
Dua tahun kemudian.
Semenjak saat itu, Iqbal tak pernah lagi peduli dengan apa yang menyangkut Aisha. Kini dia hanya fokus mencari ilmu di pesantren. Berkat bantuan Fahmi, kini Iqbal sudah semakin pandai mengaji. Dia juga hafal semua bacaan di juz 30. Dua tahun memang waktu yang singkat. Namun, Iqbal menggunakan waktu itu sebaik mungkin. Dia terus melihat masa depan. Dimana dia bercita-cita menjadi orang yang sukses. Yang paling penting, menjadi anak yang bisa membanggakan ke dua orang tuanya.
Iqbal yang baru dari masjid, berpapasan dengan Ustadz Malik. Lalu Ustadz Malik memintanya pergi ke ruangan Kiyai Ahmad karena ayahnya datang. Iqbal heran kenapa ayahnya tidak bilang dulu kepadanya jika akan datang ke pesantren.
"Assalamu'alaikum," ucap Iqbal sambil mengetuk pintu ruangan Kiyai Ahmad. Pintu itu memang tidak tertutup, tetapi dia harus tetap mengetuk pintu sebagai mana adat bertamu.
''Waalaikum'salam,'' ucap mereka serempak yang ada di dalam ruangan.
Iqbal melangkah memasuki ruangan Kiyai Ahmad. Dia duduk di sofa sebelah ayahnya.
''Iqbal, maaf jika kami mengganggu kesibukanmu. Tetapi ayahmu datang untuk membicarakan sesuatu yang penting denganmu,'' ucap Kiyai Ahmad.
Tatapan Iqbal beralih ke ayahnya yang duduk di sebelahnya, ''Papah mau bicara apa?'' tanya Iqbal.
''Tadi papah sudah bicara sama Kiyai Ahmad dan juga Ustadz Malik. Jadi, kedatangan papah kesini itu karena ingin meminta kamu pulang, Nak. Papah ingin kamu membantu mengelola perusahaan. Kesehatan papah akhir-akhir ini kurang baik. Bahkan beberapa minggu yang lalu papah sempat di rawat di rumah sakit. Memang papah tidak memberitahumu karena papah tidak ingin kamu khawatir. Papah pikir, sekarang tingkah laku kamu juga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, Nak,'' ujar Pak Bima.
''Pah, tapi Iqbal masih betah berada di pesantren? Lagian Iqbal masih ingin menuntut ilmu,'' ucap Iqbal.
''Iqbal, turuti apa keinginan ayahmu. Karena sudah menjadi kewajiban kamu untuk menurut dengan orang tuamu,'' ujar Kiyai Ahmad menasihati Iqbal.
''Tapi saya masih betah di pesantren ini, Yai.''
''Saya tahu, tapi tidakkah kamu kasihan kepada ayahmu? Jika bukan kamu yang membantu ayahmu, siapa lagi?''
''Apa yang di katakan oleh Kiyai Ahmad itu benar, Iqbal. Menuntut ilmu memang wajib, api menuruti permintaan orang tua itu lebih utama, ‘’sahut Ustadz Malik.
__ADS_1
''Kamu masih bisa datang kesini kalau hari libur. Masih bisa ikut mengaji disini,'' ujar Kiyai Ahmad.
''Tapi kalau saya datang ikut mengaji bersama santri yang lain, pasti saya ketinggalan materi. Bagaimana jika saya mengaji privat saja,'' Iqbal menatap Kiyai Ahmad dan Ustadz Malik secara bergantian.
''Boleh, saya atau pun Ustadz Malik siap untuk mengajar kamu, Iqbal. Nanti kita bisa atur waktunya,'' jawab Kiyai Ahmad.
''Baiklah, kalau begitu Iqbal mau pulang sama papah. Sebelumnya Iqbal mau mengucapkan terima kasih karena sudah di terima di pesantren ini. Maafkan Iqbal yang sering merepotkan,'' ucap Iqbal sambil menatap Kiyai Ahmad dan Ustadz Malik secara bergantian.
''Seharusnya saya yang harus minta maaf, karena saya sering berkomentar jelek kepada kamu,'' ucap Ustadz Malik.
''Tidak apa-apa, Ustadz. Justru itu semua membuat Iqbal bisa jauh lebih baik lagi seperti sekarang ini,'' Iqbal tersenyum sambil menatap ke duanya.
Iqbal berpamitan kepada Kiyai Ahmad dan juga Ustadz Malik. Begitu pun dengan Pak Bima. Pak Bima juga berterima kasih kepada mereka, karena berkat bimbingannya kini Iqbal sudah berubah menjadi orang yang jauh lebih baik.
Iqbal pergi ke kamarnya untuk berkemas. Dia melihat teman satu kamarnya yang sedang menghafal untuk hafalan nanti sore. Iqbal mendekati mereka lalu berpamitan.
''Aku di suruh untuk membantu papah untuk mengelola perusahaan. Kebetulan kondisi kesehatan papah sedang tidak baik. Sebenarnya sih aku masih betah berada disini,'' jawab Iqbal.
''Sebaiknya kamu memang menurut apa kata ayahmu,'' ucap Fahmi.
Fahmi dan beberapa teman yang lainnya mengantar Iqbal hingga ke depan pesantren. Di depan sana sudah ada Kiyai Ahmad dan Ustadz Malik yang juga sedang menemani Pak Bima. Mereka kembali berpamitan dan berjabat tangan. Lalu segera masuk ke dalam mobil. Pak sopir langsung mengemudikan mobilnya menuju ke kediaman Pak Bima.
...
...
Iqbal sudah terlihat tampan mengenakan pakaian kerja. Hari ini dia akan ikut ke perusahaan. Ayahnya akan membimbingnya untuk memimpin perusahaan. Karena sudah saatnya Pak Bima pensiun dan jabatannya di gantikan oleh Iqbal.
__ADS_1
Terlihat Iqbal yang baru muncul di ruang makan. Ayah dan ibunya sudah sedari tadi duduk disana menunggunya. Iqbal menarik kursi di sebelah ibunya lalu mendaratkan pantatnya.
''Iqbal telat ya?''
''Tidak apa-apa, Nak. Ayo kita langsung sarapan!'' ajak Bu Fatma.
Iqbal mengambil piring lalu mulai mengambil nasi dan lauk. Selama sarapan tak ada yang berbicara. Mereka hanya fokus melahap makanan mereka masing-masing.
Setelah selesai sarapan, Pak Bima langsung mengajak Iqbal pergi ke kantor. Karena kebetulan hari ini Pak Bima akan kedatangan tamu penting di kantornya. Jadi harus berangkat ke kantor lebih pagi.
Mereka menaiki mobil yang sama. Sebenarnya Iqbal ingin membawa mobil sendiri, hanya saja ayahnya melarangnya. Jadi, mau tidak mau Iqbal menurut. Kini mobil mewah berwarna hitam itu sudah sampai di depan gedung menjulang tinggi yang merupakan perusahaan Pak Bima. Pak sopir membukakan pintu untuk Pak Bima. Sedangkan Iqbal sudah turun terlebih dahulu.
Pak Bima dan Iqbal berjalan berdampingan memasuki kantor. Beberapa karyawan yang melihat kedatangan bos mereka, langsung menunduk memberi hormat. Namun, tak lama mereka kembali menegakkan kepalanya lagi sambil menatap lelaki tampan yang ada di sebelah Pak Bima. Ketampanan Iqbal sungguh menjadi sorotan.
Pak Bima meminta asistennya untuk mengumpulkan semua karyawan di ruang depan. Karena ada hal penting yang akan di bicarakan. Tentunya Pak Bima akan mengenalkan Iqbal sebagai karyawan baru dan nantinya akan menjadi penerusnya.
''Selamat pagi semuanya,'' ucap Pak Bima.
''Pagi,'' jawab mereka serempak.
''Perkenalkan ini anak saya bernama Iqbal. Mulai hari ini dia akan bergabung di perusahaan ini. Nantinya dia yang akan menggantikan posisi saya.''
Lalu Iqbal mulai memperkenalkan dirinya.
''Assalamu'alaikum.wr.wb. Perkenalkan saya Iqbal. Mohon bimbingannya. Saya orang baru dan masih minim pengalaman,'' ucap Iqbal.
Mereka menjawab salam yang Iqbal ucapkan. Para karyawati banyak yang saling berbisik mengagumi ketampanan Iqbal. Sungguh Iqbal bagaikan pangeran pemikat hati. Baru pertama kali melihatnya saja membuat hati mereka berdebar.
__ADS_1
Setelah berkenalan, Iqbal berkeliling bersama dengan asisten ayahnya yang bernama Rey. Setelah berkeliling, Iqbal ikut dengan Rey menuju ke ruangan wakil direktur. Iqbal akan di bimbing agar secepatnya bisa bekerja dengan baik.