Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.31


__ADS_3

Pagi ini Aisha terlihat lebih manja dari biasanya. Mulai dari tidur harus di peluk oleh suaminya. Mandi pun harus di temani oleh suaminya. Semua yang dia lakukan harus bersama dengan suaminya.


Iqbal ada meeting penting pagi ini. Namun, istrinya melarangnya pergi ke kantor. Iqbal meletakan ponselnya ke atas meja, lalu menatap istrinya yang duduk di sampingnya.


"Sayang, tolong ya izinkan Mas pergi ke kantor. Kali ini ada meeting penting banget." Iqbal mencoba membujuk istrinya agar memberinya izin.


"Keputusanku tetap tidak. Mas Iqbal jangan keras kepala deh."


Iqbal mencoba memikirkan cara agar istrinya mengizinkannya pergi. Iqbal melihat Nisa yang baru muncul. Sepertinya Nisa hendak berangkat ke kantor.


"Nis, kamu mau berangkat sekarang?" Iqbal bertanya kepada Nisa.


"Iya, Kak," jawab Nisa.


"Kamu mau naik apa, Nis?" sahut Aisha bertanya kepada Nisa.


"Mungkin naik kendaraan umum. Karena sopir di rumah ini sedang cuti," jawab Nisa.


"Aku hampir lupa kalau sopir sedang cuti." Aisha menepuk keningnya sendiri. Lalu beralih menatap suaminya yang duduk di sampingnya. "Kalau begitu biar Mas Iqbal antar Nisa ke kantor."


"Katanya kamu tidak mengizinkan Mas pergi?"


"Tidak usah, Ais. Nisa tidak mau merepotkan," ucap Nisa.


"Kali ini aku izinkan Mas pergi demi Nisa. Kasihan dia kan sedang hamil. Aku tidak tega jika membiarkan dia pergi sendirian," ucap Aisha kepada suaminya, lalu Aisha beralih menatap Nisa. "Menurutlah! Kamu itu sedang hamil muda, jadi lebih baik berangkat sama Mas Iqbal saja."


"Baiklah." Nisa menerima tawaran itu.


"Tapi tunggu aku! Aku akan ikut dengan kalian," ucap Aisha lalu beranjak dari duduknya.


Iqbal membiarkan istrinya ikut karena jika melarang, yang ada istrinya malah kembali melarangnya untuk pergi. Tak lama, Aisha pun sudah kembali dengan penampilannya yang sudah rapi.


"Ayo kita pergi!" ajak Aisha tampak bersemangat.


Mereka bertiga bergegas pergi keluar rumah. Aisha duduk di depan di samping suaminya. Sedangkan Nisa duduk di jok belakang. Aisha dan Iqbal sesekali mengobrol di sela-sela perjalanan mereka.


"Sayang, kok kamu hari ini tidak mengajar?" tanya Iqbal.


"Sedang malas," jawab Aisha.


"Nis, perasaan sejak dulu kamu tidak pernah malas dalam melakukan sesuatu," sahut Nisa yang sejak tadi menyimak perkataan mereka.


"Iya, Nis. Hanya saja ini bawaan bayi. Gara-gara Mas Iqbal tuh dulunya pemalas. Jadi nurun ke aku deh," ucap Aisha.

__ADS_1


Nisa hanya tersenyum kecil. Banyak hal yang tidak di alami olehnya, sedangkan Aisha mengalaminya. Mungkin karena anak yang Nisa kandung lebih pengertian kepada ibunya yang harus berjuang sendirian tanpa seorang suami. Sedangkan Aisha, mau bersikap manja pun, masih ada suami di sampingnya.


"Kok menyalahkan Mas sih." Iqbal menoleh menatap istrinya.


"Memang itu kenyataannya," jawab Aisha.


"Iya deh, sayangku. Maafkan suamimu ini yang tak sempurna," ucap Iqbal.


"Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Mas. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT."


Iqbal mengusap pelan pucuk kepala istrinya sehingga jilbab yang di pakainya berantakan.


"Jangan nakal deh! Fokus saja menyetir," pinta Aisha.


"Baiklah istri galakku," ucap Iqbal.


Aisha melotot kepada suaminya. Sedangkan Iqbal berbalik memberikan senyuman.


...


...


Nisa baru pulang kerja. Dia berdiri di pinggir jalan menunggu angkot yang lewat. Kebetulan Iqbal sudah pulang tadi siang bersama Aisha. Jadi, Nisa tidak bisa menumpang.


"Hai, kita ketemu lagi. Kamu sedang nungguin siapa?" tanya Iqbal.


"Hai juga, Kak. Aku sedang menunggu angkot nih. Kakak sendiri mau kemana?"


"Saya sengaja datang untuk menjemputmu," ucap Reno.


Nisa tersenyum kecut menatap Reno. "Jangan asal memberikan harapan kepada seorang wanita. Apalagi hanya berniat memanfaatkan dan nantinya pergi."


'Wanita ini seperti cenayang saja. Bisa tahu kalau niatku mendekatinya itu untuk memanfaatkan,' batin Reno.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Saya tidak seperti itu," ucap Reno.


"Ya siapa tahu seperti itu. Karena ada seseorang yang sudah menghancurkan hidup saya," ucap Nisa sambil mengepalkan satu tangannya.


Reno memperhatikan Nisa yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari sorot matanya menyimpan kesedihan. Apalagi ke dua matanya terlihat memerah menahan tangis. Reno jadi merasa tak enak berniat memanfaatkan Nisa. Namun, dengan cepat dia menepiskan rasa kasihannya. Disini niatnya cuma satu, ingin menghancurkan pernikahan Iqbal. Soal kesedihan Nisa, dia tidak boleh bersimpati.


"Yang sabar ya, tidak semua lelaki seperti itu."


Nisa menggelengkan kepalanya. "Bagiku masih banyak di luar sana lelaki seperti itu. Hanya memikirkan kepuasan tanpa memikirkan orang lain yang di rugikan."

__ADS_1


Reno memberanikan diri mengusap bahu Nisa. "Sudah, jangan di pikirkan! Lebih baik kita pulang saja. Saya yang akan mengantarmu. Kasihan wanita cantik sepertimu berdiri disini sendirian. Takutnya ada orang yang berniat jahat."


"Saya bisa pulang sendiri kok," ucap Nisa.


"Apa kamu tidak takut jika nanti muncul lelaki seperti yang kamu sebutkan tadi? Jika lelaki itu mengganggumu, apa kamu yakin bisa mengatasinya sendiri?"


Apa yang di katakan oleh Reno ada benarnya juga. Nisa tak mau jika nanti di ganggu oleh orang jahat. Tapi ikut dengan Reno belum tentu keputusan yang tepat. Nisa belum mengenal Reno. Takutnya Reno hanya berniat modus saja kepadanya.


"Apa kamu bukan lelaki yang memiliki ciri-ciri seperti yang aku sebutkan tadi?" tanya Nisa.


Reno tersenyum manis menatap Nisa. Lalu mengambil dompetnya dari saku celana. Reno mengambil KTP lalu memberikannya kepada Nisa.


"Pegang saja KTP milik saya. Jika saya macam-macam, kamu bisa melaporkan saya ke polisi," ucap Nisa.


Nisa langsung mengambil KTP milik Reno dan menyimpannya di dalam tas miliknya.


"Baiklah, aku percaya denganmu," ucap Nisa.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita pergi!" ajak Reno.


Nisa mengikuti Reno memasuki mobil. Reno langsung saja mengemudikan mobilnya menuju ke alamat rumah Iqbal. Reno berhasil mengantarkan Nisa dengan selamat. Dia bergegas pergi tanpa singgah terlebih dahulu. Padahal tadi Nisa mengajaknya mampir. Mereka pun melupakan soal KTP yang masih ada pada Nisa.


Nisa melangkah memasuki rumah. Dia berucap salam lalu mulai membuka pintu. Nisa melihat Aisha yang sedang duduk berdua dengan Iqbal di ruang depan.


"Nis, tadi kamu pulang naik apa?" tanya Aisha.


"Tadi aku di antar seseorang," jawab Nisa.


"Siapa itu?" tanya Aisha yang merasa penasaran.


"Ada deh, hanya orang asing yang tak sengaja kenal di jalan. Kalau begitu aku ke kamar dulu." Nisa berlalu pergi.


Aisha dan Iqbal saling tatap. "Sayang, siapa yang di maksud oleh Nisa? Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dari kita."


"Aku juga tidak tahu, Mas. Sepertinya Nisa sedang dekat dengan seseorang."


"Nanti kamu coba tanya ya sama dia. Takutnya dia dekat dengan orang yang salah," ucap Iqbal.


"Baik, Mas. Aku pasti akan menanyakan itu. Lagian aku takut kalau Nisa kembali di permainkan oleh lelaki," ucap Aisha.


..


..

__ADS_1


__ADS_2