
Usaha Reno untuk mendekati Aisha sudah ketahuan oleh Iqbal. Sekarang Aisha harus lebih berhati-hati lagi. Suaminya melarangnya pergi sendirian kemana pun. Karena tidak menjamin jika Reno akan kembali mencari kesempatan untuk mendekatinya.
''Sayang, nanti kamu tungguin Mas ya. Kalau Mas jemputnya telat mohon di maklumi,'' ucap Iqbal sambil fokus mengemudi.
''Apa tidak sebaiknya aku di jemput sopir saja, Mas. Aku kasihan kalau Mas Iqbal nanti malah kelelahan,'' ucap Aisha.
''Mas tidak mau kalau Reno mengganggu kamu lagi, sayang. Jadi, kamu harus pulang bersamaku.'' Iqbal tak mau ambil risiko. Biar bagaimana pun keselamatan istrinya adalah tanggung jawabnya.
''Baiklah, aku nurut saja kata Mas.''
Iqbal mengemudikan mobilnya memasuki gerbang pesantren. Bahkan dia juga menemani istrinya sampai ke depan kelas tempat istrinya mengajar. Belakangan ini rasa khawatir Iqbal kepada istrinya memang berlebihan. Dia benar-benar harus memastikan mengantar istrinya dengan selamat.
Iqbal menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia bergegas pergi menuju ke kantor.
Di perjalanan mobil Iqbal di hadang oleh beberapa motor. Tentu Iqbal mengenal mereka yang tak lain adalah Reno dan gengnya. Iqbal lelah meladeni Reno yang hobi sekali membuat masalah kepadanya.
''Mau apa lagi Lo?'' Iqbal menutup pintu mobil, lalu bersandar sambil melipat ke dua tangan di dadanya.
''Tentu mau cari masalah sama Lo, Iqbal. Sepetinya sekarang hidup Lo udah enak ya. Pakai baju kantoran, nggak seperti dulu pakai baju preman,'' sindir Reno
''Iya dong, setidaknya orang hidup itu ada perubahan. Karier sukses, istri cantik, harta melimpah. Kurang apa lagi coba hidupku ini. Tidak sepertimu yang masih saja jadi anak berandalan yang bisanya numpang hidup sama orang tua.'' Iqbal juga melontarkan sindiran. Niatnya bukan mau pamer, tetapi mau membuat Reno bungkam dengan perkataannya sendiri.
''Lo cari masalah sama Gue.'' Reno yang tersulut emosi, menghampiri Iqbal dan mencoba menyerangnya. Namun, Iqbal berhasil menangkis pukulannya.
Terjadilah perkelahian antara ke duanya. Anak buah Reno berteriak menyemangati Reno. Tetapi yang di semangati terlihat kalah oleh serangan Iqbal. Reno memberi kode kepada anak buahnya untuk menyerang Iqbal bersamaan. Reno mundur ke belakang membiarkan anak buahnya menghabisi Iqbal. Namun, yang terjadi justru mereka lah yang kalah.
Reno mengepalkan tangannya melihat Iqbal yang berani mengalahkan serangan anak buahnya. Reno mengambil sesuatu dari saku celananya lalu berlari mendekati Iqbal.
__ADS_1
''Kamu rasakan ini, Iqbal.'' Reno menancapkan pisau di perut Iqbal. Aksinya sukses membuat Iqbal tak berdaya. Iqbal memegangi perutnya yang sudah bersimbah darah. Tak lama kesadarannya pun hilang. Iqbal tergeletak pingsan di jalan.
Kali ini Reno puas karena sudah memberikan pelajaran yang sesungguhnya kepada Iqbal. Dia mengajak anak buahnya yang tak lain teman-temannya sendiri untuk segera pergi karena takut jika ada yang melihat mereka. Reno berniat membuat acara syukuran atas keberhasilan mereka.
...
...
Aisha baru saja mendapat kabar jika saat ini suaminya di larikan ke rumah sakit akibat di tusuk oleh orang di bagian perutnya. Tentu Aisha terkejut sekaligus khawatir. Aisha izin kepada Kiyai Ahmad karena dia hendak pergi ke rumah sakit.
Aisha pergi di antar oleh Fahmi. Kebetulan Kiyai Ahmad yang meminta Fahmi mengantarnya. Karena mencari angkutan umum di sekitar pesantren cukup susah. Paling hanya becak yang selalu mangkal di depan sana.
Sesampainya di rumah sakit, Aisha bertanya kepada resepsionis yang sedang berjaga.
''Permisi, saya mau tanya ruangan suami saya atas nama Iqbal. Dia korban tusuk yang baru saja di larikan ke rumah sakit ini,'' ucap Aisha sambil menatap dua orang yang sedang berdiri di hadapannya.
''Terima kasih, Kak.'' Aisha bergegas pergi dari sana di ikuti oleh Fahmi di belakangnya. Fahmi memang tidak langsung pulang karena dia khawatir dengan Iqbal.
Sesampainya di depan ruang UGD, Aisha melihat dokter yang baru keluar.
''Dok, bagaimana keadaan suami saya?'' tanya Aisha.
''Kondisinya kritis, suami ibu harus segera melakukan operasi di bagian perutnya,'' ucap dokter.
''Lakukan yang terbaik untuk suami saya, Dok. Saya minta penanganannya di lakukan dengan cepat,'' pinta Aisha.
''Baik, Bu. Sekarang saya mau memindahkan suami ibu ke ruang operasi.'' Lalu dokter itu kembali masuk ke dalam.
__ADS_1
Tak lama, Aisha melihat beberapa perawat mendorong brankar pasien dimana suaminya berbaring menuju ke ruang operasi. Aisha mengikutinya, perasaannya sungguh tak tenang. Dalam hati dia berdoa untuk keselamatan suaminya.
Aisha yang sedang duduk di kursi tunggu, mendengar ponsel miliknya berdering. Dia mengambil ponsel miliknya dari dalam tas dan melihat ada panggilan masuk dari Bu Fatma.
π''Hallo, Mah. Assalamu'alaikum,'' ucap Aisha.
π''Waalaikum'salam, Nak. Dimana ruangan suamimu? Ini mamah sama papah baru sampai di rumah sakit.''
π''Mas Iqbal berada di ruang operasi, Mah.''
π''Baiklah, mamah akan segera kesana, Nak. Assalamu'alaikum.''
π''Waalaikum'salam,'' jawab Aisha.
Beberapa menit kemudian, Bu Fatma dan Pak Bima sampai juga di depan ruang operasi. Bu Fatma mendekati Aisha lalu memeluknya. Karena tahu pasti saat ini menantunya itu sangat sedih.
''Kamu yang sabar ya, Nak. Suamimu pasti kuat kok, dia pasti selamat.'' Bu Fatma mengusap pelan punggung menantunya.
''Iya, Mah. Ais juga yakin kalau Mas Iqbal pasti bisa sembuh,'' ucap Aisha sambil mengelap air matanya yang terus menetes.
''Apa kamu sudah mengabari ibumu, Nak?'' tanya Bu Fatma sambil melepaskan pelukannya.
''Belum, Mah.''
''Biar mamah yang menelepon ibumu.'' Bu Fatma mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Bu Fatimah.
Aisha berpamitan pergi ke mushola sebentar. Niatnya akan melaksanakan Shalat Dhuha sekaligus mendoakan suaminya agar di berikan kelancaran dalam menjalankan operasinya.
__ADS_1