
Aisha dan Iqbal sedang berada di perjalanan menuju ke kontrakan Nisa. Kebetulan mereka mengetahui kontrakan Nisa dari ibunya. Ibunya Nisa juga meminta Aisha menanyakan siapa ayah dari anak yang di kandungnya.
Iqbal menghentikan mobilnya di depan gang sempit. Dia menatap kanan kirinya mencari tempat parkir. Ternyata ada sebuah mini market di dekat sana. Iqbal langsung menghentikan mobilnya di dekat mini market itu.
"Sayang, apa benar kontrakan Nisa ada di daerah sini?"
"Benar, Mas. Masuk gang sana," ucap Aisha sambil menunjuk gang kecil sebelah mini market.
Setelah turun dari mobil, Aisha dan Iqbal berjalan kaki melewati gang kecil itu. Ternyata kontrakan yang Nisa tempati cukup sederhana. Aisha tak menyangka Nisa bisa tinggal di kontrakan kecil seperti itu.
Tok tok
Aisha mengetuk pintu kontrakan Nisa. Tak lama Nisa membukakan pintu. Dia cukup terkejut melihat keberadaan Aisha dan Iqbal.
"Assalamu'alaikum," ucap Aisha.
"Waalaikum'salam. Kamu kok bisa tahu kontrakanku?"
"Iya, Nis. Kebetulan aku tahu dari ibumu," jawab Aisha.
"Mari masuk!" ajak Nisa.
Mereka mengikuti Nisa masuk ke kontrakan lalu duduk di karpet depan televisi. Kebetulan disana tidak ada kursi atau pun sofa. Nisa bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan minum.
"Maaf ya, cuma ada air teh saja." Nisa menaruh teh manis hangat di atas karpet.
"Tidak apa-apa, tidak usah repot-repot. Maaf juga kalau kedatangan kita kesini mengganggu waktu istirahatmu," ucap Aisha yang merasa tak enak hati.
"Tidak mengganggu kok. Maaf ya jika belakangan ini aku menghindarimu. Aku malu sama kamu. Aku jijik pada diriku sendiri." Nisa berucap sambil menunduk.
Aisha mendekati Nisa lalu mengusap bahunya. "Yang sabar, Nis. Kalau kamu mau cerita, nanti aku dan Mas Iqbal akan mencoba membantu."
"Tapi aku malu, Ais. Aku malu pada kalian."
"Nis, jangan menyimpan masalah sendirian. Apalagi sekarang kamu lagi hamil loh."
Nisa mulai terisak dan Aisha langsung memeluknya. Aisha tahu jika cobaan yang Nisa hadapi itu cukup berat. Wanita mana pun pasti akan sedih jika hamil karena kesalahan. Apalagi lelakinya tak mau bertanggung jawab.
__ADS_1
"Sebenarnya aku di nodai oleh Kak Aldo," ucap Nisa.
Aisha dan Iqbal sama-sama terkejut. Aisha jadi merasa bersalah karena sudah mengenalkan Nisa kepada Aldo. Iqbal melihat perubahan raut wajah istrinya.
"Kamu tenang, Nis. Aku mau mencoba untuk membicarakannya dengan Aldo. Semoga saja dia mau bertanggung jawab," ucap Iqbal.
"Tidak mungkin mau, dia itu mengaku sendiri jika seorang cassanova. Lagian aku tidak mau menikah dengan lelaki yang sukanya meniduri wanita berbeda-beda," ucap Nisa.
"Lalu, apa kamu akan membesarkan anak itu sendirian?" tanya Aisha.
"Jika itu lebih baik, akan aku lakukan demi anakku. Lagian aku juga tidak mau kecewa dengan mengemis cinta dari seorang cassanova seperti Kak Aldo," ucap Nisa.
"Nis, aku merasa tak enak hati. Semua terjadi karena aku yang mengenalkanmu dengannya," kata Aisha.
"Ini sudah takdir yang harus aku jalani. Kamu jangan menyalahkan dirimu seperti itu, Ais. Cukup berada disisiku dan kasih semangat, itu cukup untukku."
"Kamu tenang saja, Nis. Aku pasti akan selalu mendukungmu. Nanti jika anak kita lahir, mereka bisa bermain bersama."
"Kamu hamil juga?" tanya Nisa.
"Nis, lebih baik kamu tinggal sama kita saja. Kasihan kalau tinggal sendirian disini," ucap Iqbal kepada Nisa.
"Aku tinggal disini saja, tidak apa-apa kok. Aku tidak mau merepotkan kalian."
"Nis, plis kamu mau ya tinggal sama kita. Aku jadi semakin merasa bersalah jika kamu menolak tawaran itu," ucap Aisha.
Nisa tampak berpikir, mungkin lebih baik jika dia tinggal bersama Aisha. Lagian di kontrakan kurang nyaman. Nisa tahu jika Aisha orang baik dan tentunya benar-benar ikhlas membantu.
"Baiklah, aku mau. Terima kasih ya, Ais. Kamu sangat baik kepadaku." Nisa tersenyum menatap Aisha.
"Kita sudah berteman cukup lama, jadi sudah sepantasnya kita saling membantu satu sama lain. Mulai sekarang kamu jangan menutup-nutupi apa pun lagi ya dari kami," pinta Aisha.
"Baik, Ais," jawab Nisa.
"Kalau begitu sekarang kamu bereskan pakaian kamu. Kita langsung pergi sekarang juga ya," ajak Aisha.
Nisa mengangguk lalu bergegas pergi ke kamar untuk membereskan pakaiannya. Aisha pun mengikuti Nisa karena berniat untuk membantunya.
__ADS_1
....
....
Iqbal sudah membuat janji dengan Aldo untuk bertemu dengan alasan akan membahas pekerjaan. Padahal dia ingin menemui Aldo karena akan mengatakan perihal Nisa. Iqbal tidak bisa diam begitu saja melihat sahabat istrinya menanggung derita sendiri. Semoga saja setelah berbicara baik-baik, Aldo mau bertanggung jawab kepada Nisa.
Iqbal baru sampai di salah satu cafe yang terkenal di ibukota. Dia melangkah memasuki cafe lalu menengok kanan kirinya mencari keberadaan Aldo. Iqbal melihat Aldo sedang duduk di salah satu kursi.
"Maaf, saya terlambat." Iqbal menarik kursi yang ada di hadapan Aldo lalu mendudukkan dirinya disana.
"Tidak masalah, lagian saya juga baru sampai lima menit yang lalu. Oh iya, apa kerja sama kita ada kendala sehingga Pak Iqbal mengajak saya bertemu?" tanya Aldo.
"Tidak sama sekali, sebenarnya itu alasan saya saja agar Pak Aldo mau menemui saya."
"Lalu jika bukan soal pekerjaan, apa yang ingin Pak Iqbal katakan?"
"Jadi, saya hanya mau menyampaikan jika Nisa di usir oleh orang tuanya dari rumah," ucap Iqbal.
"Memangnya apa hubungannya sama saya? Seharusnya Pak Iqbal bicaranya sama Nisa bukan sama saya."
"Karena ini ada sangkut pautnya sama Pak Aldo." Iqbal menghela napasnya. "Jadi, Nisa hamil anak bapak."
"Apa? Ah tidak mungkin." Aldo menggelengkan kepalanya. Selama ini dia sudah celap celup sana sini tapi lawannya tidak pernah sampai hamil.
"Itu benar, Pak. Saya meminta bapak agar mau bertanggung jawab kepada Nisa."
"Jika saya tidak mau gimana? Lagian belum tentu anak itu adalah anak saya." Iqbal meragukan anak yang ada di kandungan Nisa.
"Nisa bukan wanita murahan. Dia di besarkan di pesantren bersama istri saya. Saya rasa Pak Aldo itu terlalu meremehkan wanita. Asal bapak tahu ya, wanita yang berani menutup auratnya itu lebih baik dari pada wanita di luar sana yang sengaja berpakaian minim dan menjajakan tubuhnya ke para lelaki. Baiklah jika Pak Aldo memang tidak mau bertanggung jawab, maka saya akan membatalkan kerja sama kita." Iqbal beranjak dari duduknya dan hendak pergi. Dia kembali menoleh menatap Aldo karena masih ada hal yang ingin dia katakan. "Dan satu lagi, suatu saat bapak akan menyesal atas perbuatan bapak sendiri. Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
Aldo mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya Iqbal berani membatalkan pekerjaan dengan perusahaannya hanya karena seorang wanita.
"Lihat saja Pak Iqbal, tanpa bekerja sama dengan bapak pun pasti perusahaan saya akan maju," gumam Aldo sambil mengepalkan tangannya.
....
....
__ADS_1