
Manda sedang melakukan siaran langsung ketika Fay datang. Wanita yang selalu sibuk di dunia maya ini langsung menjerit, mendapati putranya pulang tanpa memberi tahu dulu.
Kelebat Fay dalam siaran langsung itu membuat rasa penasaran netizen bertambah, mereka meminta Manda membawa putranya ke depan kamera.
"Maaf ya netizen budiman yang cantik dan tampan, aku baru kembali dan lelah sekali. Besok aku janji akan menyapa kalian melalui siaran langsung di instaku." Menyapa mereka sebentar, sikap manis Fay membuat mereka melepaskannya begitu saja. Bahkan, sempat-sempatnya melontarkan pujian atas wajah tampannya.
"Kamu sudah makan?."
"Sudah Ma."
"Di pesawat? di London? dengan siapa? oh ya, mana menantuku?" untuk pertanyaan terakhir itu Manda berbisik dekat sekali di telinga Fay, takut didengar mereka yang menonton siaran langsungnya.
Untuk beberapa detik Fay terdiam, memacu otaknya untuk memberikan jawaban tentang Arin pada Manda. Akh! sayangnya Fay bingung harus menjawab seperti apa.
"Fay mengantuk, Ma." Akhirnya Fay hanya bisa berkelit.
Wajah lelah memang tergambar jelas, dan Manda tak ingin menahan putranya yang hendak beristirahat.
"Oke baiklah. Kamarmu selalu dibersihkan, jadi kamu bisa langsung berisitirahat tanpa gangguan pelayan yang bersih-bersih."
"Mama memang hebat, Fay naik dulu ya."
Mengusap punggung sang putra"Hem, baru pulang sudah menggoda Mama. Istirahatlah dulu, tapi ingat kamu berhutang banyak cerita tentang Arin."
"Hem, ya, oke" sahutnya sedikit terpaksa. Setidaknya dia harus bersikap sewajarnya untuk saat ini, demi keselamatan jiwanya.
Hari semakin siang, menyudahi siaran langsungnya, Manda juga ingin beristirahat. Sementara itu hari telah sore di kediaman Arin. Sejak tadi gadis ini sengaja mengintip aktivitas di insta Manda atau Fay menggunakan akun rahasia.Tentang kedatangan Fay, tentu Arin sudah mengetahui hal itu. Melihatnya sekilas saja, telah mampu mengobati resah di dalam dada.
Resah?. Ya, Arin nelangsa sejak kepergian Fay. Rindu di dalam dada menggerogoti jiwa secara brutal, sampai membuatnya sulit bernafas seperti biasanya.
"Cepat kemasi barang-barangmu" bukan Yuwen, tapi Amber yang bicara.
"Untuk apa berkemas-kemas?."
__ADS_1
"Menyusul tuan kelincimu."
"Ck" Arin berdecih. Alih-alih menuruti apa yang dikatakan Amber, dia lebih memilih merebahkan diri di sofa. Sejak menyadari kepergian Fay, Arin seperti kehilangan semangat untuk beraktivitas selain duduk dan rebahan di sana sembari mengutak-atik laptop.
"Duhai Arin, aku baru tahu gengsimu setinggi langit. Sudah jelas cintamu sangat besar padanya, untuk apa menyakiti diri sendiri. Kamu, sangat dicintai lelaki setampan Fay, seharusnya kamu bersyukur."
"Tampan saja tak cukup membuat bahagia." Ujar Arin menarikan jemari di atas keyboard. Membuka tab baru dan memainkan game kartu. Seolah dia sangat fokus dalam permainan itu, hingga ocehan Amber hanya sesekali ditanggapinya. Padahal, otaknya mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Amber.
Amber menemukan kue di dalam lemari pendingin, dan sekarang dia sedang menikmati kue itu"Akh! kamu terlalu pendendam. Maafkanlah kesalahan yang sudah sangat lama itu. Jika itu sebuah buku, pasti debunya sangat banyak karena sudah terlalu lama tak dibuka."
Arin menoleh pada Amber, dan kue yang sedang Amber makan itu olahan Fay. Ck! emosi tersulut dan langsung menyambar kue itu"Dasar Amber!! ini kue untukku, kenapa kamu memakannya!."
"Hei, bukankah biasanya kamu mempersilahkan aku memakan apa saja yang ada di dalam sana?" jari telunjuknya mengarah pada lemari pendingin.
Memberengut menatap bekas sendok di kue itu"Ini dibuat khusus untukku."
Glek! Amber menyadari itu pasti bukan kue sembarangan. Sebenarnya bukan hanya dirinya yang bebas menikmati makanan di dalam lemari pendingin Arin, saat di rumahnya kebebasan itu pun dia berikan kepada Arin. Melihat gelagat sang sahabat, Amber sadar telah melakukan kesalahan.
"Maaf Arin, apa ini kue buatan Fay?. Aku akan memuntahkannya jika kamu mau."
Amber tersenyum"Enak, sangat enak. Apalagi setelah tahu kue ini buatan lelaki tampan, kadar manis dan nikmatnya bertambah berkali-kali lipat."
Melirik Amber dengan sebelah alis terangkat naik"Amber, banggamu berlebihan."
Lekas Amber menggelengkan kepala"No! bukan berlebihan. Memang sudah seharusnya aku merasa bangga seperti ini, kapan lagi aku menikmati kue olahan lelaki setampan Fay?. Eh, kamu tahu tadi malam aku mencari tahu informasi dan foto tuan Niel, dan ternyata dia juga tampan. Walaupun tak setampan kekasihmu itu."
"Kekasih?. Apa aku pernah mengatakan dia kekasihku?."
"Tak perlu pengakuan, cincin di jari sudah memberikan jawaban."
Memberikan sekaleng minuman pada Amber, setelah minuman itu diterimanya Arin menggiring sang sahabat menuju pintu.
"Hei, hei nona kepala batu, kenapa membawaku ke depan pintu?."
__ADS_1
"Ini, bawa tasmu" menyerahkan tas yang tadi di gantung Amber pada ranting kering yang di awetkan. Arin meletakan benda itu di dekat pintu, sebagai tempatnya menggantung topi, jaket, tas, atau kunci.
"Juga mantelmu" tambah Arin lagi.
"Kau mengusirku?!."
Mengangguk yakin"Ya! aku mengusirmu. Dari tadi kamu terus mengoceh, sok bijak, sok tahu tentang cinta padahal kamu sendiri juga pernah kecewa karena lelaki."
Amber melenguh"Owwhh ayolah Arin. Aku masih ingin berada di ruangan hangat."
"Sebentar lagi gelap sebaiknya kamu cepat pulang. Duduk manis di depan perapian ruang tamu rumahmu rasanya lebih nyaman bukan."
"Ari..."
"Hati-hati di jalan, Amber. I love you!, brak!!" suara pintu di tutup menjadi akhir dari perbincangan mereka.
Bibir Amber bergetar"Dasar Arin!! kamu tega mengusirku di cuaca dingin seperti ini!. Awas saja, kalau Fay memerlukan bantuanku lagi maka dengan senang hati aku akan membantunya" menggerutu, Amber juga menendang pintu apartemen Arin.
"Cepat pulang. Bukankah kamu pernah bilang kalau hantu salju kerap muncul di musim dingin." Ternyata Arin masih berada di sana, mengintip Amber melalui lobang kecil di pintu.
"His!! gadis nakal!. Tunggu pembalasanku ya!."
Amber akhirnya pergi, tapi kata gadis itu seperti kupu-kupu yang terus mengitari kepala Arin.
Gadis? mengingat kejadian saat pertama kali Fay datang, kejadian di malam itu, masih pantaskah dirinya disebut gadis?. Tubuh Arin merosot ke lantai, bersandar di balik pintu.
"Kalau kehormatanku memang benar sudah direnggutnya, haruskah aku menggenggam erat dirinya. Setidaknya untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan. Betul kan?." Arin bermonolog sendiri.
Langkah cepat membawa dirinya meraih gawai di sofa. Seharusnya sejak awal dia memastikan hal itu, apakah memang terjadi atau tidak. Sejauh ini Arin tak bisa mengingat apa yang telah terjadi, membuatnya jera sementara waktu untuk kembali menenggak minuman beralkohol.
Baru hendak menghubungi Fay, notifikasi bahwa Fay mengupdate status di aplikasi F, membuat Arin singgah ke sana.
"Malam akan terus berjalan, sementara aku sudah tak lagi di dekatmu. Entah itu malam hangat entah itu malam yang dingin, yang pasti hanya ada sepi yang akan kembali memeluk diriku."
__ADS_1
To be continued...