
Sudah tiga hari lamanya Iqbal dan Aisha berada di singapura. Tetapi belum ada kemajuan di antara ke duanya. Mereka belum melakukan haknya sebagai suami istri. Iqbal benar-benar sabar menunggu istrinya hingga mau dia sentuh, dia tidak mau memaksanya. Mengingat perjuangannya untuk mendapatkan Aisha begitu sulit, apalagi untuk meluluhkan hatinya. Jadi, Iqbal tidak mau tergesa-gesa dalam bertindak.
Iqbal melihat Aisha yang sedang menatap ke luar jendela kamar. Pemandangan gedung menjulang tinggi yang berjejer membuat keindahan tersendiri.
"Sayang, kamu sedang lihat apa?" Iqbal mendekati istrinya, berdiri di belakangnya.
"Lihat pemandangan di luar sana, Mas," jawab Aisha.
"Pemandangannya biasa saja, Sayang. Lebih indah kalau memandang wajahmu," ujar Iqbal merayu.
"Kamu memujinya terlalu berlebihan, Mas," Aisha menunduk malu.
"Kamu memang cantik, sayang." Iqbal menyentuh pipi istrinya.
Desiran aneh mulai Aisha rasakan. Sentuhan tangan suaminya membuat dadanya tiba-tiba berdetak kencang. Apalagi senyum ketulusan yang terpancar dari wajah suaminya, membuat Aisha semakin kagum. Aisha buru-buru mengalihkan arah pandangnya. Dia malu di tatap seperti itu oleh suaminya.
"Mas mau mengecek email dulu ya, sayang. Barusan Rani menelepon katanya kirim email penting."
"Iya, Mas."
Iqbal mengambil laptopnya yang ada di atas meja, lalu mulai mengecek email dari Rani. Ternyata Rani mengirimkan rincian pemasukan dan pengeluaran perusahaan di bulan ini. Tentu Iqbal harus mengeceknya karena itu tugasnya.
Aisha melihat Iqbal yang sedang serius menatap layar laptopnya.
'Maaf ya, Mas. Aku belum bisa menjadi istri yang baik,' gumam Aisha dalam hati.
Aisha hendak pergi ke kamar mandi, tetapi tak sengaja dia menyenggol dompet miliknya sehingga jatuh ke lantai. Aisha tak menyadari itu, dia melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.
Iqbal melihat sesuatu tergeletak di lantai. Dia beranjak dari duduknya lalu melihat apa yang ada di lantai itu. Ternya itu adalah dompet milik istrinya. Iqbal tidak pernah sama sekali membuka bahkan mengecek dompet milik istrinya. Sekarang dia penasaran ingin melihat apa saja isi di dompet itu.
Iqbal menatap foto yang ada di dompet istrinya. Jelas sekali itu foto Azmi. Iqbal tidak menyangka kalau istrinya masih menyimpan foto Azmi. Mungkin saja istrinya memang masih mencintai Azmi.
'Apa tidak ada tempat untuk aku mengisi ruang di hatimu,' batin Iqbal sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
Iqbal menaruh dompet milik istrinya ke atas meja. Lalu dia kembali fokus mengecek pekerjaannya. Entah kenapa Iqbal mendadak lesu melihat foto Azmi ada di dalam dompet istrinya. Pikiran negatif mulai terlintas di benaknya. Sesabar-sabarnya seorang lelaki, masih memiliki batas kesabaran. Dimana perjuangan yang selama ini dia lakukan, jika tidak berbuah kebahagiaan, untuk apa masih di pertahankan.
...
...
Setelah satu minggu berada di Singapura, kini Iqbal dan Aisha bersiap untuk pulang. Mereka juga sudah membelikan oleh-oleh untuk keluarga mereka. Saat ini mereka berada di pesawat. Kebetulan pesawat mereka sebentar lagi akan lepas landas.
Aisha menatap suaminya yang duduk di sampingnya. Entah kenapa Aisha merasa jika suaminya menjadi pendiam. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja.
Seperti biasa, Aisha memakan buah yang sudah dia siapkan selama perjalanan. Sedangkan Iqbal memilih tidur untuk menghindari rasa mual. Tak terasa baru juga naik ke pesawat, tetapi kini pesawat yang mereka naiki sudah mendarat. Mungkin karena jarak dari Singapura tidak terlalu jauh, jadi Aisha merasa perjalanan mereka cukup cepat.
Aisha mencoba membangunkan suaminya yang masih terlelap.
''Mas, bangun! Kita sudah sampai.'' Aisha menepuk pelan bahu suaminya.
Tak lama, Iqbal membuka ke dua matanya. Dia menatap ke sekitar, ternyata penumpang yang lain sudah berbondong-bondong keluar dari pesawat. Iqbal masih duduk, dia berniat keluar terakhir saja.
''Mas, apa kamu sudah meminta sopir untuk menjemput kita?'' Aisha bertanya kepada suaminya.
Iqbal menyuruh istrinya keluar duluan. Sedangkan dia di belakang membawa koper mereka. Aisha menolak untuk di bawakan koper, karena dia tak ingin merepotkan suaminya. Namun, Iqbal tetap memaksa untuk membantunya membawakan koper. Jadi, Aisha tak mungkin menolak permintaan suaminya.
Sesampainya di depan bandara, ternyata benar kalau pak sopir sudah menunggu mereka. Iqbal membantu memasukkan koper ke dalam bagasi, lalu dia duduk di depan tepat di samping sopir.
''Maaf, apa Tuan tidak duduk di samping Non Aisha saja?'' tanya Pak sopir.
''Di depan saja, Pak. Saya sedikit mual karena perjalanan tadi. Kalau saya duduk di belakang nanti malah tambah mual,'' jawab Iqbal.
Pak Sopir tak lagi bertanya. Sedangkan Aisha merasa ada yang aneh dengan suaminya. Bahkan sudah beberapa kali suaminya tak memanggilnya lagi dengan sebutan sayang.
'Sebenarnya Mas Iqbal kenapa? Apa dia marah kepadaku karena saat liburan aku tidak memberikan hakku sebagai seorang istri,' batin Aisha.
Sesampainya di rumah, ternyata Bu Fatma dan Bu Fatimah sudah menunggu kedatangan mereka. Bahkan ke dua orang tua itu menunggu di depan rumah.
__ADS_1
''Wah anak-anak mamah sudah pulang. gimana nih bulan madunya?'' Bu Fatimah mendekati Aisha karena ingin mendengar cerita bulan madu mereka selama berada di Singapura.
''Sangat spesial,'' jawab Aisha.
Di depan ibunya Aisha sengaja berkata seperti itu karena tidak ingin ibunya sedih kalau tahu fakta yang sebenarnya. Terlihat sekali raut wajah ibunya yang di penuhi kebahagiaan.
''Semoga kita segera mendapatkan cucu ya, Jeng,'' ucap Bu Fatma kepada Bu Fatimah.
''Amin, saya juga sudah sangat menginginkan cucu,'' jawab Bu Fatimah.
Aisha merasa bersalah kepada ibunya. Di saat ibunya sedang menginginkan seorang cucu, tetapi Aisha malah enggan untuk di sentuh oleh suaminya. Walaupun suaminya memang tak pernah memaksanya jika memang belum siap.
''Mah, aku ke kamar dulu ya. Gerah banget nih mau mandi.'' Iqbal mengibas-ngibaskan tangannya karena merasa gerah.
''Iya, Nak. Jangan lama-lama ya mandinya. Nanti kita ngobrol bersama,'' ucap Bu Fatma.
''Baik, Mah.'' Iqbal berlalu pergi memasuki rumah.
Aisha juga mengajak ibunya dan mertuanya untuk masuk. Kebetulan dia akan memberikan oleh-oleh yang sudah di siapkan.
''Wah, kamu pintar sekali dalam memilih tas, sepertinya ini cocok untuk mamah.'' Bu Fatimah mengagumi tas branded pemberian anaknya.
''Syukurlah kalau mamah senang.'' Lalu Aisha beralih menatap Bu Fatma yang sepertinya juga menyukai tas pemberiannya.
''Mamah juga suka, sayang. Terima kasih ya," ucap Bu Fatma.
"Sama-sama, Mah. Em aku ke kamar sebentar ya," Aisha berpamitan kepada ibu dan mertuanya.
"Mau kemana?" tanya Bu Fatma.
"Mau ke kamar sebentar," ucap Aisha.
"Masih siang loh, kamu sudah mau ke kamar saja. Mentang-mentang suamimu ada di kamar. Memangnya kamu tidak sabar menunggu nanti malam?" Bu Fatimah sengaja menggoda anaknya.
__ADS_1
"Mamah apa-apaan sih. Aku pergi dulu," Aisha beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi. Dia mencoba menghindari pertanyaan-pertanyaan lain dari ibunya. Aisha malu di tanya seperti itu.