
Pagi ini Aisha pergi ke pesantren di antar oleh sopir. Iqbal beralasan ada pekerjaan penting yang harus dia urus, jadi tidak bisa mengantarkan istrinya. Aisha mencoba percaya kepada suaminya, mungkin saja apa yang di katakannya itu benar.
Sesampainya di pesantren, Aisha di hampiri oleh Nisa. Terlihat sekali raut wajah Nisa sedang bahagia. Sejak tadi Nisa senyum-senyum terus.
"Kenapa kamu? Datang-datang kok senyum-senyum seperti itu?" Aisha melihat keanehan di diri sahabatnya.
"Ah Ais, aku senang sekali karena habis berkenalan dengan lelaki tampan. Dia namanya Aldo. Katanya sih dia dapat nomorku dari suami kamu."
"Oh iya kebetulan Pak Aldo ingin berkenalan dengan wanita yang berhijab. Jadi, aku kenalkan sama kamu," ucap Aisha.
"Kamu memang sahabatku yang terbaik. Tahu saja kalau seleraku ini lelaki yang tampan dan mapan."
"Tetapi kamu jangan terlalu senang dulu, Nis. Setidaknya kamu harus tahu dulu bagaimana kepribadian dia dan akhlaknya. Aku tidak ingin kalau kamu salah pilih pasangan," ujar Aisha memberikan nasihat kepada Nisa.
"Iya tenang saja, nanti aku akan coba mencari tahu semuanya tentang Aldo."
"Nah bagus." lalu tatapan Nisa tak sengaja melihat seseorang yang sedang menatap mereka dari jarak jauh. "Itu siapa? Kok seperti sedang memperhatikan kita?"
Nisa menatap ke arah pandang Aisha. Terlihat lelaki yang sedang memperhatikan mereka. Walaupun tidak bisa melihat jelas wajahnya, tetapi Nisa bisa tahu siapa lelaki itu. Dari sarung yang di kenakan saja sudah terliat jika itu adalah Fahmi.
"Sepertinya itu Fahmi," jawab Nisa.
"Kok dia memperhatikan kita? Aku jadi penasaran." Aisha tampak menerka-nerka.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi akhir-akhir ini dia memang so ramah kepadaku," ucap Nisa.
"Mungkin dia naksir sama kamu, Nis."
"Ah tidak mungkin," ucap Nisa.
Obrolan ke duanya terhenti karena kedatangan Ustadz Malik.
"Assalamu'alaikum. Maaf, Nisa, ada yang ingin saya sampaikan kepadamu," ucap Ustadz Malik.
"Waalaikum'salam, Ustadz," jawab mereka berdua.
"Ustadz mau bicara apa?" tanya Nisa.
"Jika ada seseorang yang ingin mengajakmu taaruf, apa kamu akan menerimanya?"
"Siapa? Ustadz Malik mau melamar saya?" tanya Nisa spontan. Dia sungguh terkejut saat tahu jika ada yang ingin berta’aruf dengannya.
"Kamu kalau bicara suka ngaco. Saya tidak mungkin poligami, Nis. Jadi, ada seorang santri yang ingin berta’aruf dengan kamu. Dia Fahmi, kamu juga pasti mengenalnya," ujar Ustadz Malik.
"Em gimana ya Ustadz, tapi saya tidak menyukai Fahmi," ucap Nisa.
"Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Lihatlah Aisha dan Iqbal, mereka menikah tanpa cinta tapi sekarang pernikahan mereka baik-baik saja," ujar Ustadz Malik.
__ADS_1
"Biar nanti saya coba bicara empat mata sama Nisa saja, Ustadz." ucap Aisha.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu’alaikum," ucap Ustadz Malik.
"Waalaikum'salam," jawab mereka berdua.
Setelah kepergian Ustadz Malik, Aisha mulai berbicara kepada Nisa. Bisa-bisanya Nisa menolak lelaki Sholeh seperti Fahmi. Pasti banyak santriwati yang berharap mempunyai pasangan seperti Fahmi. Seharusnya Nisa bersyukur karena dia adalah satu-satunya wanita yang Fahmi suka.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Aku tahu nih pasti kamu mau tanya kenapa aku menolak Fahmi. “Nisa memperhatikan Aisha yang sejak tadi menatapnya.
"Benar, kenapa kamu langsung menolak tanpa mempertimbangkannya dulu?"
"Karena aku kan sudah memiliki kenalan yang memang lelaki idamanku. Kamu tahu sendiri loh."
"Maksud kamu Pak Aldo?"
"Benar."
"Apa kamu sudah yakin? Memangnya kalian sudah bertemu?"
"Belum sempat bertemu sih, tapi sudah pernah video call. Tapi akhir minggu ini dia mengajakku bertemu."
"Jangan bertemu hanya berdua saja loh. Lebih baik kamu pulang ke rumahmu dan meminta Pak Aldo menemui kamu disana saja," ujar Aisha menyarankan. Dia tidak ingin membiarkan sahabatnya berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya, karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Beres, nanti aku akan urus," Nisa mengacungkan ke dua jempolnya.
Aisha berharap semoga apa yang Nisa pilih adalah yang terbaik untuknya. Karena jika Nisa bahagia, maka Aisha pun ikut bahagia.
...
Aisha memberanikan diri untuk bertanya kepada suaminya. Sebenarnya apa yang membuatnya seperti sedang mendiaminya. Mungkin saja ada perkataan yang dia salah ucap sehingga suami mendiaminya.
''Mas, apa kamu marah kepadaku?'' Aisha berdiri tak jauh dari suaminya yang sedang menikmati secangkir kopi.
Iqbal meletakan cangkir yang sedang dia pegang ke atas meja, lalu menatap istrinya. ''Tidak, memangnya kenapa?''
''Aku lihat belakangan ini Mas Iqbal mendiamiku. Aku kira sedang marah.''
''Tidak kok, itu hanya perasaanmu saja.''
''Tolong jangan mendiamiku seperti ini, Mas. Aku merasa kalau kamu mulai menjauh. Apa kamu mau perlahan pergi dari kehidupanku?'' Aisha menunduk sedih. Dia tidak mau kehilangan suami sebaik Iqbal.
''Kenapa kamu berpikir seperti itu?''
''Ya karena sikap Mas Iqbal yang membuatku berpikiran seperti itu,'' jawab Aisha.
''Apa kamu ingin aku bicara jujur?'' tanya Iqbal.
__ADS_1
Aisha menganggukkan kepalanya. Jika kejujuran mampu menyelesaikan semuanya, maka dia bersedia untuk mendengarnya. Apa pun itu yang akan di ucapkan oleh suaminya, Aisha sudah siap dengan hatinya.
''Jadi, aku cemburu melihat foto Azmi ada di dompetmu,'' ucap Iqbal.
''Astaghfirullah'aladzim, aku lupa.'' Aisha menepuk keningnya sendiri.
''Apanya yang lupa?''
''Menyingkirkan foto itu dari dompetku, Mas. Kebetulan aku itu punya dua dompet dan yang ada foto Mas Azmi itu dompet yang jarang di pakai,'' jelas Aisha.
''Jadi, bukan karena kamu masih cinta sama Azmi?''
Aisha mendekati suaminya lalu memeluknya. ''Maafkan aku jika selama ini sudah menyakiti perasaanmu, Mas. Rasa cintaku ke Azmi perlahan hilang dan tergantikan oleh rasa cintaku ke kamu.'' Aisha terisak di dalam pelukan suaminya.
Jelas Iqbal kaget mendengar pernyataan istrinya. Dia tak menyangka jika sekarang istrinya sudah membuka hati untuknya. Perlahan Iqbal mengusap punggung istrinya.
''Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu.'' Iqbal mendaratkan ciuman singkat di kening istrinya.
''Aku juga mencintai kamu, Mas.'' Aisha melepaskan pelukannya lalu memandang wajah suaminya yang begitu tampan.
Iqbal menangis haru, perasaannya begitu bahagia. Iqbal senang karena rasa cintanya akhirnya terbalaskan oleh istrinya.
''Apa itu artinya malam ini kita ....'' Iqbal memberikan kode dengan kedipan mata.
Aisha mengangguk lalu menunduk. Dia tahu arah pembicaraan suaminya. Sekarang Aisha sudah siap untuk menyerahkan haknya kepada suaminya.
''Kalau begitu sekarang kita ke kamar yuk!'' ajak Iqbal.
''Sekarang masih pagi, Mas. Mau ngapain ke kamar?''
''Mas mau mengecek pakaian tidur kamu,'' ucap Iqbal.
''Untuk apa di cek?'' Aisha masih tak mengerti maksud perkataan suaminya.
''Ikut saja, ayo!'' Iqbal memegang satu tangan istrinya. Menggandengnya menuju ke kamar.
Sesampainya di kamar, Iqbal mulai membuka lemari dan melihat-lihat pakaian tidur istrinya. Ternyata hanya ada dua lingeria berwarna merah. Mungkin itu juga kado dari orang.
''Sayang, nanti malam kamu pakai ini ya,'' Iqbal memperlihatkan lingeria yang dia temukan kepada istrinya.
''Mas Iqbal tidak salah? Ini kecil sekali bajunya, Mas. Apa akan muat di tubuhku?''
''Pasti muat dong, sayang. Kamu juga akan terlihat sexy jika mengenakan lingeria ini,'' ucap Iqbal.
''Tapi aku malu, Mas.''
''Di depan suami sendiri jangan malu dong. Biar nanti lebih mudah di buka kalau kamu pakai lingeria ini.''
__ADS_1
''Ih jangan bicara me sum siang-siang, Mas. Aku mau keluar saja deh, takut kamu khilaf.'' Aisha beranjak dari duduknya lalu pergi keluar kamar.
Iqbal tersenyum menatap istrinya. Terlihat gemas jika melihatnya malu-malu. Iqbal juga sudah tak sabar menunggu nanti malam. Dimana dia dan istrinya menyatukan kesucian cinta mereka.