Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.11


__ADS_3

Sudah satu minggu Iqbal berpuasa di bulan ramadhan. Walaupun awalnya di paksakan, lama kelamaan Iqbal terbiasa. Dia pun terlihat rajin seperti santri yang lainnya.


Pukul sembilan malam, semua santri masih berada di masjid karena sedang tadarus bersama. Tiba-tiba terdengar suara sangat nyaring dari luar. Sepertinya seseorang sedang bermain petasan. Aktivitas santri terganggu karena suara petasan itu. Beberapa dari mereka keluar untuk melihat.


"Hei mundur! Di depan sangat berbahaya," kata Fahmi kepada santri yang lain. Karena segerombolan orang melempar petasan ke pesantren. Mereka tidak tahu siapa gerombolan orang di depan pesantren, karena jarak dari masjid ke gerbang depan itu cukup jauh.


Duar


Terjadi kebakaran yang menimbulkan ledakan. Kebakaran di salah satu bangunan. Fahmi dan santri lain buru-buru mengambil air untuk menyiram api biar tidak merembet ke bangunan lain. Sedangkan Iqbal, dengan berani pergi ke depan melihat siapa yang berbuat ulah di pesantren.


Ternyata benar dugaan Iqbal. Yang datang mengacau itu Reno dan teman-temannya. Iqbal membuka gerbang yang masih terkunci lalu menghampiri mereka. Dia menatap tajam Reno yang juga sedang menatapnya sambil menyeringai.


"Ngapain datang kesini lagi? Lo mau bikin pesantren ini kebakaran? Lihatlah!" Iqbal menunjuk satu bangunan yang terbakar akibat petasan. "Apa Lo mau di laporkan ke polisi atas kasus pembunuhan berencana dengan cara membakar pesantren?"


"Eits ... itu tidak mungkin terjadi. Gue tidak mungkin di penjara," sangkal Reno.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Disini saksi banyak, jadi bisa saja kami langsung melaporkanmu," kata Iqbal. Perkataannya memang sedikit mengancam.


Reno tak menjawab, pandangannya tertuju kepada Aisha dan beberapa santriwati lain yang sedang berkumpul. Kebetulan Aisha sendiri paling ujung, sehingga Reno bisa melihatnya. Mereka baru keluar dari masjid dan hendak pergi ke kamar masing-masing. Karena tadi Ustadz Malik yang memerintahkannya.


Reno menatap Iqbal sambil menyeringai, "Sebelum Lo laporin Gue, terlebih dahulu Gue akan membuat kekasih Lo terluka."


Iqbal melihat Reno yang sedang memberikan kode ke temannya. Dia masih belum mengerti apa arti kode itu. Lalu Iqbal melihat salah satu teman Reno mengambil petasan. Iqbal menatap ke sekitar mencari keberadaan Aisha. Karena sepertinya Reno akan menyakiti Aisha dengan petasan itu.


"Katakan selamat tinggal kepada kekasih Lo, Iqbal," ucap Reno.


Saat melihat teman Reno melempar petasan ke arah segerombolan santriwati, Iqbal langsung berlari karena ingin menyelamatkan wanita pujaannya.


"Aisha, awas!" teriak Iqbal.


Beberapa santriwati langsung berlarian. Sedangkan Aisha masih di tempatnya menatap Iqbal yang sedang berlari ke arahnya dengan sangat kencang. Iqbal menarik tangan Aisha dan mengajaknya berlari dari sana. Aisha yang tak mengerti dia berusaha melepaskan pegangan tangan Iqbal. Namun, Iqbal malah mengikis jarak sehingga Aisha berada di pelukannya.


Duar

__ADS_1


Mereka mendengar suara petasan dari arah belakang. Untung saja petasan itu tidak mengenai Aisha atau pun Iqbal. Aisha menutup telinganya dengan ke dua tangan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Iqbal sambil menjauhkan tangannya dari Aisha.


"Tidak apa-apa kok. Terima kasih ya sudah menyelamatkanku." Aisha merasa berhutang budi kepada Iqbal. Lagi-lagi Iqbal menyelamatkannya.


"Sama-sama. Sudah kewajibanku melindungi wanita yang aku cintai."


Perkataan Iqbal membuat Aisha terdiam. Rasa tidak enak hatinya semakin besar. Azmi saja yang merupakan calon suaminya, belum pernah melakukan apa yang Iqbal lakukan. Bahkan Iqbal berani mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkannya.


"Aku mau mengecek ke depan dulu. Sepertinya Reno dan gengnya sudah tidak ada," Iqbal bergegas pergi dari sana.


Aisha menatap punggung Iqbal yang semakin menjauh. Dalam hatinya ada rasa senang saat mendengar ungkapan cinta Iqbal. Namun, Aisha buru-buru menepiskan hal itu. Tidak baik jika dia memikirkan lelaki lain.


"Hei, melamun saja. Bagaimana rasanya di peluk lelaki tampan?" Nisa menepuk bahu Aisha.


"Astaghfirullah'aladzim. Kamu mengagetkanku," Aisha memegangi dadanya karena kaget.


"Pertanyaanku belum di jawab loh. Bagaimana rasanya di peluk lelaki tampan?" tanya Nisa.


"Tentu Iqbal melakukan itu karena dia ada rasa sama kamu, Ais. Mana mungkin dia mau menyelamatkanmu tanpa sebab. Bahkan dia sempat terluka juga loh bahunya karena menyelamatkanmu. Beruntung sekali jadi kamu ya, bisa di cintai lelaki sepertinya. Dia benar-benar baik dan sepertinya bisa melindungi pasangannya. Hanya saja dia mencintai wanita yang salah. Kamu tidak mungkin membalas cintanya karena kamu sudah memiliki calon suami," ujar Nisa.


"Aku merasa tidak enak sama dia. Karena dia sudah sangat baik kepadaku," kata Aisha.


"Kamu bilang saja kalau kamu sudah mempunyai calon suami."


"Sepertinya dia sudah tahu, Nis."


"Benarkah?"


"Menurutku sih seperti itu."


"Aku malah memiliki keinginan untuk mengenalkanmu dengan dia. Mungkin kalian bisa berta'aruf," ucap Aisha.

__ADS_1


"Tetapi Iqbal cintanya sama kamu, Ais."


"Takdir tidak ada yang tahu. Bisa saja dia itu jodoh kamu, Nis."


Nisa hanya mengiyakan perkataan Aisha. Biarpun dia tak percaya jika dia dan Iqbal bisa bersatu. Karena Nisa melihat jelas kalau Iqbal itu memiliki rasa hanya kepada Aisha.


...


...


Iqbal mendapatkan titipan surat lewat Fahmi. Fahmi mengatakan jika surat itu dari Aisha. Seketika hati Iqbal berbunga-bunga saat tahu jika Aisha mengirimnya surat. Iqbal mulai membuka lipatan kertas yang sedang dia pegang. Lalu mulai membaca kata demi kata yang tertulis di surat itu.


Senyum yang sejak tadi terukir di wajah Iqbal, kini mulai pudar. Iqbal tak menyangka jika Aisha akan menuliskan itu di suratnya. Terang-terangan Aisha meminta Iqbal untuk jangan mengharapkannya lagi. Aisha juga mengatakan jika akan mengenalkan Iqbal dengan Nisa.


'Apa aku memang tidak pernah pantas untuk memilikimu? Aku belum berkata apa pun juga, kamu sudah melontarkan penolakan duluan,' gumam Iqbal dalam hati. Kini rasa percaya diri Iqbal perlahan sirna. Memang mungkin dia tidak pantas untuk memiliki Aisha.


Iqbal menyobek surat itu lalu membuangnya ke tong sampah. Fahmi terlihat heran melihat perubahan raut wajah Iqbal. Yang tadinya terlihat senang kini seperti sedang kecewa.


"Kamu kenapa, Iqbal? Lalu kenapa suratnya kamu buang? Bukankah itu dari Aisha?" tanya Fahmi.


"Jangan sebut nama wanita itu lagi! Dia pikir hanya dia satu-satunya wanita yang cantik. So mau ngenalin aku sama temannya," gumam Iqbal tak suka.


"Jadi Aisha mengirimmu surat karena dia mau mengenalkanmu dengan temannya? Ngomong-ngomong siapa nama temannya?"


"Nisa," jawab Iqbal.


Fahmi mendekati Iqbal lalu menepuk-nepuk pelan bahunya, "Kamu yang sabar ya. Mungkin Aisha memang bukan jodohmu," kata Fahmi.


"Sekarang aku tidak peduli lagi sama dia. Di luar sana masih banyak wanita yang lebih cantik darinya dan pastinya mau sama aku."


"Jadi kamu mau menyerah?"


"Bukan menyerah, tapi jika dia sudah tahu kalau aku mempunyai rasa untuknya sedangkan dia malah mengenalkanku dengan wanita lain, itu namanya tidak di hargai. Untuk apa aku lanjutkan lagi mengejar cinta yang entah bisa tergapai atau tidak?"

__ADS_1


"Kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia. Lebih baik sekarang fokus belajar saja biar ilmu agama kamu semakin bagus," ujar Fahmi menyarankan.


__ADS_2