
Aisha baru saja mendapat telepon dari Iqbal bahwa tidak bisa menjemputnya. Iqbal mengatakan jika dia sudah menyuruh sopir untuk menjemput Aisha. Aisha tak mempermasalahkan itu. Tidak memaksakan jika suaminya memang masih sibuk.
Saat ini Aisha sedang berada di perjalanan pulang. Dia fokus menatap buku miliknya yang sedang dia baca. Tiba-tiba sopirnya menghentikan mobil secara mendadak dan itu membuat Aisha kaget.
"Ada apa, Pak?" Aisha menutup buku bacaannya lalu menatap ke depan.
"Sepertinya di depan ada yang menghadang kita, Non."
Aisha menatap ke depan sana, ternyata benar, ada dua motor yang menghadang mobilnya. Aisha takut jika mereka adalah orang jahat seperti perampok atau penculik. Aisha melihat sopirnya yang hendak turun, tetapi dia melarangnya.
"Pak, jangan turun! Takutnya mereka orang jahat," ucap Aisha.
"Tapi mereka menghalangi jalan kita, Non. Biar saya usir mereka dulu," ucapnya lalu bergegas turun dari mobil.
Aisha hanya memperhatikan mereka dari dalam. Terlihat salah satu dari mereka mulai melayangkan pukulan kepada Pak sopir. Aisha yang melihat itu, dia tak bisa membiarkannya begitu saja. Karena satu lawan empat orang, sudah pasti sopirnya kalah.
"Jangan sakiti dia!" Aisha mendekati mereka mencoba melerai.
"Wah ada Nona cantik. Namanya siapa, Nona? Ikut abang yuk! Kita pergi bersenang-senang," salah satu dari mereka mendekati Aisha lalu mencolek dagunya.
"Jangan pegang-pegang!" Aisha menepis tangan lelaki itu.
"Wow galak sekali sih. Tapi makin galak malah bikin kita penasaran," ucapnya sambil melirik yang lainnya.
Mereka tertawa sambil menatap Aisha. Tatapan itu membuat Aisha takut. Aisha berteriak meminta pertolongan. Tetapi percuma mau berteriak pun itu tak akan ada yang mendengar. Karena Aisha berada di jalanan yang sepi.
Terlihat seorang lelaki menghentikan motornya di dekat mobil Aisha. Lelaki itu tak lain adalah Reno. Dia langsung menghajar semua preman yang menghadang Aisha. Kini semua preman sudah dia kalahkan bahkan sudah pergi dari sana.
"Terima kasih, kamu telah menyelamatkanku," ucap Aisha kepada Reno. Aisha tak tahu jika lelaki yang menyelamatkannya adalah lelaki yang selama ini selalu mencari masalah dengan Iqbal.
__ADS_1
"Sama-sama. Kamu mau kemana?"
"Kebetulan saya mau pulang," jawabnya.
"Kalau begitu biar saya antar!" tawar Reno.
"Tidak usah, saya kan sama sopir."
"Kalau begitu biar saya mengikuti Nona dari belakang. Saya takut preman tadi kembali mengganggu Nona."
Sejujurnya Aisha tak mau merepotkan orang lain. Tetapi jika lelaki ini memang ikhlas membantu, mungkin tak ada salahnya dia menerimanya.
"Baiklah. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ucap Aisha.
"Sama-sama," ucap Reno ramah.
...
...
Aisha merasa ada yang aneh dengan Nisa. Beberapa hari ini Nisa tidak berada di pesantren. Menurut keterangan para ustadzah, Nisa masih izin pulang. Tidak biasanya Nisa seperti ini. Apalagi dia yang biasanya selalu betah berada di pesantren.
Setelah pulang mengajar, Aisha tidak langsung pulang. Namun, dia pergi menuju ke rumah Nisa. Aisha ingin memastikan jika Nisa baik-baik saja.
Tok tok
Aisha mengetuk pintu rumah Nisa. Tak lama ada seorang pembantu rumah tangga yang membukakan pintu.
''Assalamu'alaikum, Bi. Apa Nisa ada di rumah?'' tanya Aisha dengan ramah.
__ADS_1
''Waalaikum'salam. Ada, Non. Mari masuk!''
Aisha mengikuti pembantu itu hingga masuk ke dalam rumah. Aisha menunggu pembantu itu yang sedang memanggil Nisa. Dia duduk di ruang keluarga. Tak lama pembantu itu kembali menghampiri Aisha.
''Non, sebelumnya Bibi mau minta maaf, tapi Non Nisa tidak mau keluar kamar. Katanya lebih baik Non pergi saja,'' ucapnya.
''Loh kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Nisa, Bi?''
''Saya juga tidak tahu. Sudah beberapa hari ini Non Nisa di kamar terus,'' ucapnya.
Jelas ini membuat Aisha curiga. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Nisa sampai mengurung diri di kamar seperti itu.
''Baiklah, kalau begitu saya permisi pulang saja ya, Bi. Lain kali saya kesini lagi. Assalamu'alaikum.''
''Waalaikum'salam,'' jawabnya.
Di perjalanan pulang pun Aisha masih memikirkan Nisa. Tidak biasanya Nisa menghindarinya. Karena selama ini hanya dia tempat curhatnya. Pasti sudah terjadi sesuatu serius menimpa Nisa sehingga dia menyendiri di dalam kamar. Entah apa itu, tentu Aisha harus menyelidikinya agar dia tahu permasalahan Nisa. Dengan begitu dia bisa membantu.
Sesampainya Aisha di rumah, ternyata Iqbal sudah pulang. Sengaja Iqbal berdiri di depan rumah menunggu istrinya yang belum juga pulang. Iqbal menghampiri istrinya yang baru turun dari mobil.
''Sayang, kok kamu pulangnya telat? Kamu dari mana dulu? Atau mungkin preman yang pernah menghadangmu mengganggu lagi?'' Iqbal melontarkan beberapa pertanyaan karena kekhawatirannya.
"Tadi aku habis dari rumah Nisa, Mas. Sudah beberapa hari pulang tapi dia tidak kembali ke pesantren. Maaf ya, tadi ponselku kehabisan baterai jadi tidak sempat menghubungi Mas Iqbal,'' jelas Aisha.
''Baiklah, kali ini Mas memaklumi kamu, sayang. Tapi lain kali kalau mau pergi pamit dulu ya,'' pinta Iqbal.
''Baik, Mas.''
Iqbal menggandeng tangan istrinya memasuki rumah. Mengajaknya pergi ke kamar. Iqbal menyuruh istrinya langsung mandi. Sedangkan dia menunggunya sambil menyiapkan pakaian ganti untuk istrinya.
__ADS_1