Couple Anti Romantic

Couple Anti Romantic
Gengsi


__ADS_3

Wajah masam Fay, di pandangi Zaid dengan seringai tawa. Zaid adalah salah satu saksi ketika Fay mengungkapkan penolakannya terhadap Arin, saat itu dengan semangat menggebu Fay berani bertaruh dirinya tak akan jatuh hati kepada Arin yang galak.


Saat itu di hadapan Ikbal, Kevin, Zaid dan Udin. Fay dengan yakin akan membujuk orang tuanya untuk membatalkan perjodohan mereka. Memandang Arin dengan kacamata seorang teman saja, sesungguhnya Arin adalah seorang gadis yang cantik jelita. Memiliki tinggi 1'64 saja, hanya menang satu senti dari tinggi badan Nari, dapat di pastikan Arin cukup mungil bukan.


Awalnya Fay menjadikan tinggi badan yang mini itu sebagai senjata untuk meledek Arin, namun dalam kesendiriannya Fay tersenyum membayangkan saat Arin berlari di tengah lapangan. Saat itu jam pelajaran olah raga, para cewek terlambat datang ke lapangan sehingga mendapat hukuman lari tiga putaran"Seperti kura-kura, lamban dan selalu tersandung" begitulah suara hati Fay kala itu.


Untuk yang kesekian kalinya Arin terjatuh, rasa iba tiba-tiba singgah pada hatinya. Bak seorang pahlawan, Fay menyongsong Arin dan menggendongnya di punggung. Sontak hal ini membuat mereka mendapat sorak sorai pada teman-teman.


"Pak Bowo, mereka pacaran tuh."


"Mereka sudah bertunangan" ups!! ternyata Pak Bowo mengetahui hal ini. Dan dari Pak Bowo itulah kabar hubungan mereka bermula, tersebar seantero sekolahan. Lain halnya dengan para sahabat, mereka semua sudah tau sejak awal.


Prok! prok! prok!, tepuk tangan menyambut kedatangan dua remaja ini.


"Katanya nggak mau di ketahui orang banyak, dengan begini mereka akan mempertanyakan hubungan kita!" hardik Arin setengah berbisik.


"Bukannya bilang terimakasih sudah di bantuin. Aku memang nggak punya hati buat mencintai kamu, tapi aku masih punya hati yang kasihan melihat kamu jatuh berkali-kali. Lagian lari begitu saja lemah."


"Tadi pagi kakiku terkilir beg0!!."


Seraya memasukan kedua tangan ke saku celana"Dasar lamban, penyakit kok di pungut!."


Grab! Arin menarik kerah baju Fay, sontak Fay tersedak. Pak Bowo lekas meredakan percikan pertikaian itu, beruntunglah seorang Fay kala itu.


"Dia sudah menolong kamu, kok di jambak."


Arin menunduk, nggak bisa menjawab pertanyaan Pak Bowo.


"Tau nih, bilang terimakasih kek sama pahlawan ganteng ini" Fay yang songong pada setiap kesempatan, Pak Bowo menggelengkan kepala, hal ini sudah biasa terjadi di hadapannya.


"Pahlawan dari mana? yang ada kamu pahlawan kesiangan. Kalau mau bantu kenapa nggak dari tadi pertama kali aku jatuh? dasar kelinci songong!."


"Arin, dia calon suami kamu lho."


"Buset Pak!!" hilang sudah sopan dan santun Arin mendengar perkataan Pak Bowo. Ini pasti para orang tua yang mengungkap hubungan di antara mereka. Arin pikir Pak Bowo bukanlah orang dewasa yang suka meledek anak muda ternyata dia sama recehnya dengan kebanyakan murid-murid di sini, somplak!.

__ADS_1


Mengingat hal itu, hati seorang Fay terasa semakin terhimpit. Sejak lulus dari sekolah menengah atas, pertemuan di antara mereka semakin jarang terjadi. Sejatinya meski galak Arin ngangenin.


Tiba-tiba Fay merindukan masa-masa di sekolah dulu, Arin yang galak namun perhatian kepadanya.


"Halah, jangan langsung bilang nggak suka. Aku sudah pernah merasakan perasaan enggan itu, eh sekarang malah jadian sama Greta" Fay tercenung teringat perkataan Udin kala itu.


"Tau nih, jangan asal ngomong. Arin cantik banget lho, putih bening kaya kaca, kok di bilang nggak menarik" giliran Kevin yang bersuara.


Sembari menarik kursi, saat itu mereka berada di ujung lorong, sudut buntu tempat mereka sering nongkrong di area sekolah"Ini masalah hati bro, tubuh kita hanyalah wadah, sementara kuasa tetap di tangan sang maha pencipta."


Ucapan Zaid membuat mereka melongo, lelaki berlesung pipi ini kerap bersikap dewasa akhir-akhir ini.


"Kayak orang tua" seloroh Fay.


"Di bilangin malah sewot."


"Enggak sewot, ini masalah hati dan aku sangat yakin, aku nggak akan menyukai dia."


Kevin mengeluarkan sekotak rokok"Sudah deh ngomong nggak jelasnya, mending udud dulu kita." Sepasang alisnya bermain turun dan naik. Minta di tabok kali ya mukanya cowok yang satu ini.


Mari kita tinggalkan beberapa kenangan saat masih duduk di bangku SMA itu, tak ayal sekarang Fay meratapi nasib karena hati yang tengah merindu. Entah kemana hilangnya Fay yang begitu congkak berkata nggak akan jatuh cinta kepada Arin, entah kemana hilangnya Fay yang berani bertaruh nggak akan merasakan rindu kepada Arin. Pada kenyataannya, untuk bernafas pun rasanya sulit, karena rindu telah berhasil memangkas semangat di dalam dirinya.


"Arin lagi?" sekaleng minuman bersoda di sodorkan Zaid kepadanya.


Menerima minuman itu dengan tangan lemah"Hupffhh" hanya helaan nafas yang terdengar.


"Lemah banget, katanya nggak suka, nggak cinta, kok galau."


Melirik Zaid dengan ekor matanya"Cinta hadir karena terbiasa, ah elah!! susah ngomong sama jomblo sejati perihal cinta.


Zaid yang mendapat kata-kata itu dari Fay, mengambil duduk di sofa yang berbeda"Hilih, aku ngomong gini kan karena ocehan kamu dulu. Berani bertaruh nggak akan suka sama Arin" jemari Zaid bermain menunjuk diri Fay"Lihatlah, sekarang kamu sudah menjadi pasien rumah sakit cinta."


"Ck!! jangan nambahin mumet kepalaku dong. Kamu bicara cinta kayak pernah jatuh cinta aja." Mendengus seperti banteng ketika melihat kain berwarna merah, dengusan itu justru di balas dengan seringai tawa.


"Cih! aku bahkan sudah pernah melepaskan, merelakan, apalagi jatuh cinta!."

__ADS_1


Membulatkan kedua mata, Fay memperbaiki letak duduknya"Kamu pernah di tolak cewek?."


"Hemm kepo kan kamu."


"Aku selalu berbagi ceritaku padamu, giliran kamu dong yang berbagi cerita padaku. Kalau ada masalah jangan di pendam sendiri, nanti sakit liver lho."


Klontang! kaleng yang telah kosong itu melayang dengan indah ke pangkuan Fay, Zaid mengetuk meja.


"Amit-amit jabang pocong! jangan bawa-bawa penyakit kronis!. Lagipula ini bukan masalah kok bagiku, asalkan dia bahagia aku juga ikut bahagia." Berbeda halnya dengan Fay yang jatuh kedalam lubang kesedihan kerena renggangnya hubungan asmara bersama Arin, Zaid lebih memilih menerima kenyataan dan belajar tentang keikhlasan. Belum sempat mengungkapkan rasa cinta, sang gadis telah di miliki lelaki lain. Alih-alih meratapi nasib, melihatnya yang selalu bahagia rasanya sudah cukup bagi Zaid.


"Beneran di tolak ternyata."


"Aku nggak bilang cinta kok. Ingat Fay cinta itu nggak harus memiliki."


Mengerutkan kening, Fay mencoba meresapi arti dari perkataan Zaid"Maksud kamu.... aku relakan saja Arin dengan orang lain?. Oh enggak akan!!. Aku nggak akan melepaskan Arin!."


"Ya elah salah ngomong deh. Aku kan ngomong masalah percintaanku yang kandas sebelum berlayar, masalah kamu mah terserah kamu sendiri. Aku juga nggak setuju kok kalau kalau melepaskan Arin, kamunya bucin begini. Aku khawatir kamu jadi gila karena di tinggal Arin."


"Heh Zaid, aku nggak bucin ya!."


"Oh ya?. Lantas sekarang apa?. Berkaca deh Fay, muka kamu kusut banget kayak baju belum di setrika. Di otak kamu hanya ada Arin, Arin, dan Arin, ngaku aja deh kamu itu lagi bucin-bucinnya sama Arin."


Akh!! Zaid nyebelin!. Merasa apa yang di Katakan Zaid itu benar namun gengsi mengakuinya, Fay memutuskan untuk cabut dari tempat itu.


"Yaahhh merajuk deh. Kayak cewek kamu Fay" seru Zaid.


"Bawel! kamu tuh yang kayak cewek. Ngoceh melulu kayak yang paling ngerti aja masalah cinta!" balas Fay sebelum pergi dari bengkel Zaid.


Senyum kemenangan di wajah Zaid, mengiringi kepergian sang sahabat"Makan tu gengsi!." Desisnya.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2