
Iqbal pergi ke ruangan Kiyai Ahmad, karena tadi dia mendapat informasi dari temannya jika dia di tunggu disana oleh Kiyai Ahmad dan Ustadz Malik. Sesampainya di depan ruangan Kiyai Ahmad, Iqbal mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Walaupun pintu itu tidak tertutup, namun dia tetap harus melakukan sebagaimana adab yang baik di pesantren.
Iqbal duduk berhadap-hadapan dengan Kiyai Ahmad dan Ustadz Malik. Iqbal melihat tatapan ke dua mata Ustadz Malik yang sejak tadi sama sekali tak teralihkan darinya. Sepertinya dia di panggil karena ada masalah. Namun, Iqbal tidak merasa jika telah melakukan kesalahan.
''Iqbal, jujur semenjak kedatangan kamu di pesantren, pasti ada saja kejadian yang terjadi. Termasuk kemarin malam ada beberapa anak berandalan yang berbuat rusuh. Lalu, sekarang apa lagi yang kamu buat? Kenapa di depan sana ada anak berandalan yang mondar-mandir mengawasi pesantren ini?'' Ustadz Malik bertanya kepada Iqbal.
''Apa yang Ustadz maksud itu teman saya? Kebetulan saya memerintahkan geng motor saya untuk berpatroli di depan pesantren. Tenang saja, mereka baik kok. Saya menugaskan mereka untuk menjaga pesantren dari geng motor yang kemarin malam berbuat rusuh. Jadi kalau mereka datang lagi, ada anak buah saya yang mengatasi,'' jelas Iqbal.
Ustadz Malik hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tetap saja dengan keberadaan mereka membuat beberapa santri merasa tak tenang. Karena mereka mengira jika yang sedang mengawasi pesantren itu orang jahat.
''Jika memang seperti itu nanti saya akan umumkan kepada para santri jika mereka bukan orang jahat. Karena beberapa santri melaporkan mereka kepada saya dan mengira jika mereka orang jahat,'' ucap Kiyai Ahmad.
'''Terima kasih, Yai.''
Iqbal berpamitan kembali ke kamar setelah selesai mengobrol dengan Kiyai Ahmad dan Ustadz Malik. Di jalan, Iqbal berpapasan dengan Aisha yang sedang berjalan agak cepat. Bahkan ke dua matanya berkaca-kaca.
''Hei, kamu kenapa?'' Iqbal bertanya sambil menoleh ke belakang, karena langkah Aisha begitu cepat.
''Bukan urusanmu,''' Aisha kembali melanjutkan langkahnya. Iqbal masih memperhatikan Aisha. Jika di lihat, sepertinya Aisha sedang menuju ke ruangan Kiyai Ahmad.
Saat hendak kembali pergi, Iqbal melihat Nisa yang juga lewat. Dia menghentikan langkah Nisa lalu bertanya mengenai Aisha yang tadi terlihat sedang menangis. Nisa menjelaskan jika salah satu keluarga Aisha ada yang meninggal. Aisha juga pergi ke ruangan Kiyai Ahmad untuk meminta izin pulang beberapa hari ini.
...
...
Setelah izin pulang tiga hari, seharusnya hari ini Aisha sudah kembali ke pesantren. Namun, belum terlihat keberadaannya. Ustadz Malik baru saja mendapat telepon dari orang tua Aisha yang menanyakan Aisha sudah sampai atau belum. Kebetulan orang tuanya sudah beberapa kali menghubungi nomor Aisha, tetapi tidak di angkat. Tentu Ustadz Malik mengatakan yang sejujurnya bahwa Aisha belum kembali ke pesantren. Padahal seharusnya hari ini sudah kembali. Namun, hingga menjelang malam pun belum terlihat kedatangannya.
Ustadz Malik melihat Fahmi dan Iqbal yang lewat di hadapannya. Lalu mencegat langkah mereka. Ustadz Malik mulai berbicara kepada mereka.
"Fahmi, Iqbal, tadi saya baru saja mendapat telepon dari orang tua Aisha. Katanya Aisha sudah pergi menuju kesini dari pagi. Tetapi sampai saat ini Aisha belum juga sampai kesini. Bisakah kalian mencari keberadaannya? Saya takut jika Aisha mendapat musibah di jalan," ucap Ustadz Ahmad sambil menatap ke duanya.
"Saya siap, Ustadz. Saya tidak akan kembali sebelum menemukan Aisha," ucap Iqbal dengan penuh semangat.
"Saya juga bersedia," ucap Fahmi.
"Kalau begitu nanti setelah Shalat magrib kalian langsung pergi mencarinya," ujar Ustadz Malik.
__ADS_1
"Baik, Ustadz." jawab Fahmi.
"Kalau nungguin nanti lama sekali. Saya cari sekarang saja ya." Iqbal terlihat tak sabar untuk mencari keberadaan Aisha.
Ustadz Malik menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Iqbal. "Kamu terlalu semangat, Iqbal. Ingat, Aisha itu calon suami orang."
"Sebelum janur kuning melengkung, calon istri orang bisa saya tikung, “ucap Iqbal penuh percaya diri.
"Kalau kamu mau memperistri Aisha, paling tidak harus bisa hafal surat al-baqarah 1 juz. Apa kamu tahu kalau Azmi itu hafal 30 juz? Saingan kamu berat loh," ujar Ustadz Malik.
Iqbal tersenyum kepada Ustadz Malik, "Tidak ada yang tidak mungkin. Jodoh, maut, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Jika memang Aisha jodoh saya, Azmi bisa apa."
Iqbal sungguh percaya diri sekali. Itu membuat Ustadz Malik salut. Pantas saja baru sebentar tinggal di pesantren, tetapi sudah banyak peningkatan. Ternyata Iqbal memang begitu ambisius. Itu yang membuatnya mulai bisa mengaji dengan baik.
"Terserah kamu saja deh. Jangan lupa nanti setelah Shalat maghrib kalian langsung pergi cari Aisha. Saya permisi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikum'salam," jawab Iqbal dan Fahmi bersamaan.
...
...
Iqbal dan Fahmi sengaja pergi berpencar untuk mencari Aisha. Karena dengan berpencar, ada kemungkinan mereka bisa lebih cepat menemukan Aisha. Iqbal yang sedang berada di perjalanan, dia mendengar ponselnya berdering. Iqbal menepikan motornya di pinggir jalan lalu mengecek ponselnya. Ternyata Fahmi yang menghubunginya.
"Hallo, ada apa, Fa? Bagaimana pencarian kamu? Apa kamu sudah menemukan Aisha?"
"Belum, saya belum menemukan keberadaannya," jawab Fahmi.
Iqbal menghela nafasnya, entah kemana lagi dia harus mencari keberadaan Aisha. Sedangkan malam sudah semakin larut. Tiba-tiba Iqbal teringat Reno. Mungkin saja Reno yang menculik Aisha. Namun, dia tidak mau berburuk sangka karena tidak ada bukti.
''Lebih baik sekarang ke markas Reno. Siapa tahu Reno yang menculik Aisha," gumam Iqbal lalu kembali mengemudikan motornya.
Hanya perjalanan 40 menit dari tempatnya yang tadi, kini Iqbal sampai di depan markas tempat Reno dan gengnya berkumpul. Terlihat Reno dan temannya sedang bermain kartu. Iqbal menghampiri mereka untuk menanyakan Aisha.
"Hei hei siapa nih berani datang kesini?" Salah satu teman Reno menghadang langkah Iqbal.
"Minggir! Gue mau bicara sama ketua geng Lo," ucap Iqbal.
__ADS_1
"Kenapa Lo berani datang kesini? Bukankah sekarang kelas kita berbeda? Sekarang Lo itu sudah tidak level lagi sama kita. Penampilan Lo sekarang kampungan," kata Reno sambil menunjuk Iqbal.
"Cih itu tidak penting. Sekarang kita bicarakan hal yang lebih penting. Lebih baik Lo jawab, dimana Lo sembunyikan Aisha? Gue yakin kalau Lo yang menculik dia." Iqbal menatap Reno penuh curiga.
"Siapa tuh Aisha? Apa dia kekasih Lo? Hm sepertinya dia cantik juga. Bisa deh Gue jadikan pacar," kata Reno.
"Gue tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalau Lo tidak mau nunjukin keberadaan Aisha, lebih baik Gue yang mencarinya sendiri," Iqbal menerobos masuk ke dalam markas. Namun tangannya di cekal oleh Reno.
"Hadapi kita dulu kalau Lo berani," ucap Reno menantang.
Mereka melayangkan pukulannya kepada Iqbal. Tentu Iqbal mampu mengalahkannya satu persatu. Reno mengepalkan tangannya karena tidak bisa mengalahkan Iqbal. Sepertinya dia harus belajar bela diri lagi agar bisa mengalahkan kehebatan Iqbal.
"Apa sih yang enggak bisa Gue lakukan. Lo lo semua cupu, gayanya saja yang so keren," setelah berucap itu Iqbal masuk ke dalam markas lalu mulai mencari keberadaan Aisha. Tak di duga, dari arah belakang Reno melayangkan pisau cukup tajam ke arah Iqbal. Lemparannya tepat pada sasaran. Kini pisau itu menancap di bahu Iqbal.
"Aww .... " jerit Iqbal menahan perih. Iqbal mencabut pisau yang menancap di bahunya. Lalu menatap tajam kepada Reno yang sedang menatapnya penuh kemenangan. Sekarang tak ada waktu lagi untuk meladeni Reno. Iqbal kembali melanjutkan langkahnya mencari keberadaan Aisha.
Salah satu teman Reno hendak mengejar Iqbal, tetapi di tahan oleh Reno. "Tidak usah di kejar. Yang penting Gue sudah berhasil melukainya."
"Tapi kalau dia sampai menemukan Aisha gimana?"
"Biarkan saja. Kalau sekarang kita menahan mereka disini, bisa-bisa kita di laporkan ke polisi. Lebih baik kalian ikut Gue," Reno bergegas naik ke motornya.
Mereka mengikuti kemana Reno pergi. Lagian benar juga apa yang di katakan oleh Reno. Mereka tidak mau di tangkap oleh polisi. Perjalanan hidup mereka masih panjang karena mereka masih muda. Untuk menantang Iqbal, mereka masih punya waktu lain kali.
Iqbal melihat sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Beberapa kali dia mencoba membukanya namun susah. Sepertinya pintu itu memang sengaja di kunci. Iqbal langsung mendobrak pintu itu. Dia melihat sosok wanita yang sedang duduk di lantai dengan tangan dan kaki yang terikat tali. Mulutnya juga di sumpal pakai kain. Iqbal sangat mengenali wanita itu yang tak lain adalah Aisha.
Iqbal mendekati Aisha lalu membantu melepaskan tali yang mengikatnya. Dia juga mengambil kain yang menyumpal mulut Aisha. Iqbal merasa kasihan melihat Aisha yang terus menangis.
"Aisha, kamu tenang saja ya. Ayo ikut! Kita harus pergi dari sini," Iqbal hendak memegang tangan Aisha dan membantunya berdiri, namun Aisha menepisnya. Karena dia tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, tanpa sengaja Aisha menyentuh bahu Iqbal yang terluka.
"Aww sakit." rintih Iqbal menahan rasa sakit. "Kamu galak sekali sih."
"Aduh minta maaf, saya tidak sengaja. Apa ini sakit," Aisha yang khawatir, dia memegang tangan Iqbal dan mengamati luka di bahunya.
Iqbal tersenyum melihat kekhawatiran Aisha. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menarik perhatiannya. Iqbal berpura-pura kesakitan agar lebih meyakinkan.
"Aduh sakit sekali," rintih Iqbal.
__ADS_1
"Ayo kita cari klinik terdekat, luka kamu harus di obati," Aisha memegang satu tangan Iqbal dan mengajaknya pergi dari sana. Niat dia hanya ingin menolong Iqbal yang sudah menolongnya.