekasihku sudah menunggu untuk latihan bersama. Hahaha, liburan kami akan semakin indah, sebab akan kami habiskan bersama."


Gegas berdiri dan mendorong Yuwen keluar"Hus!! pergi sana. Hampir setiap hari bertemu apa kau tak bosan."


"Cinta tak mengenal kata bosan!." Seru Yuwen dari balik pintu yang telah ditutup Arin.


Kesalnya! sejak resmi berpacaran dengan rekan satu timnya, Yuwen selalu pamer padanya. Akh!! kalau begini Arin jadi benar-benar iri padanya.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2