Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.13


__ADS_3

Senyum terpancar di sudut bibir Iqal. Akhirnya dia bisa menginjakkan kakinya di pesantren yang beberapa hari ini dia tinggalkan. Terlihat Iqbal yang baru menuruni mobil. Iqbal pergi menuju ke ruangan Kiyai Ahmad. Kebwtulan sebelumnya Iqbal sudah membuat janji. Iqbal sendiri datang mengaji di hari sabtu dan minggu di pagi hari.


"Assalamu'alaikum," ucap Iqbal sambil mengetuk pintu. Sudah beberapa menit menunggu, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Pintunya juga tertutup rapat.


Terlihat Ustadz Malik menghampiri Iqbal. Kebetulan Ustadz Malik habis selesai mengajar setelah shalat subuh tadi.


"Iqbal, kamu sudah datang?" tanya Ustadz Malik.


Iqbal menoleh ke belakang, tersenyum kepada Ustadz Malik. "Benar, Ustadz. Tapi kok ruangan Kiyai Ahmad tertutup ya, atau sedang mengajar?"


"Kiyai Ahmad sedang pergi ke Kairo menengok anaknya. Katanya anaknya kecelakaan beberapa hari yang lalu," jawab Ustadz Malik.


"Inalillahi'wainailaihi rajiun. Saya ikut sedih mendengarnya, Ustadz."


"Kita doakan saja semoga Azmi cepat sembuh. Oh iya, kamu mengaji sama saya. Kita mengaji di masjid saja," ucap  Ustadz Malik.


"Baik, Ustadz."


Setelah selesai mengaji, Iqbal tidak langsung pulang. Dia menghampiri teman-temannya. Iqbal pergi ke kamar yang dulu di tempati olehnya, tetapi disana hanya ada satu santri saja yang sedang membereskan kamar. Iqbal menanyakan teman yang lain dan katanya yang lain baru saja ke lapangan untuk jogging.


Iqbal tersenyum menatap teman-temanya yang berlarian di lapang. Jujur saja dia sangat merindukan masa-masa itu. Iqbal di hampiri oleh Fahmi yang sedang berlari.


"Hei, makin kinclong saja tuh wajah," ucap Fahmi sambil memperhatikan Iqbal.


"Kamu apaan sih, biasa saja aku tuh. Kamu kapan tuh cari kerja?"


"Aku tidak akan kemana-mana. Alhamdulillah Kiyai Ahmad menawarkanku untuk menjadi asisten ustadz disini dan mendapat gaji bulanan."


"Alhamdulliah, aku senang mendengarnya, Fa. Semoga kamu juga berjodoh dengan salah satu santriwati sini."

__ADS_1


"Amin. Tapi sepertinya kamu yang butuh pendamping duluan deh."


"Aku belum memikirkannya, Fa. Nanti juga datang sendiri."


"Oh iya, apa kamu sudah dengar kalau anaknya Kiyai Ahmad sekarang sedang kritis?"


"Aku tidak tahu, tadi Ustadz Malik hanya bicara kalau anaknya Kiyai Ahmad habis kecelakaan," ucap Iqbal.


"Aisha juga terpukul sekali. Tadi pagi dia tidak mengajar."


"Memangnya Aisha jadi Ustadzah?"


"Ya begitulah. Dia sama sepertiku, menjadi asisten Ustadzah."


...


...


Aisha pun tak kalah sedihnya. Calon suaminya meninggal dunia. Padahal mereka sudah merencanakan pernikahan dan itu dua minggu lagi. Kebetulan Azmi kecelaan saat hendak pulang ke tanah air. Sengaja dia menyerahkan semuanya kepada keluarganya untuk menggelar pesta pernikahan. Sedangkan dia berniat pulang di beberapa hari menjelang pernikahan. Namun, nasib naas menimpanya.


Setelah selesai tahlilan, Fahmi di minta untuk datang ke ruangan Kiyai Ahmad. Sesampainya disana, ternyata ada Aisha dan beberapa orang yang dia sendiri tak tahu itu  siapa. Fahmi duduk tepat di samping Ustadz Malik.


"Maaf jika kami mengganggu kamu yang akan beristirahat, Fa," ucap Kiyai Ahmad.


"Tidak kok, Yai. Tapi ini ada apa ya?"


"Begini ... kebetulan beberapa hari lagi hari pernikahan Aisha, tetapi kamu tahu sendiri kan kalau anak saya Azmi sudah tiada. Sedangkan undangan pernikahan mereka sudah tersebar. Apa kamu mau menggantikan Azmi untuk menikahi Aisha. Saya rasa kamu sosok yang cocok untuk menjadi pengganti anak saya," ujar Kiyai Ahmad.


Fahmi terkejut mendengar permintaan untuk menikahi Aisha. Begitu juga dengan Aisha, yang tak pernah memikirkan jika dia harus mencari calon suami pengganti. Semua ini atas kesepakatan keluarganya yang tak ingin melihat Aisha batal nikah. Tentu Kiyai Ahmad pun tak mempermasalahkannya.

__ADS_1


Fahmi ragu untuk menjawab. Jika menolak, dia merasa tak enak kepada Kiyai Ahmad yang selama ini sudah membantu membiayai sekolahnya. Sejak kecil, Fahmi itu anak yatim piatu yang di bantu olehnya. Tetapi disini permasalahannya Fahmi tak mungkin menikahi wanita yang di cintai sahabatnya. Dia tahu kalau diam-diam Iqbal masih mencintai Aisha. Hanya saja Iqbal tak mau mengakuinya.


"Maaf, Kiyai. Bukannya saya menolak jodoh, hanya saja saya tidak mau melukai hati teman saya jika saya menikah dengan Aisha," ucap Fahmi.


"Teman kamu siapa?" Kiyai Ahmad penasaran dengan sosok yang di maksud oleh Fahmi.


"Iqbal, dia sangat mencintai Aisha. Saya masih ingat pengorbanan dia. Bagaimana cara dia menjaga Aisha. Bahkan hingga saat ini pun dia menyewa orang suruhan untuk mengawasi Aisha jika sedang keluar pesantren. Walaupun dia tahu Aisha itu pernah menolaknya karena sudah bertunangan, tapi diam-diam Iqbal masih menjaganya dalam pantauannya. Saya rasa dia yang lebih cocok untuk menjadi pendamping hidup Aisha," ujar Fahmi.


"Tetapi Iqbal itu tidak sepintar kamu, Fa. Kamu disini sudah menjadi asisten para Ustadz. Sedangkan Iqbal masih belajar mengaji," sahut Ustadz Ahmad.


Fahmi tersenyum mendengar penuturan Ustadz Ahmad. "Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dan saya tidak membedakan antara orang yang sudah berilmu dan masih belajar. Kita semua derajatnya sama di hadapan Allah SWT."


"Siapa lelaki bernama Iqbal itu? Saya mau bertemu," sahut Bu Fatimah yang merupakan ibu dari Aisha.


"Iqbal tidak tinggal disini lagi, Bu. Hanya dua tahun dia belajar dan menetap disini,"  jawab Ustadz Malik.


"Tapi Iqbal juga masih sering datang kesini untuk mengaji, Bu. Biarpun satu minggu dua kali. Dia memang pemuda yang masih semangat belajar," ucap Kiyai Ahmad.


Bu Fatimah berbisik di telinga Aisha." Apa tidak sebaiknya kamu menikah dengan Fahmi saja. Mungkin dia lebih pantas untukmu."


Aisha tersenyum menatap ibunya. Lalu dia beralih menatap semua yang ada di ruangan itu.


"Saya sampai saat ini masih mencintai Mas Azmi. Mungkin akan sulit saya membuka hati saya untuk orang lain. Namun, jika pernikahan saya tetap harus terlaksana, saya menginginkan sosok lelaki yang tulus mencintai saya. Beriman, bertanggung jawab, dan sabar menunggu saya untuk membalas rasa cintanya," ucap Aisha.


"Saya rasa yang paling cocok untuk Aisha itu Iqbal. Apalagi pekerjaannya sudah jelas. Maaf sebelumnya jika kamu tersinggung, Ais. Bukan maksud saya mencampuri urusan kamu," sahut Fahmi.


"Saya tahu kalau Iqbal itu tulus. Jadi, saya mau jika dia memang masih sendiri," ucap Aisha.


"Alhamdulillah, kalau begitu nanti saya menghubungi orang tua Iqbal untuk memberitahukan semua ini. Kebetulan orang tua Iqbal itu teman saya dulu sewaktu saya masih sekolah," ucap Kiyai Ahmad.

__ADS_1


Pembicaraan antara mereka sudah selesai. Aisha sudah pasrah untuk menikah dengan siapa pun, asal lelaki itu memiliki kriteria yang dia sebutkan tadi. Yang penting sanggup untuk menunggu membalas rasa cinta.


__ADS_2