
...*Andai salju pertama ini kita saksikan bersama, betapa rasa dingin itu terasa hangat di tubuhku*...
...........
Mungkin rasanya sudah terlambat untuk memperbaiki tali kasih yang telah rapuh, itu bagi Arin namun tidak bagi Fay. Banyaknya penolakan dari Arin tak menyurutkan semangatnya, bahkan mendatangi negeri yang telah diketahui akan memasuki musim dingin.
Ya, musim dingin. Pada kenyataannya Fay sangat benci dengan musim dingin. Teringat di waktu kecil dirinya hanya bisa menatap gundukan salju itu dari dalam villa milik teman sang Papah, karena alergi yang dia derita. Meski memakai pakaian tebal, efek dari rasa dingin itu tetap berimbas besar pada tubuhnya, dirinya akan terus bersin hingga hidungnya memerah seperti badut. Dan ketika Fay memaksakan diri untuk terus bermain salju maka akan timbul buih-buih kecil pada dua bola matanya, itu sangat menyakitkan. Akh! padahal Fay sangat ingin bermain salju seperti orang lain.
"Duhai salju, sebentar saja aku ingin menyentuh kalian" ujarnya kala itu, ketika salju menyapanya di tepi kolam air mancur. Wajah yang semula terlihat muram perlahan berseri, terbayang betapa Fay menyukai benda putih dengan hawa dingin itu.
Sadar akan tubuhnya yang rentan cuaca dingin, Fay berniat beranjak. Namun...disinilah Fay sekarang. Cinta itu memang menggila, rasa ingin meluluhkan hati sang pujaan hati mengikis akal sehat Fay. Bertahan di bawah salju demi mencari perhatian Arin. Ck!! dasar manusia dungu!!.
Jemari besar itu di genggamnya sangat erat, dingin sekali rasanya. Pertahanan Arin seketika runtuh, dia menangis dan memeluk tubuh Fay yang meringkuk di atas kasur tunggal Bibi petugas kepersihan.
"Dingin....." lirihnya membalas genggaman tangan Arin, masih dengan kedua mata terpejam.
Gegas Arin menyeka air mata, dirinya tak ingin Fay melihat air matanya"Ya aku sangat tau, kita akan segera ke ruma sakit."
"Jangan, tak perlu. Aku hanya ingin tinggal denganmu."
"Ya, tentu denganku tapi di rumah sakit."
Pemilik mata sendu itu menatap lekat sang kekasih, Arin dapat melihat bola mata Fay mulai memerah"Kamu bisa berjalan? kita ke rumah sakit Sekarang."
"Aku baik-baik saja asalkan hangat." Bersikeras untuk tinggal di sana, sepertinya kehadiran Arin sudah cukup memberikan kehangatan bagi Fay. Dirinya yang semula gemetar kini mulai tenang, hanya karena tangan mereka saling bertautan.
"Dungu! kamu ingin mati di sini!?" hardik Arin, dan suara yang mulai meninggi itu membuat Bibi petugas kebersihan mendekati mereka. Semula wanita ini hanya melihat dari ambang pintu, seolah tak ingin ikut campur akan asam manisnya cinta anak muda.
Kekhawatiran itu terlihat jelas di wajah Arin, entah khawatir karena dirinya yang telah sakit, atau khawatir akan di marahi kedua orang tuanya karena kejadian ini. Karena Fay bukanlah lelaki yang mudah pundung, dugaan pertamalah yang di yakininya saat ini.
__ADS_1
"Nona, kalau dia menolak ke rumah sakit, akan lebih baik segera ajak dia kembali ke apartemenmu. Penghangat di ruangan ini rusak."
Sedikit senyum tersungging di wajah Fay, dalam ketidak berdayaan itu akal bulusnya masih bekerja dengan baik. Mengulurkan kedua tangan pada Arin"Betul kata Bibi, ajak aku kembali ke apartemenmu."
Ash!! kalau saja dia sedang tidak sakit, Arin pasti sudah menggeplak keningnya.
Bibi petugas kebersihan melirik jam di dinding"Maaf, Bibi harus segera pulang. Mungkin sekarang suamiku sudah menunggu di depan." Bibi ini tersenyum ramah pada mereka.
menerima ujung jari telunjuk Fay"Iya Bi, aku akan membawanya ke tempatku. Terimakasih sudah memungut kelinci raksasa ini."
"Hupffhh" Fay menahan tawa, Arin memang selalu memanggilnya dengan sebutan itu kalau sedang marah namun sayang padanya. Hemm, sudah lama sebutan itu tak dia dengar, rasanya perasaan hangat sangat melingkupi sang hati di dalam sana.
Hidungnya terlihat merah seperti badut, itu pasti sebab butuh waktu lama untuk menetralkan kembali alergi yang datang menyerangnya. Sejauh ini apabila penyakit itu muncul, dokter hanya memberikan obat pereda nyeri dan salep untuk mengolesi matanya, kemudian memintanya untuk menghangatkan diri. Yah, seperti itulah sakit yang di derita Fay, sebagai penderita alergi dingin dirinya sudah mencoba mencari obat yang mujarab, namun sayang obatnya hanyalah sebuah kehangatan pada dirinya. Itu saja.
Setelah mengucapkan berkali rasa terimakasih, tertatih Fay di bantu Arin untuk kembali ke kediamannya. Akh! haruskah Fay berterimakasih juga kepada musim dingin ini? sebab karenanya Arin menerima kembali dirinya.
Merawat seorang pria pesakitan, Arin tak menyangka liburannya akan menjadi seorang perawat. Takut mendapat amukan dari para orang tua, Arin bertekad untuk merawat Fay.
"Baunya enak. Bolehkah aku di suapi?."
Menatap Fay nyalang, bola mata Arin seperti hendak melompat keluar.
"Aku masih menggigil. Bagaimana kalau sendok yang ku pegang terjatuh dan mengotori baju ini? kamu yang akan mencucinya bukan?."
"Fay!! aku sudah berusaha membuat minuman ini, dan kamu meminta lebih dariku? kau bahkan sudah...." jemari Arin meremat selimut, Fay dapat merasakan sehelai kain tebal itu sedikit tertarik dari tubuhnya. Arin teringat kejadian di malam itu, dan dadanya seketika terasa sesak.
Bahkan...bahkan...
Kata itu terus menggema di dalam kepala Fay, dan dia sangat tau kemana kata itu tertuju.
__ADS_1
"Maaf."
"Sudahlah!!" sambar Arin"Aku lelah, dan aku yakin kamu juga lelah. Tidurlah segera." Memunggungi Fay, Arin mengambil selimut baru dari dalam lemari pakaian.
"Untuk apa selimut itu?."
Alih-alih menjawab, Arin berbalik dan menatap Fay. Dirinya memeluk erat selimut itu seraya berjalan mendekati Fay. Lagi dan lagi pemuda ini tersenyum, namun sejurus kemudian senyumnya memudar.
"Aku akan tidur di sofa" ujar Arin menarik bantal dan guling. Sementara Fay masih mendapatkan jatah bantal dan guling lainnya, ya... setidaknya dia tidak sendirian di atas ranjang empuk itu meski bukan Arin yang menemaninya.
"Arin."
Hupffhh!! helaan nafas jengah terdengar jelas. Juga dengan malas Arin kembali menatap Fay"Ayolah Fay, kamu sudah makan dan minum obat. Aku juga sudah mengupaskan buah untukmu, dan sekarang aku bahkan membuat minuman itu agar tubuhmu tetap hangat menjelang tidur. Ini sudah larut malam dan aku benar-benar lelah, biarkan aku istirahat malam ini."
"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih" si dungu ini tersenyum dengan polosnya, tak nampak dirinya pernah menorehkan luka di hati Arin.
"Dan maaf, sekeras apapun kamu menolak ku, aku akan tetap bertahan untukmu." Lanjut Fay.
Selangkah maju mendekati Fay lagi"Dengan menyiksa dirimu sendiri? dengan menikmati hujan salju itu?."
"Andai aku tau cara itu akan membuatmu bertahan denganku, aku akan melakukannya sejak dulu."
Hingga kesulitan menelan saliva, Arin melihat kesungguhan dalam bola mata Fay"Oh Tuhan, apakah dia rela mati untukku?" bisik sang hati.
"Hentikan omong kosong itu, tidurlah atau aku akan pergi ke tempat lain."
Brak!!. Arin segera pergi dan menutup pintu dengan kasar.
To be continued....
__ADS_1
terimakasih atas kunjungan, maaf jika ada typo.
Salam anak Borneo.