
Menanggung beban rindu juga menahan diri agar tak datang menghampiri, bayangkan bagaimana tersiksanya seorang Fay saat ini. Demi membuat hati sang kekasih baik-baik saja dia rela mengorbankan hatinya sendiri. Namun jika di tilik dari sumber permasalahan yang bermula dari dirinya, pengorbanan Fay saat ini di rasa tak seberapa.
Egois, mungkinkah kata itu pantas di tujukan pada Arin? karena telah sangat lama pergi menjauh dari Fay karena memergokinya berkhianat?. Akh!! luka di hati sangat sulit untuk di obati, ketika dirinya meminta berpisah Fay tak bersedia. Jika harus berdekatan hanya akan menambah luka di dada. Arin menghela nafas setiap kali teringat akan Fay.
Cincin di jari manis telah tiada, sudah tak terselip di sana lagi. Berbulan lamanya tak berjumpa apakah telah mengikis rasa cinta di hati Arin?.
"Hei!! jangan melamun!" seorang gadis berkulit putih dengan rambut pirang, datang dan langsung duduk di sebelahnya. Saat ini mereka tengah berada di taman kampus. Lagi dan lagi dirinya melihat Arin hanyut dalam lamunan, tak seperti kebanyakan mahasiswa yang terlihat antusias, sebab liburan semester akan di mulai dan hari ini adalah hari terakhir Arin di kampus.
"Aku nggak melamun. Aku hanya masih mengantuk."
"Kamu begadang lagi?."
Mengangguk kecil, kemudian menyesap minumannya.
"Arin, cobalah konsultasi pada dokter. setiap hari kamu begadang, itu bukan lagi di batas normal."
"Akh! hanya buang-buang waktu."
Gadis itu menarik lengan Arin"Setelah ini aku ada waktu senggang. Bagaimana kalau ku temani kamu ke dokter."
Beradu pandang dengan gadis berambut pirang itu, kerap menimbulkan rasa iri di hari Arin. Bagaimana tidak, gadis ini bernama Amber dan dia memiliki bola mata yang indah. Berwarna Amber pula sama seperti namanya.
"Aku hanya ingin segera pulang dan mendarat di pulau kapuk. Itu saja Amber. Dan terimakasih sudah berniat menemaniku ke dokter."
"Arin...."
"Aku baik-baik saja" senyum tipis terbit di wajah Arin. Setidaknya senyuman itu membuat gadis ini terlihat lebih segar.
"Hemm baiklah" ujarnya mengangguk"Oh ya nanti malam kamu ada waktu? aku mengadakan makan malam perpisahan."
"Bukankah kamu penduduk asli di sini. Acara perpisahan apa yang kamu adakan?."
Kini giliran Amber yang tersenyum"Ya itu benar, aku memang asli orang sini. Tapi aku punya banyak teman yang datang dari berbagai negeri, aku ingin kita berkumpul bersama sebelum kalian pulang untuk liburan semester ini."
__ADS_1
"Ohh..." Arin terlihat mengantupkan bibir kemudian.
"Aku akan datang nanti malam." Ujarnya akhirnya.
Amber sangat senang, sejatinya Arin adalah teman yang sangat di sukainya. Dia gadis yang menarik dan kerap membuatnya nyaman saat bersama sebab dia selalu ceria. Hanya saja akhir-akhir ini Arin sering terlihat melamun.
Hubungan Arin dan Amber terlihat begitu akrab namun tak sekalipun Arin mengaku memiliki kekasih setiap kali Amber menanyakan hal itu.
Bukan hanya Amber yang bertanya, teman-teman yang lainpun pernah bertanya dan Arin menjawab tak memiliki kekasih. Ada satu alasan pertanyaan itu tertuju padanya, sebab aksi Yuwen pada pertandingan musim lalu banyak menyita perhatian orang termasuk media. Kebersamaan Arin dan Yuwen setelah pertandingan membuat banyak orang menduga bahwa mereka sepasang kekasih.
Bukan hanya kebersamaan setelah pertandingan, setiap waktu yang tersisa di sana Yuwen selalu menempel kepada Arin begitu juga dengan Arin. Beruntunglah Yuwen karena menjadi salah satu pemain terbaik, hingga sang pelatih memberikan sisa waktu di sana untuk kebersamaan mereka. Lain Arin lain pula Yuwen. Lelaki ini hanya tersenyum simpul setiap kali di tanya tentang hubungannya bersama Arin.
Setelah bicara dengan Amber, Arin langsung pulang. Di perjalanan dia mendapat pesan dari Febby, seperti biasa sang sahabat memberi kabar tentang Fay. Terlihat sedang duduk menatap senja di tepi pantai. Entah mengapa melihat punggung lelaki itu saja membuat sudut bibirnya terangkat.
"Dia menarik diri lagi." Ujar Febby usai mengirimkan foto Fay yang dia ambil sehari lalu.
"Biarkan saja."
"Sampai kapan kamu membiarkannya?."
Bukan hanya Febby, teman-teman yang lain mulai kasihan dengan Fay. Memang Fay salah tapi ini sudah terlalu lama, masing-masing dari mereka mulai gemas dengan sikap Arin. Apalagi setelah kepergian itu Fay berubah jadi lelaki dingin terhadap lawan jenis, selain sahabat-sahabat perempuannya.
Fay bahkan tega meninggalkan Rika di tengah hujan, saat gadis itu memaksa Fay untuk menerima cintanya.
Fay juga mengabaikan permintaan Ayaka yang hendak pulang selamanya ke Jepang. Dia hanya ingin di antar ke bandara dan berfoto bersama sebelum benar-benar pergi, dan Fay mengabaikannya.
Penyesalan yang membuat Fay tega melakukan hal itu kepada Ayaka dan Rika, namun sayang penyesalan itu selalu datang belakangan. Andai sejak awal dia membentengi diri dari gadis lain, tak kan ada hati yang tinggal begitu lama dalam palung kesedihan seperti hati Arin.
"Kapan kamu pulang?."
Pesan dari Febby tak terbalas. Arin memilih mematikan ponselnya dan fokus pada jalanan. Hari ini dirinya hanya ingin menikmati waktu sendiri. Bukan hanya Amber, teman yang lain ada yang mengajaknya nonton tapi di tolaknya.
......
__ADS_1
Pada hari berikutnya....
"Mau begini terus?" kedatangan Niel membuat Fay terkejut.
"Abang!." Dia lekas menghampiri dan memeluk Niel.
Usai berpelukan ala lelaki, Niel menelisik penampilan Fay. Terlepas dari penampilan Fay yang terlihat santai karena sedang berada di rumah, Niel menyadari berat badan sang Adik berkurang.
"Kamu kurusan Fay."
"Ah! perasaan Abang saja. Fay banyak makan lho sekarang."
Dengan ringan tangan Niel menoyor kening Fay"Bohong!!. Kamu pikir Mamah nggak cerita gimana susahnya menyuruh kamu makan!. Dan itu karena cewek!!."
Mengusap keningnya dan duduk di sofa kembali. Karena Niel menyingung masalah Arin, dia kembali memainkan cincin tunangan mereka yang terasa sedikit longgar. Fay ingat betul dulu cincin itu terasa pas di jarinya, dan sekarang terasa longgar.
"Kok diam?. Mumpung Abang ada di sini, cerita dong."
"Nggak perlu Fay yang cerita, Mamah pasti sudah cerita semuanya sama Abang."
Ya, itu betul. Hampir setiap hari Manda berkeluh-kesah tentang si bontot ini kepada Niel, dan kedatangan Niel kali ini salah satunya dalam misi membuka mata hati Fay untuk lebih baik menjalani hidup.
"Putus nyambungnya sebuah hubungan itu biasa."
"Enggak! Fay sama Arin nggak putus!!" ck! mendengar kata putus saja membuat hati Fay memanas, dia sangat tak rela kalau harus kehilangan Arin.
"Cinta banget ya?."
"Banget!." Sahutnya masih dengan nada sedikit meninggi.
"Ya sudah!! benahi dirimu dan perjuangkan!!. Jangan diam saja di sini, meratapi nasib hanya akan menambah beban di dada!." Niel balas berseru kepada Fay.
To be continued....
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.