Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.10


__ADS_3

Terpaksa Iqbal mundur dari perlombaan pencak silat. Sebagai gantinya Fahmi yang berjuang mengikuti perlombaan itu. Kebetulan sore ini Fahmi dan pelatihnya baru saja pulang. Fahmi hanya meraih juara tiga.


''Wah sang juara datang nih,'' ucap Iqbal yang melihat Fahmi memasuki kamar.


''Hanya juara tiga. Coba saja kalau kamu yang ikut, pasti pesantren kita bisa juara satu,'' ucap Fahmi sambil mendudukkan diri di sisi tempat tidur.


''Jangan berkecil hati! Juara tiga juga sudah lumayan, kan pesertanya dari seluruh Indonesia.''


''Benar juga sih. Ini kok para santri tidak pada mengaji? Tumben sekali loh,'' Fahmi bertanya kepada Iqbal.


''Iya hari ini libur, katanya karena besok sudah mulai puasa, jadi jadwal mengaji di bulan puasa berubah,'' jawab Iqbal.


Obrolan mereka terhenti karena terdengar suara pengumuman jika seluruh santri dan santriwati di minta berkumpul di lapangan pesantren. Kebetulan ada hal yang akan di sampaikan oleh Ustadz Malik dan Kiyai Ahmad. Iqbal dan santri lainnya bergegas pergi menuju ke lapangan.


''Assalamu'alaikum.wr.wb.'' Ustadz Malik membiarkan para santri menjawab salam, barulah kembali berkata, ''Saya selaku Ustadz yang bertanggung jawab untuk kegiatan ramadhan, saya akan memberitahukan beberapa hal. Yang pertama, di bulan ramadhan tahun ini ada beberapa kegiatan tambahan yang di adakan di pondok pesantren ini. Salah satunya buka bersama, lomba sari tilawah antar santri, dan lomba dakwah. Kebetulan saya dan Kiyai Ahmad yang akan menjadi juri di kegiatan kita nanti,'' jelas Ustadz Malik.


Lalu Kiyai Ahmad ikut menyahut.


''Yang ke dua, untuk santriwati, nanti di gilir untuk memasak. Jadi semuanya kebagian untuk memasak sahur dan buka puasa. Begitu juga menyiapkan takjil untuk semua penghuni pondok pesantren ini.''


Salah satu santriwati mengangkat tangan karena ingin bertanya.


''Maaf, Yai. Apa santri laki-laki tidak masak sendiri seperti tahun lalu?''


''Sebelumnya saya minta maaf jika santriwati ada yang keberatan. Tetapi kemarin saya mendapat usul dari para santri agar santriwati saja yang memasak. Karena santri laki-laki selalu ada yang tidak menjalankan tugasnya. Ada juga yang tidak kebagian makan sahur. Dan katanya terkadang masakannya ada yang tidak enak,'' jelas Kiyai Ahmad.


Semua santriwati tampak setuju. Walaupun sebenarnya repot juga jika harus memasak sekaligus untuk santri laki-laki. Tetapi itu tuntutan dari pesantren yang harus mereka jalani.


Ustadz Malik dan Kiyai Ahmad saling pandang. Kiyai Ahmad meminta Ustadz Malik untuk meneruskan pengumuman kepada para santri. Ustadz Malik mengambil alih microphone yang sedang di pegang oleh Kiyai Ahmad lalu mulai berbicara.


''Sepertinya itu saja yang kami sampaikan. Dan satu lagi ... ada kabar baik untuk kalian. Besok sore saat buka puasa pertama, kita tidak usah masak karena ada orang baik yang akan menyediakan kotak makan dan takjil untuk kita semua berbuka puasa,'' ucap Ustadz Malik.


Semua santri dan Santriwati tampak heboh. Mereka bertepuk tangan. Sepertinya menu buka puasa pertama mereka bakalan enak karena ada nasi kotak.


''Kalau begitu semuanya boleh kembali ke kamar masing-masing. Assalamu’alaikum.wr.wb.''


''Waalaikum’salam.wr.wb,'' jawab mereka serempak, lalu bergegas pergi meninggalkan lapangan.


...


...

__ADS_1


Entah kenapa hari ini Iqbal merasa tak bertenaga. Baru juga berpuasa setengah hari namun perutnya sudah keroncongan. Iqbal juga merasa haus. Jujur, ini adalah puasa pertama yang di jalankan oleh Iqbal. Karena tahun-tahun sebelumnya dia tidak pernah berpuasa. Biarpun di depan orang tuanya mengaku berpuasa, tetapi jika berkumpul dengan geng-nya dia selalu membatalkan puasanya.


Terlihat Iqbal yang masih berbaring di atas tempat tidur. Rasanya berat untuk mengangkat tubuhnya. Iqbal memperhatikan aktivitas teman satu kamarnya yang sedang bersiap.


''Iqbal, cepat siap-siap! Siang ini kita mulai mengaji lebih awal,'' ucap Fahmi.


''Malas sekali, Fa. Badanku juga lemas, rasanya malas bangun.''


Fahmi menggelengkan kepalanya. ''Kamu seperti tidak pernah berpuasa saja, masa ngeluh gitu sih.''


''Ini memang puasa pertama Gue. Sebelumnya tidak pernah berpuasa,'' jawab Iqbal


''Karena ini puasa pertama, jadi kamu harus semangat. Kamu harus kuat sampai buka puasa nanti,'' ujar Fahmi.


''Iya, Fa. Kalian kalau mau ke masjid duluan saja. Nanti Gue menyusul,'' kata Iqbal.


Setelah melihat teman-temannya pergi, Iqbal mengambil gelas miliknya. Dia mendekati galon yang ada di dekat pintu masuk kamar. Sebelum mengambil air dari galon, Iqbal menatap ke luar. Sepertinya aman, tidak ada yang lewat. Iqbal hendak mendekatkan gelas yang dia pegang ke mulut, tetapi tak jadi karena ada seseorang yang datang.


''Astaghfirullah'aladzim. Apa kamu tidak berpuasa? Ah sudah saya duga. Pasti kamu tidak kuat berpuasa,'' ucap Ustadz Malik kepada Iqbal.


''Saya puasa kok, hanya saja tadi saya merasa lemas dan kepala saya sedikit pusing, jadinya mau minum.''


Iqbal kembali menaruh gelas berisi air ke atas meja. Satu tetes pun belum sempat dia rasakan. Mungkin dia memang harus mencoba berpuasa. Walaupun baginya itu belum terbiasa.


''Saya tidak jadi minum kok.''


''Bagus, sekarang kamu bersiap! Saya tunggu kamu disini,'' ucap Ustadz Malik yang masih berdiri di depan pintu.


''Ustadz duluan saja, nanti saya menyusul.''


''Tidak bisa, takutnya kamu cari kesempatan untuk minum.''


Iqbal membiarkan Ustadz Malik berdiri di depan pintu. Sedangkan dia mulai berganti pakaian dengan baju koko, menyiapkan alat tulis dan juga al-qur'an. Ustadz Malik pergi setelah melihat Iqbal keluar dari kamar.


...


...


Iqbal beserta santri lain membantu mengangkut kotak makan dari dalam mobil box . Mereka sangat senang karena ada yang berbaik hati mengirimkan kotak makan untuk buka puasa. Padahal jumlah santri dan santriwati sangat banyak.


Iqbal hendak kembali mengangkut kotak makan. Namun langkahnya terhenti saat mendengar ada yang memanggilnya dari arah samping. Iqbal menoleh dan melihat keberadaan ayahnya.

__ADS_1


"Papah, kok ada disini?" Iqbal melangkah mendekati ayahnya.


"Iya, Nak. Kebetulan papah mau lihat makanan yang papah kirim sampai kesini atau tidak," jawabnya.


"Oh jadi papah yang kirim."


"Iya, Nak. Oh iya itu papah juga bawakan kue kering dari mamah. Tapi ada di mobil. Ayo kita ambil!" ajaknya.


Iqbal mengikuti ayahnya pergi ke mobil yang terparkir di parkiran. Ternyata ayahnya membawa banyak sekali bingkisan. Entah apa saja isinya.


"Pah, kenapa banyak sekali? Ini apa saja sih?"


"Kue kering sama makanan ringan lainnya. Nanti bisa kamu bagikan ke teman yang lain, maka dari itu mamahmu menyiapkannya banyak."


"Baiklah, nanti Iqbal bagi-bagikan," Iqbal mengambil semua bingkisan dari dalam bagasi.


"Biar papah bantu, Nak."


"Tidak usah, Pah. Iqbal bisa sendiri kok. Iqbal mau ke kamar dulu, papah mau ikut tidak?"


"Tidak, Nak. Kebetulan papah mau menemui Kiyai Ahmad."


Kebetulan Aisha dan Nisa tadi tak sengaja melihat Iqbal bersama dengan orang baik yang sudah membagikan nasi kotak. Mereka tidak tahu jika itu ayahnya Iqbal.


"Ais, kok Iqbal kenal sama bapak-bapak yang baik itu?"


"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja mereka masih kerabat."


"Masa sih tidak tahu. Kamu kan dekat sama Iqbal," kata Nisa.


"Jangan ngaco kalau bicara! Aku tidak dekat sama dia, hanya sekedar kenal saja, itu juga tanpa sengaja."


"Kalau tidak kenal dekat, kenapa kamu pernah kasih bingkisan ke dia?" Nisa menatap Aisha penuh selidik.


"Hanya ingin berterima kasih saja karena dia sudah menolongku hingga dia sendiri terluka. Kasihan kan, terus gara-gara aku jadinya dia tidak bisa ikut pencak silat," Aisha memang merasa bersalah kepada Iqbal.


"Awas loh dari rasa kasihan bisa jadi cinta," ledek Nisa.


"Apaan sih? Aku itu sudah di jodohkan sama Kak Azmi. Jadi, tidak mungkin berani mencintai lelaki lain."


"Oke deh, aku pegang kata-katamu.

__ADS_1


__ADS_2