
Setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, ternyata benar jika Aisha sedang hamil. Usia kandungannya baru dua minggu. Aisha dan Iqbal terlihat bahagia dengan kehamilan anak pertama mereka. Beberapa kai ke duanya mengucap kata syukur.
''Terima kasih ya sayang, karena sebentar lagi menjadi seorang ibu.''
''Alhamdulillah, Mas. Akhirnya doaku terkabul,'' ucap Aisha.
''Selamat ya untuk ibu dan bapak. Jangan lupa Bu Aisha untuk selalu memeriksakan kandungannya secara rutin,'' ucap dokter Hana.
''Baik, Dok,'' ucap Aisha.
Dokter Hana memberikan resep obat yang harus di tebus oleh Aisha. Lalu Aisha dan Iqbal berpamitan untuk pulang. Sesampainya di depan, mereka melihat Nisa yang juga sedang mengantre ambil obat. Aisha mengajak Iqbal untuk menghampiri Nisa.
"Hai Nis, tidak menyangka jika akan bertemu disini. Kamu sakit apa?" tanya Aisha.
"Em aku .... "Nisa yang hendak menjawab tak jadi karena mendengar namanya di panggil.
"Maaf ya, aku ambil obat dulu." Nisa tersenyum menatap Aisha lalu pergi menuju ke tempat pengambilan obat.
Setelah mengambil obat Nisa menghampiri Aisha sebentar dan menyapanya. Dia hanya menjawab seperlunya saja apa yang di tanyakan oleh Aisha. Kesannya seperti ada yang sedang di tutup-tutupi darinya.
"Maaf, Ais. Aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Nisa.
"Waalaikum'salam," jawab Aisha dan Iqbal bersamaan.
Iqbal menyuruh Aisha untuk duduk sambil menunggu panggilan. Namun, sejak tadi Aisha diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Iqbal menepuk bahu istrinya sehingga menyadarkannya.
"Sayang, kenapa kamu diam?" Iqbal bertanya kepada istrinya.
__ADS_1
"Mas Iqbal merasa aneh nggak sih sama Nisa. Dia itu seperti sedang mwnyembunyikan sesuatu sama kita. Aku paham sekali Nisa seperti apa. Selama ini dia selalu terbuka kepadaku."
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, sayang."
"Dan tadi, Nisa di sebut dengan sebutan ibu. Dimana-mana kalau wanita belum menikah periksa itu pasti di panggil Nona."
"Mungkin saja salah panggil. Kamu tidak usah terlalu memikirkan urusan Nisa. Kalau mau, biar Mas saja yang selidiki," ucap Iqbal.
"Iya, Mas. Tapi janji loh kamu selidiki kenapa sikap Nisa berubah. Dia juga sekarang tidak tinggal di pesantren lagi. Kalau pun mengaji dia pulang pergi," kata Aisha.
"Kamu tenang saja, sayang. Untuk sekarang kamu fokus ke kandugan kamu saja."
Setelah cukup lama mengantre, kini nama Aisha pun di panggil. Setelah mengambil obat, Aisha dan Iqbal bergegas pulang. Iqbal membukakan pintu mobil untuk Aisha dan memperlakukannya seperti tuan putri.
"Mas, apa kamu tidak marah kepadaku?" Aisha menatap suaminya yang sedang fokus mengemudi.
"Marah kenapa?"
"Tidak dong, sayang. Mungkin itu bawaan bayi kita. Tapi sebenarnya dulu saat masih muda Mas pemalas. Mungkin anak kita ngikutin Mas." Iqbal memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Astagfirullah'aladzim. Pantas saja aku malas ngapa-ngapain, ternyata karena anak kita ngikutin kelakukan bapaknya sewaktu muda."
"Mas malah senang kalau kamu tidak ngapa-ngapain di rumah. Jadi, kamu bisa istirahat saja dan fokus dengan kandunganmu."
"Iya deh. Tapi aku sedikit menyalahkanmu dalam hal ini. Aku tidak pernah semalas ini loh," ucap Aisha.
"Maafkan suamimu ini, sayang. Semoga saja anak kita tidak berandalan seperti Mas dulu."
__ADS_1
"Amin, Mas."
...
...
Nisa baru saja ketahuan oleh orang tuanya jika saat ini dia sedang mengandung. Jelas orang tuanya marah besar. Bisa-bisanya anak semata wayangnya yang di besarkan di pesantren hamil di luar nikah.
"Siapa ayah dari anak itu? Lelaki itu harus mempertanggunh jawabkan perbuatannya. Pak Danu yang merupakan ayah Nisa terlihat marah sekali.
"Maaf, Pah. Lelaki itu bukan lelaki yang baik. Dia tidak pantas menikahi Nisa," jawab Nisa.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kamu mau membesarkan anak itu sendirian?"
"Maaf, Pah." Nisa hanya bisa menundukkan pandangannya.
"Jika itu keinginanmu lebih baik kamu pergi saja dari rumah ini. Papah malu sama para tetangga. Mau taruh dimana muka papah kalau semua orang tahu kamu hamil di luar nikah."
"Pah, jangan usir anak kita! Dia anak kita satu-satunya." Bu Salma berusaha membujuk suaminya.
"Keputusan papah sudah bulat, Mah. Nisa harus pergi dari rumah ini jika dia tidak menikah," ucap Pak Danu.
Nisa meraih lengan ibunya. "Tidak apa-apa, Mah. Nisa pergi saja dari rumah ini. Nisa tidak mau membuat mamah dan papah malu."
"Tapi mamah tidak mau berpisah denganmu, Nak." Bu Salma tampak terisak.
"Tidak ada perpisahan antara ibu dan anak, Mah. Kita masih bisa saling bertemu kok. Nanti Nisa akan cari kontrakan dan mamah bisa sepuasnya mengunjungi Nisa." Nisa mencoba meyakinkan ibunya, jika mereka tak tinggal satu rumah pun masih bisa bertemu di luar.
__ADS_1
Bu Salma dan Nisa saling berpelukan. Lalu Bu Salma menemani Nisa ke kamar dan membantu membereskan pakaiannya.
Bukan maksud Nisa tak ingin menikah. Hanya saja sudah pasti Aldo tak mau bertanggung jawab. Aldo hanya seorang player yang menginginkan kepuasan.