Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.14


__ADS_3

Iqbal dan ke dua orang tuanya sedang duduk bertiga di ruang keluarga. Iqbal baru di kasih tahu jika ada tawaran sebagai suami pengganti. Namun, Iqbal belum tahu siapa wanita yang harus dia nikahi itu. Hanya saja Iqbal terkekeh geli. Bisa-bisanya orang tuanya memintanya untuk menikah dengan wanita yang dia sendiri tidak tahu.


"Jangan ngacau deh, masa sih Iqbal harus menikah dengan wanita asing. Jelas Iqbal tidak mau!" tolaknya.


"Yah sayang sekali loh, padahal wanita itu sangat cantik dan taat agama. Kasihan dia tak jadi menikah karena calon suaminya meninggal," ucap Bu Fatma.


"Iqbal tidak mau, Mah. Iqbal tidak mau memaksakan hati Iqbal untuk menikahi wanita yang tidak Iqbal cintai," Iqbal sangat teguh dengan pendiriannya. Dia memang masih belum bisa melupakan Aisha. Sulit rasanya membuka hati untuk wanita lain.


Pak Bima dan Bu Fatma saling tatap. Mungkin memang anaknya belum siap menikah. Mereka tidak mau memaksakan kehendak anaknya.


"Baiklah, papah sama mamah tidak akan memaksa kamu, Nak. Kalau begitu biar nanti papah coba bicara sama Kiyai Ahmad jika kamu tidak menerima penawaran ini," setelah selesai berbicara dengan Iqbal, kini Pak Bima dan Bu Fatma berlalu pergi.


Iqbal masih duduk di tempatnya. Dia masih heran kepada ayahnya yang tiba-tiba memintanya untuk menjadi pengantin pengganti.


Tring tring


Iqbal mendengar ponsel miliknya berdering. Dia melihat ada panggilan masuk dari Fahmi. Tidak biasanya Fahmi meneleponnya jika tidak ada sesuatu yang penting.


πŸ“ž"Hallo, Assalamu'alaikum, Fa. Ada apa?"


πŸ“ž"Waalaikum'salam. Maaf jika aku mengganggumu. Tapi aku hanya mau kasih tahu kalau kemarin aku merekomendasikan kamu sebagai pengantin pengganti untuk Aisha. Awalnya sih Kiyai Ahmad memintaku untuk menjadi pengganti Azmi, hanya saja menurutku kamu itu yang lebih cocok," ujar Fahmi.


πŸ“ž"Azmi? Jadi wanita itu Aisha?"


πŸ“ž"Benar, memangnya orang tua kamu tidak bilang?"


πŸ“ž"Mereka tidak menyebutkan namanya kalau wanita itu Aisha, jadinya aku menolak."


πŸ“ž"Astaga, ini kesempatan bagus untukmu loh," kata Fahmi.


πŸ“ž"Benar, aku mau bicara dulu sama papah kalau aku terima penawaran itu. Sudah dulu ya, Assalamu'alaikum," ucap Iqbal dan langsung mematikan panggilan teleponnya tanpa mendengarkan Fahmi menjawab salam.


Iqbal bergegas mencari keberadaan ayahnya. Kebetulan Iqbal melihat ayahnya yang baru keluar dari kamar.

__ADS_1


"Pah, ada yang ingin Iqbal bicarakan. Jadi, Iqbal mau menerima pernikahan itu."


"Tadi katanya tidak mau. Kamu jangan mempermainkan pernikahan, Nak. Lagian papah tadi sudah menelepon Kiyai Ahmad dan memberitahukan kalau kamu menolak."


"Apa? Jadi papah sudah menelepon Kiyai Ahmad?" Iqbal mengusap wajahnya dengan kasar.


"Memangnya kenapa, Nak? Kenapa kamu terlihat terkejut seperti itu?"


"Kenapa papah tidak bilang kalau wanita itu Aisha? Kalau papah bilang, tanpa berpikir panjang pasti Iqbal akan bilang mau," kata Iqbal.


"Sepertinya kamu memang cinta sama wanita itu, Nak," Pak Bima menepuk pelan bahu anaknya.


"Bahkan cinta Iqbal ke dia itu sangat besar, Pah. Sampai sekarang Iqbal masih sulit untuk menghapus namanya dari ingatan."


Melihat anaknya yang sedang jatuh cinta, Pak Bima jadi teringat masa mudanya. Dimana dia dan Bu Fatma yang berjuang untuk mempertahankan hubungan mereka yang tadinya tidak di restui oleh orang tua. Seiring berjalannya waktu mereka bisa hidup bahagia. Pak Bima berharap jika Iqbal juga bisa hidup bahagia dengan wanita pilihannya.


"Kamu tenang saja, Nak. Nanti papah bicara lagi sama Kiyai Ahmad."


"Sama-sama, Nak. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan papah juga."


...


...


Pertemuan keluarga antara keluarga Iqbal dan Aisha di adakan di sebuah restoran. Kebetulan Pak Bima sendiri yang sudah menyewa sebuah restoran untuk pertemuan mereka.


Terlihat Iqbal yang sedang bercermin di depan cermin menatap pantulan dirinya. Terlihat rapi dan berkarisma. Sengaja Iqbal memakai pakaian formal. Setelah melihat penampilannya sudah cukup sesuai, Iqbal langsung saja keluar dari kamar.


Ternyata Pak Bima dan Bu Fatma sudah berada di ruang depan menunggu Iqbal.


"Mah, Pah, apa kita akan pergi sekarang?"


"Iya, Nak. Ayo!" ajak Bu Fatma.

__ADS_1


Iqbal mengikuti ke dua orang tuanya yang sudah keluar duluan. Mereka akan pergi dengan menggunakan mobil yang sama. Sepanjang jalan Iqbal mengusap ke dua telapak tangannya. Rasa gugup tiba-tiba menyerangnya. Iqbal masih tak percaya jika dia bisa memiliki Aisha. Padahal sebelumnya dia sempat pasrah merelakan Aisha yang sudah bertunangan.


Mereka telah sampai di depan restoran mewah. Lalu mereka turun dan langsung melangkah memasuki restoran. Sesampainya disana, ternyata Aisha dan orang tuanya sudah datang. Kebetulan Kiyai Ahmad juga berada disana.


"Assalamu'alaikum. Maaf kalau kami telat," ucap Pak Bima sopan."


"Waalaikum'salam," jawab mereka serempak.


"Tidak kok, kebetulan kami juga baru sampai," ucap Kiyai Ahmad.


Mereka para orang tua langsung membahas pernikahan Aisha dan Iqbal.


Sekarang Kiyai Ahmad sudah bisa merasa tenang karena permintaan anaknya sudah di turuti. Sebelum meninggal, Iqbal memang meminta ayahnya untuk mencarikan Aisha calon suami. Aisha harus tetap menikah walaupun bukan dengan dirinya. Tentu Kiyai Ahmad merasa bangga kepada anaknya. Di saat-saat terakhirnya masih mengingat calon istrinya. Mungkin itu yang namanya cinta. Walaupun tidak bisa bersama, tetapi Azmi ingin kalau Aisha bahagia dengan lelaki lain.


Bu Fatimah yang awalnya sempat ragu dengan sosok Iqbal, kini keraguan itu pun memudar. Melihat Iqbal yang begitu sopan, bahkan orang tuanya juga baik. Sepertinya Iqbal memang jodoh terbaik untuk Aisha.


"Apa Nak Iqbal sudah siap kalau menikahi anak saya dalam waktu tujuh hari lagi?" Bu Fatimah bertanya kepada Iqbal.


"Siap, Tante. Malam ini pun Iqbal siap kok. Kalau untuk Aisha, Iqbal selalu siap," jawab Iqbal.


Kiyai Ahmad melihat ketulusan di pancaran mata Iqbal. "Sepertinya kamu memang jodoh yang sudah di takdirkan untuk Aisha. Atas nama anak saya, saya meminta kamu agar bisa menjaga Aisha, Nak," pinta Kiyai Ahmad.


"Pasti saya akan melakukannya, Yai," jawab Iqbal.


Setelah acara pertemuan mereka selesai, mereka bersiap untuk pulang. Hati Iqbal saat ini sangatlah bahagia. Akhirnya sebentar lagi dia bisa memiliki wanita yang sudah dia kagumi sejak lama.


Sesampainya di rumah, Iqbal pergi ke kamar dan langsung berbaring di atas tempat tidur. Iqbal senyum-senyum sendiri memikirkan Aisha. Entah kenapa baru juga bertemu, tetapi masih merasa rindu. Iqbal melirik ponsel miliknya yang ada di atas kasur. Dia mengambil ponsel dan mencari kontak nomor Aisha. Sebenarnya tadi Iqbal baru mendapatkan nomor ponselnya.


❀Calon Istri


Assalamu'alaikum


Sekiranya seperti itu isi pesan yang di kirimkan oleh Iqbal. Sudah beberapa menit menunggu, tetapi belum ada balasan dari Aisha. Iqbal merasa galau. Sejak tadi dia berguling-guling di atas kasur. Lama-kelamaan Iqbal ketiduran karena menunggu balasan pesan dari Aisha yang tak kunjung dia dapat.

__ADS_1


__ADS_2